LATAR BELAKANG
Satu hal yang tidak dapat kita mungkiri bahwa sukses oragnisasi untuk meningkatkan kemakmuran dalam abad 21 ditentukan oleh adanya usaha-usaha peningkatan nilai tambah sebagai kunci keberhasilan.
Penggerak nilai tambah yang sangat menentukan adalah ilmu yang bersumber dari informasi dan pengetahuan yang bersumber dari pengelaman. Informasi dan pengetahuan kita ibaratkan mata uang yang mempunyai dua sisi yang saling bergantung satu sama lain untuk membentuk menjadi bernilai.
Kita telah memasuki masyarakat informasi dan menuju masyarakat pengetahuan oleh karena itu tantangan masa depan bukanlah terletak kepada masalah kompetesi melainkan terletak pada masalah meraih peluang-peluang yang serba terbuka di masa depan. Itulah suata fakta yang kita hadapi dalam memasuki dunia tanpa batas yang ditandai oleh kemampuan untuk mengeksplorasi pemikiran-pemikiran strategik dalam menggerakkan sikap antisipatif dan berperilaku proaktif dalam mewujudkan kesimbangan-kesimbangan yang terkait dengan customer, competitor, company, country dan currency (seperti yang diungkapkan 5 C oleh Kenichi Ohmae dalam The Borderless World)
Bertitik tolak dari hal-hal yang kita utarakan diatas ,maka keberhasilan meningkatkan nilai tambah haruslah adanya keputusan strategik yang menyangkut perekonomian berbasis pengetahuan, organisasi berbasis pengetahuan, pengelola dan pelaku berbasis pengetahuan.
Dengan demikian kemajuan teknologi informasi serta infrastruktur dalam telematika harus dapat kita manfaatkan Sistem Manajemen Pengetahuan kedalam aplikasi yang dapat memberikan informasi tepat waktu bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan alat-alat yang dibutuhkan dalam proses membuat analisis yang diperlukan dalam kreatifitas dan inovasi.
ISU
Masa kini dan masa depan telah menunjukkan bahwa aktiva yang sangat berharga adalah kekayaan yang berbentuk modal intelektual yang perlu dikelola dengan perangkat lunak, oleh karena itu manusia dan teknologi ibarat mata uang yang memiliki dua sisi yang saling bergantung, sehingga adalah sulit mengaplikasikan teknologi tanpa pernah menggunakan manajemen pengetahuan.
PERMASALAHAN
Permasalahan yang dihadapi sebelum implementasi sistem manajemen pengetahuan, diperlukan perhatian yang terfokuskan untuk dipikirkan agar kesenjangan yang ada dari cara lama ke cara baru mencakup :
• Dari awal semua pihak diikutkan untuk berpartisipasi agar mereka merasakan manfaat yang akan diperolehnya sehingga mereka merasa memilikinya.
• Menerapkan sesuatu diawal dengan sistem manajemen pengetahuan yang mudah dipergunakan secara operasional.
• Anggota tim yang bertanggung jawab atas pelaksanaan, memiliki kemampuan untuk terus berkomunikasi pada setiap pihak pengguna.
• Memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu iklim yang menarik bagi semua pihak atas diterapkan sistem manajemen pengetahuan tsb.
• Membangun suatu tim yang benar-benar mampu bekerja dengan cara baru dengan memanfaatkan sistem manajemen pengetahuan sebagai kelompok percontohan.
• Menerapkan cara baru, haruslah benar-benar mendapatkan dukungan dari pimpinan puncak dan memberikan percontohan sehingga dapat ditarik manfaat bagi semua pengguna.
• Adanya usaha-usaha untuk melibatkan pihak-phak yang menurut kepentingan memiliki kontribusi untuk keberhasilan dari suatu sistem manajemen pengetahuan yang diterapkan.
PENUTUP
Menerapkan sistem manajemen pengetahuan dengan mempergunakan perangkat lunak “LEARNING GARDEN” sebagai Sistem Knowledge Management (KM) berbasis web yang menggunakan pendekatan Competenncy directory (direktori kompetensi) sebagai pemetaan pengetahuannya untuk mendukung setiap pekerjaan yang ada dalam organisasi. Sistem ini mempunyai empat pola transfer pengetahuan yaitu pelatihan, konsultasi, diskusi dan dukumen.
Dengan demikian “Learning Garden” sebagai perangkat lunak dapat untuk mencapai tujuan berupa :
• Mendukung sharing knowledge (berbagi pengetahuan) berbasisikan pada kompetensi yang menjadi pensyaratan pekerjaan.
• Mendukung learning process (proses pembelajaran) diantara posisi-posisi pekerjaan berbeda yang mempunyai persyaratan kompetensi yang sama.
• Mendukung pembuatan competency directory (direktori kompetensi) yang sangat diperlukan untuk training analysis (analisa pelatihan) dalam setiap pekerjaan di dalam organisasi.