PENDAHULUAN
SDM yang unggul harus dapat dipertahankan secara berkelanjutan, untuk itu diperlukan suatu kebiajakan dalam pemberdayaan budaya sebagai aktualisasi kemampuan mengembangkan setiap individu secara mandiri artinya dengan budaya perusahaan yang melahirkan kebersamaan pola pikir mendorong kebiasaan SDM yang ungul memiliki komitmen dalam menjalankan peran yang ditugaskan kepadanya.
Jadi pemberdayaan haruslah dipandang sebagai suatu cara yang amat praktis dan produktif untuk mendapatkan yang terbaik dari SDM itu sendiri dan pengikut yang selalu siap dan komitmen atas keinginannya sendiri, sehingga ia tidak merasa diikat oleh organisasi birokratis.
Untuk menghadapi gelombang perubahan dari masyarakat informasi ke masyarakat pengetahuan dalam rangka meningkatkan usaha-usaha untuk memaksimumkan peluang yang terbuka dalam bisnis diperlukan suatu pemikiran untuk mempertahankan SDM yang unggul yang memliki komitmen diri kedalam organisasi sehingga tidak diperlukan untuk membuang energi dalam memecahkan pentingnya mempertahankan SDM karena tidak ada organisasi yang tidak menghadapi masalah seperti turnover, pergantian, merekrut, mengembangkan karyawan yang berdampak kepada sumber daya, oleh karena itu diperlukan pemikiran yang bersifat proaktif dalam kebijakan.
Dengan menolak cara pikir yang bersifat reaktif, maka CEO dengan kepemimpinan kolaboratif akan berusaha melaksanakan kebijakan yang brsifat proaktif artinya memikirkan segala sesuatu sebelum terjadi masalah dan oleh karena itu, lepaskan pikiran anda yang mendorong sikap dan perilaku yang terkait dengan suatu pernyataan seperti :
1) Saya berbuat begini semata-mata tidak dapat mempertahan sumber daya manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang dituntut sebagaian dalam bisnis ; 2) Saya tidak dapat memberi yang lebih dari sudah yang diberikan, untuk apa mereka menuntut yang lain lagi ; 3) Saya tidak punya waktu untuk memikirkan karyawan yang tidak memiliki kreatifitas untuk mendikung inovasi.
Dengan ungkapan itu, kita dapat membayangkan betapa sulitnya anda dalam bersikap dan berperilaku untuk memberikan keteladanan kepemimpinan yang sangat mendorong pola pikir yang bersifat reaktif dengan berdampak perusahaan akan sulit mempertahankan karyawan seumur hidup.
Sebaliknya kepemimpinan kolaboratif akan selalu mendorong pola pikir untuk menghindari masalah, sehingga mencari dan mempertahankan sdm yang unggul sebagaisuatu tantangan bahwa kehilangan karyawan menyebabkan efek domino harus dapat dihindari dengan melaksanakan pemberdayaan budaya kedalam kebiasaan yang produktif melalui apa yang kita sebut dengan 7M (Memahami, Mempercayai, Mendengarkan, Mendorong, Menghormati, Mengakui, Menghargai)
7 M DALAM MEMPERTAHANKAN SDM YANG UNGGUL
Pemberdayaan 7 M dalam kepemimpinan kolaboratif akan memberikan suatu situasi yang dapat menyejukkan hati karyawan yang selalu dapat memberikan inspirasi dalam lingkungan kerja yang kondusif. Untuk itu pemberdayaan 7 M merupakan solusi dalam usaha mempertahankan SDM yang unggul.
Secara singkat 7 M tersbut dapat kita ungkapkan sebagai pemahaman dalam kebersamaan berpikir dan bertindak seperti di bawah ini :
MEMAHAMI
Pimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi haruslah berperan untuk meletakkan diri anda pada posisi orang lain, maka anda akan dapat memhaminya. Dalam usahanya untuk memahami, pemimpin mencoba belajar memastikan letak permasalahan yang sebenarnya.
Mungkin dia belajar dari hal-hal ang tersirat, atau dari nada pembicaraan dan sindiran diantara dua orang karyawan. Dia juga mengerti bahwa ada sebagian karyawannya yang merasa lemah di berbagai aspek pekerjaan, walaupun mereka tidak pernah mengakuinya. Mereka mungkin enggan menulis laporan (khususnya jika mereka merasa kurang mampu membuat laporan baik) atau memimpin rapat dengan serikat pekerja (karena dia takut dengan serikat pekerja).
Dengan memahami, maka pemimpin belajar untuk memahami karyawan dengan segala permasalahannya, dan karena itu bisa memahami mereka maka ia dapat membantu mereka dan perusahaannya.
MEMPERCAYAI
Pimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi haruslah berperan untuk mempercayai bawahan anda, anda harus mempercayai diri sendiri. Sejalan dengan pikiran tersebut, maka anda melihat seluruh kekurangan serta kelebihan mereka pada dirinya. Dia yakin betul bahwa dia selamanya melakukan yang terbaik, demikian juga bawahannya.
Pemimpin mempercayai bawahannya karena dia yakin mereka akan melakukan yang terbaik bagi perusahaan, bagi unit kerja, baginya serta diri mereka sendiri. Mereka yang melakukan terbaik baginya karena mereka mempercayainya karena mereka yakin dia pun akan melakukan yang terbaik bagi mereka. Pemimpin mempercayai bawahannya karena dia bangga akan mereka, bangga akan apa yang mereka telah capai, usaha yang mereka telah lakukan dan apa yang mereka akan capai di kemudian hari.
MENDENGARKAN
Pimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi haruslah berperan bahwa setelah belajar berbicara, siapa yang akan belajar untuk mendengarkan ? Pemimpin adalah pendengar yang baik. Dia cukup endah hati dengan mau menyadari bahwa ia bisa banyak dari yang dikatakan orang lain.
Pada kenyataannya, dia tahu bahwa hanya dengan bersedia mendengarkan masalah orang lain yang datang padanya dan mungkin hanya dengan mengajukan pertanyaan tertentu, orang tersebut dapat menemukan cara penyelesaian masalahnya.
Pemimpin mendengarkan dengan penuh minat tentang apa yang dikatakan oleh kelompknya dan mencoba menciptakan banyak peluang untuk mendengarkan apa yang mereka katakan, mencoba memahami pandangan mereka, memahami masalah mereka. Pemimpin membiarkan mereka untuk mengatakannya terlebih dahulu, tidak memberi komentar apa-apa sampai ia tahu benar posisi mereka.
MENDORONG MENCAPAI YANG TERBAIK
Pimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi haruslah berperan, bahwa pemimpin tidak akan hanya duduk diam dan menunggu didorong oleh orang lain. Dia akan berdiri di barisan terdepan untuk memberikan semangat karyawan mencapai yang terbaik.standar yang lebih tinggi dan kontribusi yang lebih besar lagi demi keuntungan perusahaan.
Pemimpin berusaha untuk mendorong mencapai yang terbaik, memahaminya dan memberikan imbalannya melalui penghargaan dan memberikan umpan-balik yang membangun untuk mereka yang belum berhasil.
Untuk dapat mencapai yang terbaik ia akan memilih orang yang terbaik dan menjamin bahwa mereka mendapatkan pelatihan dan pengembangan yang terbaik pula. Ketika dia berkumpul bersama karyawannya maka ia akan berusaha meyakinkan bahwa semua karyawannya tahu pasti tentang standar mutu yang ingin dicapainya.
MENGHORMATI
Pimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi haruslah berperan bahwa menghormati adalah sikap menganggap, memandang atau mempertimbangkan karyawan. Jadi bila suasana menghargai / menghormati tida dirasakan, bekerja rasanya tidak nyaman.
Menghormati karyawan besar sekali manfaatnya. Tanpa rasa hormat kepada karyawan, segala tindakan dan komunikasi, bahkan upaya terbaik. Anda pun tidak akan berpengaruh banyak bagi peningkatan kenyamanan tempat kerja.
Menghormati karyawan bukanlah merupakan kegiatan yang bisa begitu saja anda lakukan, tetapi suatu sikap yang harus tertanam untuk menjaga hubungan anda dengan para karyawan. Mengembangkan sikap menghormati karyawan memerlukan waktu, upaya, kesabaran dan pengendalian diri.
MENGAKUI
Pimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi haruslah berperan bahwa mengakui kebradaan adalah sikap memperhatikan dan menyadari sungguh-sungguh, sehingga kurang pekanya pimpinan terhadap kebutuhan dan reaksi karyawan biasanya merupakan awal dari permasalahan dalam mempertahan karyawan.
Sebagian besar perusahaan mengartikan bahwa mengakui sebagai penghargaan terhadap prestasi atau tanda terima kasih misalnya memberikan hadiah dsb, namun bentuk penghargaan tersebut memang merupakan bagian dari pengakuan terhadap karyawan.
Pemahaman dalam arti luas, maka pengakuan terhadap karyawan harus ditunjukkan dalam sikap dan atau perilaku sebagai perhatian istimewa atau spesial dan diekspresikan dengan sikap / perilaku yang mencerminkan penghargaan.
MENGHARGAI
Pimpinan pada semua tingkatan dalam organisasi haruslah berperan bahwa menghargai adalah balas jasa ekstra yang harus diupayakan setelah mnghormati dan mengakui sehingga karyawan mrasa bernilai dan mau bekerja keras, memperhatikan perusahaan dan bekerja lembur, walauun merupakan porsi terkecil dai seluruh upaya mempertahankan karyawan, hal ini ttap merupakan bagian yang penting.
Jadi yang dimaksud dengan penghargaan disini adalah sesuatu yang diberikan oleh perusahaan kepada para karyawan, tetapi bukan gaji. Penghargaan yang baik akan mendorong karyawan senang datang ke kantor untuk kerja keras bagi perusahaan.
PENUTUP
Mempertahankan SDM yang unggul dalam usaha menghadapi tantangan masa depan sangat diperlukan suatu cara yang praktis dan dapat dilaksanakan, apa yang kita sebut pemberdayaan 7 M sebagai sarana untuk menuntun sikap dan perilaku.
7 M merupakan suatu kekuatan yang dapat menopang keunggulan dalam usaha yang dapat mempertahankan SDM yang unggul serta memotivasi karyawan untuk bertahan bekerja seumur hidup dan keluar dari efek domino dari ketidak puasan atas lingkungan kerja yang tidak kondusif.
Oleh karena itu diperlukan pemikiran baru dalam memecahkan, bagaimana mempertahan SDM yang unggul melalui pemikiran yang bersifat proaktif dan bukan reaktif sebagai suatu pendekatan baru dengan pemberdayaan 7 M.