PENDAHULUAN
Pemikiran yang berkaitan dengan pemanfaatan potensi SDM dalam kebiasaan yang produktif merupakan strategi yang harus dituangkan kedalam kebijaksanaan SDM yang mencakup:
1) rumusan yang jelas dari peran dalam menjalankan tugas-tugas yang rumit menjadi sesuatu yang mudah dipahami ;
2) menerapkan kemampuan kepemimpinan kolaboratif ;
3) penguasaan dari pada kemampuan SDM unggul dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya.
Bertolak dari ketiga hal diatas, maka pemanfaatan potensi SDM dalam kebiasaan produktif, diperlukan rumusan yang jelas dalam pelaksanaan mengenai kerja, jabatan, peran, pekerjaan, fungsi dan tugas yang sejalan dengan batas-batas wewenang dan tentang tanggung jawab sehingga prinsip delegasi dalam membuat keputusan dan tindakan, oleh karena itu apabila kerja telah didelegasikan kepada mereka, diperlukan adanya pemahaman mengenai hal-hal yang disebutkan dibawah ini :
1) melaksanakan tugas-tugas yang sejalan dengan target-target yang hendak dicapai ;
2) tidak boleh terjadi delegasi kembali keatas dan atau teman sejawat yang lainnya ;
3) menyampaikan informasi secara teratur ;
4) melaksanakan kerja sama pada semua pihak yang saling terkait ;
5) membicarakan masalah-masalah yang timbul dengan atasan yang terkait dengan
Kompetensi ;
6) pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan yang sejalan dengan delegasi.
Agar dapat terlaksananya pemanfaatan potensi SDM dalam kebiasaan produktif, perlu dipikirkan selain selain penguasaan ilmu dari informasi, pengetahuan dari pengalaman menjadi keterampilan, tetapi juga yang terkait dengan keinginan bersandarkan jati diri yang bersangkutan sebagai daya dorong, yang dalam hal ini diperlukan seperangkat keahlian yang perlu dikembangkan secara berkesinambungan yaitu menyangkut peningkatan keterampilan yang harus di tumbuh kembangkan melalui pengelaman yang diperoleh dari lingkungan diri sendiri dan atau pengelaman orang lain sebagai berikut :
1) fleksibilitas dalam berpikir ;
2) keberanian mengambil resiko ;
3) kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan ;
4) seni kepemimpinan.
EMPAT KEAHLIAN DALAM KETERAMPILAN
Salah satu tonggak dari kebiasaan yang produktif, apa yang disebut dengan pengetahuan dari pengelaman yang dibentuk oleh kebiasaan, yang menjadi daya dorong untuk dapat mengungkit kemampuan menjadi terampil yang harus di tumbuh kembangkan, mencakup apa yang diungkapkan lebih lanjut dibawah in :
Fleksibilitas dalam berpikir :
Kemampuan mengembangkan kekuatan berpikir dalam usaha mewujudkan fleksibilitas dalam berpikir akan sangat ditentukan oleh kemampuan menguraikan situasi dan mampu merumuskan masalah (strategis, pokok dan insidentil) serta memiliki kemampuan membuat analisis SWOT sehingga ia mampu menyelesaikan baik yang bersifat proaktif maupun yang bersifat reaktif.
Keberanian mengambil resiko :
Proses pengambilan keputusan terkait dengan resiko, oleh karena itu keberanian dalam mengambil resiko sangat dipengaruhi pula oleh jati diri pembuat keputusan sehingga setiap peristiwa apapun harus dapat memberikan daya dorong untuk melakukan apa yang salah haruslah di pandang sebagai suatu pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan dari keberanian mengambil resiko.
Kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan :
Sekali keputusan diambil berarti kesiapan melaksanakan harus sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai, tapi yang perlu yang diingat bahwa sesuatu keputusan bisa saja dirubah bila dipandang hal trsebut perlu dilakukan. Oleh karena itu, perlu ditumbuh kembangkan kemampuan dan ketahanan untuk tetap dilaksanakan suatu pekerjaan walaupun menghadapi tantangan sekalipun.
Seni kepemimpinan :
Peran kepemimpinan terletak kepada kemampuan mempengaruhi orag lain, oleh karena maka seni kepemimpinan haruslah dipahami dari unsur kata menjadi kata bermakna yaitu (K)apabilitas dari seorang (E)ntrepreneur / (E)ksekutif untuk melaksanakan (P)emberdayaan emosional sebagai daya dorong oran berpikir untuk (M)empengaruhi hubungan (I)nterpersonal dalam usaha untuk (M)emotivasi gaya (P)erilaku pada tingkat (I)ntensitas pada kemampuan (N)alar yang sejalan dengan (A)kal dan (N)aluri.
Jadi dengan memiliki empat keahlian tersebut diatas memberikan ruang gerak untuk menggerakkan kekuatan berpikir positip dalam menghadapi tantangan perubahan yang serba tingkat kompleksitas dalam memasuki era globalisasi diperlukan kemampuan keahlian yang disebutkan diatas.
PENUTUP
Kata kunci dalam usaha memanfaatkan potensi SDM yang unggul terletak pada kemampuan untuk mengorganisir kekuatan dalam „kerja tim“ dan pelaksanaan dari pelatihan yang berkelanjutan.
Membangun kerja tim, bukan sekedar untuk mengelompokkan orang-orang berada dalam satu tim, melainkan adanya kesiapan diri dari setiap anggota tim atas potensi yang dapat diberikannya untuk menjalankan peran dalam tim sebagai peran DRIVER (mengembangkan gagasan, memberi arah, menemukan hal-hal baru) ; PLANNER (menghitung kebutuhan tim, merencanakan strategi kerja, menyusun jadwal) ; ENABLER (ahli memecahkan masalah, mengelola sarana / sumber daya, menyebarkan gagasan, melakukan negosiasi) ; EXEC (mau bekerja menghasilkan output, mengkoordinir dan memelihara tim) CONTROLLER (membuat catatan, mengaudit dan mengevaluasi kemajuan tim)
Pelatihan, merupakan investasi pelatihan dan pendidikan yang berkesinambungan bagi staf dan manajemen yang harus direncanakan secara menyeluruh dan sistimatis sebagai usaha peningkatan potensi SDM yang unggul masa keni dan masa depan.