III. RUMUSAN MASALAH
Bertitik tolak situasi yang telah kita ungkapkan diatas maka daur hidup berbangsa dan negara dalam proses untuk tumbuh dan berkembang hanya-lah satu impian dari waktu ke waktu sejak kepemimmpinan nasional silih berganti atau dengan kata lain yang biasa disebut orde lama ke orde baru ke orde reformasi jauh dari harapan.
Bangsa dan Negara ini sudah terjerumus kedalam satu situasi yang menjadi permainan pihak ketiga sehingga manusia yang berperan dengan sikap dan perilaku yang bersifat wara’ artinya menjauhi dari makna “OTAK” sehingga mereka menerjang batasan-batasan Allah dan dengan terus menerus mengerjakan maksiat seperti yang terlihat dan nyata dalam kehidupan memperkaya diri individu dan kelompok. Prinsip hidupnya materialistik dan Kiblat kepada manusia.
Dengan pemikiran diatas, kita sampai pada kesimpulan rumusan masalah yang kita kelompokkan menjadi “Masalah Abnormal yang kita sebut dengan PENYAKIT” yang sifatnya Kritis / Strategik artinya seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, disebut:
1. Masalah kritis
KELOMPOK PERTAMA KEMISKINAN YANG TERPOLA artinya manusia yang memiliki kekuasaan tapi tidak mau memikirkan perubahan yang berencana, disininalah kemiskinan hati nurani yang tidak ditopang kebesaran jiwa. Hidup penuh kemewahan dan berkecukupan dengan tidak ada kemauan mencari kebenaran berlandaskan agama dengan keyainan menjalankan amanah atas kekuasaan yang dimilikinya.
2. Masalah pokok
KELOMPOK KEDUA KEMISKINAN YANG TERPAKSA artinya manusia yang memiliki kekuasaan terbatas, tapi hidup berkecukupan memiliki hati nurani tapi tidak berani berbuat walaupun ada benih kemauan sayangnya tidak ditopang oleh kejernihan dalam berpikir.
3. Masalah insidentil
KELOMPOK KETIGA KEMISKINAN YANG DICIPTAKAN OLEH KEADAAN artinya manusia yang tidak memiliki kekuasaan tapi memiliki hati nurani dimana didalamnya terdapat manusia yang benar-benar miskin karena tidak mampu memenuhi kebututuhan hidup dasar, selain itu terdapat pula didalamnya manusia dapat memenuhi hidup terbatas. (
Ketiga masalah tersebut adalah ketidak mampuan pemain peran melepaskan diri satu kekuatan yang kita sebut dengan „Krisis Tersembunyi“, yang dimainkan oleh pihak ketiga, dan untuk itu diperlukan kekuatan daya kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan secara radikal dalam proses perubahan.
III. PEMECAHAN MASALAH
Bertitik tolak dari rumusan masalah kritis, pokok dan nsidentil, maka diperlukan kesamaan pandangan berpikir dalam memecahkan masalah penyakit kemiskinan bahwa bila masalah kritis tidak terpecahkan akan melahirkan masalah pokok dan masalah insidentil.
Masalah insidentil, dengan demikian semenjak kita merdeka 46 tahun, tidak akan pernah kita menyelesaikan bila masalah pokok dan kritis tidak terpecahkan.
Oleh karena itu, mendorong kami untuk berpikir secara intuitif untuk mamandang arah masa depan bangsa Indonesia, apakah dapat tumbuh dan berkembang menjadi satu bangsa yang disegani sebagai umat islam yang terbesar didunia, Bumi Indonesia dianugrahi oleh Allah SWT yang luar biasa kekayaan yang dilimpahkannya, tetapi kenyataan setelah kita merdeka sampai hari ini., hanyalah satu impian. Walaupun kita telah memasuki reformasi untuk mewujudkan cita-cita apa yang tertuang dalam mukadimah UUD 1945, masih jauh dari harapan bahkan mungkin Negara kita ini memang diciptakan pihak ketiga menjadi bangsa yang tidak akan bisa tumbuh dan berkemban. Inilah pertanyaan yang mengusik saya berpikir intuitif.
Bertitik tolak dari pemikiran intuitif tersebut, maka kita menyadari sepenuhnya bahwa dalam perjalanan hidup ini kita jauhkan dari pengalaman yang berdampak menyakitkan diri tetapi dibalik itu kita memahami arti apa yang dibawa oleh pengalaman itu dalam memasuki proses perubahan.
Jadi mengungkapkan pengalaman masa lalu dan kita menjalani masa kini dengan penuh harapan, itu berarti kita menatap masa depan bagaimana sebaiknya kita memasuki abad 21, dimana setelah kita memasuki reformasi kehidupan bernegara dan berbangsa, dimana realita menunjukkan kehadapan kita sebagai bangsa apakah kita masih bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita bangsa.
WHY ? Tidak lain, karena belum siapnya kita menerima demokrasi, sebagai alat untuk melaksanakan reformasi dari seluruh aspek kehidupan bernegra.
WHEN ? Tidak lain, karena sejak lama kita dijajah dalam proses berpikir, dalam masa penjajahan, merdeka sampai kini kita sulit untuk berubah.
WHAT ? Tidak lain, dalam masa orde baru demokrasi bernafas hanya suatu retorika belaka, sehingga lembaga pendidikan tidak mampu untuk menjadi daya dorong sebagai basis kehidupan berdemokrasi dan sudah menjadi budaya bahwa setiap pemimpin mementingkan individu dan kelompoknya.
HOW ? Tidak lain, karena ketidak kemampuan kita merubah pola pikir lama dari memecahkan masalah ke menghindari masalah, sehingga selalu salah dalam menyelesaikan masalah.
WHO ? Tidak lain, karena kepemimpinan dalam semua peran dalam menjalankan tugas bangsa dan negara. Coba simak kepemimpinan nasional masa Soekarno dan Hatta dimana Hatta yang bertentangan pandangan dengan senang hati untuk mengundurkan diri dari kekuasaan, satu contoh keteladanan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh siapapun saat ini. Semua pemimpin saat ini kiblatnya kepada manusia, sehingga sikap dan perilakunya sangat sulit berubah, lebih-lebih kalau kepentingannya dan kelompoknya ditentang. Kesemuanya itu lahir dari sifat kepribadian yang materlistiik, sehingga ia tidak mampu untuk mengenal tentang dirinya. Inilah satu kenyataan yang kita hadapi.
Kesimpulan sistom yang menunjukkan kepada kita adalah masalah abnormal sebagai satu “PENYAKIT” dari wabah „KRISIS TERSEBUNYI“ ,
Marilah kita menyatukan sudut pandang bahwa kedua kelompok tersebut yang menciptakan penyakit sebagai pemain peran eksekutif, legislatif dan yudikatif serta yang terlibat dalam peran badan usaha tidak dapat lagi dipercaya untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan sehingga mereka menjadi manusia yang tidak memiliki kekuasaan.
Tuntutan inilah perlu kita lakukan bersama secara radikal untuk melakukan perubahan revolusi berpikir bukan dengan kekuatan fishik yang kita akan dihadapkan dengan berbenturan dengan pihak-pihak yang mendukung status quo.
Untuk itu diperlukan satu keberanian yang didukung oleh pemain peran utama yang melakukan perubahan yang berencana dengan prinsip memiliki kekuatan nurani melawan kezaliman
Tanpa kepemimpinan baru yang memiliki kemauan yang kuat untuk membuka tabir „Krissis tersembunyi“ dalam memecahkan kemiskinan yang mengakibatkan penderitaan dan perasaan ummat dapat dipahami.
Kekuatan kepemimpinan baru harus mampu menyatukan kepentingan untuk mengubah takdir sebagai kekuatan mengubah nasib kedalam kekuatan yang didukung oleh keinginan yang berlandaskan niat untuk memecahkan kemiskinan.
IV. R I N G K A S A N
Perubahan berencana sangat diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan oleh karena itu agar bangsa ini dapat tumbuh dan berkembang maka diperlukan satu pemikiran yang harus dicapai dengan kekuatan revolusi berpikir.
Oleh karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang memiliki hati nurani melawan kezaliman yang menimpa bangsa Indonesia, bayangkan bumi Indonesia yang kaya raya, tidak mampu menjadi negara yang disegani dengan penduduk 231 juta.
Saat ini kita telah diperlihat musibah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang tidak mampu mengubah daur hidup Negara Indonesia kedalam satu kekuatan baru, bayangkan 61 tahun Negara ini merdeka tidak mampu mengangkat derajat manusia Indonesia seutuhnya.
Belajar dari pengalaman masa lalu yang dipimpin oleh pemain peran yang berperan sebagai pendukung dalam kabinet Indonesia dari waktu ke waktu menjadi kekuatan yang terus tumbuh dan berkembang sebagai agen “economic Hit Man” menjadi bangsa Indonesia kedalam daur hidup yang sangat keritis yang berada dalam posisi kemiskinan sebagai akibat adanya “Krisis tersembunyi”
Hal itu telah ditunjukkan dengan berbagai MUSIBAH oleh kebesaran Allah Swt, bahwa bangsa ini tidak akan bisa tumbuh dan berkembang tanpa mengadakan penggantian peran-peran utama secara radikal berubah dalam berpikir untuk mengubah takdir kedalam kekuatan mengubah nasib yang dipimpinan oleh pemimpin yang mampu mengetuk dinding jiwa bukan pemimpin yang berperan dengan wajah yang penuh topeng kepalsuan.
Dengan keberanian kita harus mampu menggerakkan revolusi berpikir dimana pintu masuk sudah terbuka dengan ditunjukkan adanya MUSIBAH dalam seluruh aspek kehidupan, untuk itu perlu kita menyatukan sudut pandang dalam menyatukan gerakan untuk melakukan perubahan secara pasti dengan dukungan semua pihak yang menyadari sepenuhnya bahwa pemain peran saat ini tidak memiliki hati nurani melawan kezaliman, untuk itu ini satu kekuatan pikiran berupa :
“Hari ini hidup justru yang menentukan, kehidupanan kita ……..
Dalam kelangsungan kehidupan yang pendek itu terckup semua kegiatan ………..
Dan kebahagian dari wujud hidup anda, kebahagia, pertumbuhan,
Kegemilangan, keindahan, keagungan tindakan ……………..
Kemarin hanya satu impian …………..
Besok satu pandangan ………………..
Tetapi hari ni bila hidup baik ………………
Akan membuat tiap hari kemarin suatu impian kebahagian ………
Karenanya manfaatkan sebaik-baiknya hari in “ ……………………..
