REFORMASI MENUNTASKAN KEMISKINANDALAM PERSFEKTIF 2025
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
1. PENDAHULUAN
2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI
3. BELAJAR DARI PENGALAMAN GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR
4. MENYAMAKAN POLA PIKIR
5. SUATU PEMIKIRAN GBHN DALAM PERSFEKTIF 2025
6. GBHN DAN KONSEPSI BUDAYA
7. APLIKASI BUDAYA BERBANGSA DAN BERNEGARA
8. STRUKTUR ORGANISASI KABINET
9. PRINSIP MODEL PENYUSUNAN APBN TAHUNAN
10. P E N U T U P
KATA PENGANTAR
Kegelisahan yang dituangkan „Meretas Kesenjangan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara“ oleh M. Fauzan Rachman selaku Ketua Umum G.M.B.I (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) memperkuat daya kemauan dan kebiasaan sebagai daya dorong untuk mengingat kembali agar pihak-pihak yang berkepentingan supaya membentuk ingatan yang kuat dengan pikiran yang terang bahwa reformasi dalam kehidupan dan bernegara melahirkan begitu besar peran „Economic Hit Man“ selaku agen pihak ketiga baik disadari maupun tidak untuk menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejalan dengan pikiran diatas, agar kegelisahan dan atau ketidakpuasan terjadi dalam masyarakat sehingga menjadi racun kehidupan harus dapat digerakkan menjadi kecemasan sebagai kekuatan untuk melaksanankan reformasi ke jalan yang benar dalam meletakkan konsepsi „Demokrasi, Politik dan Kekuasaan“ dengan menggerakkan kekuatan pikiran kedalam makna KAYA (Kebenaran, Agama, Yakin, Amanah)„ mejadi satu kekuatan pikiran kedalam „Ketaatan dan Berpikir positip“
Sudah saatnya kita bersyukur dengan segala nikmat yang telah Allah berikan atas Ilmu, Waktu, Kekayaan, pada bangsa Indonesia memulai hidup baru karena tidak ada gunanya menangisi yang telah berlalu dengan segala Musibah yang telah diingatkan oleh Allah Swt.
Jawabannya ia tuangkan kembali sebagai pemikiran untuk mengangkat revolusi berpikir kedalam „Reformasi Menuntaskan Kemiskinan Dalam Persfektif 2025“ sebagai usaha menggugah hati melawan kezaliman.
Bandung, 10 Juni 2011.
1. PENDAHULUAN
Apa yang terpikirkan oleh kita dalam berbangsa dan bernegara menjelang pemilu 2014 dimana kita telah dihadapkan kepada gelombang perubahan yang komplek dan cepat dalam abad 21, bila kita tidak dapat menangkap perubahan itu berarti kita akan kehilangan peluang untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI, jangan sampai kita kehilangan napas karena bila kita salah melangkah dalam dahur hidup kematian demokrasi.
Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dituntut dalam era reformasi ini, untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan agar kekuatan pikiran dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku secara radikal sehingga dapat meretas jalan menjadi diri sendiri, inilah kita maksudkan perubahan pola pikir secara radikal.
Seandainya anda seorang muslim, coba renungkan perintah seperti yang termuat dalam Q.S. 3 : 165 “ Dan mengapa kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu ( pada peperangan Badar) kamu berkata : “Darimana datangnya (kekalahan) ini ?”. Katakanlah : “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Oleh karena itu jauhilah sifat orang-orang munafik dan sejalan dengan itu, coba pula renungkan pepatah yang mengatakan “Siapa mengenal dirinya , tentu ia akan mengenal Tuhannya. Jadi itulah kekuatan pikiran yang dapat menggugah jiwa anda dalam tingkat kesadaran inderawi yang paling rendah dalam usaha menemukan diri sendiri.
Untuk mendapat kepribadian manusia yang bertanggung jawab atas “kebebasan berkehendak” diperlukan perubahan pola pikir secara radikal artinya orang yang mampu menemukan tentang dirinya, maka ia akan selalu bertindak yang sejalan dengan apa yang diperlukan oleh tuntutan perubahan
dalam melaksanakan demokrasi yang bertolak dari kerjasama dalam membuat impian menjadi suatu kenyataan.
Apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dalam masa orde reformasi, pemimpin hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dengan begitu banyaknya lahir partai-partai baru, tapi terbayangkah olehnya mengenai pemberdayaan „demokrasi politik“ berlandaskan pola pikir yang radikal yang diberikan Agama kepada ummatnya dalam menata hidup dengan kebebasan berpolitik.
Inilah suatu kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia dengan peran pemimpin yang memiliki jiwa dengan banyak topeng kepalsuan yang ditunjukkan oleh kebiasaan dalam berpolitik untuk mendapatkan hasil kekuasaan, setelah itu mereka tidak pula berkeingin merubah kesadaran inderawinya, itu berarti tidak mampu berbuat sesuatu memperkuat daya kemauan dalam menangkap karunia Ilahi. Mampukah kita keluar dari ancaman abad jahilaiyah modern ini ?
Jadi keadaan lingkungan hidup bangsa dan negara kita seperti yang kita kemukakan diatas adalah keadaan yang diciptakan terus menerus oleh pihak ketiga agar bangsa ini dengan kekayaan alam yang luar biasa di karunia oleh Allah Swt, tidak akan bisa bangkit walaupun telah ditunjukkan dengan azab oleh yang maha kuasa, karena mereka tidak dapat merasakan pahitnya perjalanan hidup bangsa ini karena mereka telah diracuni oleh pemikiran neoliberalisme sebagai kenderaan „globalisasi“ dengan doktrin liberalisasi, privatisasi, deregulasi sebagai sarana imperialisme.
Sangat menarik bagi pemimpin masa depan untuk membaca kembali „Indonesia menggugat“ pledoi Bung Karno di depan pengadilan kolonial 18 Agustus 1930.
