<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pengembangan Sumber Daya Manusia</title>
	<atom:link href="http://sdmatr.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sdmatr.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Jul 2011 14:59:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sdmatr.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pengembangan Sumber Daya Manusia</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sdmatr.wordpress.com/osd.xml" title="Pengembangan Sumber Daya Manusia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sdmatr.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PEEMECAHAN MERETAS KESENJANGAN (3) DAN (4)</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/peemecahan-meretas-kesenjangan-3-dan-4/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/peemecahan-meretas-kesenjangan-3-dan-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 14:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[  3. BELAJAR DARI PENGALAMAN  GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR Gejolak ketidak puasan, yang menginginkan perubahan dengan cepat, yang tidak mungkin kita capai, siapapun dia. Tapi gelombang perubahan tidak dapat dibendung yang selalu dimotori oleh MAHASISWA yang telah menunjukkan hasil perubahan berbentuk tumbangnya kekuasaan orde lama yang melahirkan orde baru, sekali lagi tidak ada perubahan  mindset [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=236&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3. BELAJAR DARI PENGALAMAN  GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR</strong></p>
<p>Gejolak ketidak puasan, yang menginginkan perubahan dengan cepat, yang tidak mungkin kita capai, siapapun dia. Tapi gelombang perubahan tidak dapat dibendung yang selalu dimotori oleh MAHASISWA yang telah menunjukkan hasil perubahan berbentuk tumbangnya kekuasaan orde lama yang melahirkan orde baru, sekali lagi tidak ada perubahan  mindset untuk keluar dari ketidak mampuan meninggalkan kepentingan individu dan kelompok yang memliki dampak yang luas lagi sampai tahun 1995.</p>
<p>Begitulah kenyataan yang kita hadapi harus gelombang ketidak kepercayaan bergulir dengan kekuatan mahasiswa sebagai penggerak ketidak puasan disana sini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Kekuatan MAHASISWA harus ditafsirkan dari haruf menjadi kata kedalam untaian kalimat, artinya kata MAHASISWA terdiri dari (M)anusia ; (A)mbisi ; (H)ati) ; (A)kal ; (S)ehat ; (I)ntelektual ; (S)asaran ; (W)awasan ; (A)ngkatan.</p>
<p>Jadi MAHASISWA adalah (M)anusia yang memiliki (A)mbisi yang digerakkan oleh cahaya mata (H)ati dengan keputusan (A)kal yang (S)ehat dengan landasan (I)nteletual  sebagai (S)arana untuk menumbuh kembangkan (W)awasan ke dalam (A)ngkatan penggerak dalam pembaharuan dari waktu ke waktu.</p>
<p>Oleh karena itu, MAHASISWA sebagai angkatan penggerak dalam revolusi berpikir, maka apakah tidak ada arti pengalaman untuk mengajarkan perubahan tingkat kesadaran kepemimpinan dari masa lalu ke masa kini menuju ke masa depan dimana letak kesenjangan itu terjadi. Kesenjangan itu terus bergulir seperti hidup ini dikejar bayangan ketidak pastian dari seluruh aspek kehidupan.</p>
<p>Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulai-nya ? Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Mampukah kita bajar dari pengalaman masa lampau dan masa kini untuk menangkap perubahan berpikir menuju ke masa depan. Masih perlu kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing, tapi ada bukti bahwa kekuasaan dapat mempengaruhi kesadaran seseorang bisa merubah  mempengaruhi perubahan  dari kesadaran tauhid (paling tinggi), berubah mejadi kesadaran spiritual (tingkat ketiga), berubah menjadi kesadaran rasional / ilimiah (tingkat kedua) dan akhirnya terbentuk menjadi  kesadaran inderawi (tingkat pertama / terendah).</p>
<p>Begitulah perjalanan hidup ini, ternyata yang diutamakan kepentingan pribadi dan kelompok sangat sulit menangkap perubahan apa yang sedang bergerak, sehingga ucapan tidak sama dengan perbuatan yang menggambarkan jiwa dengan topeng kepalsuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. MENYAMAKAN POLA PIKIR</strong></p>
<p>Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka diperlukan satu pendekatan agar terwujud kebersamaan dalam memandang masa depan agar dapat memberikan daya dorong bagi semua pihak yang dapat memberikan sumbangan pemikiran agar wujud berbangsa dan bernegara dapat kita realisasikan dari kehidupan masa kini ke masa depan melalui perubahan berpikir secara radikal dalam memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.</p>
<p>Pendekatan yang dipergunakan adalah melaksanakan demokrasi dan manusia dalam pemahaman secara utuh. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka apa yang telah kita ungkapkan diatas agar kita dapat memahami untuk melaksanakan pendekatan tersebut dengan tujuan :</p>
<ul>
<li>Memberikan peluang untuk kita bisa bertukar pikiran tentang pe menyatukan kesamaan visi dalam bersikap dan misi dalam berperilaku.</li>
<li>Menyatukan kesamaan pandangan dalam merumuskan masalah yang kita hadapi terhadap pelaksanaan demokrasi dan manusia secara utuh.</li>
<li>Mengembangkan kebersamaan dalam komitmen untuk mewujudkan keseimbangan kepentingan berbangsa dan bernegara.</li>
<li>Merumuskan pemikiran pemecahan untuk tumbuh dan berkembang  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</li>
</ul>
<p>Kalaulah kita sependapat dengan pemikiran diatas, maka harapan dalam persfektif untuk memecahkan kesenjangan model berpikir masa lampau menuju ke model berpikir ke masa baru, kita harus pertama-tama meyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa berubah sesuai dengan tuntutan perubahan yang kita kehendaki bersama.</p>
<p>Tanpa niat dengan keinginan yang ikhlas tidak mungkin kita dapat menemukan titik pandang yang sama untuk mewujudkan cita-cita yang termuat dalam mukadimah UUD 1945.</p>
<p>Bertitik tolak dari hal-hal yang kita kemukakan diatas, marilah kita secara terbuka untuk mengungkapkan jalan pikiran kita sehingga kita mampu berpikir untuk menyatukan pandangan yang sama bagaimana sebaiknya sikap dan perilaku individu dan kelompok mencari bentuk dalam memanfaatkan demokrasi dan manusia seutuhnya.</p>
<p>Dari jejak perjalanan maka perjuangan mahasiswa dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi terkesan suatu perjuangan yang berlatar belakang situasi yang menimbulkan masalah ketidak puasan dari para pelaku peran dalam lembaga eksekutif, legislatif dan judikatif serta pelaku ekonomi tidak mampu merubah pola pikir yang berlandaskan kesadaran inderawi yang mendewakan materialisme dalam kehiupan.</p>
<p>Keadaan tersebut mendorong Negara dan bangsa Indonesia tidak bisa keluar dari daur hidup yang terpuruk yang disebut dengan masalah yang komplek dan penyakit yang kita sebut dengan „KEMISKINAN“ dan situasi tersebut yang dikehendaki pihak ketiga agar Negara dan Bangsa Indonsia dengan berpenduk hamper 90 % memeluk Agama Islam dianggap menjadi pendobrak dunia masa depan.</p>
<p>Kenyataan tersebut terus berlangsung dimana angkatan muda dan mahasiswa diadu domba dengan angkatan tua dan tak jarang pula tokoh Islam juga terlibat.</p>
<p>Untuk menambah wawasan Bacalah buku Islam Demokrasi Atas Bawah, polomik strategi perjuangan ummat model Gus Dur dan Amien Rais ; Fakta Diskrimansi Rezim Soehato terhadap Ummat Islam. Begitu juga buku-buku dermokrasi banyak ditulis Seperti Soekarno, Hatta, Gus Dur Amin Rais, Mochtar Lubis, Soedjatmoko,  dan sebagainya.</p>
<p>Tak jarang pula memberi arti tersendiri bila membaca seperti “Dibawah bendera oposisi, pembelaan alhilal dalam perkara mahasiswa Indonesia di pengadilan Negeri kelas 1 Bandung” ; Hati Nurani Seorang Demonstran, Hariman Siregar” ; Jalur Baru Sesudah runtuhnya ekonomi terpimpin ; “Opini Masyarakat, Reformasi Kehidupan Negara” Menggugat masa lalu, menggagas masa depan ekonomi Indonesia “ Dialog Indonesia kini dan esok”  Menuju masyarakat baru Indonesia, antisipasi terhadap tantangan abad XXI “ Membangun Indonesia Baru “ Kapan Badai Akan Berlalu” dan banyak lagi buku-buku seperti untuk membangun inspirasi.</p>
<p>Lihat pula pada kenyataan setelah Mantan Presiden Soeharto wafat, fihak ketiga sangat mudah sekali mengadu dombakan fihak-pihak yang pro dan kontra sehingga kita terjerat kepada bukan mencari pemecahan masalah tapi menimbulkan masalah baru, biarlah situasi berjalan sebagai mana mestinya, tapi dibalik itu marilah menyusun dan mencurahkan pikiran serta energi kita untuk melihat kemasa depan kedalam satu konsep pemahaman demokrasi seabagai sistem yang hendak ditegakkan, aplikasi konsep dari sub-sistemnya dan menuangkan kedalam GBHN yang akan menjadi bagi calon pemimpin nasional yang terpilih.</p>
<p>Garis Garis Besar Haluan Negara (GBHN) haruslah di pandang sebagai suatu konsep Manajemen Persfektif artinya ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan mengenai “apa yang harus dilakukan dan mengapa, bagaimana melaksanakan, dan keinginan mau melakukan.</p>
<p>Rangkaian konsep tersebut merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan untuk menggerakkan kemampuan berpikir dalam kerangka persfektif dari hasil analisis strategis yang yang dituangkan dalam apa yang kita sebut GBHN.</p>
<p>Jadi GBHN dalam pandangan manajemen persfektif adalah haluan negara sebagai pedoman untuk menyusun rencana pembangunan lima tahunan berdasarkan persfektif 25 tahun kedepan dengan mendapatkan persetujuan setiap lima tahun dari MPRRI melalui DPRRI</p>
<p>Dengan merumuskan GBHN dalam persfektif 25 tahun akan terjadi rencana yang berkesinambungan dengan maksud dan tujuan sebagai brikut :</p>
<ul>
<li>Adanya pedoman yang dapat dipergunakan untuk menyusun rencana lima tahun kedalam GBHN.</li>
<li>Terwujudnya kesinambungan dalam pembangunan berdasarkan arah yang telah ditetapkan.</li>
<li>Dalam kehidupan demokrasi bahwa kepemimpinan nasional hanya berlaku dalam dua kali jabatan, sehingga harus tetap dipertahankan dalam pencapaian tujuan pembangunan.</li>
<li>Setiap masa jabatan dalam kemimpinan nasional yang terpilih, ditetapkan ukuran-ukuran keberhasilan berdasarkan GBHN</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=236&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/peemecahan-meretas-kesenjangan-3-dan-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMECAHAN MERETAS KESENJANGAN (2)</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/pemecahan-meretas-kesenjangan-2/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/pemecahan-meretas-kesenjangan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 14:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[  2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN  DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI Pertama, demokrasi dengan arah persfektif: Apa yang terjadi setelah orde reformasi berjalan sampai saat ini dengan begitu maraknya kebebasan berpikir dan berpendapat, tapi justru inilah yang dikehendaki oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tidak dapat menemukan jati dirinya sendiri karena apa yang dipikirkannya selalu bertolak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=234&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN  DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI</strong></p>
<p><strong>Pertama, demokrasi dengan arah persfektif:</strong></p>
<p>Apa yang terjadi setelah orde reformasi berjalan sampai saat ini dengan begitu maraknya kebebasan berpikir dan berpendapat, tapi justru inilah yang dikehendaki oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tidak dapat menemukan jati dirinya sendiri karena apa yang dipikirkannya selalu bertolak belakang dengan harapan dari perubahan pola pikir karena mereka yang berperan dalam kekuasaan telah dibutakan mata hatinya dimana hati yang mati karena tidak menambah ilmu, pengetahuan dan niat di jalan yang lurus, sebaliknya hati yang hidup yaitu hati yang ada iman.</p>
<p>Oleh karena itu, membangun kebersamaan dalam melaksanakan pemberdayaan demokrasi diperlukan suatu pendekatan sistem yang mengungkapkan kebutuhan dari sisi prosesnya, tapi tidak berarti kita keluar dari sisi kontennya, sehingga dalam mensiati jiwa manusia sebagai sistem, maka bagaimana kita mampu untuk menintergrasikan manusia kedalam sub-sistem yang ada dan memiliki sifat ketergantungannya yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pemikiran jiwa subjektif dan jiwa objektif, itulah pentingnya melihat dari proses.</p>
<p>Jadi manusia yang memiliki kemampuan berpikir akan berusaha melihat proses mengintergrasikan sub-sistem dari manusia itu sendiri yang dirumuskan bersama berdasarkan kebutuhan.</p>
<p>Untuk memberikan daya dorong kedalam pola pikir yang radikal dalam kebersamaan untuk membahas manusia dalam sub-sistem  maka dibawah ini kita mencoba mengungkapkan dari huruf menjadi kata bermakna sebagai unsur yang harus mendapatkan perhatian kedalam pola pikir yang mempengaruhi proses pikiran untuk menyatukan titik temu bila terjadi silang pendapat.</p>
<p>Untuk melaksanakan pemberdayaan Demokrasi bila kita uraikan dari unsur kata yang bermakna sbb.</p>
<p>Kata D menjadi (D)ewasa</p>
<p>Kata E menjadi (E)mosional</p>
<p>Kata M menjadi (M)emahami</p>
<p>Kata O menjadi (O)rang</p>
<p>Kata K menjadi (K)erjasama</p>
<p>Kata R menjadi (R)asional</p>
<p>Kata A menjadi (A)kal</p>
<p>Kata S menjadi (S)sistem</p>
<p>Kata I  menjadi (I)ntergritas</p>
<p><strong>(D)ewasa</strong> dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses berpikir yang tidak ditentukan oleh umur manusia tapi lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dari manusia itu sendiri. Jadi muda dan atau tua dalam bersikap dan berperilaku sangat dipengaruhi oleh kedewaasan berpikir yang bersangkutan sehingga terlihat dari ucapannya dengan perbuatan. Dengan demikian Dewasa dalam berpikir juga ditentukan oleh peran lingkungan anda berada tapi tergatung pula prinsip hidup yang anda jalankan.</p>
<p><strong>(E)mosional</strong> dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses mengendalikan emosi yang mempengaruhi sikap dan perilaku sangat tergatung kepada kemampuan mereka dalam meningkatkan arti kecerdasan emosional pada potensi manusia sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p><strong>(M)emahami</strong> dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses kemampuan peran anda dalam mempengaruhi orang lain dalam bersikap dan berperilaku</p>
<p><strong>(O)rang</strong> dalam Demokrasi adalah manusia yang secara terus menerus berkemauan untuk memahami arti keberadaannya dalam suatu komunitas dalam memahami siapa, darimana dan kemana.</p>
<p><strong>(K)erjasama</strong> dalam Demokrasi adalah pangkal usaha bersama untuk membangkitkan impian menjadi suatu kenyataan, tanpa itu tidak akan tumbuh kemajuan dalam membangun kebiasaan dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p><strong>(R)asional</strong> dalam Demokrasi adalah dorongan dari pengalaman yang dapat mengungkapkan kebutuhan yang didasarkan pada pikiran yang logis yang ditunjukkan hasil analisis yang seksama dan cermat dari pikiran yang sehat, tertib, dan teratur.</p>
<p><strong>(A)kal</strong> dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam memanfaatkan alat pikiran untuk menggerakkan proses dalam membuat keputusan, bagaimana seharusnya dijalankan dengan proses kesadran dan kecerdasan manusia itu sendiri.</p>
<p><strong>(S)istem</strong> dalam Demokrasi adalah pedalaman suatu paham yang menjurus kepada penataan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara seharusnya kekuatan pikiran yang diaktualisasikan atas dasar sistem yang yang memiliki unsur sebagai sub-sistem yang saling keterkaitan satu sama lain sehingga membentuk suatu totalitas.</p>
<p><strong>(I)ntergritas</strong> dalam Demokrasi adalah membangun kebersamaan dalam sikap dan perilaku kedalam komitmen yang datang dari diri sendiri bukan sesuatu yang dipaksakan menjadi kebiasaan dalam membentuk keutuhan, keterpaduan dan kebulatan.</p>
<p>Dengan pemahaman unsur kata demokrasi menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan demokrasi menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan merebut kekuasaan.</p>
<p>Mampukah kita menarik dari kesusahan dapat pengalaman, dari kesalahan dapat kesempurnaan dari kekhilafan dapat kesadaran. Hal ini diharapkan memperkuat daya kemauan, apabila semuanya ini dilakukan dengan segala keinsyafan, maka rasa tanggung jawab akan tertanam didalam dadanya.</p>
<p>Dari pengalaman telah menunjukkan bahwa dalam masa era reformasi tidak ada perubahan yang terjadi untuk meletakkan landasan yang kuat untuk membangun demokrasi seperti apa yang diharapkan.</p>
<p>Bahkan konflik terus berkembang sebagai suatu situasi yang diciptakan untuk mempertahankan status quo disatu sisi dan disisi lain KKN terus berkembang ke seluruh pelosok kehidupan berbangsa dan bernegara setelah otonomi daerah dijalankan.</p>
<p>Pasca pemilu 2004, dikatakan proses demokratisasi berjalan pada jalur dan arah yang benar kedalam transformasi kehidupan sosial politik. Inilah satu kesalahan besar yang ditunjukkan dalam kebebasan berkehendak yang tidak bertanggung jawab yang berdampak masyarakat dan Negara makin menuju daur hidup kematian demokrasi dengan tingkat kemiskinan yang terus menerus bertambah.</p>
<p>Apakah masih ada peluang bangsa dan Negara ini untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita yang tertuang dalam UUD 1945 yang telah empat kali berubah dengan isu perubahan kelima yang digagas oleh Presiden RI.</p>
<p>Bagaimana bila sebuah kesempatan datang untuk melaksanakan perubahan setelah pemilu 2009 muncul ditangan orang yang berperan tidak memiliki kompetensi yang sejalan dengan tuntutan dari perubahan abad ini dalam menuju masyarakat pengetahuan sedangkan tantangan begitu besar bagi bangsa dan negara Indonesia dalam abad jahiliyah modern, dimana manusia Indonesia sangat mengagungkan atas kesadaran inderawi masa kini.</p>
<p>Itulah suatu bukti dari pengalaman yang mengajarkan kepada kita masa lampau bahwa demokrasi dijadikan tujuan hanya untuk merebut kekuasaan demi kepentingan individu dan kelompok, sehingga tidak ada usaha konstribusi dalam usaha melaksanakan pemberdayaan demokrasi sebagai alat untuk menyatukan dalam  usaha agar bersikap dan berperilaku yang dituntun oleh kebersamaan dan keseimbangan kepentingan.</p>
<p>Dengan situasi tersebut diatas, marilah kita bersama-sama untuk memberikan konstribusi pemikiran agar perubahan dalam pola pikir secara radikal dapat dilaksanakan sebagai suatu kebutuhan yang mendesak bila kita ingin membangun kerjasama membuat impian menjadi satu kenyataan melalui pelaksanaan demokrasi kedalam satu sistem yang mendorong manusia kedalam sub-sistem sesuai dengan kebutuhan dalam pembangunan yang terintergrasi dan konsisten menjalankan konsep dari paham pandangan yang disetujui bersama.</p>
<p><strong>Kedua, politik dengan arah persfektif:</strong></p>
<p>Politik adalah seperangkat ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan. Oleh karena itu setiap politikus adalah ahli politik dan ahli kenegaraan sehingga ia harus mampu menunjukkan keteladanannya dalam cara bertindak.</p>
<p>Dalam praktek politik tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam memecahkan semua persoalan, tapi pengalaman juga mnunjukkan bahwa mnjadi politikus lebih menekankan untuk kepentingan kelompok dan individu, dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut maka tumbuh dan berkembang kebiasaan menjadi manusia yang kiblat kepada manusia bukan kepada prestasi yang dikehendaki oleh Allah Swt. Sejalan dengan itu banyak politikus lupa sebagai manusia, siapa, darimana dan kemana. Itulah satu kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan abad jahiliyah modern.</p>
<p>Mampukah anda keluar dari peran sebagai politikus yang tidak mampu merubah dari pengaruh „kesadaran Inderawi“ untuk benar-benar bisa menjalankan makna unsur  „demokrasi“ sebagai alat pemersatu dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Dengan merenung apa yang tersuradiutarakan diatas, maka pahamilah dan belajarlah dari ahklak dan beberapa sifat nabi Muhammad s.aw. untuk mengungkit kesadaran agar setiap peran sebagai politikus dapat memahmi, menghayati dan mengamalkan makna yang terungkap diatas sebagai sesuatu kekuatan daya kemauan untuk berubah.</p>
<p>Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dengan meretas jalan melalui pemahaman atas unsur kata dalam „politik“ itu sendiri sebagai berikut :</p>
<p>Kata P  menjadi (P)embela dalam Politik</p>
<p>Kata O menjadi (O)rang dalam Politik</p>
<p>Kata L menjadi (L)indungan dalam Politik</p>
<p>Kata I menjadi (I)ngkar dalam Politik</p>
<p>Kata T menjadi (T)anggung jawab dalam Politik</p>
<p>Kata I menjadi (I)ngat dalam Pilitik</p>
<p>Kata K menjadi (K)arunia dalam Politik</p>
<p><strong>(P)embela</strong> dalam politik adalah peran politikus untuk memperjuangkan keharusan adil dan tidak memihak dalam menetapkan hukum yang harus dijalankan. Jadi harus mampu untuk mengambil keseimbangan dalam kepentingan.</p>
<p><strong>(O)rang</strong> dalam politik adalah manusia yang secara ikhlas melakukan aktivitas politik bukan sekedar bayangan mimpi yang tidak jelas.</p>
<p><strong>(L)indungan</strong> dalam politik adalah tugas dan tanggung jawab yang harus diberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya.</p>
<p><strong>(I)ngkar</strong> dalam politik adalah ucapan dan perbuatan tidak sejalan dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p><strong>(T)anggung jab</strong> dalam politik adalah ucapan dan perbuatan sejalan dengan tanggung jawab yang dibebankan dan oleh karena itu melaksanakan kekuasaan dengan bijaksana.</p>
<p><strong>(I)ngat</strong> dalam politik adalah suatu peringatan kepada kematian untuk memberikan daya dorong untuk memperbaiki sikap dan perilaku dan cinta pada orang miskin.</p>
<p><strong>(K)arunia</strong> dalam politik adalah apapun yang terjadi sebagai seorang politikus menyadari sepenuhnya makna manusia sebagai siapa, darimana dan kemana untuk meletakkan kekuatan karunia dalam prjalanan hidup.</p>
<p>Dengan pemahaman unsur kata politik menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan politik menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan merebut kekuasaan belaka.</p>
<p>Walaupun kita sadari saat ini, telah tumbuh partai yang begitu banyak, dimana demokrasi telah disalah gunakan kedalam demokrasi politik, telah menyebabkan manusia yang memilki peran hanya sekedar untuk mengejar kepentingan individu dan kelompok, mereka tidak sadar diadu dombakan oleh kepentingan pihak ketiga dalam abad jahiliyah modern, sehingga kita tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dalam kabinet presidensial yang tidak produktip.</p>
<p>Saat ini mereka, hanya memikirkan kepentingan pribadi untuk merebut jabatan Presiden dan wakil presiden sebagai politikus, tapi tidak pernah membayangkan dengan kekuatan pikirannya untuk memerangi zaman jahiliyah modern, bahkan mereka terseret untuk mempertahankan pola pikir kapitalieme.</p>
<p><strong>Ketiga, kekuasaan dengan arah persfektif</strong></p>
<p>Kekuasaan dalam berpolitik merupakan satu kesatuan yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan.</p>
<p>Hal-hal yang disebutkan diatas merupakan prinsip-prinsip dasar yang harus menjadikan kekuatan pikiran dalam bersikap dan berperilaku. Untuk mendorong prinsip-prinsip tersebut dijalankan sesuai dengan arah persfektif, maka diperlukan suatu pendekatan melalui pemahaman unsur huruf dalam kata kekuasaan itu sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dengan meretas jalan melalui pemahaman atas unsur kata dalam „kekuasaan“ itu sendiri sebagai berikut :</p>
<p>Kata K menjadi (K)elola dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata E menjadi (E)ksper dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata K menjadi (K)olaborasi dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata U menjadi (U)mat dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata A menjadi (A)manah dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata S menjadi (S)ombong dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata A menjadi (A)ngkuh dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata A menjadi (A)zab dalam Kekuasaan</p>
<p>Kata N menjadi (N)iat dalam Kekuasaan</p>
<p><strong>(K)elola</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran harus mampu mengelola kekuasaan yang terkait tanggung jawab untuk setiap perbuatan yang dibuatnya.</p>
<p><strong>(E)kper</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran dengan keahlian untuk menjalankan kekuasaan melalui pelimpahan wewenang yang sejalan dalam struktur.</p>
<p><strong>(K)olaborasi</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran melaksanakan kerja sama yang sejalan dengan standar yang terbaik</p>
<p><strong>(U)mat</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran mendorong setiap orang untuk menikuti pelatihan dan pengembangan.</p>
<p><strong>(A)manah</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran disatu sisi mampu memanfaatkan pengetahuan dan informasi dan disisi lain memilki kemampuan untuk memberikan umpan balik dari pelaksanaan keputusan.</p>
<p><strong>(S)ombong</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pengakuan dirinya.</p>
<p><strong>(A)ngkuh</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan keercayaan yang diberikan.</p>
<p><strong>(A)zab</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku akan selalu menerima kegagalan sebagai sesuatu pelajaran.</p>
<p><strong>(N)iat</strong> dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku haruslah sejalan dengan kebiasaan yang dilandasai oleh niat yang benar.</p>
<p>Dengan pemahaman unsur kata kekuasaan menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan keuasaan menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan menjalankan kekuasaan yang tidak sejalan dengan arah yang ditetapkan.</p>
<p>Oleh karena itu, pemimpin masa depan haruslah mampu menjalankan kekuasaan secara bijaksana yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan.</p>
<p>Dengan memperhatikan uraian diatas, maka bila unsur kata tersebut disusun  menjadi untaian kalimat yang bermakna dalam demokrasi, politik dan kekuasaan akan menjadikan satu sarana dalam menggugah pola pikir sebagai suatu kekuatan untuk memikirkan kemungkinan perubahan sikap dan perilaku, dengan demikian pemahaman kita dengan membangun jiwa tanpa topeng kepaluan diharapkan menjadi suatu kebiasaan baru  dalam menghayati, memahami dan mengamalkan makna DEMOKRASI, POLITIK dan KEKUASAAN sebagai berikut</p>
<p><strong>DEMOKRASI</strong> adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (D)ewasa dalam berpikir agar dapat menuntun kecerdasan (E)mosional untuk mendorong potensi (M)emahami  suatu komunitas (O)rang dalam organisasi yang membutuhkan (K)erjasama membuat impian menjadi kenyataan berdasarkan analisa fakta secara (R)asional dan diputuskan dengan (A)kal yang sehat kedalam suatu (S)istem yang mendukung komitmen kedalam (I)ntergritas.</p>
<p><strong>POLITIK</strong> adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (P)embela dalam mewujudkan (O)rang dalam berdemokrasi dengan melaksanakan (L)indungan dalam arah berorganisasi agar iklim (I)ngkar, (T)anggung jawab, (I)ngat menjadi suatu kewajiban untuk disyukuri sebagai (K)arunia dalam usaha meretas jalan menjadi jati diri sendiri.</p>
<p><strong>KEKUASAAN</strong> adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa manusia dalam usaha (K)elola sebagai (E)ksper untuk melakukan (K)olabrasi dalam rangka pemberdayaan peran (U)mmat untuk menjalankan (A)manah dengan sikap dan perilaku tidak (S)ombong dan (A)ngkuh serta (A)zab yang datang bila keinginan yang tidak berdasarkan  (N)iat untuk melaksanakan tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan</p>
<p>Bertolak dari pemahaman diatas, maka timbul pertanyaan mengapa lahirnya begitu banyak PARTAI di Indonesia karena mereka pemimpin masa kini hanya berpikir sesaat untuk kepentingan individu dan kelompok dengan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara yang saat ini berada dalam posisi zaman jahiliyah modern.</p>
<p>Bila mereka memiliki prinsip kepemimpnan masa depan, mungkin partai dalam arah posisi masa depan cukup tiga sampai lima partai saja sehingga demokrasi, politik dan kekuasaan lebih sederhana untuk diaplikasikan kedalam pola pikir kebersamaan untuk mencari penyelesaian masalah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/234/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=234&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/pemecahan-meretas-kesenjangan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMECAHAN ATAS MERETAS KESENJANGAN</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/pemecahan-atas-meretas-kesenjangan/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/pemecahan-atas-meretas-kesenjangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 14:43:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meretas Kesenjangan]]></category>
		<category><![CDATA[Meretas kesenjangan-reformasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[             REFORMASI MENUNTASKAN KEMISKINANDALAM PERSFEKTIF 2025   DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 1. PENDAHULUAN 2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI 3. BELAJAR DARI PENGALAMAN GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR 4. MENYAMAKAN POLA PIKIR 5. SUATU PEMIKIRAN GBHN DALAM PERSFEKTIF 2025 6. GBHN DAN KONSEPSI BUDAYA 7. APLIKASI BUDAYA  BERBANGSA DAN BERNEGARA 8. STRUKTUR [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=232&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>           REFORMASI MENUNTASKAN KEMISKINANDALAM PERSFEKTIF 2025 </strong></p>
<p><strong>  DAFTAR ISI<br />
</strong></p>
<p><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p><strong>1. PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI</strong></p>
<p><strong>3. BELAJAR DARI PENGALAMAN GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR</strong></p>
<p><strong>4. MENYAMAKAN POLA PIKIR</strong></p>
<p><strong>5. SUATU PEMIKIRAN GBHN DALAM PERSFEKTIF 2025</strong></p>
<p><strong>6. GBHN DAN KONSEPSI BUDAYA </strong></p>
<p><strong>7. APLIKASI BUDAYA  BERBANGSA DAN BERNEGARA</strong></p>
<p><strong>8. STRUKTUR ORGANISASI KABINET</strong></p>
<p><strong>9. PRINSIP MODEL PENYUSUNAN APBN TAHUNAN</strong></p>
<p><strong>10. P E N U T U P</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KATA PENGANTAR<br />
</strong></p>
<p>Kegelisahan yang dituangkan „Meretas Kesenjangan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara“ oleh M. Fauzan Rachman selaku Ketua Umum G.M.B.I (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) memperkuat daya kemauan dan kebiasaan sebagai daya dorong untuk mengingat kembali agar pihak-pihak yang berkepentingan supaya membentuk ingatan yang kuat dengan pikiran yang terang bahwa reformasi dalam kehidupan dan bernegara melahirkan begitu besar peran „Economic Hit Man“ selaku agen pihak ketiga baik disadari maupun tidak untuk menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, agar kegelisahan dan atau ketidakpuasan terjadi dalam masyarakat sehingga menjadi racun kehidupan harus dapat digerakkan menjadi kecemasan sebagai kekuatan untuk melaksanankan reformasi ke jalan yang benar dalam meletakkan konsepsi „Demokrasi, Politik dan Kekuasaan“ dengan menggerakkan kekuatan pikiran kedalam makna KAYA (Kebenaran, Agama, Yakin, Amanah)„ mejadi satu kekuatan pikiran kedalam „Ketaatan dan Berpikir positip“</p>
<p>Sudah saatnya kita bersyukur dengan segala nikmat yang telah Allah berikan atas Ilmu, Waktu, Kekayaan, pada bangsa Indonesia memulai hidup baru karena tidak ada gunanya menangisi yang telah berlalu dengan segala Musibah yang telah diingatkan oleh Allah Swt.</p>
<p>Jawabannya ia tuangkan kembali sebagai pemikiran untuk mengangkat revolusi berpikir kedalam „Reformasi Menuntaskan Kemiskinan Dalam Persfektif 2025“ sebagai usaha menggugah hati melawan kezaliman.</p>
<p>Bandung, 10 Juni 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. PENDAHULUAN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang terpikirkan oleh kita dalam berbangsa dan bernegara menjelang pemilu 2014 dimana kita telah dihadapkan kepada gelombang perubahan yang komplek dan cepat dalam abad 21, bila kita tidak dapat menangkap perubahan itu berarti kita akan kehilangan peluang untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI, jangan sampai kita kehilangan napas karena bila kita salah melangkah dalam dahur hidup kematian demokrasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dituntut dalam era reformasi ini, untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan agar kekuatan pikiran dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku secara radikal sehingga dapat meretas jalan menjadi diri sendiri, inilah kita maksudkan perubahan pola pikir secara radikal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seandainya anda seorang muslim, coba renungkan perintah seperti yang termuat dalam Q.S. 3 : 165 “ Dan mengapa kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu ( pada peperangan Badar) kamu berkata : “Darimana datangnya  (kekalahan) ini ?”. Katakanlah : “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu jauhilah sifat orang-orang munafik dan sejalan dengan itu, coba pula renungkan pepatah yang mengatakan “Siapa mengenal dirinya , tentu ia akan mengenal Tuhannya. Jadi itulah kekuatan pikiran yang dapat menggugah jiwa anda dalam tingkat kesadaran inderawi yang paling rendah dalam usaha menemukan diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk mendapat kepribadian manusia yang bertanggung jawab atas “kebebasan berkehendak” diperlukan perubahan pola pikir secara radikal artinya orang yang mampu menemukan tentang dirinya, maka ia akan selalu bertindak yang sejalan dengan apa yang diperlukan oleh tuntutan perubahan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>dalam melaksanakan demokrasi yang bertolak dari kerjasama dalam membuat impian menjadi suatu kenyataan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dalam masa orde reformasi, pemimpin hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dengan begitu banyaknya lahir partai-partai baru, tapi terbayangkah olehnya mengenai pemberdayaan „demokrasi politik“ berlandaskan pola pikir yang radikal yang diberikan Agama kepada ummatnya dalam menata hidup dengan kebebasan berpolitik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah suatu kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia dengan peran pemimpin yang memiliki jiwa dengan banyak topeng kepalsuan yang ditunjukkan oleh kebiasaan dalam berpolitik untuk mendapatkan hasil kekuasaan, setelah itu mereka tidak pula berkeingin merubah kesadaran inderawinya, itu berarti tidak mampu berbuat sesuatu memperkuat daya kemauan dalam menangkap karunia Ilahi. Mampukah kita keluar dari ancaman abad jahilaiyah modern ini ?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi keadaan lingkungan hidup bangsa dan negara kita seperti yang kita kemukakan diatas adalah keadaan yang diciptakan terus menerus oleh pihak ketiga agar bangsa ini dengan kekayaan alam yang luar biasa di karunia oleh Allah Swt, tidak akan bisa bangkit walaupun telah ditunjukkan dengan azab oleh yang maha kuasa, karena mereka tidak dapat merasakan pahitnya perjalanan hidup bangsa ini karena mereka telah diracuni oleh pemikiran neoliberalisme sebagai kenderaan „globalisasi“ dengan doktrin liberalisasi, privatisasi, deregulasi sebagai sarana imperialisme.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sangat menarik bagi pemimpin masa depan untuk membaca kembali „Indonesia menggugat“ pledoi Bung Karno di depan pengadilan kolonial 18 Agustus 1930.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=232&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/20/pemecahan-atas-meretas-kesenjangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN AKHLAK BAG. III DIMULAI DARI HURUP M (54-55)</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/11/membangun-akhlak-bag-iii-dimulai-dari-hurup-m-54-55/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/11/membangun-akhlak-bag-iii-dimulai-dari-hurup-m-54-55/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 09:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Membangun Akhlak Bag.III]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 54. MENAHAN DIRI (dari kekejian) 55. MERENDAHKAN DIRI 56. MUSIBAH 57. MARAH 58. MENCELA / MEMAKI 59 MELEBIHI YANG PATUT 60. MABUK 61. MUBADZIR / ROYAL 62. MEMELACURKAN 63. MEMBERI GELAR 64. MENCURI 65. MASA TUA 66. NAFSU SEKSUAL 67. NIAT KATA PENGANTAR Pada Bag. I mengungkapkan Kata A-J dan Bag. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=230&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DAFTAR ISI</strong></p>
<p><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p><strong>54. MENAHAN DIRI (dari kekejian)</strong></p>
<p><strong>55. MERENDAHKAN DIRI</strong></p>
<p><strong>56. MUSIBAH</strong></p>
<p><strong>57. MARAH</strong></p>
<p><strong>58. MENCELA / MEMAKI</strong></p>
<p><strong>59 MELEBIHI YANG PATUT</strong></p>
<p><strong>60. MABUK</strong></p>
<p><strong>61. MUBADZIR / ROYAL</strong></p>
<p><strong>62. MEMELACURKAN</strong></p>
<p><strong>63. MEMBERI GELAR</strong></p>
<p><strong>64. MENCURI</strong></p>
<p><strong>65. MASA TUA</strong></p>
<p><strong>66. NAFSU SEKSUAL</strong></p>
<p><strong>67. NIAT</strong></p>
<p><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p><strong></strong>Pada Bag. I mengungkapkan Kata A-J dan Bag. II mengungkapkan kata K, dengan memanfaatkan pendekatan 7 M (Membaca, menterjemahkam, Meneliti, Mengkaji, Menghayati, Memaghami, Mengamalkan), maka ada kekuatan kebiasaan pikiran untuk terus mengetuk dinding jiwa, sebagai alat untuk menemukan jati diri.</p>
<p>Belajar dari pengalaman diatas, maka pada Bag. III, diungkapkan kata M dan N, agar jiwa ini memberikan satu kekuatan agar dapat memberikan cahaya yang berkelanjutan kedalam HATI.</p>
<p>Dengan hati yang selalu disinari cahaya kebesaran Allah Swt, maka disitu terletak kekuatan pikiran yang menuntun menjadi kebiasaan dalam menuntun sikap dan perilaku yang sejalan dengan kekuatan ISLAM dan IMAN kita yakini.</p>
<p>Oleh karena itu, kembangkan secara berkelanjutan usaha-usaha untuk meningkatkan kedewasaan berpikir sepanjang perjalanan hidup kita, maka disitu pula terletak kekuatan-kekuatan yang akan mempengaruhi seberapa jauh kita mampu menemukan jati diri yang berlandaskan kekuatan akhlak.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka dengan kebiasaan  dengan kedewasaan berpikir dalam rohaniah, sosial, emosional dan intelektual akan menjadi dorongan yang kuat untuk kita bisa berubah dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Jadi dengan memahami makna kata M dan N membrikan daya dorong yang kuat sebagai benih-benih pikiran untuk menuntun kepribadian kita yang berlandaskan akhlak.</p>
<p><strong>54. MENAHAN DIRI (dari kekejian)</strong></p>
<p><strong></strong>Benih pikiran yang kita sebut dengan „Menahan Diri“ merupakan satu kekuatan pikiran yang dapat mempengaruhi kedalam usaha-usaha meningkatkan kedewasaan berpikir emosional untuk mengetuk dinding jiwa.</p>
<p>Dengan kedewaan berpikir itu perlu ditumbuh kembangkan kekuatan menahan diri yang terkait dengan kekejian, maka disitu terletak kekuatan kebiasaan yang mampu menuntun kepribadian.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas tingkatkan kedewasaan rohaniah dengan mendalami makna yang terkandung dalam surat dan ayat yang disebut dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 23 :1“</strong>Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,</p>
<p><strong>QS. 23 :  3 </strong>„dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,</p>
<p><strong>QS. 24 : 60“</strong> Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong>QS. 25 : 72</strong>“ Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.</p>
<p><strong>QS. 25 : 75“</strong> Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong></strong>Dengan memahami, menghayati dan mengamalkan benih jiwa yang kita sebut „MENAHAN DIRI“ (dari kekejian) diharapkan terdapat satu kekuatan yang mendorong keinginan meningkatkan kedewasaan berpikir rohaniah yang terkait dengan :</p>
<ul>
<li>Sifat yang menjadikan orang-orang mu’mim beruntung</li>
<li>Pedoman pergaulan dalam rumah tangga</li>
<li>Sifat-sifat hamba Allah yang mendapat kemuliaan.</li>
</ul>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka pengaruhnya akan mampu mendorong kedewasaan emosional yang dimainkan dalam peran setiap manusia. Oleh karena itu tumbuh kembangkan kekuatan kebiasaan dalam kedewasaan berpikir, dengan begitu sikap dan perilaku ini akan selalu tertuntun olehnya.</p>
<p><strong>55. MERENDAHKAN DIRI</strong></p>
<p>Salah satu kekuatan untuk meningkatkan kedewasaan berpikir adalah selalu mengingat dalam jiwa bahwa orang yang berbudi tinggi selalu berpedoman pada keadilan dan selalu berusaha untuk menjalankan kewajibannya, oleh karena itu dimaksudkan “merendahkan diri” bukanlah satu ungkapan sikap dan perilaku dalam proses berbikir yang bersifat negatif.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka untuk menuntun jalan pikiran kita, renungkapn surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 24 : 30“</strong> Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 25 : 63“</strong> <strong>Dan </strong>hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik<strong>.</strong></p>
<p><strong>QS. 31 : 18“</strong> Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dengan mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas maka untuk menjalankan  ketaatan dalam bersikap dan berperilaku untuk menuntun kita dalam mengamalkan makna :</p>
<ul>
<li>Pedoman pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan „mahram“</li>
<li>Sifat-sifat hamba allah yang mendapat kemuliaan</li>
<li>Nasehat Luqman kepada anaknya</li>
</ul>
<p>Berpegang kepada kemampuan kita mengamalkan hal-hal yang kita sebutkan diatas, diharapkan menjadi satu kekuatan kedewasaan berpikir dalam menuntun membangun  akhlak melalui kekuatan merendahkan diri.</p>
<p>Jadi ungkapan “merendah diri” tidak sama dengan “rendah diri” sebagai satu penyakit  bagi oarang-orang yang tidak berbudi oleh karena itu ingat pula bahwa ketaatan menuntun manusia yang berbudi tinggi da oleh karena itu tidak heran ia bersikap dan berperilaku sebagai orang di belakang layar tetapi sebenarnya ia ada di tempat yang paling depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=230&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/11/membangun-akhlak-bag-iii-dimulai-dari-hurup-m-54-55/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAGIAN III MEMBANGUN AKHLAK RENUNGAN PADA HURUF M</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/10/bagian-iii-membangun-akhlak-renungan-pada-huruf-m/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/10/bagian-iii-membangun-akhlak-renungan-pada-huruf-m/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 12:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[SDM MUSLIMIN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[56. MUSIBAH Musibah berarti malapetaka atau bencana. Jadi suatu peristiwa dari setiap peristiwa kehidupan manusia dimana kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nanti, oleh karena itu tidak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya karena setiap musibah yang menimpa manusia sudah ditetapkan kedatanggannya di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Hanya atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=225&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>56. MUSIBAH</strong></p>
<p>Musibah berarti malapetaka atau bencana. Jadi suatu peristiwa dari setiap peristiwa kehidupan manusia dimana kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nanti, oleh karena itu tidak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya karena setiap musibah yang menimpa manusia sudah ditetapkan kedatanggannya di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Hanya atas izin dan kehendak-Nyalah semua itu dapat terjadi.</p>
<p>Di dalam Al-Quran dalam beberapa istilah dan penamaan yang berbeda seperti yang kita ungkapkan pada surat2 dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>Kata Musibah :</strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 156“</strong> (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, &#8220;Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun&#8221;</p>
<p><strong>QS. 3 : 165“</strong> Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: &#8220;Dari mana datangnya (kekalahan) ini?&#8221; Katakanlah: &#8220;Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri&#8221;. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu<strong>.</strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 62</strong>“ Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu mushibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: &#8220;Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna&#8221;.</p>
<p><strong>QS.  5 : 49“</strong> dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.</p>
<p><strong>QS. 30 : 36“</strong> Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.</p>
<p><strong>QS. 41 : 49“</strong> Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan<strong>. , 51“</strong> Dan apabila Kami memberikan ni`mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo`a.</p>
<p><strong>QS. 42 ; 30“</strong> Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).</p>
<p><strong>QS. 49 : 6”</strong> Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu<strong>.</strong></p>
<p><strong>QS. 64 : 11</strong>“ Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p><strong>Kata Adzab :</strong></p>
<p><strong>QS. 65 : 8”</strong> Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.</p>
<p><strong>Kata Fitnah :</strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 63”</strong> Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.</p>
<p><strong>Kata Sayyi’ah :</strong></p>
<p><strong>QS. 30 : 36”</strong> Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.</p>
<p><strong>Kata Ba’saa wa dharra’ :</strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 42”</strong> Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada<strong> </strong>Allah) dengan tunduk merendahkan diri.</p>
<p><strong>Kata Syarr :</strong></p>
<p><strong>QS. 41 : 49</strong>” Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.</p>
<p><strong>Kata Bala’ :</strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 49”</strong> Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.</p>
<p>Belajar dari ungkapan yang termuat dalam surat dan ayat diatas, lebih memberikan satu kekuatan dalam pikiran kita untuk menerima setiap peristiwa yang dialami atas kehendaknya, dan sejalan dengan renungkan ungkapan berikut dibawah ini :</p>
<p><strong>Musibah sudah ditetapkan Allah : </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 51</strong>” Katakanlah: &#8220;Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.&#8221;</p>
<p><strong>Musibah, akibat dosa / kesalahan :</strong></p>
<p><strong>QS.4 : 79”</strong> Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.</p>
<p><strong>QS. 5 : 49”</strong> dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.</p>
<p><strong>QS. 30 : 36”</strong> Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.</p>
<p><strong>QS. 42 : 30”</strong> Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).</p>
<p><strong>Musibah sudah ditetapkan Allah </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 51</strong>” Katakanlah: &#8220;Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.&#8221;</p>
<p><strong>Musibah tidak dapat dihindari</strong></p>
<p><strong>QS. 42 : 31” </strong>Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.</p>
<p><strong>Tiap musibah dengan izin Allah</strong></p>
<p><strong>QS. 64 : 11”</strong> Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p><strong>Tiap musibah sudah termaktub di Lauh Mahfudz</strong></p>
<p><strong>QS. 57 : 22”</strong> Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.</p>
<p><strong>Sabar menghadapi musibah </strong></p>
<p><strong>QS. 31 : 17</strong>” Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).</p>
<p><strong>Tatkala ditmpa musibah, ingkar</strong></p>
<p><strong>QS. 42 : 48”</strong> Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada ni`mat).</p>
<p><strong></strong>Dalam perjalanan hidup kita akan selalu kita menghadapi <strong>Bentuk-bentuk Musibah, </strong>apa yang disebut dengan uraian dibawah ini :</p>
<p><strong>1.     </strong><strong>Bencana Alam,</strong> merupakanmusibah yang kerap menerpa manusia, baik bencana alam murni dan atau ulah perbuatan manusia. Bentuk dan tempat terjadi berbeda-beda serta waktunya tidak ada oran yang dapat mengetahuinya.</p>
<p><strong>2.     </strong> <strong>Kematian, </strong>adalah suatu hal yang pasti akan dirasakan dan akan menimpa siapa saja yang ada di dunia.</p>
<p><strong>3.     </strong><strong>Kecelakaan, </strong>faktor utama terjadinya kecelakaan bisa bermacam-macam pula spt kelallaian manusia, cuaca buruk dsb.</p>
<p><strong>4.     </strong><strong>Penyakit, </strong>selama kita masih diberikan kehidupan di dunia ini, kita akan selalu menyaksikan dan mengalami berbagai kondisi yang silih berganti.</p>
<p><strong>5.     </strong><strong>Kehilangan harta benda, </strong>jika kita menyadari bahwa sesuatu yang ada di tangan kita sebenarnya bukan milik kita tentu kita lebih siap jika sesuatu itu diambil kembali leh pemiliknya.</p>
<p><strong>6.     </strong><strong>Penindasan, </strong>hidup dalam penindasan tidak akan pernah melahirkan rasa aman dan tenteram, apalagi bahagia.</p>
<p><strong>7.     </strong><strong>Paceklik,</strong> disebabkan oleh beberapa hal, seperti kemarau panjang  dsb.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dengan mendalami makna yang terungkap dalam kata musibah seperti yang termuat dalam Al &#8211; Qur’an, diharapkan menjadi kekuatan penggerak jiwa agar setiap manusia menerima peristiwa dengan landasan berpikir positif.</p>
<p>Dengan pikiran diatas diharapkan jadi penyejuk jiwa dalam proses berpikir untuk menerima keadaan apa yang terjadi dengan ikhlas adanya.</p>
<p><strong>57. MARAH</strong></p>
<p><strong></strong>Sikap marah memperlihatkan sangat tidak senang karena dihina, diperlaukakn tidak spantasnya dsb. Ungkapan kata marah dapat kita temukan dalam surat dan ayat dalam QS. 3 : 119, 134 ; &amp; ; 71, 150, 154 ; 9 : 58, 120 ; 12 : 84 ; 16 : 58 ; 20 : 86 ; 21 : 87 ; 26 : 55 ; 42 : 37 ; 64 : 14 ; 57 : 8 ; 68 : 48. Sebagai contoh dibawah diungkapkan sbb. :</p>
<p><strong>QS. 3 : 133”</strong> Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa<strong>, &#8211; 134”</strong> (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.</p>
<p><strong>QS. 42 : 36 “</strong>Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal<strong>.- 37”</strong> dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af.</p>
<p><strong>QS. 111 : 1”</strong> Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. <strong>2“</strong> Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. <strong>3”</strong> Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. <strong>4”</strong> Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. <strong> 5” </strong>Yang di lehernya ada tali dari sabut.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong></strong>Mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 yang kita seutkan diatas, diharapkan kita bisa menemukan jati diri dalam usaha-usaha kita agar kita tidak terjebak kedalam sikap marah dengan mengingat dari ajaran yang kita yang kita yakini seperti ungkapan dibawah ini :<strong><br />
</strong></p>
<ul>
<li>Perintah ta’at kepada Allah dan Rasul serta sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa.</li>
<li>Allah memaafkan sebahagian besar dosa-dosa hamba-hambanya</li>
<li>Tukang fitnah pasti akan celaka</li>
</ul>
<p><strong>58. MENCELA / MEMAKI</strong></p>
<p><strong></strong>Ucapan memaki adalah mengucapkan kata-kata keji, tidak pantas, kurang adat untuk menyatakan kemarahan atau kejengkelan.</p>
<p>Sejalan dengan pemahaman diat renungkan ajaran yang diungkapkan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 4 : 148</strong>” Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong>QS. 49 : 11”</strong> Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 104 : 1</strong>” Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, – <strong>2”</strong> yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong></strong>Sikap mencela / memaki merupakan hasil pikiran yang didorong oleh kekuatan berbikir negatif, sehingga manusia lupa arti keberadaan hidup di dunia tanpa memikirkan di akhirat.</p>
<p>Dengan belajar dan mendalai ungkapan makna tersebut dalam surat dan ayat yang telah kita ngkapkan diatas, diharapkan menjadi penuntun manusia berpikir ke jalan yang benar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=225&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/07/10/bagian-iii-membangun-akhlak-renungan-pada-huruf-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meretas Kesenjangan (3)</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-3/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 23:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meretas Kesenjangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[III. RUMUSAN MASALAH Bertitik tolak situasi yang telah kita ungkapkan diatas maka daur hidup berbangsa dan negara dalam proses untuk tumbuh dan berkembang hanya-lah satu impian dari waktu ke waktu sejak kepemimmpinan nasional silih berganti atau dengan kata lain yang biasa disebut orde lama ke orde baru ke orde reformasi jauh dari harapan. Bangsa dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=222&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>III. RUMUSAN MASALAH</strong></p>
<p>Bertitik tolak situasi yang telah kita ungkapkan diatas maka daur hidup berbangsa dan negara dalam proses untuk tumbuh dan berkembang hanya-lah satu impian dari waktu ke waktu sejak kepemimmpinan nasional silih berganti atau dengan kata lain yang biasa disebut orde lama ke orde baru ke orde reformasi jauh dari harapan.</p>
<p>Bangsa dan Negara ini sudah terjerumus kedalam satu situasi yang menjadi permainan pihak ketiga sehingga manusia yang berperan dengan sikap dan perilaku yang bersifat wara’ artinya menjauhi dari makna “OTAK” sehingga mereka menerjang batasan-batasan Allah dan dengan terus menerus mengerjakan maksiat seperti yang terlihat dan nyata dalam kehidupan memperkaya diri individu dan kelompok. Prinsip hidupnya materialistik dan Kiblat kepada manusia.</p>
<p>Dengan pemikiran diatas, kita sampai pada kesimpulan rumusan masalah yang kita kelompokkan menjadi “Masalah Abnormal yang kita sebut dengan PENYAKIT” yang sifatnya Kritis / Strategik artinya seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, disebut:</p>
<p><strong>1</strong>. <strong>Masalah kritis</strong></p>
<p>KELOMPOK PERTAMA KEMISKINAN YANG TERPOLA artinya manusia yang memiliki kekuasaan tapi tidak mau memikirkan perubahan yang berencana, disininalah kemiskinan hati nurani yang tidak ditopang kebesaran jiwa. Hidup penuh kemewahan dan berkecukupan dengan tidak ada kemauan mencari kebenaran berlandaskan agama dengan keyainan menjalankan amanah atas kekuasaan yang dimilikinya.</p>
<p><strong>2. Masalah pokok</strong></p>
<p>KELOMPOK KEDUA KEMISKINAN YANG TERPAKSA artinya manusia yang memiliki kekuasaan terbatas, tapi hidup berkecukupan memiliki hati nurani tapi tidak berani berbuat walaupun ada benih kemauan sayangnya  tidak ditopang oleh kejernihan dalam berpikir.</p>
<p><strong>3. Masalah insidentil </strong></p>
<p>KELOMPOK KETIGA KEMISKINAN YANG DICIPTAKAN OLEH KEADAAN artinya manusia yang tidak memiliki kekuasaan tapi memiliki hati nurani dimana didalamnya terdapat manusia yang benar-benar miskin karena tidak mampu memenuhi kebututuhan hidup dasar, selain itu terdapat pula didalamnya manusia dapat memenuhi hidup terbatas. (</p>
<p>Ketiga masalah tersebut adalah ketidak mampuan pemain peran melepaskan diri satu kekuatan yang kita sebut dengan „Krisis Tersembunyi“, yang dimainkan oleh pihak ketiga, dan untuk itu diperlukan kekuatan daya kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan secara radikal dalam proses perubahan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>III. PEMECAHAN MASALAH</strong></p>
<p>Bertitik tolak dari rumusan masalah kritis, pokok dan nsidentil, maka diperlukan kesamaan pandangan berpikir dalam memecahkan masalah penyakit kemiskinan bahwa bila masalah kritis tidak terpecahkan akan melahirkan masalah pokok dan masalah insidentil.</p>
<p>Masalah insidentil, dengan demikian semenjak kita merdeka 46 tahun, tidak akan pernah kita menyelesaikan bila masalah pokok dan kritis tidak terpecahkan.</p>
<p>Oleh karena itu, mendorong kami untuk berpikir secara intuitif untuk mamandang arah masa depan bangsa Indonesia, apakah dapat tumbuh dan berkembang menjadi satu bangsa yang disegani sebagai umat islam yang terbesar didunia, Bumi Indonesia dianugrahi oleh Allah SWT yang luar biasa kekayaan yang dilimpahkannya, tetapi kenyataan setelah kita merdeka sampai hari ini., hanyalah satu impian. Walaupun kita telah memasuki reformasi untuk mewujudkan cita-cita apa yang tertuang dalam mukadimah UUD 1945, masih jauh dari harapan bahkan mungkin Negara kita ini memang diciptakan pihak ketiga menjadi bangsa yang tidak akan bisa tumbuh dan berkemban. Inilah pertanyaan yang mengusik saya berpikir intuitif.</p>
<p>Bertitik tolak dari pemikiran intuitif tersebut, maka kita menyadari sepenuhnya bahwa dalam perjalanan hidup ini kita jauhkan dari pengalaman yang berdampak menyakitkan diri tetapi dibalik itu kita memahami arti apa yang dibawa oleh pengalaman itu dalam memasuki proses perubahan.</p>
<p>Jadi mengungkapkan pengalaman masa lalu dan kita menjalani masa kini dengan penuh harapan, itu berarti kita menatap masa depan bagaimana sebaiknya kita memasuki abad 21, dimana setelah kita memasuki reformasi kehidupan bernegara dan berbangsa, dimana realita menunjukkan kehadapan kita sebagai bangsa apakah kita masih bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita bangsa.</p>
<p><strong>WHY ?</strong> Tidak lain, karena belum siapnya kita menerima demokrasi, sebagai alat untuk melaksanakan reformasi dari seluruh aspek kehidupan bernegra.</p>
<p><strong>WHEN ?</strong> Tidak lain, karena sejak lama kita dijajah dalam proses berpikir, dalam masa penjajahan, merdeka sampai kini kita sulit untuk berubah.</p>
<p><strong>WHAT ?</strong> Tidak lain, dalam masa orde baru demokrasi bernafas hanya suatu retorika belaka, sehingga lembaga pendidikan tidak mampu untuk menjadi daya dorong sebagai basis kehidupan berdemokrasi dan sudah menjadi budaya bahwa setiap pemimpin mementingkan individu dan kelompoknya.</p>
<p><strong>HOW ? </strong>Tidak lain, karena ketidak kemampuan kita merubah pola pikir lama dari memecahkan masalah ke menghindari masalah, sehingga selalu salah dalam menyelesaikan masalah.</p>
<p><strong>WHO ? </strong>Tidak lain, karena kepemimpinan dalam semua peran dalam menjalankan tugas bangsa dan negara. Coba simak kepemimpinan nasional masa Soekarno dan Hatta dimana Hatta yang bertentangan pandangan dengan senang hati untuk mengundurkan diri dari kekuasaan, satu contoh keteladanan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh siapapun saat ini. Semua pemimpin saat ini kiblatnya kepada manusia, sehingga sikap dan perilakunya sangat sulit berubah, lebih-lebih kalau kepentingannya dan kelompoknya ditentang. Kesemuanya itu lahir dari sifat kepribadian yang materlistiik, sehingga ia tidak mampu untuk mengenal tentang dirinya. Inilah satu kenyataan yang kita hadapi.</p>
<p>Kesimpulan sistom yang menunjukkan kepada kita adalah masalah abnormal sebagai satu “PENYAKIT” dari wabah „KRISIS TERSEBUNYI“ ,</p>
<p>Marilah kita menyatukan sudut pandang bahwa kedua kelompok tersebut yang menciptakan penyakit sebagai pemain peran eksekutif, legislatif dan yudikatif serta yang terlibat dalam peran badan usaha tidak dapat lagi dipercaya untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan sehingga mereka menjadi manusia yang tidak memiliki kekuasaan.</p>
<p>Tuntutan inilah perlu kita lakukan bersama secara radikal untuk melakukan perubahan revolusi berpikir bukan dengan kekuatan fishik yang kita akan dihadapkan dengan berbenturan dengan pihak-pihak yang mendukung status quo.</p>
<p>Untuk itu diperlukan satu keberanian yang didukung oleh pemain peran utama yang melakukan perubahan yang berencana dengan prinsip memiliki kekuatan nurani melawan kezaliman</p>
<p>Tanpa kepemimpinan baru yang memiliki kemauan yang kuat untuk membuka tabir „Krissis tersembunyi“ dalam memecahkan kemiskinan yang mengakibatkan penderitaan dan perasaan ummat dapat dipahami.</p>
<p>Kekuatan kepemimpinan baru harus mampu menyatukan kepentingan untuk mengubah takdir sebagai kekuatan mengubah nasib kedalam kekuatan yang didukung oleh keinginan yang berlandaskan niat untuk memecahkan kemiskinan.</p>
<p><strong>IV. R I N G K A S A N</strong></p>
<p>Perubahan berencana sangat diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan oleh karena itu agar bangsa ini dapat tumbuh dan berkembang maka diperlukan satu pemikiran yang harus dicapai dengan kekuatan revolusi berpikir.</p>
<p>Oleh karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang memiliki hati nurani melawan kezaliman yang menimpa bangsa Indonesia, bayangkan bumi Indonesia yang kaya raya, tidak mampu menjadi negara yang disegani dengan penduduk 231 juta.</p>
<p>Saat ini kita telah diperlihat musibah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang tidak mampu mengubah daur hidup Negara Indonesia kedalam satu kekuatan baru, bayangkan 61 tahun Negara ini merdeka tidak mampu mengangkat derajat manusia Indonesia seutuhnya.</p>
<p>Belajar dari pengalaman masa lalu yang dipimpin oleh pemain peran yang berperan sebagai pendukung dalam kabinet Indonesia dari waktu ke waktu menjadi kekuatan yang terus tumbuh dan berkembang sebagai agen “economic Hit Man” menjadi bangsa Indonesia kedalam daur hidup yang sangat keritis yang berada dalam posisi kemiskinan sebagai akibat adanya “Krisis tersembunyi”</p>
<p>Hal itu telah ditunjukkan dengan berbagai MUSIBAH oleh kebesaran Allah Swt, bahwa bangsa ini tidak akan bisa tumbuh dan berkembang tanpa mengadakan penggantian peran-peran utama secara radikal berubah dalam berpikir untuk mengubah takdir kedalam kekuatan mengubah nasib yang dipimpinan oleh pemimpin yang mampu mengetuk dinding jiwa bukan pemimpin yang berperan dengan wajah yang penuh topeng kepalsuan.</p>
<p>Dengan keberanian kita harus mampu menggerakkan revolusi berpikir dimana pintu masuk sudah terbuka dengan ditunjukkan adanya MUSIBAH  dalam seluruh aspek kehidupan, untuk itu perlu kita menyatukan sudut pandang dalam menyatukan gerakan untuk melakukan perubahan secara pasti dengan dukungan semua pihak yang menyadari sepenuhnya bahwa pemain peran saat ini tidak memiliki hati nurani melawan kezaliman, untuk itu ini satu kekuatan pikiran  berupa :</p>
<p>“<strong>Hari ini hidup justru yang menentukan, kehidupanan kita ……..</strong></p>
<p><strong>Dalam kelangsungan kehidupan yang pendek itu terckup semua kegiatan ………..</strong></p>
<p><strong>Dan kebahagian dari wujud hidup anda, kebahagia, pertumbuhan, </strong></p>
<p><strong>Kegemilangan, keindahan, keagungan tindakan ……………..</strong></p>
<p><strong>Kemarin hanya satu impian …………..</strong></p>
<p><strong>Besok satu pandangan ……………….. </strong></p>
<p><strong>Tetapi hari ni bila hidup baik ………………</strong></p>
<p><strong>Akan membuat tiap hari kemarin suatu impian kebahagian ………</strong></p>
<p><strong>Karenanya manfaatkan sebaik-baiknya hari in “ ……………………..</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=222&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meretas Kesenjangan (2)</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-2/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 23:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meretas Kesenjangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[II. SUMBER DAN LATAR BELAKANG MASALAH  1.  Gambaran situasi permasalahan Kehidupan berbangsa dan bernegara telah kita lalui bersama dalam tiga orde yang disebut orde lama, orde baru dan orde transformasi, namun kenyataan memberikan gambaran kepada kita bahwa pemain peran dalam lembaga eksekutif, legislatif, judikatif dan dunia usaha (swasta dan negara) tidak mampu mengangkat derajat bangsa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=218&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>II. SUMBER DAN LATAR BELAKANG MASALAH</strong></p>
<p><strong> 1.  Gambaran situasi permasalahan</strong></p>
<p><strong></strong>Kehidupan berbangsa dan bernegara telah kita lalui bersama dalam tiga orde yang disebut orde lama, orde baru dan orde transformasi, namun kenyataan memberikan gambaran kepada kita bahwa pemain peran dalam lembaga eksekutif, legislatif, judikatif dan dunia usaha (swasta dan negara) tidak mampu mengangkat derajat bangsa Indonesia.</p>
<p>Mengapa ? Jawaban terletak, yang kita sebut adanya „Krisis Tersembunyi“ dimana pemain peran baik yang disari maupun yang tidak disadari adalah boneka dari tangan-tangan yang memiliki kekuasaan dari pihak ketiga. Mereka hidup dengan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.</p>
<p>Teriakan hati nurani angkatan muda tidak pernah didengar dan diberi kesempatan untuk mengungkap tabir „Krisis tersebunyi“, walaupun dihadapan mereka telah diperlihatkan kelompok konglomerat dan kelas orang kaya dengan gaya hidup yang berlebihan telah menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial.</p>
<p>Dalam setiap orde terus berlangsung „Krisis tersembunyi“ yang dimainkan oleh pemain peran yang menginginkan pola pengelolaan ekonomi yang tidak kebal terhadap KKN ( kolusi, korupsi, nepotisme) merupakan akar krisis kesenjangan berbangsa dan bernegara Indonesia.</p>
<p>Oleh karena itu, generasi muda yang tergabung dalam kekuatan kebiasaan pikiran baru untuk memperkuat daya kemauan yang menginginkan perubahan pola pikir secara radikal untuk memerangi „Krisis tersembunyi“ dengan menyegarkan kembali ingatan kita pada cita-cita mulia dari tujuan perjuangan kemerdekaan bangsa kita yang sebenarnya yaitu membangun satu masyarakat bangsa Indonesia yang adil, bebas dan makmur secara merata.</p>
<p>Yang menjadi persoalan kita saat ini, masihkah kita mempercayai Kepemimpinan bangsa yang ikut berperan dalam „Krisis tersembunyi“ sebagai „Economic Hit Man“.</p>
<p>Kalau hal itu tidak dapat lagi kita mempercayainya, bangkitkan kesatuan dalam daya kemauan yang kuat bahwa hidup kita hari ini ditentukan oleh pikiran kita, sehingga perubahan perlu segera kita perjuangkan bersama, dengan perubahan secara radikal.</p>
<p>Saat ini yang sudah kita capai adalah empat kali amendemen UUD ’45 yaitu perubahan pertama disahkan 19 Oktober 19999, perubahan kedua disahkan 18 Agustus 2000, perubahan ketiga disahkan 10 November 2001 dan perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002. Tapi apakah bangsa dan negara ini telah tumbuh dan berkembang dengan sumber kekayaan bumi dan alam yang luar biasa dianugerahi Allah SWT.</p>
<p>Apa yang kita hadapi saat ini satu kenyataan bahwa dikatakan pendapatan per kapita sebelum krisis ekonomi Asia Tenggara (Mei 1997 tercatat pendapatan per kapita sebesar US $ 1,600. per tahun dan dikelompokkan dalam “negara berpendapatan menengah”, itulah bayangan semu bila kita hubungankan dengan jumlah hutang Pemerintah, BUMN, dan Swasta yang begitu besar, maka perdapatan per kapita akan memberikan gambaran minus. Semua ini baru terkuah setelah kita menghadapi krisis ekonomi di Asia Tenggara pada Mei 1997. Apa artinya itu semua bagi memasuki orde reformasi dimana budaya KKN bukannya dapat kita meminimumkan bahkan menjadi meluas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Mampukah kita keluar dari daur hidup berbangsa dan bernegara dengan masalah penyakit yang kritis dan pokok. Kita hanya bisa bangkit bila kita mengadakan perubahan berpikir secara radikal, kalau tidak kita akan terus akan terpuruk dan inilah yang diinginkan pihak ketiga supaya NKRI tetap menjadi negara yang terkebelakang dengan penduduk memeluk agama islam yang terbesar. Mampukah kita keluar dan memecahkan masalah penyakit yang kita hadapi saat ini tanpa adanya komitmen dalam berbangsa dan bernegara dengan kepemimpinan yang dapat memberikan keteladanan.</p>
<p>Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulainya ? Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Seandainya itu kita persoalkan, kita tidak pernah bertemu pandangan untuk masalah yang sedang kita hadapi bila telah menyangkut kepentingan individu dan kelompok, pengalaman itu telah mengajarkan kepada kita.</p>
<p>Dalam masa pemerintahan manapun kita dapat membaca dan menganalisa pertanggungan jawaban setiap tanggal 17 Agustussetiap tahunnya. Begitu banyak informasi yang kita dapatkan baik yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, Biro Pusat Statistik, Analisis dari para ahli dari berbagai bidang pengetahuan. Sebaliknya  tulisan ini dalam bentuk lain artinya kami mencoba memikirkan sesuatu tidak dengan model berpikir methodis artinya menyatukan kemampuan otak dan hati melainkan berpikir dalam kerangka dalam mengembangkan kemampuan berpikir intiutif kami untuk “Merenung Mampukah Kita Membangun Bangsa Untuk Tumbuh dan Berkembang”</p>
<p><strong>2. Hasil Usaha Dari Kebijaksanaan sebelumnya</strong></p>
<p><strong>2.1. MASA PEMERINTAHAN SOEKARNO – HATTA</strong></p>
<ul>
<li>Kabinet pertama 29 Agustus 1945, terkait dengan maklumat kepada Rakyat Indonesia, menyelesaikan yang terkait dengan pasukan Inggeris datang, pertemuan dengan wakil-wakil Belanda, membangun tentara keamanan rakyat, melanjutkan berunding dengan Inggeris di Surabaya, dan menenangkan keadaan dengan mati tertembaknya Jenderal Mallaby.</li>
<li>Kabinet Parlementer Sjahrir, untuk melanjutkan perundingan dengan Belanda, memindahkan ibukota RI pindah ke Yogya, serta menyelesaikan Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), usaha mencetak uang, menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan K.N.I.P. sejalan dengan laporan Palima Besar Sudirman.</li>
<li>Kabinet Parlementer Sjahrir kedua 3 Maret 1946 terbentuk, menyelesaikan perbedaan pandangan dengan bangsa sendiri.</li>
<li>Kabinet Parlementer Sutan Sjahrir ketiga terbentuk 2 Oktober 1946, menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan persetujuan Linggarjati dan menyelesaikan hal-hal dengan KNIP, tetapi sejalan dengan itu Kabinet Sjahrir jatuh karena sayap kiri tidak percaya lagi, langsung Soekarno pegang kekuasaan, selanjutnya terbentuk Kabinet Amir Sjarifuddin. Menghadapi clash I dan menyelesaikan persetujuan Renville. Selain dari itu timbul ketidak puasan disana sini, dan mendapat tantangan dari bebe-rapa partai. Kesemuanya terkait kekuasaan.</li>
<li>Kabinet Hatta 2 Januari 1948, walaupun tantantangan dengan F.D.R dan kekacauan didalam tubuh T.N.I. dan menyelesaikan pemberontakan PKI sehingga terjadi pertentangan yang dalam kelompok Soekarno – Hatta dan Muso-Amir. Menyelesaikan masalah perang saudara di Tapanuli Utara.Aksi militer kedua dimana Panglima Besar Sudirman meneruskan gerilya dan Mr.Syarifuddin Presiden darurat yang ditunjuk oleh Soekarno dan Hatta. Menyelesaikan untuk melakukan perundingan kembali. Belanda tidak mendapatkan dukungan dari B.F.O (berdasarkan keputusan dewan keamanan PBB dengan menunjuk K.T.N. (AS, Australia, Belgia). Menyelesaikan Pemerintah Darurat berakhir dan dengan BFO terdapat persetujuan. Sejalan dengan itu 4 Agustus 1949 Kabinet Hatta dibentuk. Menyelesaikan perundingan KMB dan penyerahan kedaulatan. Selanjut-nya 16 Desember 1949 untuk pertama Presiden Soekarno menjadi Presiden RIS dengan Kabinet Hatta serta program Kabinet RIS yang terdiri 7 butir mencakup : 1) Reorganisasi KNIL dan membentuk Angkatan Perang RIS ; 2) menjamin hak dasar manusia dan kemerdeka-annya ;3) Persetujuan UUDRIS dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk konstituante ; 4) Memperbaiki keadaan ekonomi rakyat, keuangan, perumahan, kesehatan, tenaga kerja ; 5) Menyelenggarakan perguruan tinggi ;6) Menyelesaikan Irian Barat ; 7) Menjalankan politik LN RIS dalam perdamaian dunia.</li>
<li>Apa yang dapat kita petik sebelum berpisah antara Soekarno dan Hatta antara tahun 1945 – 1956 dalam memimpin bangsa dan bernegara untuk memahami apa arti kebersamaan dalam bersikap dan berperilaku dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai, disinilah letak pandangan perbedaan mereka dalam mengaktualisasikan dirinya yaitu :</li>
</ul>
<p>1.Hatta dalam bersikap dan berperilaku sangat konsisten antara ucapan dan perbutan, sedangkan Soekarno tidak konsisten.</p>
<p>2.Dengan tidak konsisten seseorang berpikir maka orang akan beram-bisi untuk mencapai tujuan tertentu yang ada kalanya tidak terung-kapkan, tapi dari pengalaman kita dapat menyimak ambisi politik pribadinya, ambisi bisa saja tidak selalu dipandang negatif, tapi ia dapat mempengaruhi tingkat kesadaran pengikutnya yang dapat ber-dampak seseorang yang terlibat dalam proses mengambil keputusan.</p>
<p>3.Mereka menyadari arti kedudukan geopolitik, geografi dan strategi itu membuat Indonesia sebagai satu daerah penting didunia, ditambah kekayaan alam yang luar biasa. Tapi mereka berbeda pandangan dalam menyelesaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi dalam mengambil keputusan Hatta melihat peluang dari sisi pembangunan ekonomi tidak berarti masalah politik tidak mendapatkan tempat,sebaliknya Soekarno melihatnya peluang dari sisi pembangunan politik sedangkan ekonomi akan bergerak sendiri.</p>
<p>4.Sudah tentu pandangan tersebut membuat berbeda setiap keputusan yang hendak diambil dalam aspek kehidupan lainnya, apakah aspek hukum, budaya, sosial, agama, keamanan dsb.</p>
<ul>
<li>Perbedaan pola pikir menyebabkan Hatta mengambil sikap dalam pemerintahan sebagai wakil presiden dalam tahun 1956 dengan me-ngundurkan diri, karena ia memiliki prinsip hidup percaya diri yang di-topang dengan kesadaran rohaniah yang mendalam untuk mendukung sikap dalam berpikir logis dan ilimiah. Tapi yang menarik dari kedua tokoh ini sebagai muslim memberikan keteladanan dalam bersikap dan berperilaku saling menghargai arti kepribadian secara utuh, walaupun mereka berbeda pandangan.</li>
<li>Kedua tokoh ini memberikan keteladanan yang luar biasa bahwa meng-gunakan kekuasaan tapi mampu membendung kesadaran indrawi untuk memperkaya diri dan keluarga.<strong>.</strong></li>
</ul>
<p><strong>2.2. MASA PEMERINTAHAN SOEKARNO SETELAH BERPISAH</strong></p>
<ul>
<li>Informasi perjalannan kepemimpinan Soekarno, dapat kita baca setiap tahun dalam pidatonya pada ulang tahun proklamasi Kemerdekaan Indo-nesia dalam empat jilid (setelah berpisah baca jilid III 1956-1960 dan jilid IV 1961-1966. Pada jilid I dan II tidak pernah menyebutkan Wakil Presiden.</li>
<li>Seperti yang telah kami kemukakan pada bagian terdahulu, bahwa ambi-si politik telah menuntun proses berpikirnya, bagaimanapun hebatnya ia mempengaruhi rakyatnya tapi fakta tidak dapat ditutupi bahwa keadaan pembangunan ekonomi tidak bisa memberikan daya dorong dalam ke-hidupan berbangsa dan bernegara.</li>
<li>Gelombang-gelombang ketidakpuasan sebenarnya sudah nampak dalam tahun 1960 dimana ada pihak yang merebut kekuasaan tapi ada pula yang mengawasai dengan tujuan mencari peluang.</li>
<li>Gelombang tersebut menjadi badai yang tak dapat dihindari lagi terjadi-lah kesenjangan yang mendalam antara Soekarno dan Angkatan Darat. Angkatan bersenjata tidak sadar bahwa dalam tahun 1964 –65 telah terjadi secara tersembunyi bagaimana PKI menginfiltrasi kedalam tubuh angkatan darat. Dan tidak heran pula strategi cina ingin mengendalikan bangsa Indonesia melalui Soekarno.
<ul>
<li>Bangsa Indonesia dikejutkan tanggal 1 Oktober 1965 pada pukul 07.20 pagi Jakarta dibangunkan oleh sebuah pengumuman lewat RRI yang mengatakan Gerakan 30 September (GESTAPU) yang dipimpin oleh Letkol. Untung dari pasukan pengawal presiden Ckrabirawa telah mengambil kekuasaan, dengan membunuh enam jenderal senior AD pada subuh tanggal 1 Oktober 1965.</li>
</ul>
</li>
<li>Apa yang terjadi setelah itu adalah kegagalan kudeta, hanya dalam waktu 7 jam saja dimulai pukul 04.00 pagi penghancuran sampai ke akar-akarnya PKI yang tadinya amat berkuasa sebagai suatu kekuatan politik danideologis yang dirasakan sebagai kekuatan asing yang mendapat dukungan dari rakyat yang bersimpati dengannya. Tragedi ini berlanjut dengan pembalasan dendam dimana-mana serta kehancuran kehidupan ekonomi Indonesia.</li>
<li>Gelombang perubahan tersebut berakhir dengan jatuhnya Soekarno dari puncak kekuasaan pada 11 Maret 1966 serta naiknya militer khususnya AD ke atas panggung kekuasaan.</li>
</ul>
<p><strong>2.3. MASA PEMERINTAHAN SOEHARTO MARET 1966 SAMPAI MEI 1998 DENGAN WAKIL PRESIDEN YANG SILIH BERGANTI ADAM MALIK, SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX, UMAR WIRAHADIKUSUMAH, TRI SUTRISNO, SUDHARMONO, BJ. HABIBIE</strong></p>
<ul>
<li>Dengan mendapat dukungan dari MAHASISWA dan melahirkan ORDE BARU dumulai dengan kepemimpinan Soeharto dengan bertitik tolak landasan pikiran bagi pemecahan kesulitan ekonomi, yang dicetuskan dalam seminar ekonomi KAMI dengan melahirkan Rencana Ekonomi Perjuangan 1966-1968.</li>
<li>Semenjak awal memimpin, sudah nampak kepribadian untuk menunjuk-kan politik sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi melalui pemba-ngunan ekonomi.</li>
<li>Apa yang dapat kita petik dari pengalaman sebelum Malari 1974 :</li>
</ul>
<p>1.Teknik menguasai kekuasaan yang tunggal tanpa ada kritik secara terbuka untuk menyadar manusia selaku pemimpin bangsa.</p>
<p>2.Menguasai pengikut dengan menciptakan bahwa sebagai pengikut harus tunduk atau kiblat kepada manusia / pemimpin bukan kepada prestasi yang diridhoi oleh Allah swt.</p>
<p>3.Sejalan dengan itu ia menumbuhkan kepentingan pribadi dan kelom-pok menjadi nilai / budaya yang dianut.</p>
<p>4.Ia dapat menguasai pribadi kaum intlektual, mantan mahasiswa, MPR dan DPR.</p>
<p>5.Itulah satu kenyataan yang nampak secara nyata tanpa kritik dengan REPELITA I DAN II, berjalan mulus dimana disana sini ia mem-berikan keteladanan memberikan kesempatan memperkaya diri dan kelompok kepentingannya, sehingga tumbuhlah yang dikatakan budaya KKN.</p>
<p>6.Apa arti bagi kita melihat pengalaman itu, sehingga banyak kaum intelektual, mantan mahasiswa, pemimpin agama melacurkan diri demi kepentingan pribadi dan kelompok.</p>
<p>7.Bagi Soeharto dan pengikutnya sebagai langkah awal untuk mengua-sai kekuasaan dalam politik sebagai kepentingan AMBISI PRIBADI yang tidak konsisten dalam perjuangan mengangkat derajat bangsa dan negara.</p>
<ul>
<li>Kepemimpinan Soeharto dan pengikiutnya setelah peristiwa berdarah MALARI 1974.</li>
</ul>
<p>1.Kita belajar lagi bahwa Soeharto beserta pengikutnya telah membentuk pola sikap dan perilaku dengan tingkat kesdaran INDRAWI yang tinggi, sehingga orang tidak bersedia untuk berubah ketingkat kedua yang kita sebut kesadaran BERPIKIR LOGIS DAN ILIMIAH dan ditopang Oleh berpikir agamis.</p>
<p>2.Pengalaman menunjukkan jenderal dan pensiunan jenderal, para politisi, pemimpin ummat yang beragama, legislatif dan judikatif, yang tidak mendukung secara terbuka, orang-orang tersebut harus disingkirkan jangan mereka bisa mempengaruhi sikap dan perilaku indrawi yang sudah tumbuh berurat berakar menyesuaikan dengan tuntutan perubahan. Mereka tersebut secara berencana harus meninggalkan kekuasaan dan pengaruhnya.</p>
<p>3.Hanya sedikit orang memetik kepribadian Bung Hatta dan beberapa tokoh lainnya yang selalu konsisten dalam bersikap dan berperilaku, lebih baik mundur dari pada mengikuti arus.</p>
<p>4.Apa yang nampak perjalanan berikutnya, kelompok Soharto meyakin-kan bahwa pembangun ekonomi harus dilanjutkan, maka lahirlah REPELITA III 1979 – 1984 dan REPELITA IVdan V1984 / 1985 sampai dengan 1989/90 –1993/94.</p>
<p>5.Secara tidak sadar ada mantan mahasiswa yang juga bergelimang dengan kehausankekuasaan, melahirkan sebuah buku Desember 1987, mengenai “Pak Harto” – Pandangan dan Harapannya.</p>
<p>6.Untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto dan pengikutnya, begitu hebatnya ia menanamkan kepribadian kedalam “SEKBER GOLKAR” yang akhirnya melahirkan partai golgar yang menghimpun pelaku ekonomi, pelaku dalam pemerintahan dan kaum inteletual serta kaum ulama.</p>
<p>7.Banyak kritik yang terbuka dalam seminar, tulisan tertulis, gelombang ketidak puasan mahaiswa tak berarti mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku Soeharto dan pengikutnya. Dan tak heran peluang itu dipergunakan oleh golongan pengusaha pribumi dan non-pribumi untuk memperkaya diri seperti yang diperlihatkan oleh pemimpin dan keluarganya.</p>
<p>8.Sebenarnya orang dapat membuat identifikasi situasi permasalahan dari “Amanat Kenegaraan “ dari tahun 1967 dengan realisasi RAPBN dari tahun ke tahun, tapi demi kepentingan individu dan kelompok menjadi tuntutan perubahan tidak mampu mendobrak kesadaran INDRAWI mereka.Untuk mengubah prinsip hidub materialistik dan kiblat kepada manusia / pemimpin.</p>
<p>9.Soeharto dengan wakil presiden BJ Habibie, mencoba mengikuti arus keinginan akan perubahan, dimana mencari dukkungan sebagai Ketua ICMI. Sedangkan dalam perjalanan ada sebuah buku yang mengung-kapkan “Fakta Diskriminasi Rezim Soeharto terhadap Ummat Islam” Karya Tim Peduli Tapol 1985, edisi Indonesia Penerjemah Mohammad Thalib.</p>
<p>10.Perlu diketahui, ketua pelaksana harian adalah Achmad Tirtosudiro dan sekjen-nya adalah Adi Sasono mengatakan tidak tertutup peluang untuk mengadakan Sidang Istimewa MPR dan perombakan kabinet.</p>
<p>11.Apakah yang diucapkan BJ Habibie yang bertentangan denga Ketua harian dan sekjen-nya, adalah suatu taktik yang dibaliknya ia juga mempunyai ambisi bermuka dua. Apakah ia memiliki kepemimpinan yang perlu kita dukung, menjadi satu tanya besar. Pernahkah anda membaca sebuah buku”Dari Soeharto ke Habibie” Guru kencing berdiri, murid kencing berlari : Kedua Puncak korupsi, kolusi, dan nepotisme rezim orde baru, yang ditulis oleh Dr. George Yunus Aditjondro. Tidak heran banyak tulisan mengenai diri Soeharto yang ditulis oleh orang luar, bagaimana ia membangun kerajaan untuk menumpuk kekajaan melalui berbagai perusahaan keluarga, tanpa membaca bukupun kita dapat menangkap fakta yang berjalan.</p>
<p>12.Buku “Kudeta 1 Oktober 1965”, sebuah studi tentang konsipirasi yang ditulis oleh Victor M. Fic dan buku dengan judul “Jakarta semasa lenser keprabon” 100 hari menjelang peralihan kekuasaan, yang ditulis oleh Julius Pour.Sangat menarik untuk dibaca dalam usaha untuk meningkatkan Kesadaran.</p>
<p><strong>2.4  MASA PEMERINTAHAN BJ HABIBIE</strong></p>
<ul>
<li>Awal Maret 1998 dilantik jadi wakil presiden. Gelombang pembaharuan terus bergulir yang dimotori oleh MAHASISWA, dengan mendapat dukungan para cindikiawan, alim ulama, DPR dan ABRI, maka tuntutan perubahan terjadi sesuai dengan tuntutan Orde Reformasi.</li>
<li>Wakil Presiden diangkat sumpah 21 Mei 1998, menjadi presiden untuk melanjutkan jabatan presiden untuk masa jabatan 1998-2003. Pada 23 Mei 1998 mmelantik “Kabinet Reformasi Pembangunan”.</li>
<li>Dalam masa jabatannya, sebagai Presiden tidak mampu menunjukkan Kepemimpinan Nasional artinya setelah melantik Kabinet Reformasi Pembangunan, tidak ada Keputusan strategik yang diangkatnya untuk memenuhi tuntutan pembaharuan dalam Reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mencakup visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan yang ditopang dengan rumusan budaya yang di-formalkan, sehingga jelas arah yang hendak dituju dalam jangka pendek dan menengah.</li>
<li>Oleh karena itu gejolak ketidak kepercayaan ditambah karena adanya bayang-bayangan Soharto, maka tidak banyak yang dapat ia perbuat se-lama kepemimpinan tidak mampu mempengaruhi orang-orang dalam lingkungannya. Sejalan dengan itu maka banyak orang berpendapat ia tidak dapat dipertahankan masa jabatannya.</li>
</ul>
<p><strong>2.5. MASA PEMERINTAHAN K.H. ADDURRAHMAN WAHID  DAN MEGAWATI SOEKARNOPUTRI</strong></p>
<ul>
<li>Setelah dilantik 20 dan 21 Oktober 1999, serta membentuk Kabinet Persatuan Nasional tg. 28 Oktober 1999, yang mencerminkan keinginan dan kepentingan berbagai pihak.</li>
<li>Melangkah dengan persetujuan bersama antara DPR dan Presiden RI, dengan UU RI No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000-2005. Pelaksanaannya akan dirinci dalam Rencana Pembangunan Tahunan (Repeta) yang memuat Anggaran Pen-dapatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan di tingkat daerah dise-but PROPEDA. Sistem, prosedur dan metoda berjalan sesuai dengan pe-raturan perrundangan yang berlaku.</li>
<li>Semua yang terungkap dalam PROPENAS yang juga meletakkan Priori-tas Pembangunan Nasional yang mencakup</li>
</ul>
<p>1.Membangun sistem politik yang Demokratis serta Mempertahankan Persatuan dan Kesatuan.</p>
<p>2.Mewujudkan Supremasi Hukum Dan Pemerintahan Yang Baik.</p>
<p>3.Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Memperkuat Landasan Pem-bangunan berkelanjutan dan Beerkeadilan yang Berdasarkan Sistem Ekonomi Kerakyatan.</p>
<p>4.Membangun Kesejahteraan Rakyat, Meningkatkan Kualitas Kehidup-an Beragama, dan Ketahanan Budaya.</p>
<p>5.Meningkatkan Pembangunan Daerah.</p>
<ul>
<li>Bila kita memperhatikan pedoman tersebut diatas yang telah memberikan arah kedalam peran, jabatan, fungsi, pekerjaan, tapi dalam pelaksanaan-nya sangat ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang dapat meyakinkan dalam usaha untuk mempengaruhi lingkungan yang begitu cepat berubah.</li>
<li>Apa yang terjadi, tidak lain gelombang pembaharuan terus bergulir keti-dakpuasan menimbulkan gejolak ketidak kepercayaan untuk menyatukan dan mengangkat bangsa jauh dari harapan.</li>
<li>Rasionalitas Kwik Kian Gie, mengajak sumbang saran, kedalam curah pendapat kepada 700 anggota MPR/DPR, untuk menatap persoalan-persoalan masa depan dengan suratnya serta ia menyampaikkan dua buah makalah. Tujuannya adalah untuk melakukan perubahan dari kesadaran indrawi menuju kesadaran logis dan ilimiah.</li>
<li>Dari forum itulah melahirkan pandangan yang pro dan kontra, hal itu terjadi karena mereka dididik yang cukup panjang dalam masa orde baru untuk menjadi manusia kiblat ke manusia, bukan kepada prestasi yang di ridhoi Allah swt.</li>
</ul>
<p><strong>2.6. MASA PEMERINTAHAN MEGAWATI DAN HAMZAH</strong></p>
<ul>
<li>Pemilu 1999 berjalan dengan mulus, apa yang diharapkan oleh kehidupan berbangsa dan bernegara untuk tumbuh dan berkembang.</li>
<li>Mengapa kita jauh dari harapan, tidak lain karena gaya kepemimpinan sangat menentukan bagaimana ia mempengaruhi dalam proses pengam-bilan keputusan.
<ul>
<li>Keputusan strategik yang diambil banyak mengandung ketidak pastiann karena masih saja menekankan kepentingan individu dan kelompok, ka-laupun pengikut mengungkapkan kebenaran belum tentu sang pemimpin dapat menerima begitu saja. Hal tersebut kitak mampuan membuat keseimbangan antara kesadaran indrawi dengan kesadran logis dan ili-miah yang mendorong tidak terjadi konsisteen dalam bersikap dan ber-perilaku dalam kepemimpinan.</li>
</ul>
</li>
<li>Fokus untuk membangun bangsa untuk tumbuh dan berkembang, maka peran yang dipercayakan tidak menjadi satu kenyataan, sehingga pusat perhatian lebih menekankan kepada bagaimana kekuasaan dapat dipertahankan, sehingga kepemimpinan menuntun orang-orang dalam lingkungannya menjadi sekelompok orang lebih mementingkan kesadaran indrawi akibatnya diantara kelompok menjadi terpecah dalam menyelesaikan masalah ekonomi secara terfokuskan dan seimbang dengan kepentingan politik.</li>
<li>Itulah satu kenyataan yang kita hadapi sehingga berdampak peran pelaku dalam kabinet tidak dapat dimaksimumkan yang sesuai dengan kapabilitasnya. Akibatnya sikap dan perilaku tetap berkiblat kepada manusia, tidak ada keteladan untuk berani meninggalkan peran karena perbedaan pandangan dalam menyelesaikan masalah.
<ul>
<li>Oleh karena itu tidak heran bila banyak anggota bangsa mulai menyadari arti hidup untuk tumbuh dan berkembang mulai tidak percaya ataukah itulah tanda ketidak keberhasilan dalam Pemilu tahun 1999 walaupun berjalan dengan sangat mulus.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><strong>2.7.  MASA PEMERINTAHAN S.B. YUDHOYONO   M.Y.    KALLA </strong></p>
<ul>
<li>Dilantik berdasarkan hasil pemilu 2004 secara langsung dan berjalan tanpa ada gejolak secara berarti dimana masyarakat memberikan keper-cayaan atas kepemimpinan mereka.</li>
<li>Menyusun kabinet antara presiden dan wakil dengan susunan “Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2009, yang lebih banyak menekankan kedalam keputusan politik bersifat kompromi, keduanya tidak mendasarkan kesadaran logis dan ilimiah yang ditopang oleh kesadaran rohaniah yang tinggi. Mereka juga lebih menekankan kepentingan individu dan kelompok, sedangkan mereka telah belajar dari pengalaman masa lampau.</li>
<li>Gejolak ketidak kepercayaan kepada kabinet melahirkan perubahan su-sunan kabinet yang masih menggambarkan kompromi politik walaupu ada yang baru untuk meredakan kepercayaan pada dunia bisnis bukan melihat untuk kepentingan bangsa dan bernegara.</li>
<li>Bila kepercayaan dibayang-bayangi hanya dilihat dari kepentingan sesaat maka gelombang ketidak kepastian akan timbul dan bergerak yang digerakkan kepentingan politik dan pihak ketiga bermain untuk mengadu dompa diantara mereka dan biasanya bila tingkat kesadaran indrawi yang dominan, maka gejolak ketidak kepuasan akan berlangsung terus, sedangkan Pemilu 2009 telah diambang pintu. Salah-salah membuat keputusan akan terjadi, maka tahun itu dijadikan pintu masuk hanya untuk merebut kekuasaan, sehingga kepentingan untuk tumbuh dan berkembang hanya satu bayangan yang tidak pasti karena gaya kepemimpinan yang tidak mampu mempengaruhi untuk menunjukkan keteladanan dalam proses keputusan dimata keinginan rakyat ke masa depan.</li>
</ul>
<p>Kedua pemimpin ini berbeda asal usul dalam membangun kepribadian dimana SBY dibesarkan dengan latar belakang militer, KALLA dibesarkan dengan latar belakang sebagai pengusaha, oleh karena itu sepak terjangnya berbeda dimana aktualisasi proses pengambilan keputusan berbeda yang satu takut yang kedua berani, akibatnya tidak pernah serasi dalam membuat keputusan.</p>
<p><strong>2.8. MASA PEMERINTAHAN S.B. YUDHOYONO DAN BUDIONO</strong></p>
<p>Kabinet Indonesia Bersatu ke II 2009-2014, yang lebih banyak menekankan kedalam keputusan politik bersifat kompromi, tidak perlu lagi untuk kita uraikan dimana dua tahun kepemimpinan mereka, begitu banyak orang yang bermasalah justru menjadi pemain peran utama, sehingga „Krisis tersembunyi“ menjadi lebih subur bermain sebagai agen „Economis Hit Man“, oleh karena itu kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih kritis.</p>
<p>Banyak peristiwa yang tidak perlu kita ungkapkan kembali dimana masyarakat biasapun dapat melihat dan mendengarkan serta merasakan apa yang terjadi . Disinilah kebesaran Allah Swt beragam Musibah diturunkannya, untuk manusia Indonesia belajar apa yang terjadi bagi peran pemimpinan “kaya tak terbatas”</p>
<p><strong>Apa yang terpikirkan saat ini, </strong>Semua unsur bangsa yang ingin bangkit, jangan terpengaruh oleh bayang bayang ketidak kepuasaan pihak ketiga yang tetap menginginkan perpecahan anak bangsa. Oleh karena itu diperlukan gaya kepemimpinan yang dapat menangkap gelombang tuntutan perubahan itu sendiri. Kalau kondisi itu tidak dicermati dengan baik, maka gejolak perubahan yang oleh ketidak puasaan akan muncul dan bergulir terus dan situasi inilah yang dimanfaatkan untuk suatu tujuan politik.</p>
<p>Peran pemain politik, telah ditunjukkan sebagai MUSIBAH oleh kehendak Allah Swt, yang terus bergulir dalah kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak perlu kita ungkapkan kembali, telah banyak informasi disajkan dalam mas media cetak dan elektronik, apa yang sedang terjadi.</p>
<p>Tanpa menguasai keadaan yang selalu digerakkan oleh ketidak keyakinan begitu mudah pula orang mengungkapkan, apalah arti orde reformasi ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak lain daripada pintu masuk untuk merebut kekuasaan, maka gelombang ketidak puasan akan terus bergulir yang diciptakan oleh pihak ketiga melalui tangan-tangan bangsa kita sendiri yang tidak disadari olehnya. Disinilah letak peran kepemimpinan untuk menggerakkan pandangan persfektif bangsa dan negara menjadi pemikiran jangka panjang dengan arah posisi yang jelas kedalam aktualisasi jangka pendek untuk melaksanakan pencapaian kinerja yang terukur.</p>
<p><strong>3. PENTINGNYA SITUASI PERMASALAHAN</strong></p>
<p><strong>3.1. Keyakinan mengenai kemampuan bangsa sendiri :</strong></p>
<ul>
<li>Pengalaman menunjukkan pada tingkat pemimpin lembaga negara me-nunjukkan tidak ada keteladanan yang mampu mempengaruhi bawahan dan orang lain diluar lingkungan untuk menyesuaikan tuntutan perubahan sikap dan perilaku lebih baik menghindari masalah dari pada memecahkan masalah artinya orang sudah menjadi terbiasa dalam proses berpikir dalam kerangka reaktif bukan proaktif.</li>
<li>51 tahun merdeka, setiap masa kepemimpinan nasional silih berganti tidak satupun mempunyai kepercayaan diri bahwa daur hidup bangsa dan negara dalam posisi penyakit yang sulit dapat disembuhkan, mungkin dampak dari budaya kolonial, oleh karena itu sekiranyapun ada tapi mereka tidak mampu melawan arus yang diciptakan pihak ketiga sehing-ga tidak pernah ada titik temu diantara bangsa kita yang bisa saling percaya dan menghargai bangsa sendiri.</li>
<li>Bila kondisi tersebut terus berlangsung dan pemimpin kita tidak dapat merubah pola berpikir secara radikal, maka kita tidak pernah bisa keluar dari penyakit dalam proses pengambilan keputusaan karena percaya kekuatan interpensi dari luar.</li>
<li>Mampukah kepemimpinan masa kini dan masa depan meyakininya bah-wa masalah penyakit bangsa hanya dapat diselesaikan, bila kita memiliki komitmen bersama untuk membangun keyakinan bahwa semua masalah telah menjadi penyakit harus dapat diselesaikan atas dasar kemampuan sendiri tidak bergantung dengan interpensi pihak ketiga dalam semua aspek kehidupan.</li>
<li>Perubahan pola pikir secara radikal tersebut harus disosialisasikan menjadi visi dalam berbangsa dan misi dalam bernegara bila tidak tidak pernah orang mau belajar dari pengalaman masa lampau, ataukah bangsa ini yang dipimpin oleh lembaga legislatif, yudikatif dan eksekutif memang terus mengumandangkan prinsip gaya hidub orde baru sehingga mudah pihak ketiga bermain didalamnya.</li>
<li>Dalam perubahan UUD ’45 dengan empat kali amendemen, memang dengan sengaja mencantum kedalam UU, satu pernyataan angka kwan-titaf % khusus untuk pendidikan yang tidak lazim dan mendorong orang berpikir untuk kepentingan kelompok. Kepentingan itu tidak menunjuk-kan kesimbangan kepentingan dalam membangun. (terdapat dalam amendemen ke empat disahkan 10 Agustus 2002)</li>
<li>Kita dapat membayangkan begitu mudah pihak ketiga bermain untuk mengonjangkan kesadaran yang secara terselubung menjadi bayang-bayangan harapan yang tidak pasti, dan orang yang berperan secara sadar terlibat dalam bayang-bayang itu dalam bersikap dan berperilaku yang dengan sengaja menumbuh kembangkan kepentingan individu dan kelompok yang sekali gus mendorong orang tidak memiliki keyakinan diri.</li>
<li>Begitu pula pengalaman menunjukkan membuat keputusan-keputusan mengenai pinjjaman luar negeri yang dikaitkan dengan pembiayaan pembangunan di Indonesia dari masa orde baru dan juga begitu mudahnya membuat keputusan untuk pendirian dalam industri perbankan. Kedua unsur inilah yang mendorong kehancuran bangsa dan negara dan dengan adanya krisis ekonomi barulah terrkuak hal-hal yang dimainkan peran-peran dengan tingkat kesaran indrawi yang tinggi dan sekali gus membuka tabir begitu hebatnya dampak dalam kehidupan KKN dalam kehidupan berbangsa dan berrne-gara. Sehingga budaya KKN tumbuh dan berkembang sampai saat ini.</li>
<li>Begitu mudah lahirnya kebijakan kedalam UU, PP, Kepres, Kepmen dan beragam instruksi yang melahirkan dampak dari keputusan itu seperti BPPN, BULOG, PASAR MODAL, VALAS, PENDIDIKAN, dsb.
<ul>
<li>Kesemuanya secara tidak sadar bayang-bayang permainan pihak ketiga terus bergulir, walaupun kita menyadari hal tersebut tetapi begitu mudah sikap dan perilaku pemain peran terperangkap untuk kepentingan individu dan kelompok.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><strong>3.2. Budaya dalam Berbangsa dan bernegara :</strong></p>
<ul>
<li>Dalam kehidupan masa lalu, masa kini kita tidak mengenal budaya dalam berbangsa dan bernegara, yang ada hanyalah 45 butir nilai pedoman penghayatan dan pengamalan pancila yang dikembangkan dari sila kesatu ketuhanan yang maha esa ; sila kedua kemanusiaan yang adil dan bera-dab ; sila ketiga persatuan indonesia ; sila keempat kerakyatan yang di-pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ; sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.</li>
<li>Untuk menuntun sikap dalam berbangsa dan perilaku dalam bernegara diperlukan budaya sebagai pedoman yang diformalkan, sehingga setiap individu dan kelompok pada setiap unit organisasi memahami arti kebe-radaannya dalam wilayah republik indonesia, begitu dalam kehidupan partai politik.</li>
<li>Yang kita butuhkan adalah budaya, sedangkan nilai hanya salah satu unsur dalam budaya. Jadi nilai menjadi terwujud bila unsur norma, wewenang dan ganjar jelas dapat dirumuskan. Jadi ketiga unsur diatas juga harus dirumuskan.</li>
<li>Dengan budaya tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman untuk mela-kukan perubahan dalam bersikap dan berperiku yang sesuai dengan tun-tutan kebutuhan berbangsa dan bernegara.</li>
<li>Denganbudaya yang jelas dan diformalkan diharapkan mampu merubah pola pikir lama ke pola pikir baru untuk membangun kebiasaan yang produktif dengan memanfaatkan otak sebagai landasan untuk menggerak-kan alat berpikir yang disebut kesadaran, kecerdasan dan akal. Wujudnya merubah prinsip hidup yang akan dijalani</li>
</ul>
<p><strong>3.3. Kepemimpinan dan pengikut :</strong></p>
<ul>
<li>Apapun model sistem, prosedur, methoda dalam administrasi yang dida-lamnya telah terintergrasi pengawasan dan pengendalian tidak mempu-nyai arti kalau manusia yang melaksanakannya selalu terlibat untuk mencari kepentingan individu dan kelompok.</li>
<li>Bentuk pengawasan struktural, fungsional, melekat tidak berdaya untuk menjalankan perannya bila mereka juga diberi peluang untuk bermain didalamnya.</li>
<li>Hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya untuk menjalankan peran-nya dimana mereka juga diberi peluang untuk bermain didalamnya. Se-gala sesuatu semuanya bisa diatur dengan kepentingan.</li>
<li>Dengan melaksanakan pembangunan ekonomi sebagai alat untuk meng-gerakkan kepentingan individu dan kelompok, akhirnya KKN tumbuh dan berkembang dari keinginan kepemimpinan dan pengikutnya.</li>
<li>Pengalaman juga menunjukkan sebelum dan sesudah menjadi pemimpin dan pengikutnya, walaupun disadari untuk memenangkan PEMILU hanya sekedar alat untuk merebut kekuasaan, setelah itu tidak kita dapatkan aktualisasi kepemimpinan dalam kerangka berpikir intuitif untuk mengarah persfektif (seperti disebutkan dalam UUD 1945 seseorang dalam jabatan presiden dapat diangkat sebanyak dua kali artinya ia harus memiliki persfektif untuk 10 tahun) ; dengan dasar pemikiran itu ia me-ngembangkan kerangka berpikir jangka panjang untuk masa 5 tahun kedalam rencana jangka panjang dalam memberikan arah posisi bangsa dan negara ; setelah itu ia menjabarkan lebih rinci dalam pemikiran jangka pendel dengan arah kejelasan dalam menggariskan performansi untuk 1 tahun kedalam anggaran belanja dan pembangunan negara.</li>
<li>Informasi yang dituangkan dalam rencana persfektif menekankan secara kualitatif, sebaliknya pada rencana jangka panjang 5 tahun, mengungkap predeksi secara kualitatif dan kuantitatif serta ukuran-ukuran apa yang dipergunakan untuk menilai tingkat keberhasilan.</li>
<li>Sedangkan rencana jangka pendek 1 tahun yang dituangkan dalam APBNsejalan dengan rencana jangka panjang bila perlu diadakan penyesuaian bila asusi predeksi perlu disesuaikan dengan perubahan.faktor internal dan ekstern.</li>
<li>Kepemimpinan dan pengikut yang berjalan tanpa arah dan sarana yang jelas dan terukur hanyalah hidup dalam kemampuan bayang-bayangan ketidak kepastian dan mudah menimbulkan gesakan-gesakan ketidak kepercayaan yang ditimbulkan oleh gelombang perubahan dan mudah di-manfaatkan oleh pihak ketiga, inilah satu keyakinan bangsa kita mudah diadu dompa untuk berbeda pendapat tanpa diselami secara utuh dalam menyingkapi situasi menjadi masalah.</li>
<li>Ketidak jelasan aktualisasi persfektif, posisi dan performasi kedalam suatu sistem yang berkesinambungan akan sulit mendapat komitmen dan pemanfaatan “OTAK” karena semuanya menjadi sesuatu yang semu dalam bersikap dan berperilaku, oleh karena itu tidak dapat diharapkan keteladanan yang utuh dalam berbangsa dan bernegara, sehingga demo-rasi politik dan hak-hak azasi manusia sebagai alat baginya.</li>
<li>Itulah satu gambaran yang kita ungkapkan diatas, bahwa kepemimpinan dan pengikut dengan sifat kesadaran indrawi yang begitu tinggi, maka gambaran budaya KKN untuk dihapuskan tidak mungkin sama sekali, ke-cuali kepemimpinan yang dapat memberikan keteladanan sehingga diperlukan waktu yang panjang untuk menghapuskan.</li>
</ul>
<p><strong>3.4. Pengelolaan Keuangan Negara dan RAPBN Kementerian / Lembaga :</strong></p>
<ul>
<li>Diatur dalam UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.</li>
<li>Pelaksanaannya diatur kedalam APBN / APBDdengan ditetapkan ber-dasarkan Undang-Undang dengan Perstujuan DPR / DPRD.</li>
<li>Masa lampau dan masa kini telah menjadikan kebiasaan begitu mudah untuk memutuskan segala sesuatu untuk berhutang dalam menyelesaikan penyakit bangsa dan negara ini. Berdasarkan rencana APBN 2005 jumlah belanja negara 264,9 tri, pembayaran bunga hutang 64,0 tri, apa artinya bahwa hampir 25 % dipergunakan untuk pos tersebut dalam tahun 2005. Itulah satu kenyataan yang kita hadapi akibat hutang masa lalu dan masa kini kita membuat hutang baru.</li>
<li>Apakah selamanya kita akan membuat keputusan gali lobang tutup lo-bang dan itu berarti kecil kemungkinan untuk menyelesaikan penyakit dan tidak mungkin bangsa dan negara dapat tumbuh dan berkembang. Bahkan bisa terjadi salah membuat keputusan strategik akan berdampak ketidak pastian bangsa dan negara keluar dari bayang-bayang yeng diciptakan oleh pihak ketiga.</li>
<li>Sedangkan dalam bidang pelaksanaan anggarran, dilakukan pembagian kewenangan yang lebih jelas dalam pengelolaan keuangan antara men-teri teknis dan menteri keuangan. Pembagian kewenangan ini memberi-kan pula fleksibilitas kepada menteri teknis sebagai pengguna anggaran, untuk mengatur penggunaan dana anggaran kementeriannya secara efisien dan efektif dalam rangka optimalisasi kinerja kementeriannya untuk menghasilkan output yang telah ditetapkan.</li>
</ul>
<p><strong>3.5. Kebijaksanaan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan Dalam rangka menutup defisit anggaran </strong>dilakukan langkah-langkah mobilisasi sumber-sumber pembiayaan melalui : 1. Penggunaan sebaha-gian dana simpanan pemerintah di BI ; 2. Penjualan aset eks BPPN yang sekarang dikelola oleh PT. PPA (Perusahaan Pengelolah Aset) dan me-lanjutkan kebijakkan privatisasi BUMN secara optimal ; 3. Penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dengan mempertimbangkan program moneter dan pengelolaan utang secara terpadu ; 4. Penarikan pinjaman luar negeri.</p>
<p><strong>3.6. Struktur Kabinet dan Lembaga :</strong></p>
<ul>
<li>Membangun struktur yang cenderung tidak efisien, efektif dan ber-kualitas yang berdampak biaya operasional yang tinggi dan juga tidak mempertimbangan arti keberadaan UU 22 dan UU 25 mengenai pemrintahan daerah.</li>
<li>Dibentuk hanya berdasarkan kepentingan politik sehingga yang meme-gang peran juga tanpa pertimbangan suatu kreteria yang jelas sehingga berdampak tidak jelas kontribudi yang diberikannya.</li>
<li>Kabinet Indonesia Bersatu tidak berbeda dengan sebelumnya artinya ti-dak mampu menunjukkan konstribusi secara utuh dalam membangun kesediaan dalam berkoordinasi pada setiap keputusan dengan 36 peran mencakup Menteri Koordinator, Menteri Departemen, Menteri Negara, Setingkat Menteri Negara.</li>
<li>Tidak fokus menjalan peran dalam kementerian / lembaga sehingga me-reka tidak merumuskan konstribusinya dalam tuntutan perubahan refor-masi dalam membangun bangsa dan negara, cenderung masih bermain dalam kepentingan yang tidak terarah yang akan berdampak timbul kedalam ke permasalahan baru.</li>
<li>Peran mereka dalam kabinet / lembaga lebih mendominasi kedalam pola pikir orde baru bukan orde reformasi yang menuntut pembaharuan dalam pola pikir menghindari masalah dari pada memecahkan masalah. Inilah satu kebiasaan yang terus tumbuh, tidak pernah mendidik menjadi peran dengan satukebiasaan yang produktif (ilmu, pengalaman dan niat dalam kebutuhan yang mendasar).</li>
<li>Pola pikir yang kita sebutkan diatas menunjukkan peran kepemimpinan tidak pernah melepaskan diri dari budaya KKN yang mendorong sikap dan perilaku yang lebih mementingkan kepentingan individu dan kelompok sehingga apa yang diucapnya tidak pernah sejalan dengan perbuatan dalam perjalanan hidup, itu juga meupakan satu bukti ketidak mampuan menjalankan peran untuk memanfaatkan makna “OTAK” dalam aktuali-sasi kepemimpinan untuk menjadi “kebiasaan yang produktif”.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=218&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MERETAS KESENJANGAN (1)</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-1/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 23:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meretas Kesenjangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[      MERETAS KESENJANGAN  DALAM KEHIDUPAN    BERBANGSA DAN BERNEGARA INDONESIA                                        DAFTAR  ISI KATA PNGANTAR I.   PENDAHULUAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 4 II. SUMBER DAN LATAR BELAKANG MASALAH &#8230;&#8230;. 6 1.     Gambaran situasi permasalah &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 6      2 .  Hasil usaha dari kebijaksanaan sebelumnya &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 8            2.1. Masa pemerintahan Soekarno – Hatta &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 8             [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=215&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>    MERETAS KESENJANGAN  DALAM KEHIDUPAN    BERBANGSA DAN </strong><strong>BERNEGARA INDONESIA</strong><strong></strong></p>
<p><strong>                                       </strong><strong>DAFTAR  ISI</strong></p>
<p><strong>KATA PNGANTAR</strong></p>
<p><strong>I.   PENDAHULUAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; 4</strong></p>
<p><strong>II. SUMBER DAN LATAR BELAKANG MASALAH &#8230;&#8230;. 6</strong></p>
<p><strong>1.     </strong><strong>Gambaran situasi permasalah &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 6</strong></p>
<p><strong>     2 .  Hasil usaha dari kebijaksanaan sebelumnya &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 8</strong></p>
<p><strong>           2.1. Masa pemerintahan Soekarno – Hatta &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. 8  </strong></p>
<p><strong>           2.2. Masa pemerintahan Soekarno setelah berpisah  11</strong></p>
<p><strong>           2.3. Masa pemerintahan Seharto dg wakil ………..   </strong><strong>12</strong></p>
<p><strong>           2.4. Masa pemerintahan BJ Habibie ………………   15</strong></p>
<p><strong>           2.5. Masa pemerintahan K.H. A. Wahid ………….    16</strong></p>
<p><strong>           2.6. Masa pemerintahan Megawati ………………..    17</strong></p>
<p><strong>           2.7. Masa pemerintahan SB Yuhoyono ke 1   …….     18</strong></p>
<p><strong>           2.8. Masa pemerintan SB Yudhoyono ke 2. ……….    </strong><strong>19</strong></p>
<p><strong>      3. Pentingnya Situasi Permasalah ……………………..    20</strong></p>
<p><strong>          3.1. Keyakinan mengenai kemampuan bangsa …….   20</strong></p>
<p><strong>          3.2. Budaya dalam berbangsa dan bernegara &#8230;&#8230;&#8230;.    22</strong></p>
<p><strong>          3.3. Kepemimpinan dan pengikut &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..     23</strong></p>
<p><strong>          3.4. Pengelolaan keungan negara  &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;    25</strong></p>
<p><strong>          3.5. Kebijaksanaan yang tidak dapat &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;    26</strong></p>
<p><strong>          3.6. Struktur kabinet dan lembaga &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.    26</strong></p>
<p><strong>III. RUMUSAN MASALAH &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;     28</strong></p>
<p><strong>       1. Masalah kritis &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;           28</strong></p>
<p><strong>       2. Masalah pokok &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.     28</strong></p>
<p><strong>       3.  Masalah insidentil &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..                            29</strong></p>
<p><strong>IV.  PEMECAHAN MASALAH &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.      30</strong></p>
<p><strong>V.    RINGKASAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..       33   </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p>Tulisan kami sajikan sebagai cetusan hatinurani melawan kezaliman yang kami susun berdasarkan kekuatan hati sehingga bergerak dalam kekuatan intuisi, jadi diolah oleh kekuatan menghayati yang digerakkan oleh pengalaman kami memimpin sebagai ketua umum GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia selaku LSM yang ingin berpatisipasi dalam kebutuhan melakukan perubahan kedalam revolusi berpikir.</p>
<p>Bertolak dari Kuasa Allah Maha Agung dan kalamnya sangat luhur. Nikmat-nikmatnya telah dianugerahkan kepadamu dengan nikmat ini dan menanamkan bibit iman ini kedadamu yang jernih. Dia juga memerintahkanmu untuk menyirami iman dengan air ketaatan sampai iman itu menjadi pohon.</p>
<p>Dengan kebesaran Allah Swt, yang telah membuka pintu mengetuk dinding jiwa dengan memperlihat MUSIBAH DALAM TAHUN 2011, menggugah daya kemauan yang kuat untuk menuangkan gagasan pikiran kehadapan semua pihak yang memiliki sudut pandang yang sama untuk melakukan perubahan sikap dan perilaku, dengan melaksanakan kekuatan „KAYA“ ( Kebenaran, Agama, Yakin, Amanah) sebagai kekuatan untuk mengungkit pikiran, maka disitu terletak dinding jiwa tanpa topeng kepalsuan dalam mewujudkan keinginan berlandaskan niat untuk mengubah takdir menjadi mengubah nasib.</p>
<p>Demikianlah sumbangan pikiran kami sampaikan sebagai teriakan hati nurani kami untuk menggugah dalam melaksanakan perubahan berencana . Bandung, 29 Juni 2011-06-29. Abdul Talib Rachman</p>
<p><strong>I.  PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong></strong>Panggilan hati nurani melawan kezaliman, merupakan cetusan hati untuk mengingatkan kepada kita bahwa silih berganti kepemimpinan nasional sejak 1945 s/d 2011, berarti kita telah melewati kemerdekaan selama 66 tahun, tapi apa yang terjadi bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara dari waktu ke waktu tidaklah membawa kebesasan menjadi kebahagian melain penderitaan yang kita alami.</p>
<p>Tidak ada jalan keluar dari perbuatan kita sendiri karena penyakit kehidupan adalah buah dari amalan kita buruk. Simaklah ungkapan sebagai penuntun berpikir yang mengakui ummat islam :</p>
<p>QS. 42 : 30“ Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).; 31“ Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.</p>
<p>QS. 30 – 41“ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).</p>
<p><strong></strong>Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mampu menjawab kegelisahan hidup, walaupun bangsa dipimpin oleh ummat yang mengakui islam dan iman menjadi penuntun hidup mereka, tetapi sebaliknya ajaran-ajaran liberalisme dan individualisme yang dibimbing oleh elit-elit (pemimpin bangsa) telah menimbulkan ilusi kebebasan meluas dan merasuk ke dalam pribadi-pribadi masyarakat kita.</p>
<p>Sejalan dengan hati nurani melawan kezaliman, maka dengan daya kemauan sangat perlu untuk memahami bagaimana manipulasi ilusi kebebasan berdampak menuntun manusia keluar dari kekuatan jiwa yang negatif, maka dapat kita bayangkan perubahan UUD 1945 (1) oktober 1999 ; 2) agustus 2000 ; 3)november 2001 ; 4) agustus 2002.</p>
<p>Walaupun mereka menyadari bahwa hidup berbangsa dan bernegara dibentuk oleh pikirannya sendiri, maka dampak kebebasan yang diajarkan menjadikan mereka bukan sebagai manusia yang seutuhnya yang peduli atas penderitaan dan perasaan ummat, inilah kegelisahan jangan menjadi racun kehidupan, oleh karena itu dengan hati nurani yang kuat kita mengubah ilusi kebebasan menjadi kekuatan untuk melawan kezaliman yang harus kita kobarkan untuk merubah reformasi ke jalan yang lurus dan untuk itu perlu pemimpin yang memiliki kepeminan yang mampu melaksanakan perubahan yang berencana agar mampu menggerakkan manusia yang dipimpinnya menjadi satu kekuatan pikiran dalam usaha mengubah kehidupan berbangsa dan bernegara keluar dari <strong>musibah</strong> yang telah ditunjukkan oleh kebesaran Allah Swt.</p>
<p>Jadi musibah adalah salah satu bagian dari gambaran kehidupan manusia, kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nati. Tetapi tak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya. Lihatlah peristiwa dalam tahun 2011 dari seluruh aspek kehdupan berbangsa dan bernegara yang telah memperlihatkan keburukan pemimpin ummat yang menciptakan penyakit dalam kemiskinan.</p>
<p>Penyakit tersebut menjadi masalah yang sangat kritis untuk bangsa kita bisa tumbuh dan berkembang dikarenakan sikap dan perilaku pemimpin bangsa kita sebagai agen untuk kepentingan pihak ketiga agar Bangsa Indonesia tidak bisa menyelesaikan penyakit kemiskinan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=215&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2011/06/30/meretas-kesenjangan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN AKHLAK BAG.III KUMPULAN KATA K</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2010/12/21/membangun-akhlak-bag-iii-kumpulan-kata-k/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2010/12/21/membangun-akhlak-bag-iii-kumpulan-kata-k/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 04:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[DAFTAR ISI PENGANTAR BAGIAN KEDUA &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..              3 27. KEBAIKAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.               5 28. KESUKSESAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..             11 29. KASIH (rasa) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..             12 30. KEBAJIKAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..             14 31. KERAMAH TAMAHAN DAN KEBAJIKAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..              17 32. KESEMPURNAAN DAN KEBAJIKAN &#8230;               18 33. KEHORMATAN / KESUCIAN DIRI &#8230;&#8230;.               23 34. KELAKUAN BAIK &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;               26 35. KASIH SAYANG &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;            28 36. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=212&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> DAFTAR ISI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENGANTAR BAGIAN KEDUA &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..              3 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>27. KEBAIKAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.               5 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>28. KESUKSESAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..             11 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>29. KASIH (rasa) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..             12</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>30. KEBAJIKAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..             14</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>31. KERAMAH TAMAHAN </strong></p>
<p><strong> DAN KEBAJIKAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..              17</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>32. KESEMPURNAAN DAN KEBAJIKAN &#8230;               18</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>33. KEHORMATAN / KESUCIAN DIRI &#8230;&#8230;.               23</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>34. KELAKUAN BAIK &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;               26</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>35. KASIH SAYANG &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;            28</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>36. KESEPAKATAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.              33</strong></p>
<div>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p><strong>37. KEADILAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.              34</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>38. KESIAPSIAGAAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.              38</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>39. KETENANGAN HATI DAN </strong></p>
<p><strong> KEBENARAN NIAT&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.              39</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>40. KEPENTINGAN (mendahulukan) &#8230;&#8230;&#8230;               40</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>41. KEJUJURAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..               42</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>42. KEBERSIHAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..               46</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>43. KHUSU’&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;             47</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>44. KESAKSIAN (syahadat) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..             50</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>45. KEBENARAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.             54</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>46. KELEBIHAN (pahala)&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;             70 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>47. KEBAKHILAN (kikir / lokek / pelit)&#8230;&#8230;             88</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>48. KEBOHONGAN&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;             95</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>49. KELALIMAN&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.            110</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>50. KEHIDUPAN DUNIA TIPUAN BELAKA       137</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>51. KEHIDUPAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;            139 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>52. KEMULIAAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..            149</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>53. KEKAYAAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..        154</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENGANTAR BAGIAN KEDUA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pada bagian pertama, kita telah mengungkapkan makna „A-J“ sebagai satu kekuatan untuk mengetuk dinding jiwa, dalam rangka untuk mengingatkan pada diri kita bahwa membangun „Akhlak adalah suatu usaha yang bergerak sepanjang perjalan hidup ini untuk menjadikan manusia dapat hidup aman, tenteram dan rukun damai“</p>
<p>Oleh karena itu ingatlah selalu bahwa Allah tidak merubah nasib sesuatu bangsa (diri) sebelum dia sendiri mengusahakannya“</p>
<p>Bertolak dengan pikiran diatas, maka menemukan jati diri, bukanlah sesuatu yang mudah untuk diamalkan dalam hidup ini, tetapi akan menjadi satu kekuatan bila daya kemauan yang kuat untuk menjalankannya sehingga terbentukekuatan pikiran menjadi kebiasaan dan secara tidak langsung manusia akan menemukan jati dirinya</p>
<p>Oleh karena itu, maka kebiasaan yang ditopang dengan keinginan yang berlandaskan niat, maka ilmu sebagai informasi, pengetahuan dari pengalaman sebagai keterampilan, menjadi unsur (ilmu, pengetahuan, keinginan) yang sangat menentukan  kedalam kekuatan pikiran yang membetuk watak manusia. Jadi ketiga unsur tersebut yang mengetuk dinding jiwa sebagai alat pikiran kedalam unsur jiwa yang disebut „kesadaran, kecerdasan dan akal) sebagai kekuatan yang mendorong, mengapa manusia berpikir.</p>
<p>Dengan demikian, apa-apa yang kita utarakan dalam BAGIAN KEDUA yang mengungkapkan kata K, kedalam makna sebagai benih-benih pikiran kedalam satu kekuatan kerajaan pikiran manusia.</p>
<p>Benih-benih pikiran tersebut yang menuntun sikap dan perilaku manusia yang mampu untuk mereka dapat mengungkit seluruh ingatan agar manusia dapat berusaha memikirkan hal-hal yang terbayangkan mengenai usaha</p>
<p>manusia kedalam pikiran mengenai „Akan ditimpakan kepada mereka kehinaan di mana saja mereka berada kecuali kalau mereka menjaga tali hubungan dengan Allah dan tali hubungan dengan manusia“</p>
<p>Merenung, membaca dan belajar apa-apa yang terungkap dalam makna kata K dalam bagian dua ini diharapkan menjadi satu kekuatan untuk menuntun, apa-apa yang kita pikirkan dalam membangun akhlak / moral sepanjang hidup yang kita jalani.</p>
<p>Pada kata K yang paling banyak terungkap dalam Al Qur’an dengan pendekatan 7M seperti yang kami utara-kan dalam bagian pertama merupakan satu pendekatan untuk dapat meningkatkan daya kemauan yang kuat agar kita mampu berpikir dalam memecahkan masalah hidup ini seperti kta memikirkan satu kekuatan sebagai alat pertimbangan dalam memanfaatkan alat pikir (kesadaran, kecerdasan, akal) kedalam pikiran kita mengenai :1) Akal mengalahkan nafsu ; 2) Iman mempertimbangkan perbuatan ; 3) Yakin mengurangkan marah ; 4) Rasa keadilan hendak memiliki kepunyaan orang lain : 5) Kebenaran menumbangkan kekuasaan</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>27. KEBAIKAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kebaikan adalah sifat yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku manusia yang dituntun oleh sesuatu kekuatan dari keyakinan dan kepercayaan dalam nilai dan norma yang dianutnya.</p>
<p>Cobalah renungkan dari kekuatan nilai dan norma dalam Al Qur’an dan surat agar dapat menjadi penuntun  seperti yang terungkap dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 2 : 44”</strong> Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?</p>
<p><strong>QS. 2 : 128”</strong> Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 195</strong>” Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.</p>
<p><strong>QS. 3 : 115”</strong> Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.</p>
<p><strong>QS. 7 :  58”</strong> Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 10 : 26”</strong> Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 16 : 30</strong>” Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: &#8220;Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;(Allah telah menurunkan) kebaikan&#8221;. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 20 : 112”</strong> Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.</p>
<p><strong>QS. 23 : 96”</strong> Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 41 : 34</strong>” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-35“</strong> Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-36“</strong> Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 98 : 7“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -8“</strong> Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi wujud kebaikan bagi setiap manusia haruslah menjadi pedoman dalam hidup untuk berbuat sesuatu yang di ridhoi oleh Allah Swt. Lebih lanjut dapat pula kita ketemukan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p>QS. 2 : 112,148,158,184,195,197,200,201,269,286</p>
<p>QS.4 : 160 ;  QS. 7 : 8,9,56,58,155,156, 157,204</p>
<p>QS. 8 : 17,23,70 QS. 9 : 37, 41, 50,52,53,74,88, 91,107 ; QS. 10 : 22,107 ; QS. 11 : 3,114,117</p>
<p>QS. 12 : 11,83 ; QS. 13 : 6, 18,22</p>
<p>QS. 16 : 32,62,122 ; QS. 17 : 7 ;QS. 42 : 23,40</p>
<p>QS. 46 : 15 (silahkan dibuka). Oleh karena itu, bentuklah kekuatan kebiasaan pikiran kita kedalam pendekatan 7 M, sebagai suatu pendekatan untuk mendorong daya kemauan yang kuat dalam mengamalkan sifat kebaikan dalam hidup ini.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari pemahaman atas kekuatan 7 M, apa yang terungkap dalam surat dan ayat yang terus kita pikirkan dan merenungkan kemali bahwa setiap manusia akan „<strong>Diuji dengan kebaikan dan keburukan“ seperti yang tertuang dalam</strong> <strong>QS. 39 : 10“</strong> Katakanlah: &#8220;Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu&#8221;. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.“</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan kekuatan pikiran diatas, maka dorongan menyelami bahwa „ <strong>Allah maha melimpahkan kebaikan“ </strong>seperti yang termuat dalam <strong>QS. 52 : 28“</strong> Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Oleh karena itu, „<strong>Berlomba dengan kebaikan“</strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 148“</strong> Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“</p>
<p>Menjadi satu kebutuhan bagi manusia yang sadar dalam apa yang disebut „<strong>Kebaikan duniawi bagi yang berbuat ihsan“</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, renungkan makna bahwa „<strong>Baik dan buruk kehendak Tuhan“ </strong>seperti yang terungkap dalam surat dan ayat sbb.:</p>
<p><strong>QS.64 : 11“</strong> Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p>Dengan mengungkapkan hal-hal yang kita sebut-kan diatas, mampu menuntun kekuatan brpikir agar menemukan apa yang disebut dengan „ <strong>Kesadaran manusia untuk memilih yang baik dan buruk“ </strong>sangat bergantung pada kemampuan manusia memanfaatkan kebiasaan berpikir dalam usaha mencari kebenaran.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Oleh karena itu renungkan apa-apa yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini, sebagai satu kekuatan untuk mendorong perubahan sikap dan perilaku dalam mengamalkan makna <strong>„ baik dan memperbaiki diri :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 90 : 10</strong>” Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.</p>
<p><strong>QS. 91 : 8”</strong> maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 8 : 1</strong>” Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: &#8220;Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman&#8221;</p>
<p><strong>QS. 10 : 4”</strong> Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 19 : 60”</strong> kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.</p>
<p><strong>QS.47 : 5”</strong> Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.17 : 80”</strong> Dan katakanlah: &#8220;Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 39“</strong> Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 56“</strong> Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik<strong>.,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-85“</strong> Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: &#8220;Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman&#8221;.</p>
<p>-<strong>142“</strong> Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: &#8220;Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.&#8221;</p>
<p>Dengan mengungkapkan kekuatan benih-benih pikiran yang kita sebut dengan „KEBAIKAN“ yang dapat kita baca dan direnungkan yang termuat dalam AL Qur’an seperti yang telah kita ungkapkan sebagai kekuatan dapat memberikan kebiasaan untuk mengungkit daya ingat menjadi satu kekuatan menjadi daya kemauan untuk berubah dalam menjalani hidup ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>28. KESUKSESAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam perjalanan hidup ini, kita tidak lepas dari berpikir, bekerja dan belajar sebagai mahluk yang selalu berusaha menemukan tentang diri untuk mencari jawaban yang terkait seperti dengan pertanyaan „Apa, Mangapa, Bagaimana, Bilamana“ maka masalah kesuksesan dalam arti keberhasilan ditentukan oleh kehendak Allah Swt.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas untuk menggerakkan kekuatan pikiran kdalam kesuksesan, cobalah renungkan ungkapan yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini sebagai usaha untuk memahami apa yang terpikirkan :</p>
<p><strong>QS. 2 : 100</strong>” Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 22 : 77</strong>” Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.</p>
<p><strong>QS. 62 : 10”</strong> Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 92 : 1” </strong>Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-7”</strong> maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.</p>
<p><strong>QS. 94 : 1”</strong> Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-6”</strong>sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari ungkapan surat dan ayat diatas, sejenak bila kita renungkan, maka wujud dari kesuksesan itu terletak dari kehendak sang pencipta yang selalu melihat apa yang kita lakukan, oleh karena itu segala langkah haruslah dalam pikiran, apa yang disebut dengan „IKHTIAR“, merupakan salah satu ibadah yang harus kita lakukan secara berkesinambungan dalam hidup ini agar kita tidak berada dalam keragu-raguan dalam berpikir, bekerja dan belajar untuk hidup di dunia dan akhirat.</p>
<p>Jadi „ikhtiar“ apapun yang kita lakukan harus dilandasai dengan ke “KEIMANAN” sebagai toggak keyakinan kita atas keberadaan Allah Swt. dan oleh karena itu pula aku menyerahkan diri dengan sebulat hati artinya segala perintah dan hukum-Nya aku taati ; suruh-Nya aku kerjakan, larang-Nya aku hentikan dengan segenap kerelaan dalam menjalankan hidup ini.</p>
<p>Dengan demikian, bahwa „IKHTIAR“ disatu sisi harus memiliki keyakinan dan disisi lain mengandung pasrah artinya menyerah dengan kerelaan hati kepada Allah Swt ang menentukan hasil ikhtiar yang kita lakukan dalam hidup ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>29. KASIH (rasa)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Apa yang terbayangkan bila kata „KASIH“ terungkit dalam pikiran kita, tidak lain adalah perasaan sayang, maka disitu terletak kekuatan cinta yang menuntun kita agar dalam sikap dan perilaku yang digerakkan oleh jiwa yang bersih.</p>
<p>Oleh karena itu, renungkan ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini sebagai kekuatan untuk mengungkit kekuatan ingatan:</p>
<p><strong>QS. 30 : 21“</strong> Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berlandaskan dari ungkapan surat dan ayat diatas, serta sejenak kita renungkan baik-baik ungkapan itu, maka terdapat daya dorong untuk kita selalu menumbuh kembangkan dalam pikiran atas makna “KASIH” sebagai penggerak jiwa dalam kekuatan berpikir yang positif.</p>
<p>Dengan kekuatan berpikir postif, maka terdapat kekuatan „<strong>Rasa kasih-sayang bakal ditanamkan pada orang-orang beriman dan beramal shaleh“ </strong>seperti apa yang terungkap dalam surat dan ayat ini dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 19 : 96“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi ingatlah dan renungkan kedalam pikiran agar benih „kasih sayang“ sebagai satu kekuatan yang harus ditumbuh kembangkan kedalam jiwa yang  bersih sebagai penggerak hati yang bersih.</p>
<p>Oleh karena itu ingat apa yang tertuang dalam surat dan ayat seperti yang tertuang dalam <strong>QS.4 : 73</strong> „Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.</p>
<p>Ingat pula dan renungkan surat dan ayat yang lain dalam QS. 6 : 12, 54 ; 18 : 81 ; 19 : 96 ; 20 : 39 ; 29 : 25 ; 30 : 21 ; 42 : 23 ; 48 : 29 ; 57 : 27 ; 58 : 22 ; 60 : 7 : 90 : 17. (silah dibuka untuk didalami dengan 7M)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>30. KEBAJIKAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „Kebajikan“ mengandung arti kebaikan, sejalan dengan makna tersebut, maka kebiasaan pikiran harus dapat ditumbuh kembangkan agar sikap dan perilaku tertuntun oleh perbuatan baik. Oleh karena itu, cobalah renungkan surat2 dan ayat2 yang terungkap dibawah ini sebagai satu kekuatan benih jiwa untuk diamalkan dalam hidup :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 215“</strong> Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: &#8220;Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.&#8221; Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha<strong> </strong>Mengetahuinya<strong>., 224, 269, 286 ;&#8230;.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 115“</strong> Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa<strong>., 134“ &#8230;.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 40“</strong> Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.<strong>, 53, 125, 127, 144 ;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> QS. 5 : 2</strong>“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaumkarena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya<strong>., 48, 85, 93 &#8230;.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 17“</strong> Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu<strong>., 154, 158 &#8230;.. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 10 : 11“</strong> Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 31</strong>“ Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): &#8220;Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: &#8220;Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat&#8221;, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: &#8220;Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka&#8221;. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 16 : 76“ </strong>Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?,<strong> 90, 128 &#8230;.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 11“</strong> Dan manusia mendo`a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo`a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.</p>
<p><strong>QS. 21 : 73“</strong> Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,</p>
<p><strong>QS. 22 : 11</strong>” Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.,<strong> 77 ….</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setelah kita memahami dengan pendekatan 7 M, maka ada satu kekuatan yang menumbuhkan kebiasaan pikiran yang positif dari pemahaman kita atas surat dan ayat yang diungkapkan diatas, dengan begitu “Kebajikan” merupakan tuntunan yang harus disuburkan dalam jiwa yang bersih.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari daya dorong untuk terus tumbuh dan usaha meningkatkan daya kemauan yang kuat kedalam kekuatan kebiasaan pikiran yang positif, maka kita harus mengungkit kekuatan daya ingat kedalam kebiasaan pikiran yang dituntun oleh suatu keyakinan seperti yang terungkap “<strong>Allah mengetahui kebajikan yang dikerjakan manusia” daalam  QS. 2 : 215</strong> Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: &#8220;Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.&#8221; Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.</p>
<p>Dan renungkan lebih lanjut “<strong>Balasan Allah terhadap orang yang berbuat bajikan “ seperti yang terungkap dalam surat dan ayat QS. 76 : 5</strong>” Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur<strong>. – 22”</strong> Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>31. KERAMAH TAMAHAN DAN KEBAJIKAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Keramahtamahan yang menggambarkan sesuatu yang terkait dengan hal-hal yang ramah artinya kebaikan hati dan keakraban dalam pergaulan disatu sisi dan disisi lain menunjukkan gambaran karekter yang disebut kebajikan.</p>
<p>Dengan pikiran diatas, maka untuk mengungkit kekuatan daya ingatan dalam kebiasaan pikiran, diperlukan suatu kekuatan untuk merenung apa –apa yang terungkap dalam surat dan ayat sebagai berikut :</p>
<p><strong>QS. 2 : 63“</strong> Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): &#8220;Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 134</strong>“ (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mengungkapkan pokok pikiran yang kita ungkapkan diatas yang terkait dengan kata „Keramahtamahan dan Kebajikan“ akan menunjukkan kekuatan karekter sebagai benih kekuatan jiw</p>
<p>Oleh karena itu, agar kekuatan itu menjadi sesuatu yang dapat menjadi tuntunan dalam bersikap dan berperilaku dibutuhkan secara berkelanjutan untuk membangun kebiasaan yang mampu mengungkit daya ingat agar kita selalu siap menghadapi tantangan yang mempengaruhi dalam proses berpikir untuk tidak terbawa suatu keinginan yang mampu mendorong kedalam pikiran yang bersifat negatif.</p>
<p>Untuk itu ingatkan dalam pikiran kita untuk terus berpikir, bekerja dan belajar, sehingga  ungkapan dalam surat dan ayat diatas menjadi sesuatu kekuatan kebiasaan pikiran dalam membentuk karekter yang terpuji.</p>
<p><strong>32. KESEMPURNAAN DAN KEBAJIKAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kesempurnaan berarti mengungkapkan suatu gambaran perihal yang bersifat sempurna dalam bersikap dan berperilaku. Gambaran tersebut akan mendukung wujud dari pada kebajikan yang ditunjukkan oleh peran yang dimainkan manusia dalam hidup ini.</p>
<p>Oleh karena itu, cobalah renungkan dalam pikiran yang disadari maupun yang tidak atas ungkapan dalam surat2 dan ayat2 dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 83”</strong> Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.  2 : 177</strong>” Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.</p>
<p><strong>-261</strong>” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-263”</strong> Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.</p>
<p><strong>QS. 3 : 15”</strong> Katakanlah: &#8220;Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?&#8221; Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.</p>
<p><strong>QS. 3 : 17</strong>” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahu</p>
<p><strong>QS. 4 : 36”</strong> Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baikla kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.  4: 114”</strong> Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 32”</strong> Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.</p>
<p><strong>QS. 33 : 58</strong>” Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu&#8217;min dan mu&#8217;minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.</p>
<p><strong>QS. 49 : 11”</strong> Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>- 12”</strong> Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 70 : 24”</strong> dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -25”</strong> bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),</p>
<p><strong>QS. 74 : 44</strong>” dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin</p>
<p><strong>QS. 90 : 12”</strong> Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -17”</strong> Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.</p>
<p><strong>QS. 92 : 17”</strong> Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> &#8211; 21”</strong> Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.</p>
<p><strong>QS. 107 : 1”</strong> Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -3”</strong>dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.</p>
<p><strong>QS. 108 : 3”</strong> Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.</p>
<p><strong>QS. 112 : 1</strong>” Katakanlah: &#8220;Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -2”</strong>Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.</p>
<p>Dengan merenung dan memahami apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 diatas, maka kekuatan pikiran haruslah mampu menuntun apa yang dipikirkan dengan hal-hal yang terkait dengan :</p>
<ul>
<li>Bani Israil mengingkari janjinya dengan Allah.</li>
<li>Pokok-pokok kebajikan</li>
<li>Nafkahkan harta di jalan Allah</li>
<li>Ancaman Allah kepada orang2 kafir dan pengaruh harta benda duniawi</li>
<li>Kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia.<strong> </strong></li>
<li>Keharusan adil dan tidak memihak dalam menetapkan sesuatu hukum</li>
<li>Kisah pembunuhan pertama dan besarnya malapetaka  akibat pembunuhan.</li>
<li>Adab dan sopan santun dalam rumah tangga Nabi S.A.W.</li>
<li>Larangan memperolak-olokkan , banyak prasangka dan lain-lain<strong> </strong></li>
<li>Ajaran islam untuk mengatasi sifat-sifat yang jelak pada manusia</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi dengan mengingat dan merenungkan apa-apa yang terungkap diatas, maka kebiasaan pikiran yang kuat akan menuntun kedalam benih jiwa yang disebut dengan “kesempurnaan dan kebajikan” sesuatu yang mutlak untuk ditanamkan dalam diri manusia.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mengungkit “Kesempurnaan dan Kebajikan” dalam kebiasaan pikiran akan menuntun sikap dan perlaku dalam menjalani hidup ini.</p>
<p>Kebiasaan itu akan tumbuh sejalan dengan kemampuan kita mampu mendalami hal-hal yang terungkap dalam surat dan ayat tersebut diatas.</p>
<p>Dengan demikian mengungkit ingatan dalam daya kemauan yang kuat akan dapat memotivasi diri dengan landasan pemahaman atas apa-apa yang telah terungkap diatas menjadi daya dorong yang kuat agar dapat menjadi benih-benih jiwa yang mendorong dalam proes pikiran-pikiran yang positif.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>33. KEHORMATAN / KESUCIAN DIRI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „Kehormatan“ mengandung arti kemulian yang dikaitkan harga diri manusia atau dengan kata lain juga disebut dengan „Kesucian diri“.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, cobalah renungkan surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 4 : 25“</strong> Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong>QS. 5 : 5“</strong> Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.</p>
<p><strong>QS. 23 : 1</strong>“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman<strong>,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 23 : 5“</strong> dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,</p>
<p><strong>QS. 24 : 30“</strong> Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 70 : 35</strong>“ Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.</p>
<p>Dengan mengingat apa-apa yang diungkap dalam surat dan ayat diatas, maka kekuatan pikiran untuk mengingat manusia atas sikap dan perilaku yang harus dilakukannya dengan begitu manusia akan selalu ingat dengan satu kekuatan kesadaran yang lebih tinggi dari ksadran inderawi dalam menjalankan hidup ini.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan meningkatkan kemampuan berpikir dengan niat mencari kebenaran, maka disitu terletak kekuatan dalam penggerak jiwa, apa yang disebut dengan „ Kehormatan / Kesucian diri“</p>
<p>Kemampuan meningkatkan hal tersebt diatas, sangat perlu untuk mengingat-ingat apa-apa yang tertuang dalam surat dan ayat diatas. Oleh karena itu, kuatkan pikiran kita dalam memupuk wujud dari kehormatan / kesucian diri.</p>
<p>Dengan begitu akan selalu tumbuh kebiasaan bahwa kehormatan diri itu tidak dapat dibeli atau dinilai dengan benda kecuali penilaian itu berdasarkan kejujuran dan kemuliaan hati. Kita juga akan mulia apabila bersedia menghormati orang lain.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>34. KELAKUAN BAIK</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kelakuan baik membrikan gambaran tentang diri manusia yang memiliki „Jatidiri“ artinya satu kekuatan yang mempengaruhi manusia dalam dirinya sehingga akan menunjukkan wujud diri berupa 1) seseorang harus bisa menerima diri apa adanya ; 2) orang harus yakin bahwa dirinya bernilai dan merupakan bagian penting dalam komunitas yang ada ; 3) anugerah Allah Swt berupa cinta sejati yang dimilikinya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas untuk menguatkan makna „kelakuan baik“ itu, cobalah renungkan ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 2 : 104“</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): &#8220;Raa`ina&#8221;, tetapi katakanlah: &#8220;Unzhurna&#8221;, dan &#8220;dengarlah&#8221;. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.</p>
<p><strong>QS. 4 : 86“</strong> Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.</p>
<p><strong>QS. 17 : 53“</strong> Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: &#8221; Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 27“</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-28“</strong> Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: &#8220;Kembali (saja) lah&#8221;, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 58“</strong> Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya&#8217;. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -59“</strong> Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 62</strong>“ Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mu&#8217;min ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Jadi dengan berulang kali kita membaca, apa yang diungkapkan dalam surat dan ayat diatas, akan memberi satu dorongan dalam usaha menemukan jati diri kita kedalam sifat manusia yang disebut „kelakuan baik“</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kelakuan baik hanya dapat ditunjukkan oleh manusia, setelah orang yang bersangkutan memeliki kepercayaan diri sebagai satu kekuatan apa yang disebut dengan keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang dipikirkan.</p>
<p>Dengan pikiran itu, manusia menyadari sepenuhnya bahwa dengan „kelakuan baik“, maka akan merasakan sikap dan perilakunya selalu akan dilihat oleh keberadaan Allah Swt.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi apa yang kita ungkapkan diatas merupakan daya kemauan yang kuat untuk membangun suatu kebiasaan yang dapat memberikan pengaruh pikiran terhadap kepercayaan diri.</p>
<p><strong>35. KASIH SAYANG</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kasih sayang mengandung arti belas kasihan yang mencirminkan sikap dan perilaku yang terpuji dalam hubungan dengan manusia dan atau Allah Swt.</p>
<p>Oleh karena itu, jadikanah satu kekuatan dengan usaha menanamkan „kasih sayang“ dalam diri kita berarti juga membuka mata hati untuk berbuat baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka untuk mendorong satu kekuatan pikiran menjadi kebiasaan dalam hidup, bacalah dan renungkan dalam pikiran kita yang diajarkan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 4 : 73“</strong> Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: &#8220;Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 12</strong>“ Katakanlah: &#8220;Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?&#8221; Katakanlah: &#8220;Kepunyaan Allah&#8221;. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.,</p>
<p><strong>- 54“</strong> Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: &#8220;Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong>QS. 18 : 81</strong>“ Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).</p>
<p><strong>QS. 19 : 96“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 20 : 39</strong>“ Yaitu: &#8216;Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya&#8217;. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 29 : 25“</strong> Dan berkata Ibrahim: &#8220;Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela`nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 30 : 21“</strong> Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 42 : 23</strong>“ Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: &#8220;Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan&#8221;. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 48 : 29“</strong> Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu&#8217;min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 57 : 27“</strong> Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 58 : 22</strong>“ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 60 : 7“</strong> Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong>QS. 90 : 17“</strong> Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.</p>
<p>Apa yang dapat kita petik dari ungkapan surat dan ayat diatas, adalah satu kekuatan yang mampu mendorong kedalam pemikiran dan pengaruhnya terhadap mentalitas kita dari satu sisi dan disisi lain memberikan pengaruh pikiran terhadap perasaan.</p>
<p>Dengan membangun kekuatan kebiasaan yang kita tumbuhkan dalam perjalanan hidup, maka ia akan memberikan satu kekuatan pengaruh pikiran terhadap jatidiri kita.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menanamkan perasaan „kasih sayang“ yang mampu menggugah jalan pikiran yang membentuk jatidiri, maka kita akan selalu mampu mengungkit daya ingat kedalam pikiran bahwa keimanan membawa manusia bersih hatinya, jinak jiwanya, berbicara lembah lembut, hidup sabar, pemaaf dan baik sangka.</p>
<p>Dengan mengungkapkan pikiran diatas, berarti pula kita mampu memperkuat daya kemauan yang kuat kedalam kebiasaan berpikir untuk mengingatkan bahwa „<strong>Rasa kasih sayang bakal ditanamkan para orang-orang beriman dan beramal shaleh“ </strong>seperti yang terungkap daam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 19 : 96“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 90 : 12“</strong> Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-17“</strong> Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>36. KESEPAKATAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kesepakatan mengandung arti ada pihak-pihak yang membuat janji yang diucapkankannya. Bila kekuatan kesepakatan yang diucapkankan dengan lidah berarti peran manusia dengan membuat janji yang diucapkannya berarti ia sadar sepenuhnya bukan saja dalam hubungan dengan manusia tetapi ia juga tunduk keberadaan Allah Swt dalam hidupnya.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran yang kita ungkapkan diatas, maka untuk membangun kekuatan ingatan, simaklah surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 4 : 114</strong>“ Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kannya“</p>
<p>Sejalan dengan kekuatan yang menggerakkan janji yang diucapkan dengan lidah, dan mewujudkan apa yang dijanjikannya, maka disitu terletak „kesepakatan“ dalam kebiasaan yang didukung oleh landasan niat berarti secara sadar apa yang diucapkannya.</p>
<p>Dengan pikiran diatas, ingatlah ungkapan seperti „hakikat buta bukanlah buta mata, tetapi buta hati“, oleh karena itu ingatlah mana kekuatan „kesepakatan“ yang diucapkan dengan selalu mengungkit daya ingat yang terkait dengan potensi hidup dalam usaha kita mencapai wujud dari ungkapan seperti „ingatlah kita kepada kematian adalah suatu cemeti untuk memperbaiki kelakuan kita dan cinta pada orang miskin“</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Membuat „kesepakatan“ mudah diutarakan dalam janji, tapi sulit untuk mewujudkan, sebaliknya dengan pikiran yangditopang dengan niat, maka disitu terlatak rasa takut dengan Tuhan karena Allah Swt selalu melihat kita.</p>
<p>Oleh karena itu, ingatlah bahwa „<strong>Lisan melalui lidah adalah nikmat dalam pengawasan“</strong> artinya ungkitkan kebiasaan pikiran kita menjadi daya kemauan yang kuat sebagai pandandangan disatu sisi sbb. :</p>
<p><strong>QS. 50 : 18“</strong> Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.</p>
<p>Dan disisi lain ubahlah kebiasaan pikiran kedalam daya kemauan yang kuat untuk „<strong>Menjauhi banyak berdalih dan banyak bicara“</strong>, untuk menemukan jati diri, oleh karena itu ungkitkan daya ingat kita kedalam surat dan ayat dibawah ini : <strong>QS. 4 : 114</strong>“ Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari pemahaman kita dari surat dan ayat diatas, cobalah untuk meletakkan landasan yang kuat kedalam kebiasaan pikiran bahwa pengaruh pikiran terhadap hasil pencapaian dalam usaha merubah kebiasaan yang buruk.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>37. KEADILAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Keadilan menggambarkan sifat yang adil. Begitu mudah diucapkan kata “Keadilan”, tapi kehidupan kita shari-hari tidaklah berarti buah pemikiran itu menjadi kenyataan.</p>
<p>Sedangkan manusia memeliki kesadaran, tapi sayang kesadaran itu tumbuh dan berkembang dalam pikiran inderawi, jadi makna keadilan baginya hanyalah sebatas di lidahnya saja.</p>
<p>Oleh karena itu, untuk menumbuh kembangkan kedalam daya kemauan yang kuat merupakan kebutuhan untuk setiap pemain peran dalam masyarakat bahwa kata “Keadilan” menjadi sarana untuk mengingatkan bahwa pemikiran tersebut dapat menuntun manusia kedalam pengaruh mentalitas.</p>
<p>Untuk itu, renungkanlah ungkapan surat2 dan ayat2 dibawah ini menjadi penuntun dalam bersikap dan berperilaku sebagai berikut :</p>
<p><strong>QS. 6 : 152</strong>“ Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,</p>
<p><strong>QS. 7 : 29“</strong> Katakanlah: &#8220;Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan&#8221;. Dan (katakanlah): &#8220;Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)&#8221;.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 49 : 9“</strong> Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu&#8217;min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan</p>
<p>berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 60 : 8“</strong> Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu&#8217;min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yang menjadi pertanyaan kita mengapa ungkapan surat dan ayat diatas tidak menjadi daya dorong manusia untuk mengamalkan dalam menjalankan perannya dalam hidup ini, karena ia tidak merasakan pengaruh pikiran terhadap perasaannya.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bermula dari tidak adanya kemauan yang kuat untuk mendorong kebiasaan pikiran yang mampu menjadi penuntun hidup, maka manusia sangat sulit mendapat inspirasi dalam pikiran seperti memahami makna „kesenangan hati dan ketenteraman jiwa lebih berharga dari kesenangan pangkat dan kekayaan“</p>
<p>Sejalan dengan pikiran itu, cobalah renungkan ungkapan dalam surat dan ayat mengenai apa yang disebut dengan<strong> „Perintah bertindak adil“ </strong>yang dimuat dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 135“</strong> Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari</p>
<p>kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 8“</strong> Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 152</strong>“ Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,</p>
<p><strong>QS. 7 : 29“</strong> Katakanlah: &#8220;Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan&#8221;. Dan (katakanlah): &#8220;Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 16 :90“</strong> Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.</p>
<p>Belajar dari surat dan ayat diatas mengenai „perintah bertindak adil, disatu sisi dan disisi lain ingat pula bahwa <strong>„Pelaku keadilan dicintai Allah“ </strong>seperti yang termuat</p>
<p>dalam surat dan ayat : <strong>QS. 60 : 8“</strong> Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil“.</p>
<p>Jadi ingatlah ungkapan bahwa“kelebihan burung adlah sayap. Kelebihan gajah adalah kekuatan dan kelebihan manusia adalah akal.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>38. KESIAPSIAGAAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „kesiapsiagaan“ mengandung arti dalam kehidupan kita sadari sepenuhnya, hidup kita hari ini adalah bentuk dari pikiran kita sendiri. Oleh karena itu masa yang kita miliki adalah hari ini, jadi kuatkan pengaruh pikiran terhadap tindakan dalam sikap dan perilaku, maka disitu terletak peluang untuk memikirkan kesiapan hidup ini untuk dunia dan akhirat.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas baca dan renungkan makna yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 3 : 200“</strong> Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.</p>
<p>Jadi dengan petunjuk ungkapan diatas, berarti kita harus mampu mengungkit daya ingat agar terbentuk satu usaha membangun kebiasaan pikiran yang mampu menjadi kekuatan untuk mempengaruhi pikiran dalam tindakan.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Wujud sikap dan perilaku kedalam „Kesiapsiagaan“ ada-lah satu kekuatan kebiasaan dalam pikiran dalam usaha</p>
<p>menemukan jatidiri agar kita dapat melepaskan diri dari rasa cemas menghadapi tantangan hidup di dunia dalam kesiapsiapan menunju perjalanan hidup abadi.</p>
<p>Bertolak dari pikiran diatas, maka ingatlah satu ungkapan seperti „kesehatan itu adalah sebagai mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat, akan tetapi tiadalah yang dapat melihat mahkota itu selainorang-orang yang sakit. Tubuh yang sehat menyenangkan hati, hati yang senang mnyehatkan tubuh, pikiran yang terang terletak pada tubuh yang sehat.</p>
<p>Dengan demikian bangkitkan daya kemauan yang kuat untuk membentuk kebiasaan dalam pikiran untuk kuat menumbuh kembangkan dalam pikiran agar kita selalu mengungkit daya ingat mengenai „kesiapsiapan“ dalam mengikuti peta perjalanan hidup yang sejalan dengan kemampuan memahami dunia karena jangan tertipu pada yang tampak.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>39. KETENANGAN HATI DAN KEBENARAN NIAT</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata hati dan niat merupakan dua kata yang memiliki nilai yang saling bergantung satu sama lain seperti halnya kita mengungkapkan bahwa „hati jantung manusia itu manakala habis dan kering kasih sayang, dia merupakan kaca pecah yang tidak mungkin dipertautkan kembali“ artinya kekuatan dalam ketenangan hati dan kebenaran niat menjadi pondasi dalam mewujudkan keinginan yang ditopang kemampuan dari penguasaan ilmu sebagai informasi dan pengetahuan sebagai keterampilan yang mampu mendorong dalam proses berpikir.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, ingatlah bahwa kekuatan terbesar yang menggerakkan roda kehidupan dan memotivasi manusia berasal dari dorongan yang sumbernya berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, oleh karena itu renungkan surat dan aya dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 33 : 70</strong>” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar“,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-71”</strong>niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar“.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan membangun „Ketenangan hati“ dari satu sisi dan disisi lain kita myadari sepenuhnya diperlukan pula untuk menempatkan dengan „Kebenaran niat“ sebagai dua kekuatan untuk mengingatkan manusia ke jalan yang benar.</p>
<p>Jadi manusia ke jalan yang benar berarti menyadari untuk memanfaatkan OTAK dari pandangan bathin yang mampu mengelola (O)rang, (T)awakal, (A)manah, (K)erja dalam satu kekuatan pikiran menjadi satu daya kemauan yang kuat dalam menjadi orang yang memiliki tujuan sebagai orang yang berlomba dalam kebaikan.</p>
<p><strong>40. KEPENTINGAN (mendahulukan)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pertama apa yang terpikirkan dalam mewujudkan makna “Kepentingan” dalam perjalanan hidup ini. Dalam hal ini maka terpikirkan hal-hal yang terkait dengan 1) Memahami makna rezeki merupakan persoalan yang sangat penting dan mendasar karena rezeki sangat erat kaitannya dengan kekayaan dan harta benda ; 2) Memahami masalah kesehatan dan umur.</p>
<p>Dengan memperhatikan pikiran diatas, maka untuk dapat mengamalkan makna “Kepentingan” kedalam jalan yang benar, maka cobalah baca dan renungkan kembali ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 219”</strong> Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya&#8221;. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: &#8220;Yang lebih dari keperluan.&#8221; Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 237</strong>“ Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu mema`afkan atau dima`afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema`afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 16 : 126</strong>“ Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 54“</strong> Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kita dapat membayangkan bahwa „kejahatan dan dosa itu mengotorkan jiwa dan manghalangi masuknya keimanan dalam hati karena jiwa itu telah kotor dan berkarat“, oleh karena itu tempatkanlah „kepentingan“ dalam mewujudkan apa yang kita inginkan dengan niat yang benar artinya kita mendahulukan sesuai dengan perintah yang diajarkan.</p>
<p>Jadi dengan membaca dan merenungkan kmbali surat dan yang yang diungkapkan diatas diharapkan menjadi pengetuk jiwa dalam perjalanan hidup ini, dalam kita menyelesaikan rezeki, sakit dan umur semuanya berada di tangan Allah Swt.</p>
<p>Dengan menyadari apa yang kita ungkapkan dalam kata „Kepentingan“ (mendahulukan) untuk mengingatkan kedalam kbiasaan pikran kita bahwa „kebahagian yang sejati tak pernah kelihatan oleh sesuatu mata, kebahagian yang sejati itu berdiam pada barang yang tak tampak.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>41. KEJUJURAN </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „kejujuran“ berarti ketulusan dan kelurusan yang menjadikan benih hati yang suci, oleh karena itu hakekat dari kejujuran adalah menyatakan keimanan yang terkait dengan sikap dan perilaku yang digerakkan dengan keikhlasan.</p>
<p>Jadi dari pikiran itu menggambarkan watak orang keislaman menjadi dua, apa yang disebut dengan mukmin dan atau orang munafik.</p>
<p>Untuk mengingatkan  kita dalam perjalanan hidup ini, agar kita dalam bersikap dan berperilaku digerakkan oleh kekuatan kebiasaan pikiran yang psositif, maka makna „Kejujuran“ haruslah ditanam dalam diri kita, menjadi daya kemauan yang kuat yang didukung oleh kakeuatan kemampuan kita menyimak surat2 dan ayat2 sebagai pengungkit ingatan kita yaitu :</p>
<p><strong>QS. 2 : 177“</strong> Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan</p>
<p>(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 75“</strong> Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: &#8220;Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -76“</strong> (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.</p>
<p><strong>QS. 6 : 152</strong>“ Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,</p>
<p><strong>QS. 7 : 85</strong>“ Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: &#8220;Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya.</p>
<p>Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 8 : 27“</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.</p>
<p><strong>QS. 11 : 85“</strong> Dan Syu`aib berkata: &#8220;Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.</p>
<p><strong>QS. 17 : 34“</strong> Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfa`at) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -35</strong>“ Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.</p>
<p><strong>QS. 26 : 181</strong>“ Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -183“</strong> Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;</p>
<p><strong>QS. 30 : 38</strong>“ Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.</p>
<p><strong>QS. 55 : 7“</strong> Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).</p>
<p><strong> -9“</strong> Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 83 : 1“</strong> Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang<strong>,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -3“</strong> dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi bila kita baca dan kita renungkan apa yang diperintahkan seperti yang terungkap dalam suart dan ayat diatas, apakah tidak tergerakkan oleh pikiran untuk mengungkapkan kemampuan berpikir dalam mencari kebenaran, maka disitu terletak keimanan yang diikuti oleh kejujuran.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mengungkapkan kata „Kejujuran“ dalam usaha membentuk sikap dan perilaku, maka mereka berkata „Katakanlah kepada orang yang tidak mau bersikap jujur, janganlah engkau mengikutiku“</p>
<p>Pikiran tersebut juga berarti mengingatkan kita bahwa „Kejujuran adalah pedang Allah di atas bumi ini, dan pedang itu tidak akan diletakkan di atas sesuatu kecuali ia akan memotongnya“</p>
<p>Jadi dengan „Kejujuranlah“ kita mampu mengungkankan suatu „Kebenaran“ artinya jangan takut untuk mencapai kebenaran, karena tidak ada badai ang berumur seribu tahun. Kebenaran adalah peluang yang paling tajam. Kebenaran tidak dapat digoyang oleh gempa dan tidak dapat dilamun oleh banjir.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran itu ingatlah perintah yang tertuang dalam surat dan ayat</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 82 : 13“ </strong>Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh keni&#8217;matan,</p>
<p>-<strong>14</strong>“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>42. KEBERSIHAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „Kebersihan“ disini mengandung arti kesucian, kemurnian. Dalam hal ini dikaitkan dengan keadaan yang menurut kepercayaan, keyakinan, akal, atau pengetahuan manusia dianggap tidak mngandung noda atau kotoran.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, kita dapat membayangkan bahwa seperti halnya dalam keyakinan adalah sesuatu yang misterius yang mengubah orang biasa menjadi orang terkemuka karena disitu terletak apa yang disebut dengan kebersihan jiwa</p>
<p>Oleh karena itu bangkitkan kekuatan memikirkan kemungkinan dalam mendayagunakan kemauan yang kuat untuk memikirkan masalah kebersihan jiwa. Sejalan dengan pikiran itu cobalah baca dan renungkan apa-apa yang trungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 22 : 29“</strong> Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 48 : 27“</strong> Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa</p>
<p>yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 74 : 1“</strong> Hai orang yang berkemul (berselimut), -<strong>2“</strong> bangunlah, lalu berilah peringatan<strong>! -3“</strong> dan Tuhanmu agungkanlah, <strong>-4“</strong> dan pakaianmu bersihkanlah,</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari kekuatan pemikiran yang kita ungkapkan diatas, serta mendalami apa yang diungkapkan dalam surat dan ayat yang mampu memberiakan kekuatan dalam kebiasaan pikiran untuk mewujudkan makna „Kebersihan“ dalam pandangan bathin kita, maka jangan pernah lupa selalu ada cahaya di belakang semua bayang &#8211; bayang dalam kemungkinan pikiran.</p>
<p>Sering kita katakan bahwa „hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri“, oleh karena itu bayangkan dalam kebiasaan kita berpikir untuk terus membangun kebiasaan dalam „kebersihan jiwa“ maka disitu terletak kekuatan kasih yang mampu menyucikan keberhasilan menemukan diri kita sendiri, dengan begitu kita akan dekat dengan Allah Swt.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>43. KHUSU’</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „Khusu’ dalam kebiasaan pikiran untuk bisa kita mengungkapkan tujuan yang berlandaskan niat yang kuat maka biasa kita mengungkapkan bahwa „percaya terhadap kekuatan Tuhan untuk memberikan impian baru, itu berarti kita secara khusu’ untuk mengungkapkan dalam pikiran kita bahwa tidak menggunakan akal semakin sempit hidupnya.</p>
<p>Oleh karena itu, pikiran kita haruslah mampu menumbuh kembangkan kekuatan Khusu’ dalam berpikir, maka disitu akan terletak apa yang kita mimpikannya, kita dapat melakukan dengan memanfaatkan unsur jiwa sebagai</p>
<p>pegerak berupa kesadaran, kecrdasan dan akal yang menuntun sikap dan perilaku kita.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, baca dan renungkan ungkapan surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 3 : 17“</strong> (yaitu) orang-orang yang sabar, yang Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 106</strong>“ Dan Al Qur&#8217;an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -109“</strong> Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 46“</strong> (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 21 : 90“</strong> Maka Kami memperkenankan do`anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.</p>
<p><strong>QS. 33 : 35“</strong> Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu&#8217;min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan</p>
<p>perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yang menjadi masalah dalam kehidupan ini, mampukah kita membangun daya kemauan yang kuat untuk dapat membangun kebiasaan dalam kekuatan pikiran untuk mewujudkan pikiran „Khusu’“ dalam sikap dan perilaku supaya kita khusu’ mengingat Allah seperti yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 57 : 16“</strong> Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Surat dan ayat tersebut memberikan peringatan khusu’ mengingat Allah untuk menjadikan suatu kebutuhan dalam hidup , oleh karena itu kuatkan niat untuk tumbuh dalam kebiasaan pikiran agar kebiasaan khusu’ agar kita terlepas dari pikiran yang terkait dengan adanya kekuatan jahanam bagi yang tidak menggunakan akal seperti yang termuat dalam</p>
<p><strong>QS. 7 : 179“</strong> Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi)</p>
<p>tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.</p>
<p>Jadi dengan surat dan ayat tersebut, mampu mengungkit daya ingat agar kita selalu mempergunakan unsur jiwa sebagai alat pikir (kesadaran, kecerdasan, akal) menjadi satu kekuatan untuk menumbuhkan kekuatan „khusu’“ dalam berpikir.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>44. KESAKSIAN (syahadat)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari keyakinan, menyerah dengan sebulat hati artinya segala perintah dan hukumnya aku taati ; suruhnya aku kerjakan, laranganNya aku hentikan, dengan segenap kerelaan. Inilah Islam.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka makna„Kesaksian (syahadat) ialah pengakuan dan penyaksian dengan sebenarnya baik secara lahir maupun batin.</p>
<p>Untuk melaksanakan <strong>Rukun</strong> „Syahadat“ didalamnya terdapat 1) Menetapkan dzat Allah Ta’ala (berdiri dengan sendirinya) ; 2) Menetapkan sifat Allah Ta’ala (berkuasa) ; 3) Menetapkan af’al Allah Ta’ala (berbuat dengan sekehendaknya) ; 4) Menetapkan kebenaran Rasulullah saw.</p>
<p><strong>Barapakah Syarat</strong> kesempurnaan syahadat itu yaitu 1) Memahami maksud syahadat ; 2) Diikrar dengan lidah yakni dibaca dari permulaan hingga akhirnya ; 3) Meyakini dalam hati, yakni tidak ragu lagi ; 4) Diamalkan dengan anggota badan yaitu hati dan perbuatan wajib menolak segala sesuatu yang menyalahi arti atau maksud dua kalimat syahadat itu.</p>
<p>Adapun yang dapat <strong> Merusak</strong> syahadat yaitu 1) Menyekutukan (menduakan) Allah ; 2) Ragu akan adanya Allah ; 3) Menyangkal dirinya diciptakan oleh Allah ; 4)</p>
<p>Menyangkal bahwa peredaran alam semesta ini diatur oleh Allah Ta’ala.</p>
<p><strong>Nama Syahadat, </strong>ada 1) Syahadat Tauhid yaitu Asyhadu an laa ilaaha illallah artinya Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah ; 2) Syahadat Rasul yaitu Waasyhadu anna Muhammadan Rasuulallaah artinya saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad ituutusan Allah.</p>
<p>Untuk meningkatkan pengamalan „Kesaksian (Syahadat) maka baca dan renungkan apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 dibawah ini, sebagai suatu kekuatan untuk mendorong daya kemauan yang kuat kedalam kekuatan kebiasaan pikiran dalam perjalanan hidup yaitu</p>
<p><strong>QS. 2 : 181“</strong> Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong>QS. 2 : 282</strong>“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka</p>
<p>dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah mu`amalahmu itu), kecuali jika mu`amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-283“</strong> Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu`amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 135“</strong> Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.</p>
<p><strong>QS. 5 : 8“</strong> Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena</p>
<p>Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 72“</strong> Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.</p>
<p><strong>QS. 70 : 33“</strong> Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 70 : 35“</strong> Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.</p>
<p>Jadi dengan mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas diharapkan menjadi penuntun dalam IBADAH yang sejalan dengan keyakinan kita dalam usaha untuk mengamalkan makna kesaksian (syahadat).</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari apa-apa yang telah kita utarakan pada bagian terdahulu mengingatkan kedalam pikiran kita bahwa <strong>syarat pertama</strong> diterimanya ibadah adalah ikhlas, mencari rdho Allah karena kita telah bersyadahat taudit. Ingatlah ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 98 : 5 </strong>„Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.</p>
<p>Syarat kedua diterimanya ibadah adalah mutaba’ah, mengikuti contoh Rasulullah karena kita telah bersyahadat rasul, untuk itu ngatlah selalu surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 3 : 31“</strong> Katakanlah: &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8221; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong>QS. 33 : 21</strong>“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</p>
<p><strong>45. KEBENARAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mencari „Kebenaran“ manusia berpikir, untuk melihat sesuatu keadaan yang menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Atau dengan kata lain disebut juga dengan kejujuran atau ketulusan hati.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka begitu banyak dalam surat dan ayat yang mengungkapkan makna „Kebenaran“  oleh karena itu baca dan renungkan dalam kemampuan kita mengangkat kekuatan berpikir dari yang tidak tahu menjadi tahu seperti yang terungkap dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 2 : 22“</strong> Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.,<strong> 23, 25, 146, 147, 160, 176, 186,</strong></p>
<p><strong>209, 211, 213</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3: 17</strong>(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.,<strong> 183</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.4 : 9“</strong> Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yangbenar<strong>.,37,49,51,59,83,87,105,122,</strong></p>
<p><strong>135,155,167,171</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 53“</strong> Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: &#8220;Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?&#8221; Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi<strong>., 58, 59, 69, 75, 77, 113, 119</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 30</strong>“ Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: &#8220;Bukankah (kebangkitan) ini benar?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Sungguh benar, demi Tuhan kami&#8221;. Berfirman Allah: &#8220;Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari (nya)&#8221;<strong>.,40,66, 73,79,119,146,151</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 33“</strong> Katakanlah: &#8220;Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui&#8221;.,<strong>70,106, 118,146,169,187</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.  8 : 1</strong>“ Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: &#8220;Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman&#8221;.,<strong>7,32</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 13“</strong> Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman<strong>. ,29,33,43,111</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 10 : 4“</strong> Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka<strong>. ,38,48,53, 55,60,81,84</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 17“</strong> Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al Qur&#8217;an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Qur&#8217;an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Qur&#8217;an. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur&#8217;an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Qur&#8217;an itu. Sesungguhnya (Al Qur&#8217;an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman<strong>. ,32,41,45,72, 91,97</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 12 : 61“</strong> Mereka berkata: &#8220;Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 13 : 1</strong>“ Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur&#8217;an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya<strong>). ,6,14, 17,19</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 14 : 22</strong>“ Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: &#8220;Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu&#8221;. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.</p>
<p><strong>QS. 15 : 55“</strong> Mereka menjawab: &#8220;Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 16 : 102“</strong> Katakanlah: &#8220;Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur&#8217;an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 33“</strong> Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan<strong>.    ,35,53,80,81,84,98</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 18 : 13“</strong> Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;<strong> ,14,21,24,29</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 19 :34“</strong> Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.</p>
<p><strong>QS. 23 : 70“</strong> Atau (apakah patut) mereka berkata: &#8220;Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.&#8221; Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.  <strong>,71,90</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> QS. 25 : 44“</strong> atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).<strong> ,71</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 27 : 14“</strong> Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan<strong>.   ,33,64,79</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 48“ </strong>Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: &#8220;Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?&#8221;. Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata: &#8220;Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu&#8221;. Dan mereka (juga) berkata: &#8220;Sesungguhnya Kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu&#8217;<strong>.  ,53,75</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 29 : 67“</strong> Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 30 : 8“</strong> Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan</p>
<p>bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 32 : 3</strong>“ Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: &#8220;Dia Muhammad mengada-adakannya&#8221;. Sebenarnya Al Qur&#8217;an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.</p>
<p><strong>QS. 33 : 8</strong>“ agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.<strong> ,-</strong></p>
<p><strong>-24</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 34 : 20“</strong> Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.<strong> , 24,43,48,49</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 35 : 24“</strong> Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.<strong> ,31</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 37 : 37“</strong> Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).<strong> , 52,106</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 38 : 84“</strong> Allah berfirman: &#8220;Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan&#8221;.<strong> ,88</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 39 : 33“ </strong>Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa<strong>.,41</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 40 : 5“ </strong>Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku? ,<strong>25</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.41 : 53</strong>“ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur&#8217;an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?</p>
<p><strong>QS. 42 : 17</strong>“  Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?, <strong>18,24</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 43 : 30“</strong> Dan tatkala kebenaran (Al Qur&#8217;an) itu datang kepada mereka, mereka berkata: &#8220;Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya&#8221;.<strong> ,78</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 46 : 3“</strong> Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka<strong>. ,7</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS, 49 : 15“</strong> <strong>S</strong>esungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad</p>
<p>dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar<strong>. ,17</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 50 : 5“</strong> Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 53 : 28“</strong> Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 57 : 16“</strong> Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.<strong> ,18,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 69 : 51“</strong> Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu benar-benar kebenaran yang diyakini.</p>
<p><strong>QS. 75 : 31</strong>“ Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur&#8217;an) dan tidak mau mengerjakan shalat,</p>
<p><strong>QS 77 : 3“</strong> dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 86 : 13”</strong> <strong>s</strong>esungguhnya Al Qur&#8217;an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil<strong>, ,14</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 96 : 11”</strong> bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran<strong>,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.103 : 3”</strong> kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari surat dan ayat yang diungkapkan diatas, tidak seluruh ayat2, walaupun dikemukakan tapi tidak dibentangkan atau dikutip disini karena saya percaya anda dapat membaca dan menemukannya.</p>
<p>Jadi disini yang perlu diingat kepada kita, bahwa apa yang kita ungkapkan diatas untuk mencari petunjuk dalam mengungkap daya kemauan yang kuat dalam mengungkit kebiasaan berpikir dalam proses mencari apa yang disebut dengan “Kebenaran” itu.</p>
<p>Dengan mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 diatas, dapat menjadikan satu kekuatan dalam kemungkinan pikiran untuk membayangkan sesuatu seperti uang dan harta boleh datang dan pergi dari kita asal saja harga diri dan kemanusiaan tidak meninggalkan kita.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dengan memperhatikan hal-hal yang terungkap diatas, maka dalam kebiasaan pikiran harus mampu menuntun kita dalam mewujudkan kebenaran sebagai sesuatu yang sangat kita dambakan dalam hidup ini.</p>
<p>Jadi ingatlah bahwa <strong>Kebenaran akan selalu menang </strong>seperti yang terungkap dalam surat dan ayat sbb.:</p>
<p><strong>QS. 34 : 49”</strong> Katakanlah: &#8220;Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi&#8221;.</p>
<p>Oleh karena itu, bangunkan suatu kekuatn kebiasaan pikiran untuk mewujudkan, apa yang disebut dengan <strong>Keharusan menjaga kebenaran, </strong>seperti yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 105</strong>” Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka ingatlah bahwa suatu „<strong>Kebenaran itu bersumber dari Allah“ </strong>seperti yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.2 : 147“</strong> Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.</p>
<p><strong>QS. 3 : 60“</strong> (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.10 : 94“</strong> Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.</p>
<p><strong>QS. 28 : 75“</strong> Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami berkata &#8220;Tunjukkanlah bukti kebenaranmu&#8221;, maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari pikiran sebelumnya bahwa wujud dari <strong>Kebenaran akan dikikokohkan Allah </strong>seperti yang terungkap dalam :</p>
<p><strong>QS.10 : 82</strong>“ Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai (nya).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan demikian, dalam berpikir perlu pula untuk diingat dalam kebiasaan untuk melepaskan diri <strong>Bila kebenaran tunduk pada hawa nafsu orang kafir </strong>seperti yang terungkap dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 23 : 71“</strong> Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.</p>
<p>Jadi dalam hidup ini jangan sekali-kali berpikir kedalam apa yang disebut untuk <strong>Membelakangi kebenaran, </strong>maka ingatlah seperti yang terungkap dalam<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.3 : 23“</strong> Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).<strong> </strong></p>
<p>Ingatlah selalu dalam hidup ini bahwa jangan ikuti dalam kebiasaan pikiranmu untuk mendorong kedalam apa yang disebut dengan kebiasaan   <strong>Mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan, </strong>maka renungkan apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS.2 : 42</strong>“ Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.</p>
<p><strong>QS.3 : 71“</strong> Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?</p>
<p>Oleh karena itu, dalam berfikir, berbicara dan berbuat hendaklah kita memperhatikan kepentingan orang lain, sehingga janganlah <strong>Mendustakan kebenaran </strong>seperti yang dingatkan dalam<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 50 : 5</strong>“ Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan daya kemauan yang kuat serta ditopang oleh kekuatan niat untuk meluruskan kemampuan dalam berpikir, maka ingatlah bahwa <strong>Bila datang kebenaran yang bathil pun lenyap </strong>seperti yang terungkap dalam :</p>
<p><strong>QS. 17 : 81“</strong> Dan katakanlah: &#8220;Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap&#8221;. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.</p>
<p><strong>QS. 21 : 18”</strong> Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).</p>
<p><strong>QS. 34 : 49”</strong> Katakanlah: &#8220;Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi&#8221;.</p>
<p>Sejalan dengan apa yang kita pikirkan diatas maka <strong>Bukti / jaminan kebenaran AlQur’an </strong>telah mengingatkan kepada manusia untuk berpikir dalam mewujudkan kebenaran sebagai suatu kebutuhan dalam hidup. Jadi kuatkan pikiran untuk meningkatkan kekuatan keyakinan dengan memperhatikan surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS.3 : 61“</strong> Siapa yang membantahmu tentang kisah `Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): &#8220;Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la`nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.</p>
<p><strong>QS.4 : 82“</strong> Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur&#8217;an? Kalau kiranya Al Qur&#8217;an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.</p>
<p><strong>QS. 6 : 91”</strong> Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata: &#8220;Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia&#8221;. Katakanlah: &#8220;Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?&#8221; Katakanlah: &#8220;Allah-lah (yang menurunkannya)&#8221;, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur&#8217;an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 203”</strong> Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur&#8217;an kepada mereka, mereka berkata: &#8220;Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?&#8221; Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur&#8217;an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.</p>
<p><strong>QS.10 : 15</strong>” Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: &#8220;Datangkanlah Al Qur&#8217;an yang lain dari ini atau gantilah dia&#8221;. Katakanlah: &#8220;Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)&#8221;.<strong> -16, 37-39, 94</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 20 : 4“</strong> yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.<strong> -6</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 22 : 54“</strong> dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur&#8217;an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 26 : 196”</strong> Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.<strong> –</strong></p>
<p><strong>197”</strong> Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?</p>
<p><strong>QS. 38 : 88”</strong> Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Qur&#8217;an setelah beberapa waktu lagi.</p>
<p><strong>QS.41 : 53”</strong> Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur&#8217;an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?</p>
<p><strong>QS. 46 : 10</strong>” Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur&#8217;an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur&#8217;an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 69 : 38“</strong> Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat.  -<strong>47“</strong> Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.</p>
<p>Bertolak dari kebiasaan dalam membangun suatu kekuatan pikiran, maka dalam melaksanakan <strong>Perintah menegakkan </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>kebenaran </strong>adalah jalan hidup yang harus kita tempuh yang sejalan dengan ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 5 : 8</strong>“ Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan berpegang teguh untuk menegakkan kebenaran sebagai satu kekuatan kebiasaan pikiran dalam menghadapi <strong>Kebanyakan Kafir membenci kebenaran, </strong>maka kuatkan daya kemauan dalam menuntun sikap yang terpuji, oleh karena baca dan renungkan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diobawah ini :</p>
<p><strong>QS. 23 : 70“</strong> Atau (apakah patut) mereka berkata: &#8220;Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.&#8221; Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 43 : 78</strong>“ Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bangunkan kebiasaan pikiran dalam mengungkit daya ingat agar kita selalu sadar dalam sikap bahwa <strong>Sangkaan tidak mengandung kebenaran </strong>haruslah dapat secara sadar dapat dihilangkan dalam pikiran. Ingatlah apa-apa yang diungkapkan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 53 : 28“</strong> Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.</p>
<p>Sejalan dengan kekuatan keinganan dalam usaha menemukan jatidiri agar kita selalu dekat dengan kebesaran Allah Swt., maka bila  <strong>Yang tidak mampu mendengar kebenaran </strong>berarti yang bersangkutan belum dapat menerima suatu kenyataan bahwa tidak ada arti keimanan kalau tidak ada beramal dan tidak ada pula arti beramal kalau tidak dengan ikhlas.</p>
<p>Oleh karena itu bangkitkan kekuatan ingatan dengan memahami apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 20“</strong> Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipat gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat (nya).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 18 : 29”</strong> Dan katakanlah: &#8220;Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir&#8221;. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah paling jelek.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 103 : 2”</strong> Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,</p>
<p><strong>-3”</strong>kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi tingkatkan daya kemauan yang kuat dengan suatu landasan niat yang kokok untuk mengungkit kekuatan daya ingat dalam usaha-usaha mewujudkan kebenaran seperti apa</p>
<p>yang terungkap diatas dalam usaha mencari jatidiri agar kita selalu dekat dengan Allah Swt.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>46. KELEBIHAN (pahala)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kekuatan pikiran dalam “Pahala” begitu banyak yang terungkap dalam dalam Al Qur’an untuk menjadi penuntun dalam sikap dan perilaku sebagai satu kekuatan untuk mengingatkan betapa penting dalam hidup untuk terus berusaha membangun benih kelebihan (pahala) dalam jiwa.</p>
<p>Untuk itu, baca dan renungkan apa-apa yang tercantum dalam Al Qur’an yang tidak secara utuh kita ungkapkan disini, kita percaya ada daya kemauan yang kuat untuk menemukankanya sendiri dalam usaha untuk mendalami sebagai penggerak dalam berpikir seperti dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 :62”</strong> Sesungguhnya orang-orang mu&#8217;min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.<strong> ,103,110, 112,264,272,273,274, 277,286</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 57”</strong> Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. <strong>76, 115,136,145, 148,171, 179,185   ,195,199</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 60”</strong> Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.<strong> ,    67,70,74,85,95,</strong></p>
<p><strong>100,114,123, 134,146,152, 162,173</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 9”</strong> Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.<strong> ,85</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 160”</strong> Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).</p>
<p><strong>QS. 7 : 161”</strong> Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): &#8220;Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kamu kehendaki.&#8221;. Dan katakanlah: &#8220;Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu&#8221;. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.<strong> ,170</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 8 : 28”</strong> Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.<strong> ,67</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 22”</strong> mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.   <strong>,120</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 10 : 26”</strong> Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.</p>
<p><strong>QS. 11 : 11”</strong> kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.<strong> ,115</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 12 : 56”</strong> Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.<strong> ,57,90</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 16 : 41”</strong> Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,<strong> ,96,97</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 9</strong>” Sesungguhnya Al Qur&#8217;an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu&#8217;min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,</p>
<p><strong>QS. 18 : 88“</strong> Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami&#8221;.<strong> ,31,44,46</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 19 : 76”</strong> Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 20 : 73“</strong> Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)&#8221;</p>
<p><strong>QS. 21 : 47</strong>“ Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.</p>
<p><strong>QS. 28 : 54”</strong> Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.     <strong>,60,80,84</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 29 : 36“</strong> Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu`aib, maka ia berkata: &#8220;Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 30 : 45“</strong> agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.</p>
<p><strong>QS. 32 : 19”</strong> Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 33 : 29“</strong> Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.<strong> , 31, 35, 44</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 35 : 7”</strong> Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.<strong> ,30 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 36 : 11</strong>” Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.</p>
<p><strong>QS. 39 : 10“</strong> Katakanlah: &#8220;Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu&#8221;. Orang-orang yang</p>
<p>berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.</p>
<p><strong>QS. 41 : 8“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya&#8221;.<strong> ,46</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 42 : 26” </strong>dan Dia memperkenankan (do`a) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras<strong>.  ,40</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 47 : 9”</strong> dan Dia memperkenankan (do`a) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.<strong> ,28,32,33,35,36</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 48 : 10“</strong> Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. \x Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.<strong> ,16,29</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 49 : 2”</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.<strong> ,3</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 52 : 21”</strong> Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami</p>
<p>tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.</p>
<p><strong>QS. 53 : 31”</strong> Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 56 : 24“</strong> Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 57 : 10“</strong> Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.<strong> ,11,18,19,27</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Apapun yang kami ungkapkan diatas, sekelumit untuk mendayagunakan sebagai kekuatan agar kita selalu ingat betapa pentingnya kita mengamalkan dalam hidup ini.</p>
<p>Bayangkan dalam pikiran kita bahwa “pemeliharaan jasmani dan rohani hendaklah seimbang, jangan berat seblah bahkan lebihkan kepentingan jiwa. Karena keadaan jiwa itulah terjadi orang bertingi dan berendah.</p>
<p>Jadi ingatlah selalu untuk membangun kebiasaan menjalankan “pahala” bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan karena itu untuk mengungkit kekuatan kebiasaan pikiran, maka renungkan bahwa pembalasan suatu</p>
<p>dosa oleh Tuhan tidak dibalas tunai tetapi menurut waktu dan tempatnya.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan memperhatikan keinginan yang ditopang oleh makna kekuatan “pahala”, maka kebiasaan pikiran yang kuat mampu menuntun kita agar sikap dan perilaku sejalan dengan apa yang diperintahkan dalam Al Qur’an.</p>
<p>Oleh karena itu, bangkitkan daya kemauan yang kuat untuk selalu mengingat bahwa <strong>Pahala amal manusia kembali pada dirinya, </strong>seperti yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 29 : 6”</strong> Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.</p>
<p>Sejalan dengan apa yang telah kita utarakan diatas maka ingatlah bahwa <strong>Pahala bagi laki2 dan perempuan yang mengerjakan Perintah Allah </strong>menjadi satu kekuatan penggerak pikiran seperti yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.33 ; 35</strong>” Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu&#8217;min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi sebagai pendorong untuk kita selalu memikirkan bahwa <strong>Pahala bagi orang yang berbuat baik </strong>maka sudah seharusnya manusia untuk melaksanakannya seperti yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS.3 : 148</strong>” Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.</p>
<p><strong>QS. 28 :84</strong>” Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan apa-apa yang telah kita pikirkan bahwa <strong>Pahala bagi yang beriman </strong>merupakan satu kekuatan untuk kita selalu mengingat atas perbuatan itu seperti yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 :62”</strong> Sesungguhnya orang-orang mu&#8217;min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.   <strong>,262,274,277</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 :57”</strong> Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.<strong> ,185,199 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> QS. 4 : 173</strong>” Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala</p>
<p>mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bayangkan dalam pikiran kita bahwa orang yang bertakwa tidak pernah merasa resah atau kebingungan dalam hidupnya karena selalu mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt. Jadi ingatlah dalam pikiran kita bahwa <strong>Pahala bagi orang yang bertaqwa</strong> merupakan satu kekuatan dalam membangun kebiasaan pikiran yang selalu ingat karena itu baca dan renungkan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.38 :49</strong>” Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik,<strong> – 54 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 55 : 46”</strong> Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.<strong> ,48,50,52,54,56, 58,60,62</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 47 : 36”</strong> Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.</p>
<p>Setiap kita membayangkan <strong>Pahala bagi yang gugur di jalan Allah, </strong>berarti satu kekuatan dalam pikiran kita untuk mengatakan bahwa “orang yang disegani bukan pada orang kaya, tetapi pada orang berbudi tinggi yang mampu menggugah kedalam kebiasaan pikiran, oleh karena itu untuk mengingatnya, renungkan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 74“</strong> Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.</p>
<p>Untuk menguatkan kebiasaan pikiran kita bahwa apa yang terpikirkan dalam <strong>Pahala bagi yang mengerjakan amal shalih, </strong>maka disitu terletak satu kekuatan untuk menyadarkan pikiran manusia seperti yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 16 : 97”</strong> Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan<strong>. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 19”</strong> Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu&#8217;min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tuntunlah kebiasaan pikiran kdalam <strong>Pahala yang sempurna iman </strong>seperti yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 89 : 28</strong>” Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.   <strong>,29”</strong><strong> </strong>Maka masuklah ke dalam jama&#8217;ah hamba-hamba-Ku, ,<strong>30”</strong> dan masuklah ke dalam surga-Ku.</p>
<p>Untuk membangun kerajaan dalam pikiran yang mampu mengingatkan sikap dan perilaku yang dituntun oleh kekuatan “menyerah dengan sebulat hati”, maka disitu terletak pengakuanku beragama “Islam”, maka segala perintah dan hukumNya aku taati.</p>
<p>Oleh karena itu, begitu banyak tentang <strong>“PAHALA” </strong>diungkapkan dalam Al Qur’an, tetapi yang menjadi masalah kita, mampukah manusia yang mengaku Islam akan tunduk dan berkeinginan untuk mengamalkannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan pemikiran diatas, maka satu kekuatan yang mampu menggugah pikiran kita membayangkan dalam  makna yang diungkapkan dalam <strong>Pahala besar </strong>yang terungkap dalam surat dan ayat<strong> </strong>dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 177”</strong> Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. ;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 40”</strong> Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.<strong> ,67,74,114,152,162</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 16 : 41</strong>” Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,</p>
<p><strong>QS.17: 19”</strong> Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu&#8217;min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.</p>
<p><strong>QS.18 : 2”</strong> sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, ;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.33 :29” </strong>Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.,<strong>31,44 </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 35 : 30” </strong>agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.</p>
<p><strong>QS. 36 : 11”</strong> Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.</p>
<p><strong>QS.39 : 10</strong>“ Katakanlah: &#8220;Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu&#8221;. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 47 : 10“</strong> Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.<strong> ,16 ; </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 65 : 5”</strong>Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya<strong>. ;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 68 : 3”</strong> Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 57 : 18” </strong>Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada</p>
<p>Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.,<strong>19 ; </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.60 : 6”</strong>Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi terpuji. <strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 64 : 15”</strong> Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.</p>
<p><strong>QS.67 : 12”</strong> Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 73 : 20”</strong> Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur&#8217;an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur&#8217;an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Adakah kemauan kita yang kuat untuk terus merenung dan membaca apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas menjadi daya dorong perubahan sikap dan perilaku. Untuk mengingatkan itu cabalah renungkan juga seperti makna “<strong>Pahala dua kali lipat” </strong>untuk dapat menggugah jiwa kita dalam usaha membangun suatu kekuatan kebiasaan dalam pikiran dengan mengingat apa yang dituangkan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 54” </strong>Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.6 : 160”</strong> Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas pikirkan wujud dari suatu kekuatan yang terungkap dalam makna <strong>Pahala terus menerus </strong>seperti yang termuat dalam “</p>
<p><strong>QS. 95 : 6” </strong>kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.</p>
<p>Dengan memperhatikan makna apa-apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 sebelumnya, maka selalu untuk mengangkat kebiasaan kita dalam bersikap dan berperilaku melalui pemahaman kita atas “ajaran islam tidak mau tumbuh di atas jiwa yang dibungkus oleh kemusyrikan dan kebendaan, sehingga kita akan selalu ingat apa yan dingkapkan dalam surat an ayat lebih lanjut dibawah ini dengan mengingat bahwa <strong>Pahala Tuhan tidak menyianyiakan pahala yang mengerjakan amalan </strong>seperti yang terngkap dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 170”</strong> Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.  9 : 120</strong>” Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,</p>
<p><strong>QS. 11 : 115</strong>” Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.</p>
<p><strong>QS.12 : 56”</strong> Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.<strong> ,90 ; </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 18 : 30</strong>” Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.</p>
<p>Oleh karena itu ingatlah kedalam kebiasaan pikiran kita bahwa <strong>Pahala yang lebih baik </strong>seperti apa yang terungkap dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 39 : 35”</strong> agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 56 : 24”</strong> Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 92 : 6”</strong> dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),  <strong>9”</strong> serta mendustakan pahala yang terbaik,</p>
<p>Jadi segala usaha untuk mewujudkan kekuatan apa yang terpikirkan dalam mencari kebenaran, maka disitu ada jawaban bahwa <strong>Pahala untuk usaha kebaikan diri sendiri </strong>seperti yang termuat dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 110”</strong> Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.</p>
<p>Dengan apa-apa yang kita pikirkan, melalui surat2 dan ayat yang kita ungkapkan diatas, maka menjadi pendorong untuk kita renungkan hal-hal yang menuntun pikiran kita dengan apa-apa yang kita ungkapkan dibawah ini sebagai satu kekuatan dalam rangka usaha-usaha kita dalam memikirkan bahwa “Akhlak obyeknya diri sendiri sedangkan orang lain itu dijadikan cermin untuk diri sendiri atau orang lain bercermin kepada kita yaitu yang terkait dengan :</p>
<ul>
<li><strong>Pahala hanya diperoleh orang sabar </strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 80”</strong> Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: &#8220;Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Pahala mukmin tidak d</strong><strong>isi-siakan</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 171</strong>“ Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 18 : 30“</strong> Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Pahala sesuai dengan usaha/amalnya</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 286“</strong> Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): &#8220;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Pahala tidak dapat dipindahkan kepada orang lain</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 123“</strong> Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa`at sesuatu syafa`at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Yang bakal mem</strong><strong>peroleh pahala besar</strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 67 : 12</strong>” Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 79 : 40”</strong> Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya<strong>,-41</strong>” maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). ;</p>
<p><strong>QS. 9 : 8”</strong> Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 41 : 8”</strong> Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya&#8221;.</p>
<p>Apa yang dapat kita petik dengan mendalami makna „Pahala“ dalam perjalan hidup ini, tidak lain adalah kita ada usaha yang terpikirkan untuk menuntun sikap dan perilaku kita melihat hari ini sebagai kekuatan agar kita siap memikirkan bahwa hidup anda diebentuk oleh pikiran anda sendiri, sehingga bangunlah dari kekuatan kebiasaan pikiran untuk mengungkapkan “jadilah diri sendiri”</p>
<p>Sejalan dengan ungkapanpikiran diatas, maka cobalah bayangkan dalam pikiran anda bahwa “pekerjaan yang besar itu tidak berhajat kekuatan tetapi berhajat sebagai keteguhan hati. Dunia semakin kecil buat kita kalau hati dan semangat kita bertambah besar. Gagah dalam wujud penghidupan sampai saat kematian. Di dunia tidak ada yang tidak bisa asal saja mau bekerja dan berusaha”. Disitulah letak kita berpikir untuk keinginan tahu dari yang tida tahu dengan sering membaca dan merenungkan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat yang kita baca, mampukah kita mengamakannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>47. KEBAKHILAN (kikir / lokek / pelit)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „Kebakhilan / kikir“ menggambarkan watak manusia yang tamak hanya memikirkan tentang diri sendiri, hidupnya demi kepentingan dunia semata, oleh karena itu yang bersangkutan mengaku islam, tapi sikap dan perilakunya tidak sedikit tergerak dalam hatinya untuk mengingat apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 3 : 180</strong>“ Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 4 : 37</strong>“ (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.</p>
<p><strong>QS. 4 : 128</strong>“ Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 9 : 34</strong>“ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia)</p>
<p>dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-35“</strong> pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: &#8220;Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 29“</strong> Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.</p>
<p><strong>QS. 17 : 100“</strong> Katakanlah: &#8220;Kalau seandainya kamu menguasai khazanah rahmat Tuhanku, niscaya khazanah itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya&#8221;. Dan adalah manusia itu sangat kikir.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 67“</strong> Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.</p>
<p><strong>QS. 47 : 36</strong>“ Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.<strong>-37“</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -38</strong>“ Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling</p>
<p>niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 53 : 32“</strong> (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -37“</strong> dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 53 : 39</strong>“ dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.</p>
<p><strong> -41“</strong> Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,</p>
<p><strong>QS. 57 : 23</strong>“ (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-24“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong>QS. 59 : 9“</strong> Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang</p>
<p>Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 64 : 16“</strong> Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong>QS. 70 : 15“</strong> Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak,</p>
<p><strong>-18“</strong> Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. <strong>-19, 21</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 92 : 8“</strong> Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,</p>
<p><strong> </strong><strong>-11“</strong> Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 104 : 1</strong>“ Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,</p>
<p><strong> </strong><strong>- 4“</strong>sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.</p>
<p>Walaupun mereka membaca seluruh surat dan ayat diatas untuk mengingatkan kebiasaannya, tapi hatinya tidak tergerak sedikitpun. Dalam hal ini kita dapat membayang pikiran manusia bahwa kita heran manusia saban hari menyisir rambutnya tetapi tidak ada menyisir otaknya.</p>
<p>Itulah watak manusia kikir dalam hidupnya. Tidak ada daya kemauan untuk memahami apa-apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 diatas, bagi mereka dalam apa yang dipikirkan tidak mempunyai arti dalam memberi makan dan membersihkan badannya tetapi tidak memberi makan jiwa dan membersihkan kebathinannya.</p>
<p>Tidak pernah terpikirkan olehnya walaupun tlah diingatkan hal-hal yang terkait seperti yang terungkap dalam surat dan ayat diatas mengenai :</p>
<ul>
<li>Kebakhilan dan dusta serta balasannya</li>
<li>Kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia</li>
<li>Keharusan memberikan hak-hak orang yang lemah dan cara menyelesaikan keulitan rumah tangga</li>
<li>Kepercayaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani serta sikap-sikap mereka<strong> </strong></li>
<li>Beberapa tata krama pergaulan ; keingkaran orang-orang kafir dan bantahan terhadapnya<strong> </strong></li>
<li>Sifat-sifat hamba Allah yang mendapat kemuliaan</li>
<li>Ancaman terhadap orang2 munafik dan orang2 murtad<strong> </strong></li>
<li>Orang2 yang menjauhi dosa2 besar mendapat ampunan dan pembalasan yang baik dari Allah ;<strong> </strong></li>
<li>Kehancuran orang yang mendustakan kebenaran dan pertanggung jawab masing2 manusia atas perbuatannya</li>
<li>Segala sesuatu pada hakekatnya milik Allah maka janganlah kamu merasa berat menafkahkan harta dan rezkimu di jalan Allah</li>
<li>Hati-hatilah terhadap kehidupan duniawi ; kepastian datangnya azab kepada orang2 kafir<strong> </strong></li>
<li>Usaha manusia adalah bermacam-macam yang terpenting ialah mencari keredhaan Allah ; amat celakalah menimbun harta yang tidak menafkahkannya di jalan Allah.</li>
</ul>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setiap apa yang terungkap dan diajarkan dalam Al Qur’an dan sering direnungkan serta dibaca berulang kali, namun tidak mampu mengetuk dinding jiwa dengan kekuatan alat</p>
<p>pikiran, walaupun seperti iungkapkan bahwa <strong>Balasan terhadap orang kikir di hari kiamat</strong> yang ditetapkan dalam</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.4 : 37“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan<strong>. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 56 : 42“ </strong>Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih,,<strong> 45“</strong> Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, walaupun telah diingatkan bahwa  <strong>Dilarang kikir, </strong>seperti yang terungkap dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 180</strong>” Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 4 : 37</strong>“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.</p>
<p>Namun, manusia tidak tergerak untuk menjadi satu usaha untuk menjadikan kekuatan dalam kebiasaan hidup karena pengaruh kebiasaan pikiran negatif mendorong <strong>Manusia kikir karena tamak </strong>menjadi satu kekuatan dalam dirinya, sehingga tidak mampu untuk merenungkan bahwa <strong>Manusia menurut tabiatnya kikir </strong>sehingga <strong>Celaan terhadap orang </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>kikir (teramat cinta harta), </strong>oleh karena itu tidak heran bahwa <strong>Manusia kikir untuk dirinya sendiri.</strong></p>
<p>Sering dibaca<strong> </strong>hal-hal yang terungkap dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 100 : 1 “</strong>Hari Kiamat,–<strong> 11</strong>(Yaitu) api yang sangat panas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 128”</strong> Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 59 : 9”</strong> Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong>QS. 64 : 16</strong>” Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong>QS. 47 : 38”</strong> Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling</p>
<p>niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).</p>
<p>Tapi hidup manusia ini, tidak mampu untuk memikikan bahwa masa yang anda miliki adalah hari ini, oleh karena itu renungkan kembali yang terkait dengan hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri, namun mereka tidak mampu menangkap makna untaian kalimat seperti “Orang yang bertakwa tidak pernah merasa resah atau kebingungan dalam hidupnya karena selalu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt. Serta tidak pernah merasa susah karena kekurangan harta benda sebab ia merasa cukup atas segala apa yang telah dilimpahkan Allah kepadanya“</p>
<p>Sejenak bila kita reungkan ungkapan diatas, bayangkan bahwa <strong>Nabi Muhammad tidak kikir untuk menerangkan yang gaib </strong>seperti yang termuat dalam<strong> QS. 81 : 24”</strong> Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>48. KEBOHONGAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Satu hal yang kita lihat dalam perjalanan hidup ini bahwa manusia hidup dalam topeng kepalsuan, tak pernah manusia lebih banyak untuk mengungkit daya kemauan yang kuat dalam usaha untuk “berkenalan kepada Allah di waktu senang, niscacaya Allah akan kenal kepada anda di waktu susah. Orang yang mendekati Allah sehasta, Allah mendekati sedepa. Orang yang menuju Allah berjalan Allah menujunya berlari.</p>
<p>Oleh karena itu, hidup dalam topeng kepalsuan berati manusia penuh dengan “Kebohongan”, tidak mungkin terpikirkan apa yang kita kemukakan diatas.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, coba baca dan renungkan apa-apa yan diungkapkan dalam surat dan ayat dibawah ini sebagai kekuatan pengetuk dinding jiwa sbb. :</p>
<p><strong>QS. 4 : 112</strong>“ Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.</p>
<p><strong>QS. 24 : 4“</strong> Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>- 5“</strong> kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 18“</strong> dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -20“</strong> Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).</p>
<p><strong>QS. 24 : 23“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la`nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-25“</strong> Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).</p>
<p>Dengan memperhatikan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, serta ungkapan yang terkait dengan usaha merangkul Allah Swt, berarti anda mampu mengamalkan dalam menemukan diri.</p>
<p>Untuk meningkatkan usaha-usaha dalam menemukan diri maka dalam pikirkan ungkapan seperti „ barang siapa mengajak kepada kebaikan, tuntunlah dirimu untuk mendalami hal-hal yang terkait dengan makna <strong>Dusta </strong>seperti yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini<strong>:</strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 11</strong>“ (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir`aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.<strong> ,19,21,22,23,24,61,75,78,94,137,184</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 28</strong>“ Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.<strong> ,50,77,156,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 10“ </strong>Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.,<strong>70,86,103</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 4“</strong> Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya).<strong> 5,11,21,24,</strong></p>
<p><strong>27,31,33,34,39,49,57,66,93,116,144,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 37“</strong> Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: &#8220;Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?&#8221; Orang-orang musyrik itu</p>
<p>menjawab: &#8220;Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,&#8221; dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 42</strong>“ Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: &#8220;Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu&#8221; Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.</p>
<p><strong>QS. 11: 18</strong>“ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: &#8220;Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka&#8221;. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 12 : 26“</strong> Yusuf berkata: &#8220;Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)&#8221;, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: &#8220;Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.</p>
<p><strong>QS. 14 : 3“</strong> (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.</p>
<p><strong>QS. 16 : 116“</strong> Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta &#8220;Ini halal dan ini haram&#8221;, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.18 : 5“</strong> Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 22 : 30“</strong> Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS 24 : 16“</strong> Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: &#8220;Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.25 : 3“</strong> Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa`atanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.</p>
<p><strong>QS. 29 : 3“</strong> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.<strong> ,17</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 38 : 7“</strong> Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (meng-esakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,</p>
<p><strong>QS. 42 : 24“</strong> Bahkan mereka mengatakan: &#8220;Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah&#8221;. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati</p>
<p>hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Qur&#8217;an). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 43 : 25</strong>“ Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.</p>
<p><strong>QS. 45 : 7“</strong> Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa,</p>
<p><strong>QS. 46 : 11“</strong> Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: &#8220;Kalau sekiranya dia (Al Qur&#8217;an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: &#8220;Ini adalah dusta yang lama&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 53 : 11“</strong> Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.</p>
<p><strong>QS. 54 : 9</strong>” Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: &#8220;Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman&#8221;.,<strong>18,25,33</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.58 : 2</strong>“ Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.</p>
<p>Jadi begitu banyak untuk mengingatkan diri dari kata „Dusta“ seperti yang terungkap dalam AlQur’an, begitu untuk mempertegaskan kata dusta menjadi „<strong>Berdusta” </strong>menjadi kebiasaan dalam bersikap dan berperilaku, oleh karena itu untuk mengingatkan dalam pikiran, maka coba</p>
<p>renungkan ungkapan seperti “bila manusia tidak dapat menguasai hawa nafsunya, akhirnya nafsu itu akan merendahkan dirinya walau mulanya dia seorang yang terhormat”</p>
<p>Dengan demikian cobalah untuk merenung dan berusaha mendalami kata berdusta tersebut seperti apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 2 : 10“ </strong>Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta<strong>.,79</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 138“</strong> Dan mereka mengatakan: &#8220;Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki&#8221; menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 66“</strong> Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: &#8220;Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 9 : 43“ </strong>Semoga Allah mema`afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta<strong>?, 77</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 10 : 17“</strong> Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.  <strong>,66</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 18“</strong> Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: &#8220;Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka&#8221;. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.<strong> ,65,93</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 12 : 110“</strong> Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tid]ak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 16 : 39</strong>“ agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta.</p>
<p><strong>QS. 17 : 59“</strong> Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mu`jizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.</p>
<p><strong>QS. 20 : 61“</strong> Berkata Musa kepada mereka: &#8220;Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa&#8221;. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.</p>
<p><strong>QS. 24 : 7</strong>“ Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.</p>
<p><strong>QS. 26 : 86</strong>“ dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,</p>
<p><strong>QS. 29 : 68</strong>“ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 34 : 8“ </strong>Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?&#8221; (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh<strong>.,43</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 38 : 4“</strong> Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: &#8220;Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari kemampuan untuk meningkatkan kekuatan daya ingat dengan belajar dan merenungkan apa-apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 tersebut diatas, mengenai <strong>„Berbohong, Dusta, Berdusta </strong>mampu mendorong untuk memikirkan sesuatu kedalam kebiasaan yang selalu mengingatkan kedalam sikap dan perilaku yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. artinya sebagai satu kekuatan dalam pikiran bahwa barang siapa yang tidak hendak maju dan tidak bernafsu mencari kemajuan, maka jiwanya seumpama lentera yang kehabisan minyak, makin lama makin suram, kemudian menjadi gelap sama sekali.</p>
<p>Jadi dengan mengingat hal-hal yang kita utarakan diatas, cobalah tegakkan kekuatan untuk tidak berbuat dalam <strong>Mendustakan </strong>sehingga anda terjebak kedalam usaha-usaha ketidak mampuan membangun daya kemauan untuk tidak berbuat dari dorongan pikiran yang negatif.</p>
<p>Oleh karena itu, untuk meningkatkan kekuatan daya ingat, maka baca dan renungkan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 39“ </strong>Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya<strong>.,87</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 127“</strong> Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.<strong> ,148,150,157</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 36“</strong> Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ,<strong>37,64,72,92,94,96,101,136,146,</strong></p>
<p><strong>147,176, 177,182</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 8 : 54“</strong> <strong>(</strong>keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir`aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir`aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 9 : 90</strong>“ Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan `uzur, yaitu orang-orang Arab Badwi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.</p>
<p><strong>QS. 10 : 17“</strong> Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.<strong> ,39,41,7,74,95</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 12 : 109</strong>“ Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan</p>
<p>sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?</p>
<p><strong>QS. 15 : 80“</strong> Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul,</p>
<p><strong>QS.16 : 36“ </strong>Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu&#8221;, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).,<strong>113</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 20 : 56“</strong> Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir`aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).</p>
<p><strong>QS. 21 : 77</strong>“ Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 42“ </strong>Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).,<strong>57</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 23 : 26“ </strong>Nuh berdo`a: &#8220;Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.&#8221;<strong> ,33,39,44,48,105</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 11“</strong> Nuh berdo`a: &#8220;Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.&#8221;<strong> , 19,36,37,77</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 26 : 6“</strong> Sungguh mereka telah mendustakan (Al Qur&#8217;an), maka kelak akan datang kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokan.<strong> ,12,105,117,123139,144,160,176</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 27 : 83“ </strong>Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok).,<strong>84</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 34“</strong> Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 29 : 18“</strong> Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.&#8221;<strong> ,37</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 30 : 9“</strong> Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.<strong> ,10,16</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 32 : 20“</strong> Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: &#8220;Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 34 : 42”</strong> Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: &#8220;Rasakanlah</p>
<p>olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu&#8221;.<strong> ,45,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 35 : 4“</strong> Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan), maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.<strong> ,25</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.36 :14</strong>“ (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: &#8220;Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 37 : 21”</strong> Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.<strong> ,127</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 38 : 14</strong>“ Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku.</p>
<p><strong>QS. 39 : 25“</strong> Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul), maka datanglah kepada mereka azab dari arah yang tidak mereka sangka.<strong> ,32,59</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 40 : 5“ </strong>Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?,<strong>70</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 50 : 5“</strong> Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.  <strong>,12,14,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 52 : 14</strong>“ (Dikatakan kepada mereka): &#8220;Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 54 : 3“</strong> Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.<strong> , 36, 42</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 55 : 13“ </strong>Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,<strong>16,18,21,23,25,28,30,32,34,36,38</strong></p>
<p><strong>,40, 42, 4,45,47,49,51,53,55,57,59,61,63,65,67,69,71</strong></p>
<p><strong>73,75,77</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 57 : 19</strong>“ Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 60 : 12</strong>“ Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 61 : 7</strong>“ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 67 : 18“</strong> Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.</p>
<p><strong>QS. 68 : 8“</strong> Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).,<strong> 44</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 69 : 49“</strong> Dan sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan (nya<strong>).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 75 : 32“</strong> tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran),</p>
<p><strong>QS. 77 : 15“ </strong>Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.<strong> ,19,24,28,29,34, 37,40,</strong></p>
<p><strong>45,47,49,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 78 : 27</strong>“ Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab<strong>,,35</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 79 : 21“</strong> Tetapi Fir&#8217;aun mendustakan dan mendurhakai.</p>
<p><strong>QS. 82 : 9“</strong> Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.</p>
<p><strong>QS. 83 : 11“</strong> <strong>(</strong>yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.<strong> „,12,171</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 84 : 22“</strong> bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya).</p>
<p><strong>QS. 85 : 21</strong>“ Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur&#8217;an yang mulia,</p>
<p><strong>QS. 91 : 11“ </strong>(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,,14</p>
<p><strong>QS. 92 : 9</strong>“ serta mendustakan pahala yang terbaik<strong>, ,16</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 107 : 1“</strong> Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?</p>
<p>Dengan mengungkap semua surat dan ayat tersebut diatas, maka wajah manusia yang hidup dengan topeng kepalsuan, menjadikan makna „kebohongan, dusta, berdusta, mendustakan“ menjadi kebiasaan dalam hidup manusia.</p>
<p>Oleh karena itu, bayangkan dalam pikiran dari kekuatan menjadikan timbulnya keinsyafan dari perasaan ; timbul-nya kemauan dari keinginan ; timbulnya keyakinan dari kepercayaan ; timbulnya kemajuan dari perubahan ; timbulnya kepandaian dari kerajinan ; timbulnya dengki dari iri hati. Jadi bangkitkan daya kemauan yang kuat untuk selalu mampu meningkatkan kedewasaan berpikir.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>49. KELALIMAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kita menyadari sepenuhnya bahwa ajaran islam tidak mau tumbuh di atas jiwa yang dibungkus oleh kebendaan dan kemusyyrikan, tetapi mengapa manusia mengakui sebagai muslimin, tidak dapat melepaskan diri dalam perbuatan apa yang disebut „Kelaliman“</p>
<p>Persoalannya ketidakmampuan manusia yang tidak ada usaha-usaha memperbaiki diri disebabkan daya kemauan yang kuat tidak ada dalam dirinya, oleh karena itu, maka menjadi kebiasaan dalam hidupnya untuk terus tumbuh mengenai apakah sudah dipikirkan yang anda kerjakan. Tiap sesuatu yang kita kerjakan hendaklah apa yang sudah kita yakinkan betul sejalan dengan apa yang telah kita pelajari sebagai tuntunan hidup. Seharusnya kita mampu berpikir bahwa segala yang di alam ini ada faedahnya hanya satu yang tidak ada guna ialah „Sesal kemudian“</p>
<p>Bila kita baca dan direnungkan baik-baik semua apa-apa yang menjadi tuntunan telah diungkap dalam surat dan ayat yang menjelaskan makna kata „zalim“ yang tidak disenangi, sehingga begitu banyak ungkapan tersebut dalam Al Qur’an untuk mengingatkan manusia sebagai makhluk yang</p>
<p>dimuliakan oleh Allah Swt, dengan tuntunan itu manusia diharapkan mampu untuk dapat mengungkit daya kemauan yang kuat dalam usaha- usaha memperbaiki diri yang sejalan dengan tuntunan yang diberikan-Nya</p>
<p>Oleh karena itu, cobalah bangkitkan pikiran kedalam suatu kebiasaan dalam ingatan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 2 : 35“</strong> Dan Kami berfirman: &#8220;Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.<strong> ,51,124,140,150,193,231</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 128</strong>“ Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 4 : 75“</strong> Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: &#8220;Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 6 : 33</strong>“ Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.<strong> , 52,82,144,157</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 19</strong>“ (Dan Allah berfirman): &#8220;Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah</p>
<p>kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim&#8221;.<strong> ,47,148,150,165</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 8 : 54“</strong> (Dan Allah berfirman): &#8220;Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 10 : 54“</strong> Dan kalau setiap diri yang zalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.<strong> ,85</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 31“</strong> Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): &#8220;Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: &#8220;Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat&#8221;, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: &#8220;Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka&#8221;. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.<strong> ,37,83,117</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 12 : 75“</strong> Mereka menjawab: &#8220;Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya) Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.&#8221;<strong> ,79</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 14 : 34“</strong> Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya</p>
<p>manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).<strong> ,42,44</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 16 : 28“</strong> <strong>(</strong>Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); &#8220;Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatanpun&#8221;. (Malaikat menjawab): &#8220;Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.<strong> ,61,85</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 33“</strong> Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: &#8220;Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu&#8221;. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.<strong> ,47,82</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 18 : 15</strong>“ Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala,<strong> ,35,50,57</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 19 : 38“</strong> Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 21 : 3“</strong> (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: &#8220;Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 23 : 27“</strong> Lalu Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.<strong> ,28,94,107</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 50“</strong> Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 4“</strong> Dan orang-orang kafir berkata: &#8220;Al Qur&#8217;an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain&#8221;; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.<strong> ,21</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 26 : 10“</strong> Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): &#8220;Datangilah kaum yang zalim itu,   <strong>,209,227</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 27 : 14“</strong> Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.<strong> ,44,52</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 21“</strong> Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo`a: &#8220;Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu&#8221;.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 29 : 46“</strong> Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali</p>
<p>dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: &#8220;Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri&#8221;.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 32 : 22“</strong> Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.<strong> ,24</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 39 : 47“</strong> Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.</p>
<p><strong>QS. 40 : 31</strong>“ (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, `Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.</p>
<p><strong>QS. 42 : 39“</strong> Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 45 : 19</strong>“ Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.</p>
<p><strong>QS. 51 : 59</strong>“ Maka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bahagian (siksa) seperti bahagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 52 : 47“</strong> Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 53 : 52“</strong> Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka,</p>
<p><strong>QS. 66 : 11“</strong> Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: &#8220;Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim&#8221;,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.68 : 29“</strong> Mereka mengucapkan: &#8220;Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.71 : 24“</strong> Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Banyak diantara kita, sering membaca apa-apa yang diungkapkan diatas, tapi pengalaman juga menunjukkan tidak mempengaruhi daya kemauan manusia untuk berubah. Apa yang dipikirkannya adalah terkait dengan dunia semata.</p>
<p>Oleh karena itu mereka tidak bisa membayangkan bahwa alam ini dapat dipersempit dan dapat juga diperlapang. Barang sesuatu dibawa baik dia akan menjadi baik dan kalau dibawa buruk dia akan menjadi buruk, tergantung pada pikiran kita.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, walaupun mereka secara sadar dapat memahami bahwa <strong>Orang zalim berada dalam kesesatan </strong>seperti yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 31 : 11“</strong> Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.</p>
<p>Tidak dapat kita bayangkan bahwa jalan pikiran mereka, walaupun telah ditunjukkan dimana <strong>Orang zalim itu berbuat keburukan terhadap dirinya </strong>seperti telah diingatkan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 7 : 177“</strong> Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.</p>
<p><strong>QS. 10 : 23“</strong> Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah keni`matan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 44 „</strong>Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.</p>
<p><strong>QS. 30 : 9</strong>“ Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 39 : 51“</strong> Maka mereka ditimpa akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.</p>
<p>Dengan merenungkan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, tidaklah menjadi petunjuk baginya dalam usaha untuk mengingatkan diri bahwa <strong>Orang zalim diazab dengan suara keras yang menguntur </strong>seperti yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini :<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 67“ </strong>Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya<strong>., 94</strong>“ Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS 23 : 41“</strong> Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.</p>
<p><strong>QS. 36 : 29“</strong> Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.</p>
<p>Jadi dengan ketidakmampuan manusia dalam usaha untuk berbuat sesuai dengan tuntunan dalam Al Qur’an, maka mereka sebagai <strong>Orang kafir termasuk golongan zalim, </strong>seperti diingatkan dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 254“</strong> Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan</p>
<p>tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Apapun yang ditunjukkan kepada mereka agar menuju ke jalan benar, namun merubah kebiasaan pikiran itu kedalam pikiran menemukan jatidiri, walaupun sudah diingat bahwa <strong>Orang zalim kekal di neraka </strong>dan atau dengan kata lain<strong> </strong> <strong>Orang zalim pelindungnya syeitan, </strong>telah ditunjukkan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 257“</strong> Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.</p>
<p>Belajar dari apa-apa yang kita ungkapkan diatas, akan memberikan gambaran dalam perjalanan bahwa <strong>Orang zalim mementingkan kenikmatan,</strong> sehingga mereka lupa untuk mengingatkan diri seperti yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS.11 : 116“</strong> Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari ungkapan diatas, sudah semestinya bahwa manusia itu harus memikirkan dalam hidup ini perlu untuk mengungkit daya ingat mengenai <strong>Orang zalim tidak akan beruntung </strong>dalam menjalani hidup ini karena mereka tidak dapat belajar dari tuntunan seperti yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 6 : 135</strong>“ Katakanlah: &#8220;Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 10 : 17“</strong> Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 12 : 23”</strong> Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: &#8220;Marilah kesini.&#8221; Yusuf berkata: &#8220;Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.&#8221; Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 20 : 111”</strong> Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 37”</strong> Musa menjawab: &#8220;Tuhanku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang zalim<strong>&#8220;.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Apakah anda ada memikirkan setiap hari bagaimana anda dapat menyenangkan orang lain, kalau tidak ada usaha berarti anda menjadi <strong>Orang zalim tidak mempunyai penolong, </strong>oleh karena itu bayangkan makna surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 270”</strong> Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya.</p>
<p><strong>QS.3 : 192”</strong> Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.</p>
<p><strong>QS. 5 : 72</strong>“ Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam&#8221;, padahal Al Masih (sendiri) berkata: &#8220;Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu&#8221; Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 22 : 71”</strong> Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun.</p>
<p><strong>QS. 30 : 29”</strong> Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.</p>
<p><strong>QS. 40 : 18“</strong> Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa`at yang diterima syafa`atnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan apa yang kita pikirkan mengenai perihal diatas, maka renungkan pula <strong>Orang yang makan harta anak yatim secara zalim akan masuk neraka, </strong>seperti apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 10“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Oleh karena bayangkan pula dalam kebiasaan pikiran anda bahwa <strong>Pada hari kiamat taubat orang zalim tidak berguna </strong>artinya janganlah menunda apa yang terpikir dalam perjalanan hidup ini, agar kita tidak hidup dalam penyesalan, jadi renungkan makna surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 30 : 57</strong>“ Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi<strong>. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 40 : 52“</strong> (yaitu) hari yang tiada berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la`nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pada bagian terdahulu telah kita ungkapkan makna „Zalim“ yang sejalan apa-apa yang tertuang dalam Al Qur’an sebagai penuntun dan dampak  <strong>Perbuatan zalim </strong>yang dilakukan manusia seperti yang terungkap dalam :</p>
<p><strong>QS. 2 : 59“</strong> Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.<strong> ,145,165,229,231</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 94“</strong> Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 45“</strong> Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 7 : 162</strong>“ Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.</p>
<p><strong>QS. 9 : 23“</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 10 : 106</strong>“ Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 29 : 49</strong>“ Sebenarnya, Al Qur&#8217;an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 31 : 13“</strong> Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: &#8220;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 49 : 11“</strong> Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 65 : 1</strong>“ Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.</p>
<p>Bertolak dari pemikiran yang kita ungkapkan diatas dan belajar serta merenungkan ungkapan diatas, maka dalam mengungkit daya kemauan yang kuat menjadi kekuatan kebiasaan pikiran bahwa kita harus usahakan karena tidak sesuatu yang berguna dari pada benar, tidak ada kejahatan yang lebih buruk dari pada zalim, tidak ada ibadat yang lebih</p>
<p>utama dari pada diam dan tidak ada kejelekan yang lebih buruk dari pada perbuatan zalim.</p>
<p>Dengan mengingat apa-apa yang kita utarakan diatas, maka renungkan kembali bahwa <strong>Allah mempunyai ampunan yang luas sekalipun terhadap orang seperti yang tertuang dalam : </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 13 : 6“</strong> Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan. padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.</p>
<p>Jadi ingatlah bahwa <strong>Allah mengampuni orang zalim yang bertaubat seperti yang terungkap dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 27 : 11“</strong> tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Oleh karena itu, apabila manusia itu tidak memerdekakan jiwanya dari harta benda maka pastilah harta yang dimilikinya itu akan menguasainya, maka anda akan menjadi zalim dimana <strong>Allah mengetahui orang zalim seperti yang tercantum dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 246“ </strong>Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: &#8220;Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah&#8221;. Nabi mereka menjawab: &#8220;Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah</p>
<p>diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?&#8221; Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 58“</strong> Katakanlah: &#8220;Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 47“</strong> Katakanlah: &#8220;Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 62 : 7“</strong> Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.</p>
<p>Jadi bila kita merenung dan memikirkan apa-apa yang teruang dalam surat dan ayat diatas, berarti anda memahami bahwa <strong>Allah menyiksa orang zalim seperti yang tertuang dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 59“ </strong>Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.</p>
<p><strong>QS. 6 : 45“</strong> Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.<strong> ,47“</strong> Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-</p>
<p>konyong atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang-orang yang zalim?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 162“ </strong>Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka<strong>., 165“</strong> Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.10 : 13”</strong> Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.<strong> ,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>52“</strong> Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu: &#8220;Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.&#8221;</p>
<p><strong>QS.11 : 44“</strong> Dan difirmankan: &#8220;Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,&#8221; Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: &#8220;Binasalah orang-orang yang zalim.&#8221;<strong> ,102“</strong> Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.</p>
<p><strong>QS. 14 : 13”</strong> Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: &#8220;Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami&#8221;. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: &#8220;Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu,<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>,22</strong>“ Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: &#8220;Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu&#8221;. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.</p>
<p><strong>QS. 16 : 113“</strong> Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 18 : 59</strong>“ Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 21 : 11“ </strong>Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya<strong>).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 22 : 45“</strong> Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi, <strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>48“</strong> Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 19</strong>“ Maka sesungguhnya mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kamu tentang apa yang kamu katakan maka kamu tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu), dan barangsiapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar.   ,</p>
<p><strong> 37</strong>“ Maka sesungguhnya mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kamu tentang apa yang kamu katakan maka kamu tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu), dan barangsiapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 27 : 85</strong>“ Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa).</p>
<p><strong>QS. 28 : 40“ </strong>Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>,59“</strong> Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.</p>
<p><strong>QS. 29 : 14“</strong> Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> ,31“</strong> Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 34 : 42“</strong> Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: &#8220;Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 43 : 65“ </strong>Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).</p>
<p><strong>QS. 76 : 31“</strong> Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.</p>
<p>Jadi dengan memahami tuntunan seperti yang termuat dalam surat dan ayat diatas yang begitu banyak untuk mengingatkan manusia, maka secara tegas pula <strong>Allah menyesatkan orang zalim seperti yang termuat dalam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 14 : 27”</strong> Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.</p>
<p>Sejalan dengan <strong>Allah tidak menunjuki orang zalim seperti yang tercantum dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 86” </strong>Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 4 : 168”</strong> Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka,</p>
<p><strong>QS. 5 : 51</strong>” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 46 : 10”</strong> Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur&#8217;an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur&#8217;an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 19”</strong> Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>109</strong>” Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 61 : 7”</strong> Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 62 : 5”</strong> Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, masih saja ada orang yang mengejar kelezatan jasmani saja, meninggalkan kenikmatan rohani memperkenyang tubuh tidak mengindahkan rohani, maka mata hatinya akan tertutup, disitulah ketidakmampuan manusia melihat bahwa <strong>Allah tidak menyukai orang zalim seperti yang terungkap dalam </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 57”</strong> Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.<strong> ,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>140</strong>” Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,</p>
<p><strong>QS.30 : 29”</strong> Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.</p>
<p>Oleh karena itu bangkitkan daya ingat untuk merenungkan kembali mengenai <strong>Dilarang berkawan dengan orang zalim seperti yang termuat dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 68”</strong> Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).</p>
<p><strong>QS. 11 : 113</strong>“ Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 60 : 9”</strong> Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p>Jadi tidak heran kita kepada <strong>Keingkaran orang zalim tentang diutusnya rasul seperti yang termuat dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 8“</strong> atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil) nya?&#8221; Dan orang-orang yang zalim itu berkata: &#8220;Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.&#8221;</p>
<p>Manusia baru sadar apa-apa yang terjadi dari sikap dan perilakunya yang tidak tetuntun dari ketidakmampuan dalam memahami <strong>Keluhan orang zalim bila mendapat siksa sepert yang terungkap dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.7 : 5“</strong> Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 21 : 97“ </strong>Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): &#8220;Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 27“</strong> Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: &#8220;Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.&#8221;<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 35 : 37</strong>“ Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: &#8220;Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan&#8221;. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.</p>
<p>Bayangkan dalam pikiran anda bahwa akal itu menteri yang menasehati, hati itu ialah raja yang menentukan, harta itu satu tamu yang akan berangkat, kesenangan itu satu masa yang akan ditinggalkan, <strong>maka ingatlah kepada</strong> <strong>Kutukan Allah kepada orang zalim seperti yang tertuang dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 44</strong>“ Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): &#8220;Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?&#8221; Mereka (penduduk neraka) menjawab: &#8220;Betul&#8221;. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: &#8220;Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 18</strong>“ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan</p>
<p>dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: &#8220;Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka&#8221;. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas cobalah renungkan ungkapan bahwa<strong> Malaikat memukul orang zalim waktu sakaratul maut seperti yang termuat dalam : </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 9“</strong> Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-Iaki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 8 : 50</strong>“ Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): &#8220;Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar&#8221;, (tentulah kamu akan merasa ngeri).</p>
<p>Bayangkan dalam pikiran anda bahwa <strong>Neraka tempat kembali orang zalim seperti yang termuat dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 151“</strong> Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 29“</strong> &#8220;Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.&#8221;<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>72“</strong> Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam&#8221;, padahal Al Masih (sendiri) berkata: &#8220;Hai Bani Israil,</p>
<p>sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu&#8221; Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.</p>
<p><strong>QS. 7 : 41“</strong> Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 19 : 72“</strong> Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.</p>
<p><strong>QS. 29 : 68“</strong> Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 39 : 32“</strong> Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?</p>
<p><strong>QS. 59 : 17</strong>“ Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 51 : 59“</strong> Maka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bahagian (siksa) seperti bahagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya.</p>
<p>Jadi bila kita renungkan dan mempelajari apa-apa yang tertuang dalam surat-surat dan ayat-ayat yang terungkap</p>
<p>diatas  sebagai tuntunan dalam hidup ini, maka dengan kekuatan pikiran, apakah manusia mampu belajar dari makna ungkapan seperti „Ada orang yang ingin berumur panjang  tetapi tidak suka disebut tua. Dalam hidup bukan umur panjang yang penting, tetapi hidup yang memberi manfaat.</p>
<p>Hidup yang sudah pendek itu akan membikin lebih pendek, jika kita mensia- waktu. Orang yang membuang-buang waktu adalah orang yang mnsia-siakan hidup.</p>
<p>Belajar dari ungkapan diatas, mampukah dengan pikiran yang kuat untuk menggugah apa yang disebut dengan ada orang berebut benda keduniaan tetapi tidak mampu mengindahkan kekosongan bathin. Ingatlah pikiran tersebut sebagai satu dorongan untuk tidak berbuat zalim.</p>
<p><strong>50. KEHIDUPAN DUNIA TIPUAN BELAKA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Manusia dalam kehidupan dunia akan selalu kita jumpai susah dan senang yang silih berganti, karena dalam pikiran mereka terletak salah satu kesalahan manusia adalah membebani masa sekarang dengan beban-beban masa depan yang panjang, itulah satu tanda bahwa mereka tidak dapat memahami „kehidupan dunia tipuan belaka“ seperti yang terungkapa dalam :</p>
<p><strong>QS. 6 : 32</strong>“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?</p>
<p>Oleh karena itu, pikirkan dan renungkan baik-baik bahwa kemewahan telah dijadikan dasar dari penghidupan yang akan anda jalani, maka disitu telah tersurat kejatuhan anda sendiri sejalan dengan hidup anda yang dibentuk oleh pikiran anda sendiri.</p>
<p>Jadi janganlah tertipu dalam kesenangan dan gelisah sewaktu kesusahan, itu berati sesungguhnya membebani pikiran dengan kesulitan yang belum tiba waktunya itu adalah suatu kebodohan yang nyata. Oleh karena itu bangkitkan ingatan anda sehingga anda dapat beripikir kedalam daya kemauan untuk melihat diri. Sejalan dengan pikiran tersebut belajarlah dan renungkan apa-apa yang terungkap dalam :</p>
<p><strong>QS. 29 : 64“</strong> Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.</p>
<p><strong>QS. 35 : 5“</strong> Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.</p>
<p><strong>QS. 47 : 36“</strong> Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.</p>
<p><strong>QS. 57 : 20“</strong> Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bila sejenak kita dapat membayangkan atas tuntunan yang terungkap dalam surat dan ayat, maka bukalah mata hati anda untuk memikirkan makna kehidupan dunia dan akherat</p>
<p>sebagai satu kekuatan dalam memandang suatu „kehidupan dunia tipuan belaka“</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan begitu, cobalah gerakkan kekuatan pikiran anda kedalam daya kemauan untuk mendalami yang terkait bahwa dalam penghidupan anda akan diuji dengan lima cobaan, apa yang kita sebut 1) dengan kecemasan ; 2) dengan kelaparan ; 3) kekuragan harta benda yang tidak pernah cukup  ; 4) kebinasaan diri ; 5) kerusakan tanaman dalam jiwa.</p>
<p><strong>51. KEHIDUPAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam perjalanan kehidupan ini, sudah seharusnya ada satu kekuatan yang menggerakkan pikiran kita seperti kita membayangkan apa yang terpikirkan dalam „damai yang ada di hati manusia akan menimbulkan damai di muka bumi, kejahatan yang ada di hati mengakibatkan kacaunya masyarakat. Hati yang beriman akan mampu menimbulkan perasaan dan akhlak yang tinggi. Kayuhlah biduk anda tetapi jangan halangi biduk orang yang lain“</p>
<p>Akan kita dorong daya kemauan kita untuk memikirkan sesuatu kedalam melepaskan diri dalam kehidupan yang telah diperingatkan oleh Allah Swt. seperti yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 2 : 28“</strong> Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?</p>
<p><strong>QS. 2 : 86</strong>“ Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 200“</strong> Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah,</p>
<p>sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a: &#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia&#8221;, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -202“</strong> Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.</p>
<p><strong>QS. 2 : 212“</strong> Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.</p>
<p><strong>QS. 2 : 214“</strong> Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: &#8220;Bilakah datangnya pertolongan Allah?&#8221; Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.</p>
<p>Jadi bila kita memiliki daya kemauan untuk memulai hidup baru, maka dimana ada kemauan, disana ada jalan. Dimana ada kesulitan disamping itu ada kelapangan.</p>
<p>Dengan demikian apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka setelah anda membaca dan ada usaha untuk mendalami atas tuntunan yang tersurat dalam Al Qur’an itu, menjadi daya dorong agar kita mampu menjalani kehidupan ini sesuai dengan perintah Allah Swt.</p>
<p>Dengan mendalami makna kekuatan dari tuntunan diatas, kita dapat membayang dalam pikiran kita bahwa dari kesusahan itu akan diperdapat kesenangan. Sebab durian berduri lantaran enak isinya, kulit manggis pahit sebab manis di dalamnya, bunga ros berduri lantaran harumnya oleh karena itu, bangkitkan kebiasaa dalam berpikir yang produktif dengan mengingat-ingat apa-apa yang tertuang dalam surat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 6 : 32</strong>“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 69</strong>“ (keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah meni`mati bagian mereka, dan kamu telah meni`mati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu meni`mati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.</p>
<p><strong> -70</strong>“ Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, `Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 10 : 24“ </strong>Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah</p>
<p>sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 11 : 15“</strong> Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan<strong>.- </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-16“</strong> Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?</p>
<p>Sejalan dengan kemampuan kita dapat memahami apa-apa yang terungkap dalam surat2 diatas, maka dalam usaha meningkatkan kekuatan pikiran, coba pikirkan pula ungkapan seperti dalam masyarakat tampaknya segenggam uang lebih kuat dari dua genggam kebenaran karena bila uang bersuara kebenaran diam, maka disitulah letak mengapa kita berpikir, untuk mencari tahu dari yang tidak tahu.</p>
<p>Jadi dengan memperhatikan ungkapan dalam pikiran diatas, cobalah pula anda membaca untuk direnungkan apa-apa yang terungkap dalam :</p>
<p><strong>QS. 13 : 26“</strong> Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 14 :3“</strong> (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.</p>
<p><strong>QS. 16 : 22“</strong> Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.</p>
<p><strong> -23“</strong> Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.</p>
<p><strong>QS. 17 : 10“</strong> dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.</p>
<p><strong>QS. 17 : 18“</strong> Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.</p>
<p><strong>QS. 18 : 7”</strong> Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.</p>
<p><strong> -8”</strong> Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.</p>
<p><strong>QS. 18 : 45”</strong> Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-</p>
<p>tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p>Dengan belajar kita menggerakkan kemampuan berpikir maka dengan dorong ingin tahu, kita membaca hal-hal yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, bila kita renungkan maka sadarilah bahwa kita adalah makhluk pilihan dan kita memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana kita akan bereaksi terhadap suatu keadaan.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, ingatlah sikap positif menghaslkan persepsi positif dan mengubah situasi menjadi lebih baik, oleh karena itu tingkatkan pikiran anda kedalam berpikir dan belajarkan hal-hal yang terungkap dalam :</p>
<p><strong>QS. 20 : 131”</strong> Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.</p>
<p><strong>QS. 22 : 66”</strong> Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari ni`mat.</p>
<p><strong>QS. 27 : 66”</strong> Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 60”</strong> Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah keni`matan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?</p>
<p><strong>QS. 29 : 20”</strong> Katakanlah: &#8220;Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari</p>
<p>permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p><strong>QS. 29 : 64”</strong> Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.</p>
<p><strong>QS. 30 : 6”</strong> (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -9”</strong> Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 31 : 33”</strong> Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi manfaatkan kebiasaan dalam kekuatan berpikir, maka disitu terletak makna kehidupan yang kita jalani dan secara tidak sadar kita mampu menggerakkan berpkir dengan kekuatan intuisi yang mampu membayangkan sesuatu seperti dengan tidak terasa kita diserang umur tua karena jam, hari, bulan dan tahun liwat sebagai bayangan. Semakin bertambah hari bulan bukanlah umur bertambah panjang, tetapi umur semakin pendek dan semakin dekat dengan pintu kubur.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ingatlah bahwa masa yang anda miliki adalah hari ini dan hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri, oleh karena itu tidak ada yang lebih penting daripada kepercayaan diri dan citra diri yang tegas, oleh karena itu manfaatkan kebiasaan berpikir yang disadari dan tidak disadari.</p>
<p>Oleh karena itu tingkatkan kemampuan kedewasaan berpikir sebagai suatu kebutuhan, maka jangan lupa pula untuk mengingat apa yang terungkap dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 42 : 20”</strong> Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.</p>
<p><strong>QS. 42 : 36”</strong> Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.</p>
<p><strong>QS. 43 : 33 “</strong>Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.</p>
<p><strong>-35”</strong> Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.</p>
<p><strong>QS. 44 : 56”</strong> mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka,</p>
<p>Dengan membaca dan merenung apa-apa yang tertuang dalam surat dan ayat diatas, maka kehidupan ini perlu ada usaha-usaha untuk meningkatkan kedewasaan berpikir sebagai jalan untuk menuntun sikap dan perilaku untuk mendorong manusia hdup itu pasti ada masalah, sehingga kita berpikir.</p>
<p>Oleh karena itu, baca dan renungkan agar tumbuh satu kekuatan perasaan bersyukur atas tuntunan agar kita mampu memanfaatkan kebiasaan berpikir yang sejalan dngan apa-apa yang diajarkan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 45 : 26”</strong> Katakanlah: &#8220;Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.</p>
<p><strong>QS. 45 : 35”</strong> Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 46 : 20</strong>” Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): &#8220;Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 53 : 29”</strong> Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.</p>
<p><strong> -30”</strong> Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.</p>
<p>Jadi dalam usaha meningkatkan kedewasaan berpikir, apa-apa yang kita baca dan kita renungkan dari setiap surat dan ayat diatas, akan mampu mendorong daya kemauan yang kuat dalam membayangkan kekuatan impian ingin tahu dari yang tidak tahu, maka terbukalah satu pikiran bahwa bukan penyesalan yang memerintah anda, oleh karena itu renungkan pula apa-apa yang terungkap dalam :</p>
<p><strong>QS. 57 : 20”</strong> Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 84 : 19</strong>” sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).</p>
<p><strong>QS. 87 : 16 </strong>“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. -<strong>17“</strong>Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal -<strong>18“</strong>Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,<strong>-19” </strong>(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.</p>
<p>Dengan mengungkit kekuatan ingatan melalui usaha untuk meningkatkan kedewasaan berpikir rohaniah, sosial, emosional dan intelektual, berarti ada satu usaha untuk memikirkan bahwa orang yang tidak pernah mengubah pikirannya berati tidak mampu menjadi orang yang sempurna yang sejalan dari tuntunan yang telah dibacanya, oleh karena</p>
<p>itu rubahlah pikiranmu dalam kedelapan yang menyebabkan muka dan jiwa bercahaya seperti yang terungkap dalam 1) kesehatan terjaga ; 2) kegembiraan ; 3) sinar pengetahuan ; 4) kesucian bathin ; 5) kekuatan keimanan ; 6) tidak banyak dosa ; 7) hidup optimis ; <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> berani dan sabar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>52. KEMULIAAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Untuk membayangkan menjadi orang besar, bukanlah suatu yang salah untuk dipikirkan, namun sesungguhnya hanyalah orang biasa yang semata-mata membuat keputusan yang lebih besar dan menetapkan tujuan yang mulia.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas maka manusia perlu untuk meningkatkan pemahaman kata dalam perjalanan hidup ini bahwa <strong>Mulia seperti yang diungkapkan dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 212”</strong> Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 26”</strong> Katakanlah: &#8220;Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 31”</strong> Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).</p>
<p>Begitu banyak dalam Al Qur’an yang mengungkapkan makna „mulia“, yang dapat anda temukan lebih lanjut dalam :</p>
<p><strong>QS. 8 : 4,74 ; 12 : 31 ; 17 : 23 ; 22 : 50 ; 23 : 116</strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 26,58 ; 27 : 34 ; 33 : 31,44 ; 34 : 4 ; 36 : 11</strong></p>
<p><strong>QS. 41 : 41 ; 43 : 44,81 ; 49 : 13 ; 50 : 1</strong></p>
<p><strong>QS. 56 : 7,8,77 ; 80 : 16</strong></p>
<p>Untuk memahami yang lebih mendalami maka dapat anda simak atas surat dan ayat diatas, cobalah untuk dibaca dan dipelajari dengan harapan bahwa keputusan hari ini mengenai hal diatas adalah kenyataan hari esok dalam pikiran anda.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dapatkah anda membayangkan bahwa rasa takut adalah pembicaraan pikiran yang menghalangi anda dalam mendengarkan intuisi anda, oleh karena itu jangan anda tinggalkan untuk memikirkan kemungkinan apa yang terungkap dalam pikiran bahwa  <strong>Dimuliakan dapat menjadi penggerak dalam menemukan jati diri  sebagai kekuatan dalam berikap dan berperilaku seperti yang terungkap dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 21 :26</strong>” Dan mereka berkata: &#8220;Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak&#8221;, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 24 : 36</strong>” Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,</p>
<p><strong>QS. 36 : 27”</strong> apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 37 : 42”</strong> yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan.</p>
<p>Jadi dengan mendalami makna surat dan ayat diatas, maka memikirkan kemungkinan untuk selalu berusaha dalam perjalanan hidup ini untuk mengingat apa yang terpikirkan seperti apa yang anda sabarkan, anda akan kutip hasilnya karena kesabaran menolong segala pekerjaan. Dalam kesusahan itu dan kesulitan itu tersembunyi nasehat-nasehat kebijaksanaan kedalam satu yang berharga.</p>
<p>Oleh karena itu, bangunlah sifat <strong>Kemulian sebagai satu kekuatan benih jiwa,</strong> dan ingatlah tuntunan seperti yang termuat dalam :</p>
<p><strong>QS. 21 : 10”</strong> Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 23 : 71</strong>” Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.</p>
<p><strong>QS. 35 : 10”</strong> Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi dengan merenung apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka bayangkan pula dalam suatu ingatan agar mampu mewujudkan dalam daya kemauan untuk mengamalkan, apa yang kita sebut <strong>Memuliakan sebagai sesuatu dorongan dalam membangun jati diri yang bertolak dari pemahaman ungkapan dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 157”</strong> (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur&#8217;an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong>QS. 17 : 62”</strong> Dia (iblis) berkata: &#8220;Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil&#8221;.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>,70”</strong> Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 22 : 18”</strong> Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.</p>
<p>Jadi apa-apa yang kita pelajari dan direnungkan kembali mengenai yang terungkap diatas dapat menjadi penuntun kedalam sikap dan perilaku yang terpuji.</p>
<p>Oleh karena itu, ingatlah bahwa apa yang bukan kepunyaan kita lebih menarik mata dari kepunyaan kita sendiri. Menariknya sesuatu itu  hanya menjelang dapat. Nafsu tidak mau penuh diberikan bumi, dia merasa selalu belum cukup, sehingga kuatkan dalam pikiran bahwa untuk memikirkan alat pertimbangan seperti 1) akal mengalahkan nafsu ; 2) iman mempertimbangkan perbuatan ; 3) kebenaran menumbangkan kekuasaan.</p>
<p>Jadi dengan mengingat alat petimbangan tersebut diatas, cobalah untuk mengingat kembali dan merenungkan untuk mewujudkan apa yang disebut dengan kekuatan dari<strong> Sifat hamba yang mendapat kemulian seperti yang terungkap dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 25 : 63”</strong> Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> &#8211; 75</strong>” Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,</p>
<p><strong>QS. 35 : 10 </strong>“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.</p>
<p>Dengan belajar dan merenungkan apa-apa yang dituntun oleh surat-surat dan ayat-ayat yang terungkap dari kata <strong>Mulia</strong>, <strong>Dimuliakan, Memuliakan, Kemuliaan </strong>agar menjadi satu kekuatan dalam perjalanan hidup ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>53. KEKAYAAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Menjalani hidup ini, dibutuhkan satu daya kemauan yang kuat untuk melihat segala sesuatu secara jernih dan dapat berpikir lebih dalam agar manusia mampu memanfaatkan sumber energi bagi penghidupan rohani.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, cobalah renungkan pula makna “<strong>Kekayaan” dalam pandangan hidup anda dengan hal-hal yang terungkap dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 247”</strong> Nabi mereka mengatakan kepada mereka: &#8220;Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu&#8221;. Mereka menjawab: &#8220;Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?&#8221; (Nabi mereka) berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.&#8221; Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahu<strong>i. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>,269”</strong> Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 18: 34” </strong>dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu&#8217;min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: &#8220;Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat&#8221;.</p>
<p>,<strong>42”</strong> Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu</p>
<p>roboh bersama para-paranya dan dia berkata: &#8220;Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari ungkapan yang tertuang dalam surat dan ayat diatas mampukah setelah membaca, mengkaji, meneliti, menterjemahkan kedalam  renungan menjadi daya dorong yang kuat agar kita mampu mengungkit daya ingat melihat hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri, maka sebagai tuntunan, renungkan pula apa-apa yang terungkap dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.19 : 77”</strong> Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: &#8220;Pasti aku akan diberi harta dan anak&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 76</strong>” Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: &#8220;Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 53 : 48”</strong> dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.</p>
<p><strong>QS. 93 : 8”</strong> Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.</p>
<p><strong>QS. 2 : 200”</strong> Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a: &#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia&#8221;, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -202”</strong> Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.</p>
<p>Jadi dengan mendalami makna tuntunan yang terungkap diatas, maka renungkan pula bahwa kekayaan yang paling terjamin dan paling baik ialah rasa puas dengan apa yang kita miliki, sejalan dengan pikiran tersebut, maka perdalamlah tuntunan yang diungkap dalam :</p>
<p><strong>QS. 3 : 10”</strong> Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,</p>
<p><strong>QS. 8 : 28”</strong> Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.</p>
<p><strong>QS. 8 : 36</strong>” Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,</p>
<p><strong>QS. 16 : 71”</strong> Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari ni`mat Allah?</p>
<p><strong>QS. 18 : 46”</strong> Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.</p>
<p>Sejalan dengan kemampuan kita memikirkan hal-hal yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka ada dorongan untuk mewujudkan daya kamauan yang kuat yang sejalan dengan tununan diatas untuk berusaha mengungkapkan bahwa yang anda pikirkan adalah kekayaan yang sebenarnya ialah mensyukuri yang telah kita miliki, Oleh karena itu, tingkatkan daya kemauan untuk mendalami dan memikirkan lebih tenang kedalam nafas ruhani  untuk meresakan kedamaian dengan ruhani yang hidup yang sejalan dengan tuntunan dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 28 : 76”</strong> Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: &#8220;Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri&#8221;.</p>
<p><strong> &#8211; 82”</strong> Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu. berkata: &#8220;Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni`mat Allah)&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 34 : 34</strong>” Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: &#8220;Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya<strong>&#8220;.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -37”</strong> Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang</p>
<p>memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).</p>
<p><strong>QS. 57 : 20”</strong> Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.</p>
<p><strong>QS. 74 : 6”</strong> dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.</p>
<p><strong>QS. 89 : 20”</strong> dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.</p>
<p><strong>QS. 92 : 14</strong>” Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.</p>
<p><strong>-21”</strong> Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.</p>
<p><strong>QS. 102 : 1”</strong> Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,</p>
<p><strong> -8</strong>” kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).</p>
<p><strong>QS. 104 : 1”</strong> Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -4</strong>” sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari kekuatan kita merenungkan apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat ditas, maka kebiasaan pikiran harus mampu melihat lebih jauh yang mampu untuk mengingatkan sesuatu sepeti kita membayangkan tiap-tiap bertambah keperluan manusia semakin kurang kesenangannya. Orang yang dipengaruhi nafsu tidak merasa puas walaupun dunia ini telah dimilikinya.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan landasan pikiran-piran yang kita utarakan diatas yang terkait dengan pemahamn kita mengenai kata „Kekayaan“ serta tuntunan yang diajarkan dalam Al Qur’an dengan mengungkapkan surat-surat dan ayat-ayat yang berkaitan dengan „Kekayaan“, maka kita dapat membayangkan bahwa paling kayalah anda yang puas dengan barang sedikit karena rasa puas adalah kekayaan alam.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, bayangkan dalam pikiran anda bahwa <strong>Kaya atau miskin sebagai ujian, jadi hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri,</strong> oleh karena itu belajarlah dari apa-apa yang terungkap dalam:</p>
<p><strong>QS. 89 : 15“</strong> Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: &#8220;Tuhanku telah memuliakanku&#8221;.</p>
<p>-<strong>17</strong>“ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,</p>
<p>Jadi belajar apa yang kita ungkapkan diatas, maka <strong>Orang kaya diuji dengan orang miskin</strong> seperti yang terungkap dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 48</strong>“ Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan</p>
<p>perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seandainya anda dapat membayangkan bahwa <strong>Allah-lah yang memberi kekayaan, seperti yang terungkap :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 53 : 48“</strong> dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bertolak dari surat-surat dan ayat-ayat dalam Al Qur’an yang telah  kita ungkapkan diatas, maka dalam usaha menghaluskan jalan menuju Allah Swt., maka ingatlah makna  <strong>Allah mahakaya seperti yang terungkap dalam :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 263“ </strong>Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.<strong> ,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>267“</strong> Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 97</strong>“ Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.</p>
<p><strong>QS. 4 : 131“</strong> Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan</p>
<p>kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong>QS. 6 : 133“</strong> Dan Tuhanmu Maha Kaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.</p>
<p><strong>QS 10 : 86“</strong> dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir.&#8221;</p>
<p><strong>QS. 22 : 64</strong>“ Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong>QS. 27 : 40“</strong> Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: &#8220;Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip&#8221;. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: &#8220;Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 29 : 6“</strong> Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.</p>
<p><strong>QS. 31 : 26“</strong> Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong>QS. 35 : 15“</strong> Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 47 : 38“</strong> Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).</p>
<p><strong>QS. 57 : 24“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.60 : 6</strong>“ Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi terpuji.</p>
<p><strong>QS. 64 : 6“</strong> Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan lalu mereka berkata: &#8220;Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?&#8221; lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p>Jadi usaha merasakan kedamaian dengan ruhani yang hidup berarti ada keinginan memberikan kekuatan daya ingat seperti kita heran manusia saban hari menyisir rambutnya tetapi tidak ada menyisir otaknya. Oleh karena itu, hindari menjadi tawanan setan dan tegakkan kekuatan untuk menjaga keintiman dengan Allah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=212&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2010/12/21/membangun-akhlak-bag-iii-kumpulan-kata-k/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sambungan 11. balas dendam</title>
		<link>http://sdmatr.wordpress.com/2010/11/28/sambungan-11-balas-dendam/</link>
		<comments>http://sdmatr.wordpress.com/2010/11/28/sambungan-11-balas-dendam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Nov 2010 14:56:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraatr2025</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdmatr.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[11. BALAS DENDAM Balas dendam merupakan salah satu cara syetan memasuki jiwa manusia  dan disinilah manusia dengan tingkat kesadaran inderawi sangat mudah terumbang ambing karena ia tidak mampu dalam kesiapan dan wajib memerangi syetan. Bila manusia secara sadar membangun kebiasaan yang produktif, maka manusia tersebut memiliki kekuatan jiwa untuk melepaskan diri dari „balas dendam“  sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=208&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>11. BALAS DENDAM</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Balas dendam merupakan salah satu cara syetan memasuki jiwa manusia  dan disinilah manusia dengan tingkat kesadaran inderawi sangat mudah terumbang ambing karena ia tidak mampu dalam kesiapan dan wajib memerangi syetan.</p>
<p>Bila manusia secara sadar membangun kebiasaan yang produktif, maka manusia tersebut memiliki kekuatan jiwa untuk melepaskan diri dari „balas dendam“  sebagai sikap dan perilaku sebagai manusia yang tidak beriman.</p>
<p>Sejalan dengan ungkapan pemikiran diatas, maka marilah kita menghayati untuk berbuat sesuatu dalam usaha menemukan tentang diri sendiri agar kita selalu dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Oleh karena itu simaklah ungkapan mengenai „balas“ dibawah ini:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Balasan Allah kepada orang yang berbuat baik </strong></p>
<p><strong>SQ. 76 : 5“</strong> Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.</p>
<p><strong>SQ. 76 : 6“</strong>Ia bertanya: &#8220;Bilakah hari kiamat itu?&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Balasan masing-masing tergantung amalnya </strong></p>
<p><strong>SQ. 46 : 19”</strong> Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.</p>
<p><strong>SQ.47 : 4”</strong> Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.</p>
<p><strong>Balasan perbuatan buruk adalah buruk </strong></p>
<p><strong>SQ. 6 : 160”</strong> Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).</p>
<p><strong>SQ. 10 : 27”</strong> Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.</p>
<p><strong>Balasan  terhadap segala perbuatan manusia </strong></p>
<p><strong>SQ. 82 : 13”</strong> Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh keni&#8217;matan,</p>
<p><strong>SQ 82 : 14”</strong> dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.</p>
<p><strong>SQ. 82 : 15”</strong> Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.</p>
<p><strong>SQ. 82 : 16”</strong> Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Balas SQ. 2 : 15“</strong> Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.</p>
<p><strong>QS. 3 : 4“</strong>Sebelum (Al Qur&#8217;an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 86“</strong> Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.</p>
<p><strong>QS. 5 : 29“</strong> &#8220;Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.&#8221;</p>
<p><strong>QS. 6 : 10“</strong> Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (`azab) olok-olokan mereka.</p>
<p><strong>QS. 7 : 41“</strong> Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>Membalas penganiayaan </strong></p>
<p><strong>SQ. 22 : 60“</strong> Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.</p>
<p><strong>Memaafkan lebih baik dibanding membalas</strong></p>
<p><strong> SQ. 42 : 40”</strong> Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>SQ. 42 : 43”</strong> Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.</p>
<p>Dari surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas memberikan petunjuk untuk membuka mata hati agar sebagai manusia dapat memahami sikap dan perbuatan yang terkait dengan aktualisasi dari makna “balasan” ; “dibalas”, “membalas”.</p>
<p>Sejalan dengan pemahaman dari surat dan ayat tersebut diatas, maka bukalah mata hati yang terkait dengan makna “Dendam” seperti yang tertuang dalam surat dan ayat  yang mengungkapkan bahwa</p>
<p><strong>“ Tuhan lenyapkan rasa dendam bagi yang di surga</strong></p>
<p><strong>SQ. 15 : 47”</strong> Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Balas dendam suatu penyakit yang membutakan mata hati manusia yang tidak beriman, maka disitulah pintu masuk cara syetan memasuki jiwa manusia.</p>
<p>Oleh karena itu wajib bagi manusia untuk melawannya.karena 1) sebab syetan merupakan musuh yang nyata bagi manusia yang beriman kepada Allah, sehingga syetan menghendaki manusia jatuh ke lembah kemaksiatan ; 2) kita diharuskan memusuhi syetan karena syetan memang sejak dilahirkan sudah bertabiat memusuhi kita.</p>
<p>Yang menjadi persoalan, bagaimana manusia meretas jalan menjadi diri sendiri, maka disinilah letak kekuatan keinginan dengan niat yang tulus sebagai bagian dari usaha untuk membangun kebiasaan yang produktif selain penguasaan ilmu dan keterampilan yang mampu memberikan daya dorong jiwa tanpa topeng kepalsuan.</p>
<p>Dengan perubahan cara pandang menjalani hidup ini diharapkan secara bertahap mengubah kesadaran inderawi ke tingkat yang lebih tinggi yang kita sebut ketahap kesadaran rasional menuju ke kesadaran rohaniah dalam usaha menuju perjalanan hidup yang abadi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi ingatlah selalu dalam membentuk kekuatan kemauan yang kuat untuk berubah sejalan dengan tuntunan ajaran sebagai pngakuan kita memeluk agama islam sebagai pegangan hidup ini, maka disitulah terletak kemampuan kita untuk mengamalkannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>12. BERBANTAH-BANTAHAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Manusia dengan kebiasaan menggerakkan kekuatan pikiran yang negatif sangat mudah mempengaruhi dalam proses berpikir, sehingga kebiasaan dalam sifat berbantah-bantahan sudah menjadi kebiasaan, oleh karena itu cobalah renungkan surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 188</strong>” Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.</p>
<p><strong>SQ. 4 : 29”</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.</p>
<p><strong>SQ. 4 : 59”</strong> Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.</p>
<p>Bertolak dari landasan pengungkapan surat dan ayat diatas, maka renungkan hal-hal yang kita ungkapkan mengenai hal-hal yang terkait dengan :</p>
<p><strong>Manusia suka membantah</strong></p>
<p><strong>SQ. 16 : 4“</strong> Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.</p>
<p><strong>SQ. 18 : 54“</strong> Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur&#8217;an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.</p>
<p><strong>SQ. 36 : 77</strong>“ Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!</p>
<p><strong>Cara Nabi Ibrahim membantah penyembah berhala</strong></p>
<p><strong>SQ. 37 : 91”</strong> Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: &#8220;Apakah kamu tidak makan?</p>
<p><strong>-96”</strong> Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu&#8221;.</p>
<p><strong>Larangan berbahtah-bantahan</strong></p>
<p><strong>SQ. 8 : 46</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bantahan / celaan terhadap orang kafir yang merasa sama dengan orang islam</strong></p>
<p><strong>SQ. 68 : 35 – 43</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bantahan / celaan terhadap kepercayaan syirik</strong></p>
<p><strong>SQ. 27 : 60”</strong> Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).</p>
<p><strong>-66”</strong> Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 30 : 35”</strong> Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan?</p>
<p><strong>-40”</strong> Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.</p>
<p><strong>SQ. 31 : 10”</strong> Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.</p>
<p><strong>-11”</strong> Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 34 : 22”</strong> Katakanlah: &#8220;Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-27”</strong> Katakanlah: &#8220;Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu (Nya), sekali-kali tidak mungkin! Sebenarnya Dia-lah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221;.</p>
<p><strong>SQ. 35 : 13”</strong> Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-14”</strong> Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.  ;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>40”</strong> Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-41”</strong> Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.</p>
<p><strong>SQ. 39 : 38”</strong> Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: &#8220;Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?&#8221;, niscaya mereka menjawab: &#8220;Allah&#8221;. Katakanlah: &#8220;Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: &#8220;Cukuplah Allah bagiku&#8221;. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-40”</strong> siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakannya dan lagi ditimpa oleh azab yang kekal&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>64”</strong> Katakanlah: &#8220;Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?&#8221;<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-66”</strong> Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 41 : 9</strong>” Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> -47</strong>” Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari Tuhan memanggil mereka: &#8220;Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?&#8221;; mereka menjawab: &#8220;Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)&#8221;.</p>
<p><strong>-48</strong>” Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka sesuatu jalan keluarpun<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 42 : 9”</strong>Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah Pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-21”</strong>Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.</p>
<p><strong>SQ. 43 : 45”</strong>Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: &#8220;Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-86”</strong>Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya).</p>
<p><strong>-89”</strong>Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: &#8220;Salam (selamat tinggal).&#8221; Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).</p>
<p><strong>Bantahan/celaan terhadap yang meremehkan Al-Qur’an</strong></p>
<p><strong>SQ. 56 : 81</strong>” Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur&#8217;an ini?,</p>
<p><strong>-87</strong>” Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?,</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan memperhatikan ungkapan-ungkapan seperti yang termuat dalam surat dan ayat diatas, bila kita renungkan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi pendorong agar kita mampu membangkitkan kemampuan untuk merubah dari kekuatan berpikir negatif menjadi berpikir positif.</p>
<p>Sebaliknya bila daya kemauan tidak kuat akan sangat mudah kesadaran inderawi mendorong manusia dituntun oleh kekuatan syetan sehingga dengan mudah mempengaruhi jiwa yang selalu ingin mempengaruhi kebiasaan dalam bersikap dan berperilaku yang mengarah kepada kebiasaan untuk selalu mengungkap pikiran yang bersifat berbantah-bantahan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>13. CITA-CITA</strong></p>
<p>Bertitik tolak dari pemikiran, apa arti keberadaannya hidup di dunia sebagai mahluk yang paling mulia diciptakan, maka manusia dikatakan sebagai khalifah di muka bumi. Sejalan dengan kemampuan menggerakkan kekuatan pikiran sebagai manusia yang beriman, maka cita-cita bagaimana menjadi orang yang bertakwa dicintai di dunia dan sukses di akhirat.</p>
<p>Manusia dengan kesadaran yang rendah, disebut juga sebagai kesadaran inderawi, maka mereka beranggapan dunia ini sebagai segala-galanya dalam menjalani hidup ini sehingga menjadikan sebagai pusat segala tujuan dan cita-cita.</p>
<p>Pandangan cita-cita hidup bahwa dunia adalah segala-galanya akan menuntun kedalam sikap dan perilaku yang tidak memiliki kebiasaan yang produktif karena setiap mereka melangkah dengan kesadaran inderawi mendorong pola hidupnya yang sangat meterialistik yang berdampak dengan maksud dn tujuan hidupnya bukan untuk mencari keridhaan Sang Penciptanya.</p>
<p>Untuk mengingat manusia sebagai mahluk yan paling mulia di mata Allah Swt, maka dalam menempatkan cita-cita dalam hidup ini, maka berpegang teguhlah untuk membangun dalam hidup ini pada ajaran yang diyakini oleh yang bersangkutan, oleh karena itu cobalah anda untuk merenung mengenai</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>„Cita-cita manusia tidak mungkin seluruhnya tercapai“ yang dimuat :</strong></p>
<p><strong>QS. 53 : 24”</strong> Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?</p>
<p><strong>QS. 53 : 25”</strong> (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.</p>
<p><strong>Cita-cita orang yang cinta dunia</strong></p>
<p><strong>SQ. 28 : 79</strong></p>
<p>Dengan merenung makna yang tercantum dalam surat dan ayat diatas, maka manusia dengan kekuatan sikap dalam kebiasaan yang produktif (ilmu, keterampilan, keinginan) akan menuntun jiwa manusia, oleh karena itu ingatlah selalu ungkapan “mungkin saya tak dapat mengubah dunia yang saya lihat di sekeliling saya, tetapi saya dapat mengubah cara saya memandang dunia di dalam diri saya”</p>
<p>Sejalan dengan ungkapan diatas, maka cobalah kita merenung kembali, apa yang diungkapkan dalam : “Cita-cita orang yang cinta dunia QS. 28 : 79” Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: &#8220;Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar&#8221;.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Manusia yang beriman akan selalu dapat menuntun “cita-cita:” dengan meningkatkan kebiasaan yang produktif, oleh karena itu jangan cemas menghadapi masa depan sepanjang kita dapat mengenal “realitas hidup” artinya bila manusia tak mencari kehidupannya sendiri, ia akan selalu mengeluh miskin dan mencela saudaranya.</p>
<p>Jadi dengan kekuatan sikap anda menentukan perbuatan anda, berarti perbuatan anda akan menentukan prestasi anda, maka sukses anda terletak pula pada anda mengenal diri sendiri, maka disitulah anda akan dekat dengan Sang Pencipta-Nya.<span id="more-208"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>14. DENGKI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seandainya anda menyadari arti keberadaan di bumi, maka anda menyadari sepenuhnya bahwa manusia memiliki potensi positip dan potensi negatip, yang menjadi seberapa jauh setiap anda mampu membina potensi positip dalam rangka membangun kebiasaan yang produktif agar selalu dapat mengelola potensi negatip.</p>
<p>Salah satu potensi negatip manusia adalah akhlak tercela yang kita sebut dengan “dengki”, oleh karena itu bila kita merenungkan menjadi kekuatan sikap yang dapat menuntun manusia dengan memahami apa yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 90 “</strong>Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.</p>
<p><strong>QS. 2 : 109”</strong> Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p><strong>QS. 2 : 213”</strong> Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.</p>
<p><strong>QS. 4 : 54”</strong> ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.</p>
<p><strong>-55“</strong>Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.”</p>
<p>Dengan menghayati hal-hal yang terungkap dibawah ini, diharapkan manusia menjadi lebih dapat mendorong kekuatan pikiran ke jalan yang benar :</p>
<p>„Sikap orang yahudi terhadap para Rasul dan kitab-kitab yang dituunkan Allah.</p>
<p>“Menasakhkan sesuatu ayat adalah urusan Allah</p>
<p>“Hihmak diutusnya para Rasul dan pelbagai cobaan bagi para pengikutnya.</p>
<p>“Orang-orang yang tidak suci batinnya dan ancaman Tuhan Allah terhadap mereka</p>
<p>“Semua Rasul  mengajak untuk menymba kepada Allah Yang Maha Esa</p>
<p>Jadi tidak ada kecemasan masa depan bila manusia menurut atas perintah yang telah digariskan dan sejalan dengan itu, coba renungkan pula surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS.42 : 14”</strong> Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.</p>
<p><strong>QS. 45 : 17”</strong> Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.</p>
<p><strong>QS. 47 : 29”</strong> Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?</p>
<p><strong>QS. 47 : 37”</strong> Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.</p>
<p><strong>QS. 48 : 15”</strong> Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: &#8220;Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: &#8220;Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami: demikian Allah telah menetapkan sebelumnya&#8221;; mereka akan mengatakan: &#8220;Sebenarnya kamu dengki kepada kami&#8221;. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.</p>
<p><strong>QS. 59 : 10”</strong> Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: &#8220;Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 113 : 5”</strong> dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki&#8221;.</p>
<p>Dengan merenung surat dan ayat yang diungkapkan diatas, diharapkan dapat menggugah kekuatan pikiran, untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan :</p>
<ul>
<li>Bani Israil mengingkari kerasulan Muhammad sesudah mereka mengetahui bukti-bukti kebenarannya</li>
<li>Ancaman terhadap orang-orang munafik dan orang-orang murtad</li>
<li>Celaan terhadap orang-orang yang takut berperang</li>
<li>Hukum fai-I (harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran</li>
<li>Dengan menyebut nama Alah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”</li>
</ul>
<p>Sejenak bila kita merenungkan hal-hal yang disebut diatas diharapkan menjadi daya dorong dalam usaha meretas jalan menemukan tentang diri kita sendiri bahwa „dengki“ sebagai potensi negatip tumbuh dan berkembang dari pembawahaan manusia yang tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmt yang ditumbuhkan karena prasangka, hasud, memamerkan diri dsb.</p>
<p>Dengan pemahaman kita seperti yang diajarkan tersebut diatas, manusia harus memiliki jiwa tanpa topeng kepalsuan menjalani hidup ini, dimana amalan lahir dan amalan bathin yang jalan seiring akan dapat merubah sikap dan perilaku mansia yang akan selalu tertuntun dalam usaha meningkatkan kebiasaan yang produktif, oleh karena itu bangkitkan daya pikir anda.</p>
<p>Sejalan dengan pemikiran diatas, maka dengan kekuatan pikiran manusia harus mampu menutup pintu dan tidak memberi celah masuknya syetan untuk selalu menggoyahkan betapa pentingnya hidup ini sebagai manusia yang beriman. Oleh karena itu, agar tidak cemaskan menghadapi masa depan, manausia harus sadar menghindari potensi negatif berupa „dengki“ yang menjadi pendorong akhlak tercela, maka cobalah kembali merenung surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p>Ungkapan Dengki terhadap Muslim seperti yang termuat dalam QS. 3 : 120 “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.</p>
<p><strong>Ungkapan Rasa dengki menyebabkan ingkar terhadap Al-Qur’an dalam</strong> <strong>QS. 2 : 90”</strong> Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.</p>
<p><strong>Berlindung dari sikap dengki</strong></p>
<p><strong> QS. 113 : 1-5“</strong> Katakanlah: &#8220;Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh (2) dari kejahatan makhluk-Nya, (3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (4) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, (5) dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki&#8221;.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dengki salah satu penyakit kedalam potensi negatip manusia, oleh karena itu dengan membangun kebiasaan yang produktif, manusia merasakan arti hidup untuk mengaktualisasi amalan lahir dan amalan bathin dalam rangka membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan.</p>
<p>Usaha untuk meretas jalan menemukan tentang diri, dimulai dari pemahaman manusia itu sendiri betapa pentingnya membina akhlak yang tidak tercela, hal ini hanya terbentuk dari usaha mengasah kebiasaan untuk mengelola potensi positip manusia, tanpa kesadaran untuk terus menerus mengembangkan kekuatan pikiran dalam mewujudkan sebagai manusia yang beriman, maka tidak jarang potensi negatip yang selalu menuntun anda.</p>
<p>Oleh karena itu untuk menutup rapat godaan syetan, maka diperlukan usaha-usaha yang secara terus menerus jangan memberikan peluang godaan syetan untuk menumbuh kembangkan „dengki“ menjadi suatu penyakit jiwa, maka hindarilah tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat sehingga anda berusaha dalam pikiran anda berusaha untuk menghilangkan yang telah diperoleh orang lain, untuk itu perlu usaha anda meretas jalan menemukan diri kita sendiri dengan menghayati surat dan ayat yang telah kita ungkapakan diatas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>15. DUSTA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kekuatan pikiran menuntun manusia membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dan oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari kita harus membiasakan diri untuk berkata dan berbuat jujur, sebab jika tidak berarti kita mendaftarkan diri untuk jadi munafiq.</p>
<p>Inilah satu kenyataan bahwa keberhasilan adalah suatu perjalanan bukan tujuan dan oleh karena itu sikap dan perilaku sebagai manusia harus mampu untuk tidak membuka pintu menjadi manusia yang memiliki potensi negatip yang kita sebut dengan “dusta”</p>
<p>Jadi untuk dapat meretas jalan dalam usaha menemukan diri agar keyakinan, konsentrasi menjadi kekuatan dalam membangun kebiasaan yang produktif, diperlukan tuntunan yang dapat menjadi motivasi yang kuat dalam membentuk kepribadian yang beriman, oleh karena itu, sebagai muslim hanya dengan menghayati surat dan ayat yang kita ungkapkan dibawah ini menjadi pemicu manusia untuk mengingatkan dirinya :</p>
<p><strong>QS. 3 : 11”</strong> (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir`aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. ,</p>
<p><strong>QS. 3 :19”</strong> Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” , 21,22, 23, 24, 61, 75, 78, 94, 137, 184,</p>
<p><strong>QS. 4 : 28”</strong> Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.“  50, 77, 156</p>
<p><strong>QS. 5 : 10</strong>” Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.“, 70, 86, 103</p>
<p><strong>QS. 6 : 4”</strong> Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya).“, 5, 11, 21, 24, 27, 31, 33, 34, 39, 49, 57, 66, 93, 116, 144,</p>
<p>Apa yang dapat kita petik setelah kita renungkan dari ungkapan dari surat dan ayat diatas adalah untuk mengingat dan menemukan diri sebagai suatu keyakinan bahwa betapa pentingnya kita untuk mendalami perintah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi, oleh karena itu hal-hal yang disebut dibawah ini :</p>
<ul>
<li>Ancaman Allah kepada orang-orang kafir dan pengaruh harta benda duiniawi.</li>
<li>Pernyataan Allah tentang keesaan dan keadilan-Nya serta agama yang di di ridai-Nya.</li>
<li>Beberapa hukum perkawinan</li>
<li>Kewajiban berlaku adil dan jujur</li>
<li>Sebab-sebab kekafiran kaum musyirikan dan ancaman terhadap mereka</li>
</ul>
<p>Jadi dengan mendalami makna ungkapan diatas yang harus kita yakini diharapkan menjadi suatu kekuatan pikiran yang harus dibina secara berkesinambungan unntuk mengingatkan kita dalam mengaktualisasikan arti keberadaan manusia dalam bersikap dan berperilaku.</p>
<p>Sejalan dengan ungkapan diatas, marilah kita merenung kembali apa-apa yang digariskan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 7 : 37”</strong> Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: &#8220;Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?&#8221; Orang-orang musyrik itu menjawab: &#8220;Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,&#8221; dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.</p>
<p><strong>QS. 9 : 42”</strong> Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: &#8220;Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu&#8221; Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.</p>
<p><strong>QS. 11 : 18”</strong> Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: &#8220;Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka&#8221;. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 12 : 26</strong>”Yusuf berkata: &#8220;Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)&#8221;, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: &#8220;Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.</p>
<p><strong>QS. 14 : 3”</strong> (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.</p>
<p>Dari surat dan ayat yang disebutkan diatas, maka apapun yang terungkap dari pemahaman kita dalam mendalami hal-hal yang terkait dibawah ini memberikan suatu kekuatan dalam perjalanan hidup ini, yang terus dibina menjadi suatu kebiasaan yang mengikat dalam keyakinan dalam :</p>
<ul>
<li>Pengutusan para Rasul dan akibat penerimaan dan penolakan kerasulan</li>
<li>Perintah untuk berjihad</li>
<li>Kebenaran wahyu</li>
<li>Yusuf mendapat godaan</li>
<li>Al Quran menunjuki semua umat manusia ke jalan yang terang.</li>
</ul>
<p>Dengan selalu mengingat ungkapan diatas diharapkan manusia akan selalu mau untuk mengerti apa arti hidup ini, sejalan dengan itu untuk meningkatkan daya dorong dalam usaha-usaha untuk mengenal diri, maka kita lanjutkan dalam penghayatan mengenai surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 16 : 116”</strong> Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta &#8220;Ini halal dan ini haram&#8221;, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.</p>
<p><strong>QS. 18 : 5“</strong> Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.</p>
<p><strong>QS. 22 : 30“</strong> Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.</p>
<p><strong>QS. 24 : 16“</strong> Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: &#8220;Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.&#8221;</p>
<p><strong>QS. 25 : 3“</strong> Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa`atanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.</p>
<p>Dari surat dan ayat diatas, maka manusia dalam usaha membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan diperlukan untuk mengaktualisasikan kedalam sikap dan perilaku mengenai pemahaman kita atas makna yang terungkap dibawah ini :</p>
<ul>
<li>Makanan yang halal dan haram</li>
<li>Ancaman terhadap kepercayaan tuhan punya anak</li>
<li>Haji, manasiknya dan syi’arnya</li>
<li>Tuduhan yang bohong terhadap Aisyah r.a. Ummul Mu’minim</li>
<li>Kekuasaan Allah dan keharmonisan ciptaannya</li>
</ul>
<p>Jadi dengan pemahaman ungkapan diatas, manusia harus terus memupuk kesucian hatinya agar supaya tertuntun ke jalan yang benar, oleh karena itu manusia harus terus menggugah kekuatan pikiran melalui surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 29 : 3“</strong> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.“, 17“ Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.</p>
<p><strong>QS. 38 : 7“</strong> Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (meng-esakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,</p>
<p><strong>QS. 42 : 24“</strong> Bahkan mereka mengatakan: &#8220;Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah&#8221;. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Qur&#8217;an). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.</p>
<p><strong>QS. 43 : 25“</strong> Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.</p>
<p><strong>QS. 45 : 7“</strong> Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa,</p>
<p>Dengan memupuk kesucian jiwa akan lebih mempertebal keyakinan dalam hidup ini melalui pemahaman kita atas surat dan ayat tersebut diatas dalam :</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Cobaan itu adalah perlu</li>
<li>Musuh para nabi akan hancur</li>
<li>Allah memberikan pembalasan kepada amal seseorang menurut niatnya</li>
<li>Keingkaran kaum musyrikin hanyalah karena berpegang teguh kepada tradisi lama.</li>
<li>Kecelakaan bagi orang yang mendustakan wahyu</li>
</ul>
<p>Akan lebih yakin lagi kita untuk dapat meretas jalan menuju penemuan diri dari pemahaman kita atas makna yang terungkap diatas, tapi yang menjadi masalah mengapa dalam hidup ini kita mudah untuk diombang ambingkan oleh permainan hawa nafsu dari potensi manusia yang negatip. Oleh karena itu diperlukan usaha membentuk suatu kepribadian yang utuh dalam satu keyakinan, sehingga dalam hal ini perlu kita merenung kembali surat dan ayat dibawah ini:</p>
<p><strong>QS. 46 : 11“</strong> Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: &#8220;Kalau sekiranya dia (Al Qur&#8217;an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: &#8220;Ini adalah dusta yang lama&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 53 : 11“</strong> Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.</p>
<p><strong>QS. 54 : 9“</strong> Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: &#8220;Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman&#8221;., 18, 25, 33</p>
<p><strong>QS. 58 : 2“</strong> Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.</p>
<p>Jadi manusia tidak akan pernah lepas dari godaan syetan, oleh karena itu dengan mendalami surat dan ayat diatas menjadikan kita memiliki kekuatan pikiran menghadapi perjalanan hidup ini dengan menumbuhkan keyakinan diri  melalui pemahamn  surat dan ayat diatas menjadi usaha untuk selalu menumbuhkan kesucian jiwa melalui ungkapan dibawah ini.</p>
<ul>
<li>Kebenaran tauhid dan kebatilan syirik.</li>
<li>Tuhan bersumpah bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. adalah benar.</li>
<li>Berita kehancuran musuh Nabi Muhammad s.a.w.</li>
<li>Hukum zhihar (catatan : sebabnya turun ayat ini adalah berhubungan dengan persoalan seorang wanita yang bernama Khaulah binti Tsa’labah yang telah zhihar oleh suaminya Aus bin Shamit, yaitu dengan mengatakan kepada istrinya &#8230;&#8230;.)</li>
</ul>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dusta merupakan kebiasaan sebagai potensi negatip pada diri manusia, oleh karena itu manusia harus berdoa melepaskan diri dari godaan syetan dengan meletakkan landasan yang kuat dalam kekuatan pikiran manusia bahwa kita harus menjadikan Qur’an Dan Sunnah Rasul sebagai pedoman agar kita selamat untuk meretas jalan menemukan tentang diri sendiri agar kita dekat dengan Sang Pencipta.</p>
<p>Oleh karena itu, hidup ini penuh dengan tantangan dan cobaan bagi manusia yang ilmu dan agamanya dengan tingkat kedewasaan yang tinggi akan selalu menghadapi persoalan tersebut, sehingga dengan membangun terus menerus kbiasaan yang produktif maka yang bersangkutan akan mendapatkan nur cahaya dimana mata hatinya terus terbuka untuk selalu melindungi jiwanya.</p>
<p>Yang menjadi masalah kita dalam bersikap dan berperliku harus mampu menempatkan dusta dalam potensi manusia yang positip disinilah letak kemampuan kekuatan berpikir agar kita mampu dusta bukan dijadikan menjadi kebiasaan berbohong karena kita prcaya ada pula berbohong dalam arti positip yang menggugah jiwa kemanusiaan kita demi untuk kepentingan yang mulia dan diterima disisi Allah Swt.</p>
<p>Jadi dusta dalam potensi manusia yang positip hanya dapat ditata dengan ilmu pengetahuan, baik berkaitan dengan masalah kedewasaan rohaniah, sosial, emosi dan intelektual yang dapat menuntun jalan keselamatan dunia dan akhirat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>16. ENGGAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Enggan juga merupakan salah satu dari potensi negatip manusia, yang berarti tidak sudi terhadap sesuatu dan biasanya banyak jawab serta alasannya. Oleh karena itu, bila benih itu dibiarkan dalam jiwa manusia, maka sangat sulit untuk mencegahnya.</p>
<p>Untuk mencegahnya diperlukan kemampuan untuk mendorong dari kekuatan pikiran menjadi menghindarinya untuk tidak tumbuh dan berkembang penyakit „enggan“ dalam kebiasaan hidup yang kita jalani. Untuk membangun kebiasaan kedalam usaha untuk menghindarinya, maka sejalan dengan keyakinan anda, dibawah ini diungkapkan surat dan ayat yang terkait dengan pemahaman mengenai „enggan“ sebagai berikut :</p>
<p><strong>Enggan mengagungkan Allah</strong></p>
<p><strong> QS. 39 : 67”</strong> Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.</p>
<p><strong>Enggan mendorong orang untuk memberi makan orang miskin</strong></p>
<p><strong> QS. 69 : 34”</strong> Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.</p>
<p><strong>QS. 89 : 18”</strong> dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,</p>
<p><strong>QS. 107 : 3”</strong> dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.</p>
<p><strong>Enggan menggunakan hati, mata dan telingan</strong></p>
<p><strong> QS. 7 : 79“</strong> Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: &#8220;Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat&#8221;.</p>
<p><strong>Enggan beriman kepada Al-Qur’an</strong></p>
<p><strong> QS. 16 : 104“</strong> Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur&#8217;an) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. – 105” Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.</p>
<p><strong>Alasan enggan berinfak </strong></p>
<p><strong>QS. 36 : 47“</strong> Dan apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Nafkahkanlah sebahagian dari rezki yang diberikan Allah kepadamu&#8221;, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: &#8220;Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata&#8221;.</p>
<p><strong>Yang enggan shalat </strong></p>
<p><strong>QS. 75 : 31”</strong> Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat.</p>
<p><strong>Yang dipastikan enggan beriman</strong></p>
<p><strong> QS. 48 : 13“</strong> Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.</p>
<p><strong>QS. 57 : 8”</strong> Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 84 : 16”</strong> Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, 17” dan dengan malam dan apa yang diselubunginya,18” dan dengan bulan apabila jadi purnama, 19” dan dengan bulan apabila jadi purnama, 20” Mengapa mereka tidak mau beriman?, 21” Dan apabila Al Qur&#8217;an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, 22” bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya), 23” Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).-24” Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Celaan terhadap yang enggan beribadah</strong></p>
<p><strong> QS. 41 : 38”</strong> Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.</p>
<p><strong>Celaan terhadap yang enggan berinfak </strong></p>
<p><strong>QS. 57 : 10”</strong> Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>Celaan terhadap yang enggan bersyukur </strong></p>
<p><strong>QS. 36 : 35”</strong> supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?</p>
<p><strong>QS.36 : 73”</strong> Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?</p>
<p><strong>Penyesalan orang yang enggan berinfak </strong></p>
<p><strong>QS. 63 : 10”</strong> Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: &#8220;Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?&#8221;</p>
<p>Seluruh surat dan ayat tersebut diatas dengan sangat jelas mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan makna „Enggan“ yang diajarkan kepada manusia yang mengaku sebagai muslim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bagi manusia yang mengaku beriman, maka ungkapan yang dimuat dalam surat dan ayat yang dikemukakan diatas, cukup jelas bagi seseorang dapat dikatakan beriman, apabila mempercayai pokok-pokok kepercayaan dalam agama islam yang disertai kepatuhan dan penyerahan jiwa untuk melakukan hal-hal yang diwajibkan serta meninggalkan hal-hal yang terlarang.</p>
<p>Oleh karena itu, bangunlah kebiasaan seperti seekor burung dalam membangkitkan semangat jangan cemas menghadapi masa depan sepanjang kita mengerti arti keberadaan dalam hidup ini.Jadi kita harus dapat memerangi bujukan syetan.</p>
<p>Dengan demikian tingkatkan pemahaman ungkapan dalam surat dan ayat yang telah ditunjuk untuk mendorong kekuatan pikiran dalam wujud meningkatkan tawakal artinya dari pesan-pesan yang mendorong untuk menghindari „enggan“ menjadi penyerahan diri secara bulat kpada Allah, jasmani maupun rohani, dengan diiringi mengikuti segenap petunjuk dan aturan-Nya dalam seluruh ikhwal kehidupan kita serta ridha dan ikhlas terhadap putusan dan kebijaksanaan-Nya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jadi Allah sudah memberikan aturan-aturannya dan kita tinggal memiliki daya kemauan mengambilnya untuk kemudian kita laksanakan sesuai dengan yang dikehendakinya, inilah sikap hubungan hamba dengan Tuhan.</p>
<p>Sebaliknya hubungan dengan manusia, maka “enggan” sangat bergantung dari akibat atas perbuatan tersebut, sehingga bila enggan menjadi kita manusia yang tidak bermoral seperti menolak ajakan untuk berjudi, haruslah makna enggan  ditafsirkan untuk menyesuaikan dengan keadaan yang tiak boleh bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>17. EGOIS, KIKIR</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Egois, Kikir juga termasuk suatu penyakit jiwa berarti munusia yang memetingkan diri sendiri disinilah letak jiwa dengan topeng kepalsuan. Manusia mengetahui tentang dirinya tapi ia tidak bisa keluar dari kebiasaan hidupnya, maka disitulah letak ketidak kemampuannya untuk membuat keseimbangan dalam kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual sebagai akibat kelumpuhan mental akaibat mengikuti kebiasaan orang lain sehingga sangat sulit merubah kebiasaan mencegah menjadi usaha dari kekuatan pikiran menjadi menghindari.</p>
<p>Setiap manusia memiliki kemampuan merubah egois dari potensi negatip manusia menjadi potensi positip melalui kekuatan gerakan jiwa dengan membangun kembali untuk keluar dari kemalasan mental artinya malas untuk menggerakan kemampuan berpikir, oleh karena itu cobalah anda untuk merenung sejenak makna yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 5 : 105”</strong> Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 4 :37”</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.,</p>
<p><strong>QS.4 :128“</strong> Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 9 : 76”</strong> Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).</p>
<p><strong>QS. 17 : 100”</strong> Katakanlah: &#8220;Kalau seandainya kamu menguasai khazanah rahmat Tuhanku, niscaya khazanah itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya&#8221;. Dan adalah manusia itu sangat kikir.</p>
<p>Bertolak dari pemahaman kita dalam menghayati makna dari surat dan ayat diatas, mencoba untuk membangkatkan kembali kekuatan pikiran agar ungkapan yang kita kemukakan dibawah ini dapat menjadi pendorong yaitu :</p>
<ul>
<li>Larangan bertanya tentng hal yang menyebabkan kemudharatan</li>
<li>Kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia</li>
<li>Keharusan membrikan hak-hak orang yang lemah dan cara menyelesaikan kesulitan rumah tangga.</li>
<li>Ikrar orang munafik tak dapat dipercaya</li>
<li>Keingkaran orang-orang kafir dan bertahan terhadapnya.</li>
</ul>
<p>Dengan menggerakan kekuatan berpikir dari makna yang kita ungkapkan diatas, bahwa kita yakin mampu untuk keluar dari „kemalasan berpikir“ karena kita dapat membangkitan kekuatan berpikir dengan hati yang disebut dengan menghayati, untuk melahirkan suatu kesadran dalam berpikir. Sejalan dengan itu kita tingkatkan kesadaran dengan merenung terhadap surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 25 : 67”</strong> Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.</p>
<p><strong>QS. 47 : 37”</strong> Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu., 38“ Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>QS. 57 : 24“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong>QS.59 : 9“</strong> Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong>QS. 64 : 16“</strong> Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung</p>
<p>Dengan menghayati hal-hal yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka manusia dapat menangkap makna yang terungkap dibawah ini menjadi kekuatan daya dorong untuk mengungkapkan kekuatan berpikir</p>
<ul>
<li>Perintah Tuhan kepada Musa a.s. untuk menyelamatkan Bani Israil dari Fir’aun dan pembinaan Fir’aun.</li>
<li>Ancaman terhadap orang-orang munafik dan orang-orang murtad.</li>
<li>Segala sesuatu pada hakekatnya milik Allah maka janganlah kamu merasa berat menafkahkan harta dan rezekimu di jalan Allah.</li>
<li>Hukum fai-i (harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran)</li>
<li>Hati-hatilah terhadap kehidupan duniawi.</li>
</ul>
<p>Dari rumusan ungkapan diatas, mendorong manusia meningkatkan dari berpikir dengan alat kesadaran kedalam alat kecerdasan untuk dapat menghayati lebih dalam, mengapa „egois, kikir“ menjadi suatu kebiasaan yang berdampak merugikan diri sendiri dan orang lain. Olh karena itu untuk membuat keputusan dalam melaksanakan perubahan diri dengan jiwa tidak lagi bertopeng palsau, cobalah renungkan surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 70 : 19“</strong> Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir., 21“ dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,</p>
<p><strong>QS. 81 : 24“</strong> Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.</p>
<p><strong>QS. 92 : 8“</strong> Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,</p>
<p><strong>QS. 100 : 8“</strong> dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.</p>
<p>Dengan mendalami makna yang terungkap dibawa in</p>
<ul>
<li>Ajaran islam untuk mengatasi sifat-sifat yang jelek pada manusia</li>
<li>Muhammad bukanlah seorang gila melainkan Rasul Kepadanya diturnkan Al Qur’an.</li>
<li>Usaha manusia adalah bermacammacam yang terpenting ialah mencari keredhaan Allah</li>
<li>Manusia menjadi kikr karena tamaknya kepada harta.</li>
</ul>
<p>Diharapkan menjadikan manusia untuk berpikir dengan mengintegrasikan kekuatan hati dan otak untuk membuat keputusan dalam meretas jalan menemukan diri sendiri, agar lebih dekat hubungan manusia dengan Tuhan disatu sisi dan disisi lain kita berusaha meningkatan hubungan dengan manusia, oleh karena itu menguatkan keputusan-keputusan yang diambil, marilah kita mendalami ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>Balasan terhadap orang kikir di hari kiama </strong></p>
<p><strong>QS.4 : 37“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.</p>
<p><strong>QS. 56 : 42“</strong> Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih,, 45“ Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.</p>
<p><strong>Dilarang kikir </strong></p>
<p><strong>QS.3 : 180“</strong> Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 4 : 37“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.</p>
<p><strong>Manusia kikir karena tamak</strong></p>
<p><strong> QS. 100 : 8“</strong>dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.</p>
<p><strong>Manusia menurut tabiatnya kikir </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 128”</strong> Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>Manusia kikir untuk dirinya sendiri </strong></p>
<p><strong>QS.47 : 38”</strong> Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bagaimana seorang muslim berpikir untuk keluar dari sifat “egois, kikir” yang mendorong dari terbentuknya jiwa dengan topeng kepalsuan yang kita hadapi dalam kenyataan hidup saat ini, maka manusia harus mampu menggerakkan alat berpikir berupa kesadran, kecerdasan dan akal secara simultan dan berkesinambungan dalam kekuatan berpikir.</p>
<p>Jadi pikirkan untuk berpikir dengan mengintergrasikan kekuatan hati dan otak dalam usaha meretas jalan menemukan diri sendiri, disitulah letak kunci bahwa mengaktualisasikan amalan batin begitu penting untuk terus ditingkatkan dalam membangun keseimbangan kedewasaan dalam rohaniah, sosisal, emosianal dan intelektual dalam menuju perjalanan hidup abadi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>17. EGOIS, KIKIR</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Egois, Kikir juga termasuk suatu penyakit jiwa berarti munusia yang memetingkan diri sendiri disinilah letak jiwa dengan topeng kepalsuan. Manusia mengetahui tentang dirinya tapi ia tidak bisa keluar dari kebiasaan hidupnya, maka disitulah letak ketidak kemampuannya untuk membuat keseimbangan dalam kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual sebagai akibat kelumpuhan mental akaibat mengikuti kebiasaan orang lain sehingga sangat sulit merubah kebiasaan mencegah menjadi usaha dari kekuatan pikiran menjadi menghindari.</p>
<p>Setiap manusia memiliki kemampuan merubah egois dari potensi negatip manusia menjadi potensi positip melalui kekuatan gerakan jiwa dengan membangun kembali untuk keluar dari kemalasan mental artinya malas untuk menggerakan kemampuan berpikir, oleh karena itu cobalah anda untuk merenung sejenak makna yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 5 : 105”</strong> Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 4 :37”</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS.4 :128“</strong> Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 9 : 76”</strong> Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).</p>
<p><strong>QS. 17 : 100” </strong>Katakanlah: &#8220;Kalau seandainya kamu menguasai khazanah rahmat Tuhanku, niscaya khazanah itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya&#8221;. Dan adalah manusia itu sangat kikir.</p>
<p>Bertolak dari pemahaman kita dalam menghayati makna dari surat dan ayat diatas, mencoba untuk membangkatkan kembali kekuatan pikiran agar ungkapan yang kita kemukakan dibawah ini dapat menjadi pendorong yaitu :</p>
<p>Larangan bertanya tentng hal yang menyebabkan kemudharatan</p>
<ul>
<li>Kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia</li>
<li>Keharusan membrikan hak-hak orang yang lemah dan cara menyelesaikan kesulitan rumah tangga.</li>
<li>Ikrar orang munafik tak dapat dipercaya</li>
<li>Keingkaran orang-orang kafir dan bertahan terhadapnya.</li>
</ul>
<p>Dengan menggerakan kekuatan berpikir dari makna yang kita ungkapkan diatas, bahwa kita yakin mampu untuk keluar dari „kemalasan berpikir“ karena kita dapat membangkitan kekuatan berpikir dengan hati yang disebut dengan menghayati, untuk melahirkan suatu kesadran dalam berpikir. Sejalan dengan itu kita tingkatkan kesadaran dengan merenung terhadap surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>QS. 25 : 67”</strong> Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.</p>
<p><strong>QS. 47 : 37”</strong> Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu., 38“ Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).</p>
<p><strong>QS. 57 : 24“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.</p>
<p><strong>QS.59 : 9“</strong> Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p><strong>QS. 64 : 16“</strong> Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung</p>
<p>Dengan menghayati hal-hal yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka manusia dapat menangkap makna yang terungkap dibawah ini menjadi kekuatan daya dorong untuk mengungkapkan kekuatan berpikir :</p>
<ul>
<li>Perintah Tuhan kepada Musa a.s. untuk menyelamatkan Bani Israil dari Fir’aun dan pembinaan Fir’aun.</li>
<li>Ancaman terhadap orang-orang munafik dan orang-orang murtad.</li>
<li>Segala sesuatu pada hakekatnya milik Allah maka janganlah kamu merasa berat menafkahkan harta dan rezekimu di jalan Allah.</li>
<li>Hukum fai-i (harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran)</li>
<li>Hati-hatilah terhadap kehidupan duniawi.</li>
</ul>
<p>Dari rumusan ungkapan diatas, mendorong manusia meningkatkan dari berpikir dengan alat kesadaran kedalam alat kecerdasan untuk dapat menghayati lebih dalam, mengapa „egois, kikir“ menjadi suatu kebiasaan yang berdampak merugikan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu untuk membuat keputusan dalam melaksanakan perubahan diri dengan jiwa tidak lagi bertopeng palsau, cobalah renungkan surat dan ayat dibawah ini</p>
<p><strong>QS. 70 : 19“</strong> Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir., 21“ dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,</p>
<p><strong>QS. 81 : 24“</strong> Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib</p>
<p><strong>QS. 92 : 8“</strong> Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,</p>
<p><strong>QS. 100 : 8“</strong> dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepadarta.</p>
<p>Dengan mendalami makna yang terungkap dibawa ini :</p>
<ul>
<li>Ajaran islam untuk mengatasi sifat-sifat yang jelek pada manusia</li>
<li>Muhammad bukanlah seorang gila melainkan Rasul Kepadanya diturnkan Al Qur’an.</li>
<li>Usaha manusia adalah bermacammacam yang terpenting ialah mencari keredhaan Allah</li>
<li>Manusia menjadi kikr karena tamaknya kepada harta.</li>
</ul>
<p>Diharapkan menjadikan manusia untuk berpikir dengan mengintegrasikan kekuatan hati dan otak untuk membuat keputusan dalam meretas jalan menemukan diri sendiri, agar lebih dekat hubungan manusia dengan Tuhan disatu sisi dan disisi lain kita berusaha meningkatan hubungan dengan manusia, oleh karena itu menguatkan keputusan-keputusan yang diambil, marilah kita mendalami ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>Balasan terhadap orang kikir di hari kiamat </strong></p>
<p><strong>QS.4 : 37“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.</p>
<p><strong>QS. 56 : 42“</strong> Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih,, 45“ Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.</p>
<p><strong>Dilarang kikir </strong></p>
<p><strong>QS.3 : 180“</strong> Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 4 : 37“</strong> (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.</p>
<p><strong>Manusia kikir karena tamak </strong></p>
<p><strong>QS. 100 : 8“</strong>dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.</p>
<p><strong>Manusia menurut tabiatnya kikir</strong></p>
<p><strong> QS. 4 : 128”</strong> Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan</p>
<p><strong>Manusia kikir untuk dirinya sendiri </strong></p>
<p><strong>QS.47 : 38”</strong> Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bagaimana seorang muslim berpikir untuk keluar dari sifat “egois, kikir” yang mendorong dari terbentuknya jiwa dengan topeng kepalsuan yang kita hadapi dalam kenyataan hidup saat ini, maka manusia harus mampu menggerakkan alat berpikir berupa kesadran, kecerdasan dan akal secara simultan dan berkesinambungan dalam kekuatan berpikir.</p>
<p>Jadi pikirkan untuk berpikir dengan mengintergrasikan kekuatan hati dan otak dalam usaha meretas jalan menemukan diri sendiri, disitulah letak kunci bahwa mengaktualisasikan amalan batin begitu penting untuk terus ditingkatkan dalam membangun keseimbangan kedewasaan dalam rohaniah, sosisal, emosianal dan intelektual dalam menuju perjalanan hidup abadi.</p>
<p><strong>18. EJEKAN / olokan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sering kita ungkapkan pada bagian terdahulu mengenai sadar kemauan, merupakan tonggak kekuatan yang mampu menuntun dan memimpin diri sendiri, oleh karena itu daya kemauan yang kuat akan sangat menentukan watak manusia.</p>
<p>Jadi bila manusia dengan kebiasaan mengungkapkan sikap ejekan berarti memberikan gambaran tentang kemampuan berpikir negatif memberikan dominan dalam kebiasaan pikiran yang bersangkutan.</p>
<p>Untuk itu, renungkan ungkapan surat dan ayat yang mengingat kita dalam mengendalikan lidah seperti dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 49 : 11</strong>” Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p>Dengan merenungkan apa yang diutarakan diatas, maka cobalah untuk membentuk ingatan yang kuat mengenai hal-hal yang kita ungkapkan dalam surat dan ayat dibawah :</p>
<p><strong>Bahan ejekan</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 67“</strong> Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina&#8221;. Mereka berkata: &#8220;Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?&#8221; Musa menjawab: &#8220;Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil&#8221;.</p>
<p><strong>Tuhan akan memperlihatkan apa yang ditakutkan orang yang mengejek-Nya :</strong></p>
<p><strong>SQ. 9 : 64“</strong> Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: &#8220;Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)&#8221;. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.</p>
<p><strong>Ucupan mengejek kepada orng berdosa</strong></p>
<p><strong>SQ. 44 : 49</strong>“ Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mengejek orang berdoa</strong></p>
<p><strong>SQ. 23 : 110“</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Yang suka mengejek Nabi Muhammad</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 104</strong>“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): &#8220;Raa`ina&#8221;, tetapi katakanlah: &#8220;Unzhurna&#8221;, dan &#8220;dengarlah&#8221;. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.</p>
<p><strong>Terhadap ejekan, Nabi Muhammad tidak kuatir</strong></p>
<p><strong>SQ. 11 : 12“</strong> Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: &#8220;Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?&#8221; Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ra’ina, kata-kata ejekan Yahudi</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 104“</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): &#8220;Raa`ina&#8221;, tetapi katakanlah: &#8220;Unzhurna&#8221;, dan &#8220;dengarlah&#8221;. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 4 : 46</strong>“ Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: &#8220;Kami mendengar&#8221;, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): &#8220;Dengarlah&#8221; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): &#8220;Raa`ina&#8221;, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: &#8220;Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami&#8221;, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kebiasaan berpikir yang bersifat negatif, mendorong karekter manusia kedalam kemauan yang menimbulkan kebiasaan untuk sikap dalam arti mengkomunikasikan suara hatinya untuk sering mengungkapkan kata-kata ejekan / olokan yang menyebabkan tersinggungnya orang lain.</p>
<p>Bila kebiasaan itu tumbuh dan berkembang dalam diri manusia, maka sangat sulit untuk mengungkit kekuatan daya ingat bahwa sikap tersebut merupakan perilaku yang tidak terpuji dan akan merugikan yang bersangkutan dalam keinginan membangun jiwa yang bersih.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan jiwa yang tidak bersih, maka akan sulit kekuatan yang mampu bagi yang bersangkutan dalam berpikir, sedangkan hidup kita saat ini ditentukan oleh kebiasaan kita berpikir, oleh karena itu lawanlah kekuatan syetan yang mempengaruhi jalannjya jiwa, dengan selalu ingat dengan keagungan Allah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>19. FAKIR MISKIN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Untuk mengetuk dinding jiwa, melalui pendekatan 7 M, maka makin banyak kita mengetahi, makin pandai. Semakin banyak pengetahuan kita, semakin banyak yang kita hasilkan,oleh karena itu renungkanlah kata fakir miskin untuk mengangkat kekuatan ingatan dalam perjalanan hidup ini.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, dibawah ini diungkapkan kata fakir dalam surat dan ayat dalam satu sisi dibawah ini :</p>
<p><strong>FAKIR</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 271“</strong> Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan<strong>.,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> 273“</strong> (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 6 : 141“</strong> Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.</p>
<p><strong>SQ. 9 : 60</strong>“ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu&#8217;allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</p>
<p><strong>SQ. 22 : 28“</strong> supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.</p>
<p><strong>SQ. 30 : 38“</strong> Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.</p>
<p><strong>SQ. 68 : 18“</strong> dan mereka tidak mengucapkan: &#8220;In syaa Allah&#8221;,</p>
<p><strong>SQ. 90 : 16“</strong> atau orang miskin yang sangat fakir.</p>
<p>Dengan merenungkan apa-apa yang terungkap dari surat dan ayat diatas, diharapkan mampu menggugah pikiran mngenao hal-hal yang terkait dengan ungkapan dibawah ini :</p>
<ul>
<li>Menafkahkan harta di jalan Allah</li>
<li>Peraturan-peraturan yang dibuat-buat oleh kaum musyrikin dan pimpinan Allah terhadap kaum muslimin</li>
<li>Ketentuan-ketentuan pembagian zakat</li>
<li>Haji, menasiknya dan syi’arnya.</li>
<li>Allah mengatur pemberian rezki dan penggunaannya</li>
<li>Allah telah menimpakan cobaan kepada orang-orang fakir sebagai yang ditimpakan kepada pemilik-pemilik kebun</li>
<li>Hidup manusia penuh dengan perjuangan.</li>
</ul>
<p>Sebaliknya disisi lain terungkap pula kata miskin dalam surat dan ayat seperti dibawah ini :</p>
<p><strong>MISKIN</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 83“</strong> Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, km kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling<strong>., </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>177“</strong> Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.,</p>
<p><strong>184“</strong> (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui<strong>., </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>215“</strong> Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: &#8220;Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.&#8221; Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.</p>
<p><strong>, 236“</strong> Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut`ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 271</strong>“ Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>SQ. 3 : 181“</strong> Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya&#8221;. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): &#8220;Rasakanlah olehmu azab yang membakar.&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 4 : 6“</strong> Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 8“</strong> Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 36“</strong> Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,</p>
<p><strong>,135“</strong> Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.</p>
<p><strong>SQ. 5 : 89“</strong> Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 95“</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai had-ya yang di bawa sampai ke Ka`bah, atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah mema`afkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.</p>
<p><strong>SQ. 6 : 53“</strong> Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: &#8220;Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?&#8221; (Allah berfirman): &#8220;Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 141“</strong> Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.</p>
<p><strong>SQ. 9 : 28“</strong> Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 17 : 26“</strong> Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</p>
<p><strong>SQ. 18 : 79</strong>“ Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 24 : 22</strong>“ Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong>, 23</strong>“ Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la`nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,</p>
<p><strong>SQ. 70 : 25“</strong> bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)</p>
<p><strong>SQ. 74 : 44</strong>“ dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin</p>
<p><strong>SQ. 76 : 8“</strong> Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan</p>
<p><strong>SQ. 89 : 18”</strong> dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 90 : 16“</strong> <strong>atau orang miskin yang sangat fakir.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 93 : 8”</strong> Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.</p>
<p><strong>SQ. 107 : 3”</strong> dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mengungkapkan surat dan ayat tersebut diatas, memberikan suatu getaran dalam pikiran yang terkait dengan miskin dan diharapkan mampu untuk menggugah pikiran kedalam hal-hal yang terungkap dibawah ini :</p>
<ul>
<li>Bani israil mengingkari janjinya dengan Allah<strong> </strong></li>
<li>Pokok-pokok kebajikan<strong> </strong></li>
<li>Puasa<strong> </strong></li>
<li>Orang-orang yang diberi nafkah<strong> </strong></li>
<li>Pokok-pokok hukumperkawinan, perceraian dan penyusuan<strong> </strong></li>
<li>Menafkahkan harta di jalan Allah<strong> </strong></li>
<li>Kebhakilan dan dusta serta balasannya<strong> </strong></li>
<li>Kewajiban para washi terhadap asuhannya dan kewajiban para wali terhadap orang yang dibawah perwaliannya.<strong> </strong></li>
<li>Pokok-pokok hukum warisan.<strong> </strong></li>
<li>Kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia.<strong> </strong></li>
<li>Keharusan berlaku adil.<strong> </strong></li>
<li>Sumpah dan kaffaratnya<strong> </strong></li>
<li>Menghormati Ka’bah sebagai sokoguru kehidupan manusia<strong> </strong></li>
<li>Tuntunan-tuntunan dalam menghadapi masyarakat.<strong> </strong></li>
<li>Peraturan-praturan yang dibuat-buat oleh kaum musyrikin  dan Pimpinan Allah terhadap kaum muslimin.<strong> </strong></li>
<li>Umat islam mendapat kemenangan dalam pelbagai peperangan<strong> </strong></li>
<li>Beberapa tata krama pergaulan<strong> </strong></li>
<li>Hikmah-hikmah dari perbuatan khidhr<strong> </strong></li>
<li>Tuduhan yang bohong terhadap Aisyah r.a. Ummul Mu’minim.<strong> </strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan memperhatikan hal-hal yang terungkap dari surat dan ayat diatas, maka mampukah kita berpikir untuk mengungkit kekuatan ingatan kita kedalam kebiasaan dalam mengatur perjalanan hidup ini sebagai sesuatu kebutuhan. Sejalan dengan apa yang telah kita ketahui, maka cobalah untuk merenungkan kembali ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini ;</p>
<p><strong>Jangan menghardik orang miskin</strong></p>
<p><strong>SQ. 93 : 10“</strong> Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kemiskinan</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 268“</strong> Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong>SQ. 17 : 31“</strong> Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 155”</strong> Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, &#8211; 156” (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, &#8220;Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 177”</strong> Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 273”</strong> Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong>SQ. 17 : 28”</strong> Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 80 : </strong>1” Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,- 12” maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dengan kefakiran, setan menakut- nakuti manusia</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 268“</strong> Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong>Miskin sebagai ujian</strong></p>
<p><strong>SQ. 89 : 15“</strong> Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: &#8220;Tuhanku telah memuliakanku&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> &#8211; 17“</strong> Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,</p>
<p><strong>Larangan membunuh anak karena miskin</strong></p>
<p><strong>SQ. 6 : 151</strong>“ Katakanlah: &#8220;Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar&#8221;. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 17 : 31“</strong> Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Memberi makan orang miskin</strong></p>
<p><strong>SQ. 90 : 16</strong>“ atau orang miskin yang sangat fakir.</p>
<p><strong>Perintah memberikan hak orang miskin</strong></p>
<p>SQ. 17 : 26“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.</p>
<p><strong>-30“</strong> Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.</p>
<p><strong>SQ. 30 : 38“</strong> Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.</p>
<p><strong>Menyediakan harta untuk orang miskin </strong></p>
<p><strong>SQ. 70 : 24</strong>“ dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-25“</strong> bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),</p>
<p><strong>Enggan mendorong memberi makan orang miskin </strong></p>
<p><strong>SQ. 69 : 34</strong>” Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.</p>
<p><strong>SQ. 89 : 18”</strong> dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 107 : 3”</strong> dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.</p>
<p><strong>Perintah berbuat baik kepada orang miskin</strong></p>
<p><strong>SQ. 4 : 36</strong>” Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mengetuk dinding jiwa dengan pemahaman atas kata “fakir miskin” sebagai suatu kekuatan yang mampu mengungkit kekuatan daya ingat dalam pikiran agar kekuatan dalam membiasakan tergugah kedalam daya kemauan yang kuat agar getaran yang disebut dengan pemahaman atas :</p>
<p>1) Memberi kepada orang yang tidak suka memberi ; 2) Membuat kebaikan kepada orang yang tidak senang pada kita ; 3) waktu diam digunakan untuk berfikir ; 4) bila berbicara juga berisi nasehat ; 5) Ape yang dilihat dijadikan contoh dan pelajaran.</p>
<p>Dengan mengungkapkan pikiran diatas, diharapkan menjadi jambuk untuk mengamalkan kata “fakir miskin” dalam kehidupan kita, sehingga menjadi pendorong untuk memperkuat kemauan dan kebiasaan untuk terus berusaha mensucikan jiwa melalui apa yang disebut 1) Membaca Al Qur’an, ; 2) Mengosongkan perut ; 3) Sembahyang malam ; 4) Berpikir sesudah makan ; 5) Bergaul dengan orang beragama ; 6) Tidak memakan yang haram.</p>
<p>Jadi ingatlah selalu kekuatan belajar dengan 7 M untuk mengungkit pemahaman mengenai kata “fakir miskin” dalam menjalani hidup ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>20. HIKMAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dapatkah anda membayangkan bahwa takdir itu menjadi sarana yang memuliakan selama orang yang menerimanya memiliki taqwa kepada-Nya, oleh karena itu simaklah kata “HIKMAH” dalam ungkapan surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 269”</strong> Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).</p>
<p><strong>SQ. 2 : 129“</strong> Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur&#8217;an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 151“</strong> Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>,231“ </strong>Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma`ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma`ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah ni`mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur&#8217;an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p><strong>,251“ </strong>Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>,269</strong>“ Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).</p>
<p><strong>SQ. 3 : 48“</strong> Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.</p>
<p><strong>, 58“</strong> Demikianlah (kisah `Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur&#8217;an yang penuh hikmah.</p>
<p><strong>, 79“</strong> Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: &#8220;Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.&#8221; Akan tetapi (dia berkata): &#8220;Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.</p>
<p><strong>, 81“</strong> Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: &#8220;Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya&#8221;. Allah berfirman: &#8220;Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Kami mengakui&#8221;. Allah berfirman: &#8220;Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu&#8221;.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>, 164“</strong> Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.</p>
<p><strong>SQ. 4 : 54</strong> ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.</p>
<p><strong>,113“</strong> Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.</p>
<p><strong>SQ. 5 : 110</strong>“ (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: &#8220;Hai `Isa putra Maryam, ingatlah ni`mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: &#8220;Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.&#8221;</p>
<p><strong>SQ. 6 : 89“</strong> Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.</p>
<p><strong>SQ.10 : 1“</strong> Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang mengandung hikmah.</p>
<p><strong>SQ. 12 : 22</strong>“ Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.</p>
<p><strong>SQ. 16 : 125“</strong> Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.</p>
<p><strong>SQ. 17 : 39“</strong> Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).</p>
<p><strong>SQ. 19 : 12</strong>“ Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,</p>
<p><strong>SQ. 21 : 74“</strong> dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik,</p>
<p><strong>, 79</strong>“ maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 28 : 14“</strong> Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.</p>
<p><strong>SQ. 31 : 2“</strong> Inilah ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang mengandung hikmat,</p>
<p><strong>,12“</strong> Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: &#8220;Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji&#8221;.</p>
<p><strong>SQ. 33 : 39</strong>“ (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 35 : 2“</strong> Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 38 : 20“</strong> Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.</p>
<p><strong>,27“</strong> Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.</p>
<p><strong>SQ. 43 : 4“</strong> Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.</p>
<p><strong>,63“</strong> Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: &#8220;Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 44 : 4“</strong> (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,</p>
<p><strong>SQ. 54 : 5</strong>“ itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka).</p>
<p><strong>SQ. 62 : 2</strong>“ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,</p>
<p>Bertolak dari pengungkapan yang termuat dalam surat dan ayat diatas, maka bila kita renungkan akan memberikan kekuatan dalam pikiran kita bahwa tidak ada tempat untuk bergerak lambat, sehingga apa yang terungkap itu mengingatkan kita kepada hal-hal yang berkaitan dengan :</p>
<ul>
<li>Menafkahkan harta di jalan Allah</li>
<li>Perjanjian dengan Nabi Ibrahim a.s.</li>
<li>Sekitar pemindahan kiblat</li>
<li>Pokok-pokok hukum perkawinan, prceraian dan penyusuan</li>
<li>Kewjiban berjihad dan mengeluarkan harta di jalan Allah s.w.t.</li>
<li>Kisah Al Masih ‚Isa putera Maryam</li>
<li>Seorang Nabi tidak akan menyuruh manusia menymbah diinya.</li>
<li>Janji  para Nabi kepada Allah tentang kenabian Muhammad S.a.w.</li>
<li>Akhlak dan beberapa sifat nabi Muhammad saw</li>
<li>Orang-orang yang tidak sucu batinnya dan ancaman Allah terhadap mereka</li>
<li>Keharusan adil dan tidak memihak dalam menetapkan sesuatu hukum</li>
<li>Beberapa kisah tentang Isa a.s.</li>
<li>Mereka yang telh diberi kitab, hikmat dan kenabian</li>
<li>Wahyu dan dasar-dasar kebenarannya</li>
<li>Yusuf mendapat godaan</li>
<li>Dasar-dasar da’wah dan sikap islam terhadap lawan</li>
<li>Beberapa tata krama pergaulan</li>
<li>Kehamilan Maryam tanpa sentuhan seorang laki-laki</li>
<li>Kisah beberapa orang Nabi</li>
<li>Musa a.s. diberi ilham dan hikmah sebagai persiapan untuk menjadi Rasul</li>
<li>Al Qur’an Karim menjamin sukesnya orang-orang yang beriman</li>
<li>Nasehat luqman kepada anaknya</li>
<li>Hukum anak angkat tidak sama dengan anak kandung.</li>
<li>Allah adalah pencipta, penguasa dan pemberi rahmat</li>
<li>Nabi Daud mendapat cobaan dari Allah</li>
<li>Kaum musyrikin mengakui bahwa Allah-lah pencipta langit dan bumi, kendatipun mereka menyembah berhala.</li>
<li>Nabi Isa mngajak kaumnya untuk beriman kepada Allah</li>
<li>Kaum musyrikin diazab oleh tuhan dengan hukuman kelaparan sebagai hukum yang ringan</li>
<li>Berita kehancuran musuh Nabi Muhammad saw</li>
<li>Pengutusan Muhammad Saw adalah karunia Allah kepada umat manusia.</li>
</ul>
<p>Belajar untuk mendalami apa yang terungkap diatas, berarti juga bahwa masa yang sedang kita jalani adalah masa sekarang, oleh karena itu, hari ini yang menentukan hari-hari kita selanjutnya, sehingga kuatkan kemauan dan kebiasaan kita untuk belajar makna ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini sebagai suatu kekuatan bahwa takdir akan mendatangkan kehormatan bagi orang-orang yang benar-benar menjalin hubungan dengan-Nya. Jadi dalamilah ungkapan dibawah ini :</p>
<p><strong>Hikmah Al Qur’an untuk orang beriman</strong></p>
<p><strong>SQ. 31 : 2</strong>“ Inilah ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang mengandung hikmat<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>,,3</strong>“ menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.</p>
<p><strong>,4“</strong> (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.</p>
<p><strong>,5“</strong> Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hikmah diutus para Rasul</strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 213“</strong> Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.</p>
<p><strong>Hikmah pergantian siang dan malam</strong></p>
<p><strong>SQ. 28 : 71</strong>“ Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?&#8221;</p>
<p><strong>-73“</strong> Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.</p>
<p><strong>SQ. 39 : 5</strong>“ Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.</p>
<p><strong>Ayat Al Qur’an penuh hikmah</strong></p>
<p><strong>SQ. 10 : 1“</strong> Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang mengandung hikmah.</p>
<p><strong>SQ. 31 : 2</strong>“ Inilah ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang mengandung hikmat,</p>
<p><strong>SQ. 36 : 2“</strong> sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul</p>
<p><strong>SQ. 43 : 4“</strong> Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Ingatlah selalu bahwa dalam pikiran bahwa Allah selalu memelihara hubungan dengan hamba-Nya melalui kebaikan demi kebaikaNya, dan demi ke-utamaanNya.</p>
<p>Oleh karena itu, kuatkan daya kemauan dan kebiasaan maka disitulah terletak kekuatan pikiran yang mampu memberikan dorongan dari kekuatan „HIKMAH“ bahwa Allah tetap akan menggunakan cemeti keadilan-Nya agar makhluk-Nya tetap menyadari keberadaan-Nya dengan Penciptanya.</p>
<p>Jadi dengan membayangkan ungkapan diatas, maka tidak ada tempat untuk bergerak lamban, oleh karena itu, kita jangan mengantungkan masa depan kita dengan harapan yang hanya akan lahir dari sesuatu yang gaib, karena harapan seperti ini tidak akan membawa kebaikan sama sekali buat kita.</p>
<p><strong>21. HATI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dapatkah kita membayangkan bahwa hati manusia seperti biola, tergantung kepada orang yang memegang jika ia pandai menggesekkannya timbullah dari padanya lagu yang merdu.</p>
<p>Oleh karena itu, belajarlah tanpa berhenti untuk mengenal diri agar kita selalu dekat dengan sang pencipta-Nya, sehingga renungkan dengan seksama apa yang terungkap dalam surat dan ayat dibawah ini:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 7 : 43”</strong> Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: &#8220;Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran&#8221;. Dan diserukan kepada mereka: &#8220;Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.&#8221;</p>
<p><strong>SQ. 10 : 57”</strong> Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.</p>
<p><strong>SQ. 13 : 27</strong>” Orang-orang kafir berkata: &#8220;Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mu`jizat) dari Tuhannya?&#8221; Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada Nya&#8221;, &#8211; 28” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.</p>
<p><strong>SQ. 23 : 78”</strong> Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.</p>
<p><strong>SQ. 32 : 9”</strong> Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 33 . 4”</strong> Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).</p>
<p>Sejalan dengan pemahaman atas ungkapan surat dan ayat tersebut diatas, mendorong kita untuk menyelami kembali ungkapan yang terkait dengan :</p>
<ul>
<li>Pengutusan para rasul dan akibat penerimaan dan penolakan kerasulan</li>
<li>Penyesalan manusia di akhirat kelak</li>
<li>Di antara sifat dan perbuatan orang-orang yang ingkar kepada Allah</li>
<li>Kendatipun dalil-dalil bagi kemungkinan terjadinya berbangkit di akhirat cukup banyak, namun orang-orang kair tetap mengingkarinya</li>
<li>Proses kejadian manusia dan kebangkitannya di hari kiamat</li>
</ul>
<p>Bertolak dari kemampuan untuk mendalami ungkapan diatas, maka kita dapat mendalami lebih lanjut atas ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini, sebagai satu kekuatan untuk berpikir yang menyangkut :</p>
<p><strong>HATI, diungkapkan dalam surat dan ayat seperti dibawah ini :</strong></p>
<p>QS, 2 : 10” Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.,</p>
<p>93” Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): &#8220;Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati&#8221;. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: &#8220;Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)&#8221;., 118, 204, 225, 235, 263, 264, 283, 284</p>
<p>QS. 3 : 103” Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): &#8220;Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati&#8221;. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: &#8220;Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)&#8221;.,118,119,120, 126, 139, 151, 153, 154, 156, 167, 170,171,186,199</p>
<p>QS. 4 : 4” Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya., 32, 63, 65, 90, 104, 155</p>
<p>QS. 5 : 7” Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: &#8220;Kami dengar dan kami ta`ati&#8221;. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu)., 13, 41, 52, 68, 89, 113</p>
<p>QS. 6 : 25” Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: &#8220;Al Qur&#8217;an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu&#8221;., 3, 45, 48, 110, 113</p>
<p>QS. 7 :35” Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati., 49, 64, 93, 10, 101, 17, 205</p>
<p>QS. 8 : 2” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,, 10, 11, 12, 24, 43, 45, 49, 63, 78</p>
<p>QS. 9 : 8” Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian)., 14, 15, 45, 47, 48, 55, 64, 87, 93, 110, 114, 117, 125, 127</p>
<p>QS. 10 : 62” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati., 74, 88</p>
<p>QS. 11 : 120Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.,</p>
<p>QS. 13 : 28” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.</p>
<p>QS. 14 : 37” Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur., 43</p>
<p>QS. 15 : 47“ Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan., 88</p>
<p>QS. 16 : 22” Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong., 78, 102, 108, 127</p>
<p>QS. 17 : 25” Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat., 36, 72, 74</p>
<p>QS. 18 : 6” Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur&#8217;an)., 14, 18, 28, 57</p>
<p>QS. 19 : 24” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: &#8220;Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu., 26, 96</p>
<p>QS. 20 : 40” (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir`aun): &#8216;Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?&#8221; Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Mad-yan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa,, 67</p>
<p>QS. 21 : 3” (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: &#8220;Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?&#8221;</p>
<p>QS. 22 : 15“ Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya., 31, 35, 46, 53,</p>
<p>QS. 23 : 60” Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,, 63, 78</p>
<p>QS. 24 : 37”, 50</p>
<p>QS. 25 : 32” laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. ,  74</p>
<p>QS. 26 : 88” (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,, 194</p>
<p>QS. 27 : 14”Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal <strong>hati</strong> mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.</p>
<p>QS. 28 : 7” Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; &#8220;Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih <strong>hati,</strong> karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul., 10, 13, 43</p>
<p>QS. 30 : 59” Demikianlah Allah mengunci mati<strong> hati</strong> orang-orang yang tidak (mau) memahami.</p>
<p>QS. 31 : 23” Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi ha</p>
<p>QS. 32 : 9” Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.</p>
<p>QS. 33 : 4”Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah<strong> hati</strong> dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). , 5, 10, 11, 12, 26, 37, 51, 53</p>
<p>QS. 34 : 23“ Dan tiadalah berguna syafa`at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa`at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari <strong>hati </strong>mereka, mereka berkata: &#8220;Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;(Perkataan) yang benar&#8221;, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.</p>
<p>QS. 35 : 38“ Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi<strong> hati</strong>.</p>
<p>Qs. 37 : 84” (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan<strong> hati</strong> yang suci.</p>
<p>QS. 39 : 22“ Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah <strong>hatinya</strong> untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata., 45</p>
<p>QS. 40 : 18” Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu<strong> hatinya</strong> untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata., 19, 35, 80</p>
<p>QS. 42 : 24” Bahkan mereka mengatakan: &#8220;Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah&#8221;. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati <strong>hatimu;</strong> dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Qur&#8217;an). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.</p>
<p>QS. 43 : 71” Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh <strong>hati</strong> dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.&#8221;</p>
<p>QS. 46 : 26“ Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan <strong>hati;</strong> tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.</p>
<p>QS. 47 : 20“ Dan orang-orang yang beriman berkata: &#8220;Mengapa tiada diturunkan suatu surat?&#8221; Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam <strong>hatinya</strong> memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka., 2</p>
<p>QS. 48 : 4” Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam<strong> hati</strong> orang-orang mu&#8217;min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,, 11, 12, 18, 26</p>
<p>QS. 49 : 7” Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam <strong>hatimu </strong>serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,, 14</p>
<p>QS. 50 : 16” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh <strong>hatinya,</strong> dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,</p>
<p>QS. 53 : 11“ <strong>Hatinya</strong> tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.</p>
<p>QS. 57 : 6” Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi <strong>hati.</strong></p>
<p>QS. 59 : 2” Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam <strong>hati</strong> mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan., 10, 13, 14,</p>
<p>QS. 64 : 11“ Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada <strong>hatinya.</strong> Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p>QS. 65 : 6” Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk <strong>menyempitkan (hati)</strong> mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.</p>
<p>QS. 66 : 4“ Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya<strong> hati</strong> kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu&#8217;min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.</p>
<p>QS. 67 : 13“ Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi <strong>hati.</strong></p>
<p>Dengan membaca serta kita merenungkan tentang hati yang diungkapkan dalam surat dan ayat diatas mengingatkan kita kepada hal-hal yang terkait dengan :</p>
<ul>
<li>Golongan munafik ;</li>
<li>Keharusan menjaga persatuan ;</li>
<li>Kewajiban para washi terhadap asuhannya dan kewajiban para wali terhadap orang yang dibawah perwaliannya ;</li>
<li>Wudhu’, mandi dan tayamun ;</li>
<li>Kesaksian kaum musyrikin  terhadap dirinya sendiri dan keadaan merka di hari kiamat ;</li>
<li>Pengutusan para Rasul dan akibat penerimaan dan penolakan kerasulan ;</li>
<li>Sifat-sifat orang mu’min ;</li>
<li> Sebab-sebab perjanjian damai Pelajaran dari kisah-kisah beberapa Nabi ;</li>
<li>Ketenteraman hati orang-orang yang beriman serta pembalasan bagi mereka ;</li>
<li>Permohonan-permohonan Nabi Ibrahim a.s. ;</li>
<li>Rahmat Allah bagi orang-orang yang bertakwa :</li>
<li>Ketakaburan menjadikan seseorang ingkar kepada kebenaran  ;</li>
<li> Beberapa tata krama pergaulan ;</li>
<li>Ancaman terhadap kpercayaan Tuhan punya anak  ;</li>
<li>Kelahiran Nabi Isa a.s. ;</li>
<li>Nikmat-nikmat Allah Kepada Nabi Musa a.s. sejak kecil  ;</li>
<li>Ocehan kaum musyrikin Allah pasti datang ;</li>
<li>Sifat-sifat seorang muslim yang ukhlis ;</li>
<li>Mereka yang mendapat pancaran nur ilahi ;</li>
<li>Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al Qur’an pada hari kiamat ;</li>
<li>Kisah Ibrahim a.s. ;</li>
<li>Musa a.s. menerima wahyu dari tuhan , Muhammad-pun menerima wahyu yaitu Al Qur’an dari Tuhan ;</li>
<li>Musa a.s. dicampakkan ke dalam sungai Nil untuk menyelamatkan kaumnya dari kekejaman Fir’aun  ;</li>
<li>Anjuran memperhatikan tamsil ibarat yang terdapat dalam Al Qur’an</li>
<li> Kekuasaan Allah adalah mutlak dan akibat pengingkaran terhadapnya ;</li>
<li>Proses kejadian manusia dan kebangkitannya di hari kiamat ;</li>
<li>Sembahan-sembahan selain Allah  tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun;</li>
<li>Kebenaran Allah dan tidak berdanya sembahan-sembahan selain Allah</li>
<li>Nabi Ibrahim menghancurkan berhala ;</li>
<li>Perbandingan antara orang-orang mu’min dan orang-orang yang kafir.</li>
<li>Kewajiban menunaikan ibadat kepada Allah ;</li>
<li>Allah mmberikan pembalasan kepada amal seseorang menurut niatnya ;</li>
<li>Kebahagian yang dini’mati oleh penduduk surga dan kesengsaraan yang dialami oleh penduduk neraka ;</li>
<li>Kehancuran kaum ‚aad  ;</li>
<li>Ancaman terhadap orang-orang munafik dan orang-orang murtad ;</li>
<li> Khabar gembira kepada Nabi Muhammad S.A.W. dan kaum muslim ;</li>
<li> Cara menyelsaikan persngktaan yang timbul antara kaum muslimin ;</li>
<li> Gerak gerik manusia dan perkataannya dicatat oleh para malaikat ;</li>
<li> Tuhan bersumpah bahwa wahyu yang diturunkan kepada nabi muhammad s.a.w. adalah benar. ;</li>
<li>Segala sesuatu pada hakekatnya milik Allah maka janganlah kamu merasa berat menafkahkan harta  dan rezekimu di jalan Allah ;</li>
<li> Pegusir bani nadhir dari madinah ;</li>
<li>Kesalahan-kesalahan manusia akan dinampakkan Allah pada hari kiamat</li>
<li>Beberapa ketentun tentang thalaaq dan ‚iddah ;</li>
<li>Nabi Muhammad s.a.w. dengan istri-isterinya ;</li>
<li>Janji-janji Allah kepada orang-orang mu’min.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mendalami ungkapan diatas, maka terbentanglah satu kekuatan dalam pikran untuk menggerakkan kemauan dan kebiasaan untuk belajar lebih lanjut dari ungkapan dalam surat ayat dibawah ini :</p>
<p><strong>Allah mendinding antara manusia dan hatinya :</strong></p>
<p>QS. 8 : 24” Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan <strong>hatinya</strong> dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.</p>
<p><strong>Allah mengetahui yang di dalam hatinya:</strong></p>
<p>QS. 3 : 29” Katakanlah: &#8220;Jika kamu menyeikan apa yang ada dalam <strong>hatimu</strong> atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.&#8221; Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p>QS. 35 : 38” Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi <strong>hati</strong>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Allah mengunci hati orang yang mengikuti hawa nafsu :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 2 : 7” Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.,  88” Dan mereka berkata: &#8220;<strong>Hati</strong> kami tertutup&#8221;. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.</p>
<p>QS. 42 : 24“ Bahkan mereka mengatakan: &#8220;Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah&#8221;. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati <strong>hatimu</strong>; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Qur&#8217;an). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.</p>
<p>QS. 45 : 23“ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan<strong> hatinya</strong> dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?</p>
<p>QS. 47 : 16“ Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): &#8220;Apakah yang dikatakannya tadi?&#8221; Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati<strong> hati </strong>mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. , 24“ Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur&#8217;an ataukah hati mereka terkunci?</p>
<p>QS. 57 : 16“ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu <strong>hati</strong> mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.</p>
<p>QS. 63 : 3“ Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu<strong> hati</strong> mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.</p>
<p>QS. 74 : 31“ Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu&#8217;min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam <strong>hatinya</strong> ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): &#8220;Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?&#8221; Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Allah menutup hati orang yang berpaling setelah dieringatkan :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 18 : 57“ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas<strong> hati</strong> mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya,</p>
<p><strong>Berhati-hati :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 5 : 41“ Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, padahal <strong>hati</strong> mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: &#8220;Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah&#8221; Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.</p>
<p>QS.9 : 50“ Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: &#8220;Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang)&#8221; dan mereka berpaling dengan rasa gembira.</p>
<p>QS. 64 : 14“ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka <strong>berhati-</strong>hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p><strong>Baik hati :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 49 : 3”Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji <strong>hati </strong>mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.</p>
<p>QS. 50 : 33“ (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan<strong> hati</strong> yang bertaubat,</p>
<p>QS. 57 : 16“ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk <strong>hati</strong> mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik., 27“ Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam<strong> hati</strong> orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.</p>
<p>QS.58 : 22“ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam <strong>hati</strong> mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.</p>
<p>QS. 59 : 9“ Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam<strong> hati</strong> mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<p>QS. 66 : 4“ Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya <strong>hati </strong>kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu&#8217;min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hati keras bagai batu :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 2 : 74“ Kemudian setelah itu <strong>hatimu</strong> menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>Rela hati :</strong></p>
<p>QS. 2 : 158“ Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan <strong>hati,</strong> maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sedih hati :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS.2 : 62“ Sesungguhnya orang-orang mu&#8217;min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih <strong>hati</strong>., 262“ Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih <strong>hati.</strong></p>
<p><strong>Ketenteraman hati bisa dicapai dengan mengingat Allah :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 13 : 28“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah <strong>hat</strong>i menjadi tenteram.</p>
<p><strong>Orang yang buta hati tak dapat lagi memahami kebenaran :</strong></p>
<p>QS. 22 : 46“ maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai <strong>hati</strong> yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.</p>
<p><strong>Suka hati :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 41 : 11“ Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: &#8220;Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka<strong> hati</strong> atau terpaksa&#8221;. Keduanya menjawab: &#8220;Kami datang dengan suka hati&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Teguh hati :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 16 : 96 “ Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.</p>
<p>QS.  39 : 10“ Katakanlah: &#8220;Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu&#8221;. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.</p>
<p><strong>Rendah hati :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>QS. 6 : 63”Katakanlah: &#8220;Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdo`a kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): &#8220;Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.</p>
<p>QS. 7 : 55”Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas., 146“ Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.</p>
<p>QS. 25 : 63”Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.</p>
<p>QS. 28 : 83”Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.</p>
<p>QS. 31 : 18” Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri., 19“ Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.</p>
<p>QS. 40 : 35” (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dapatkah kita membayangkan bahwa apakah kita ada mencoba memikirkan setiap hari bagaimana kita dapat menyenangkan orang lain. Jika kita ingin selamat dan menang memperoleh yang kita inginkan, lawanlah jiwamu yang selalu cenderung pada kekikiran. Jangan ikuti hawa nafsu kita karena ia akan menyesatkanmu dari menmpuh jalan petunjuk dengan membutakan mata hatimu.</p>
<p>Jadi ingatlah bahwa menggembirakan hati seorang mukmin sekejab mata adalah lebih baik daripada mengerjakan ibadat sunat satu tahun, artinya disini kita memanfaatkan kekuatan berpikir melalui unsur jiwa sebagai alat pikir yang disebut dengan „kesadaran, kecerdasan dan akal“ yang akan menuntun kemauan dan kebiasaan kita, disinilah letak kekuatan kebiasaan pikiran agar manusia menemkan jalan kebahagian dengan, oleh karena itu dalam Islam, tujuan puncak dari berpikir dan bertanya adalah mengobati HATI  manusia dan meletakkan dasar-dasar kehidupan di atas kebenaran dan keadilan.</p>
<p><strong>22. HIRAUAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „Hirauan“ tidak banyak kita temukan dalam surat dan ayat, namun demikian, kata tersebut untuk mengingatkan atau memperhatikan, dalam hal ini renungkan surat dan ayat dibawah :</p>
<p><strong>SQ. 4 : 28“</strong>Allah hendak memberikan keringanan kepadamu (286=yaitu dalam syari’at di antaranya boleh menikahi budak bila telah cukup syarat-syaratnya), dan manusia dijadikan bersifat lmah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 17 : 53</strong>“ Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: &#8221; Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 26 : 130 </strong>“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: &#8221; Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.– 131” Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 33 . 48”</strong> agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.</p>
<p>Renungkanlah apa-apa yang diungkapkan dalam surat dn ayat diatas untuk mengingatkan kpada kita yang terkait dengan :</p>
<ul>
<li>Beberapa hukum perkawinan.<strong> </strong></li>
<li>Bagaimana cara membantah keingkaran kaum musyrikin</li>
<li>Soal jawab antara Musa a.s. dan Fir’aun</li>
<li>Muhammad adalah rasul yang diutus untuk segenap umat manusia<strong> </strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Walaunpun kata „Hirauan“ ini tidak banyak kita temukan dalam surat dan ayat untuk menggugah jiwa, namun ia tetap merupakan unsur yang berperan dalam meningkatkan akhlak / moral manusia.</p>
<p>Oleh karena itu, ingatlah selalu bahwa hidup tiada berilmu sebagai sampan tidak berkemudi. Orang yang tidak menambah ilmunya berarti kalah dalam perjuangan hidup.</p>
<p>Jadi apapun untuk membentuk kebiasaan berpikir positif, maka disitu selalu ada kekuatan kemauan untuk mengungkit kekuatan ingatan dalam usaha-usaha membentuk pribadi dengan memperhatikan ungkapan seperti „Hakikat buta bukanlah buta mata, tetapi buta hati. Hakikat miskin bukanlah miskin harta, tetapi miskin budi. Harga manusia itu ialah menurut budi“</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>23. IRI HATI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata „iri hati“ pada umumnya mengungkapkan merasa kurang senang hati melihat kelebihan orang lain, atau sering juga menjadi ungkapan seperti cemburu, sirik, dengki, yang mendorong manusia berpikir negatif. Tapi sebaliknya bagi manusia yang mampu memanfaatkan otak dan hati akan mampu menggerakkan kemampuan berpikir positif, oleh karena itu renungkanlah ungkapan surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 4 : 32</strong>” Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p>Untuk meningkatkan kekuatan kebiasaan dalam menumbuh kembangkan agar mampu mewujudkan kekuatan berpikir positif untuk menyentuh hati dengan mengetuk dinding jiwa melalui pemahaman atas surat dan ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sikap iri hati QS. 16 : 32</strong>“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): &#8220;Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 9 : 56“</strong>Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ahli Kita iri hati kepada Nabi Muhammad QS. 4 : 54</strong>“ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besa</p>
<p><strong>Yahudi iri hati kepada Nabi Muhammad QS. 2 : 105“</strong> Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.,  109“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Larangan iri terhadap bagian orang lain QS. 4 : 32</strong>” Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jangan cepat terpengaruh kebiasaan mengungkapkan dalam bersikap dan berperilaku karena dorongan naluri yang mendorong manusia kearah berpikir negatif karena sifat „Iri hati“.</p>
<p>Bangkitkan kebiasaan berpikir positif, maka iri hati dapat menjadi cambuk kita dalam menatap perjalanan hidup ini, oleh karena itu gerakkan menjadi kebiasaan untuk berpikir positif, maka disitu kita menyadari sepenuhnya bahwa ilmu adalh ruh agama islam dan tiang iman, siapa mengajarkan ilmu Allah memberi pahalanya, siapa yang mengamalkannya Allah mengajarkan-nya apa-apa yang tidak ia ketahui.</p>
<p><strong>24. JIWA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kekuatan kebiasaan pikiran ditentukan oleh kemampuan manusia dalam memanfaatkan unsur jiwa berupa kesadaran, kecerdasan dan akal sebagai alat pikir untuk mendorong daya kemauan yang kuat, seperti halnya kita membayangkan memulai hidup baru, tanpa memikirkan bahwa masa yang anda memiliki adalah hari ini hidup anda dibentuk oleh ikiran anda sendiri sehingga tidak ada gunanya menangisi yang telah berlalu, oleh karena itu temukan dirimu sendiri dengan mendalami ungkapan surat dan ayat dibawah ini sebagai langkah membersihkan jiwa :</p>
<p><strong>QS. 2 : 155”</strong> Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 164”</strong> Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.,</p>
<p><strong>185“</strong>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 4 : 63</strong>” Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.,</p>
<p><strong>95“</strong>Tidaklah sama antara mu&#8217;min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 5 : 45“</strong>Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 6 : 36”</strong> Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>151”</strong> Katakanlah: &#8220;Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar&#8221;. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).</p>
<p><strong>QS. 7 : 172“</strong>Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&#8221;,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 8 : 72“</strong>Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.</p>
<p><strong>QS. 9 : 81”</strong> Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: &#8220;Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini&#8221;. Katakanlah: &#8220;Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)&#8221;, jikalau mereka mengetahui.</p>
<p><strong>-103”</strong> Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-118</strong>” dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 17 : 33“</strong>Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.</p>
<p><strong>QS. 18 : 74“</strong>Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: &#8220;Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 21: 102“</strong>mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam meni`mati apa yang diingini oleh mereka.</p>
<p><strong>QS. 25 : 68“</strong>Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya),</p>
<p><strong>QS. 31 : 28“</strong>Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 32 : 13“</strong>Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; &#8220;Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 39 : 42” </strong>Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.</p>
<p><strong>,70“</strong> Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 40 : 17“</strong> Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.</p>
<p><strong>QS. 49 :  15</strong>“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar</p>
<p><strong>QS. 61 : 11</strong>“ (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 75 : 2“</strong>dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).</p>
<p><strong>QS. 81 : 14“</strong>maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.</p>
<p><strong>QS. 82 : 5“</strong>maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.</p>
<p><strong>QS. 86 : 4“</strong>tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 91 : 7” </strong>dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>-9“</strong>sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan membaca dan kita merenungkan kembali tentang jiwa seperti yang trungkap dalam surat dan ayat diatas akan mengingatkan kita tentang hal-hal yang terkait dengan :</p>
<ul>
<li>Cobaan berat dalam menegakkan kebenaran ;</li>
<li>Akhlak dan beberapa sifat nabi Muhammad s.a.w.,</li>
<li> Kebhakilan dan dusta serta balasannya ;</li>
<li> Dasar-dasar pemerintahan,</li>
<li>Perbedaan antara orang yang berjihad dan yang tidak berjihad karena uzur dengan yang tidak berjihad ;</li>
<li>Pengigkaran orang-orang yahudi terhadap hukum-hukum taurat dan khausan memutuskan perkara meurut hukum yang diturunkan Allah ;</li>
<li> Firman Allah yang membsarkan hati nabi Muhammad s.a.w.,</li>
<li> Peraturan-peraturan yang dibuat-buat oleh kaum musyrikin dan pimpinan Allah terhadap kaum muslimin ;</li>
<li>Ketaudian sesuai dengan fitrah manusia ;</li>
<li>Cinta perdamaian dan keharusan mempertebal semangat jihad ;</li>
<li> Keadaan orang-orang munafik yang tidak mau berjihad, 103 Keharusan penguasa memungut zakat,</li>
<li>Larangan memintakan ampun untuk orang-orang musyrik ;</li>
<li> Beberapa tata krama pergaulan ;</li>
<li>Khidr membunuh seorang anak ;</li>
<li>Kisah beberapa orang Nabi ;</li>
<li>Sifat-sifat hambah Allah yang mndapat kmuliaan ;</li>
<li> Kekuasaan Allah adalah mutlak dan akibat pegingkaran terhadapnya ;</li>
<li>Sebuah perbandingan antara orang-orang mu’min dengan orang kafir</li>
<li>Syafa’at itu adalah semata-mata hak Allah ,</li>
<li> Beberapa peristiwa yang terjadi pada hari kiamat ;</li>
<li> Kewajiban menunaikan ibadat kepada Allah ;</li>
<li> Ciri-ciri iman yang sebenarnya ;</li>
<li> Kemenangan dapat diperoleh hanya dengan pengorbanan;</li>
<li> Kekuasaan Allah menghidupkan manusia seperti semula ;</li>
<li> Teguran kepada Rsulullah s.a.w.   ;</li>
<li> Celaan terhadap manusia yang durhaka kepada Allah  ;</li>
<li> Tiap-tiap manusia itu ada yang menjaganya;</li>
<li> Manusia diilhami Allah jalan yang buruk dan yang baik.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mendalami seluruh ungkapan diatas, diharapkan dapat menumbuh kembangkan kekuatan jiwa yang bersih, maka renungkanlah bahwa jiwa yang murni memandang dunia ini baik, niat baik sangka baik, pandangan baik, perkataan baik, perbuatan baik dan semua baik.</p>
<p>Oleh karena itu renungkan kembali secara mendalam ungkapn dalam surat dan ayat dibawah ini dalam mengungkapkan kebiasaan dalam pikiran kita :</p>
<p><strong>Berjihad dengan jiwa dan harta untuk mendapatkan keridhaaan Tuhan</strong></p>
<p><strong>QS.61 : 11“</strong> sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,, 12“ niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar., 13“ Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.</p>
<p><strong>Penghargaan Allah terhadap jiwa yang tena</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 89 : 27”</strong> Hai jiwa yang tenang., 28” Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya., 29” Maka masuklah ke dalam jama&#8217;ah hamba-hamba-Ku,, 30” dan masuklah ke dalam surga-Ku.</p>
<p><strong>Jiwa seseorang dalam kekuasaan Tuhan </strong></p>
<p><strong>QS. 39 : 42”</strong>Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir., 70“ Dan disempurnakan bagi tp-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.</p>
<p><strong>Tiap yang berjiwa akan merasakan mati</strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 185“</strong> Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.</p>
<p><strong>QS. 21 : 35”</strong> Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.</p>
<p><strong>QS. 29 : 57”</strong> Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.</p>
<p><strong>Jiwa yang menyesali dirinya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 75 : 2”</strong> dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)</p>
<p><strong>Jiwa yang muta’innah</strong></p>
<p><strong>QS. 89 : 27”</strong> Hai jiwa yang tenang., 28” Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya., 29” Maka masuklah ke dalam jama&#8217;ah hamba-hamba-Ku,, 30” dan masuklah ke dalam surga-Ku.</p>
<p><strong>Mengotori jiwa</strong></p>
<p><strong>QS. 91 : 10”</strong> dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.</p>
<p><strong>Penyakit jiwa (hati)</strong></p>
<p><strong>QS. 2 : 10”</strong> Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.</p>
<p><strong>QS. 8 : 49”</strong> (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: &#8220;Mereka itu (orang-orang mu&#8217;min) ditipu oleh agamanya&#8221;. (Allah berfirman): &#8220;Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221;.</p>
<p><strong>QS. 9 : 125”</strong> Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.</p>
<p>QS. 22 : 15” Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya., 53” agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,</p>
<p><strong>QS. 24 : 50”</strong> Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 33 : 12”</strong> Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: &#8220;Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya&#8221;., 60” Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,</p>
<p><strong>QS. 47 : 29”</strong> Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?</p>
<p><strong>Persaksian jiwa tentang tuhan</strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 172”</strong> Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&#8221;,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mensyujikan jiwa</strong></p>
<p><strong>QS. 91 : 9”</strong> dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.</p>
<p><strong>Tiap jiwa di jaga oleh malaikat</strong></p>
<p><strong>QS.13 : 11“</strong> Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.</p>
<p><strong>QS.86 : 4“</strong> tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya.</p>
<p><strong>Jiwa yang menyesali dirinya </strong></p>
<p><strong>QS. 75 : 2”</strong> dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jiwa yang muthma’innah </strong></p>
<p><strong>QS. 89 “ 27”</strong> Hai jiwa yang tenang.<strong> -30”</strong> Hai jiwa yang tenang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mengotori jiwa QS. 91: 10”</strong> dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penyakit jiwa (hati</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> QS. 2 : 10”</strong> Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 8 : 49”</strong> (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: &#8220;Mereka itu (orang-orang mu&#8217;min) ditipu oleh agamanya&#8221;. (Allah berfirman): &#8220;Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 9 : 125”</strong> Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.</p>
<p><strong>QS. 22 : 15” </strong>Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.,  <strong>53”</strong> agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,</p>
<p><strong>QS. 24 : 50”</strong> Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<p><strong>QS. 33 : 12” </strong>Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: &#8220;Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya&#8221;., <strong>60”</strong> Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,</p>
<p><strong>QS. 47 : 29</strong>” Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?</p>
<p><strong>Persaksian iwa tentang Tuhan </strong></p>
<p><strong>QS. 7 : 172”</strong> Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&#8221;,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Menyucikan jiwa </strong></p>
<p><strong>QS. 91 : 9”</strong> <strong>sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tiap jiwa di jaga oleh malaikat </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 11</strong>” (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir`aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 86 „ 4“</strong> tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Berjihad dengan jiwa dan harta untuk mendapatkan keridhaan Tuhan </strong></p>
<p><strong>QS. 61 : 11“</strong> (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya<strong>,- </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>13“</strong>Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.</p>
<p><strong>Penghargaan Allah terhadap jiwa yang tenang </strong></p>
<p><strong>QS. 89 : 27”</strong> Hai jiwa yang tenang.-<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>30”</strong> dan masuklah ke dalam surga-Ku.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jiwa seseoang dalam kekuasaan Tuhan </strong></p>
<p><strong>QS.39 : 42</strong>” Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tiap yang berjiwa akan merasakan mati </strong></p>
<p><strong>QS. 3 : 185“</strong> Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayaka</p>
<p><strong>QS. 21 : 35“</strong> Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QS. 29 : 57“</strong>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kunci keberhasilan dalam meningkatkan kedewasaan berpikir terletak dari kekuatan „keyakinan“ bahwa dalam usaha untuk mensucikan jiwa, maka jika Tuhan mempercayai anda, anda juga dapat , oleh karena itu tidak ada yang terlalu besar bagi Tuhan yang memberi impian yang tidak mungkin.</p>
<p>Dengan demikian, manfaatkanlah unsur jiwa dalam berpikir, maka disitu terletak jalan menuju suatu keyakinan dari yang tidak mungkin menjadi mungkin, sehingga bayangkan dalam pikiran kita bahwa jiwa yang hidup ialah jiwa yang bergerak dimana dengan kekuatan berpikir positif selalu datang setiap saat. Jadi kebiasaan itu selalu kembali untuk menempatkan sinar matahari dalam kehidupan kita.</p>
<p>Bertolak dengan pikiran diatas, renungkan makna „jiwa dari Tuhan akan kembali kepada Tuhan dan berhubungan dengan Tuhan. Tubuh asal dari tanah akan kembali ke tanah dan terus berhubungan dengan tanah. Jadi dengan pikiran itu memberikan daya dorong untuk merenungkan hal-hal yang terkait bahwa pengampunan adalah tempat di mana kita bertemu dengan kebaikan Tuhan, berhadapan wajah dari hati ke hati, yang akan menuntun hidup dengan jiwa yang bersih kedalam hati yang bersih pula.</p>
<p>Akhirnya untuk mengetuk dinding jiwa dalam hidup tanpa topeng kepalsuan maka akan mampu menangkap dalam pikiran bahwa jangan terperdaya oleh dunia karena dunia ini bohong dan sandiwara, uang daki dunia, harta bayang-bayang yang akan hilang, sedangkan hidup di dunia ini hanya sekejap mata dibandingkan dengan di waktu akhirat. Nikmat diberikan Tuhan di dunia hanya 1 % sedang di akhirat 99 %.</p>
<p><strong>25. JIWA KEDAMAIAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hidup ini penuh dengan tantangan, oleh karena itu jngatlah bahwa membangun „jiwa kedamaian“ berati kita berusaha melepaskan diri dari hidup dengan topeng kepaluan, maka disitu terletak ada kemauan yang kuat untuk mengungkit daya ingat bahwa tujuan perbaikan akhlak / moral ialah untuk membersihkan hati yang suci (kalbu) dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah hingga ia jernih bagaikan cermin yang dapat menerima cahaya Tuha</p>
<p>Dengan pikiran itu cobalah renungkan surat dan ayat dibawah ini sebagai satu kekuatan untuk menggerakkan kemampuan kita berpikir positif  dalam rangka seberapa jauh kekuatan kebiasaan pikiran kedalam menemukan „jiwa</p>
<p>kedamaian“ itu dapat kita bangun secara berkesinambungan, yaitu :</p>
<p><strong>SQ. 6 : 127</strong>” Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 8 : 61</strong>” Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 10 : 9</strong>” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh keni`matan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>10”</strong>Do`a mereka di dalamnya ialah: &#8220;Subhanakallahumma&#8221;, dan salam penghormatan mereka ialah: &#8220;Salam&#8221;. Dan penutup do`a mereka ialah: &#8220;Alhamdulillaahi Rabbil `aalamin.&#8221;</p>
<p><strong>SQ. 13 : 24”</strong> (sambil mengucapkan): &#8220;Salamun `alaikum bima shabartum&#8221;. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.</p>
<p><strong>SQ. 19 : 62”</strong> Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezkinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang.</p>
<p><strong>SQ. 21 : 102”</strong> mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam meni`mati apa yang diingini oleh mereka.</p>
<p><strong>SQ. 25 : 63</strong>” Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.</p>
<p><strong>SQ. 33 : 44”</strong> Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu&#8217;min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: &#8220;salam&#8221;; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka<strong>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 39 : 73”</strong> Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: &#8220;Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya&#8221;.</p>
<p><strong>SQ. 56 : 26”</strong> akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mendalami ungkapan dalam surat dan ayat diatas, diharapkan mampu menggugah kebiasaan pikiran kedalam hal-hal yang terkait :</p>
<ul>
<li>Sikapa kepala batu kaum musyrikin dan sikap mereka terhadap kerasulan Muhammad Saw.</li>
<li>Cinta perdamaian dan keharusan mempertebal semangat jihad</li>
<li>Pembalasan terhadap pengingkaran dan penerimaan wahyu</li>
<li>Beberapa sifat dan perbuatan yang mulia dalam islam</li>
<li>Kisah beberapa nabi yang lain</li>
<li>Kisah beberapa orang nabi</li>
<li>Sifat-sifat hamba Allah yang mendapat kemulaan</li>
<li>Keharusan mengingat Allah</li>
<li>Beberapa peristiwa yang terjadi pada hari kiamat</li>
<li>Balasan kepada orang-orang yang paling dahulu beriman</li>
</ul>
<p>Jadi mendalami makna ungkapan diatas, diharapkan menjadi mendorong dalam kebiasaan berpikir yang kuat untuk menggugah perasaan postif.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Belajar dari pengalaman, maka anda adalah satu-satunya guru yang anda inginkan, dengan demikian dengan keyakinan pula maka jika anda tidak tahu ke mana arah yang anda ambil, berarti anda tidak mengetahui di mana anda berada.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, renungkanlah bahwa dalam pandangan hidup anda mengetahui benar dimana Tuhan itu baik. Roh kudus-Nya menggerakkan pikiran positif dan bukan kekecewaan, ada harapan yang menunjukkan akan kedamaian, oleh karena itu renungkan makna “menyerah dengan sebulat hati artinya segala perintah dan hukumnya aku taati suruhnya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan, dengan segenap kerelaan. Inilah Islam dalam pandangan hidupku disatu sisi dan disisi lain, kita mengungkapkan “sekarang saya telah percaya kepada Allah artinya sekarang saya telah mengenal siapa Allah ; kenal dan yakin, inilah Iman.</p>
<p>Jadi dengan mngungkapkan dua kata yang kita sebut “Islam Dan Iman” diatas memberikan satu kekuatan dalam kebiasaan pikiran kita, maka disitu pula terletak kekuatan mengamalkan “jiwa kedamain”</p>
<p><strong>26. JUDI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salah satu sifat manusia yang tidak terpunyi adalah manusia yang selalu mengikat diri sepenuhnya terhadap kesenangan dunia, akibatnya manusia tidak mampu menuntun jiwa dalam menghadapi hawa nafsu.</p>
<p>Oleh karena itu, renungkanlah bahwa di dunia lebih mudah membuat kebaikan dari kejahatan, Tetapi manusia lebih condong membuat kejahatan dari kebaikan. Sebabnya nafsu lebih tua umurnya dari alat pikir berupa kesadaran, kecerdasan dan akal. Iblis lebih tua umurnya dari manusia.</p>
<p>Jadi hidup manusia dikepung oleh empat penjuru musuh, kiri hawa,di kanan nafsu, di muka dunia, di belakang setan yang menunda ke muka. Tubuh dan dunia dalam kekotoran karena itu perlu pengetahuan dan keimanan serta bersihkan jiwa. Sejalan dengan itu renungkan ungkapan dalam surat ayat dibawah ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SQ. 2 : 219</strong>“ Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya&#8221;. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: &#8220;Yang lebih dari keperluan.&#8221; Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,</p>
<p><strong>SQ. 4 : 29“</strong> Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.</p>
<p><strong>SQ. 5 : 90</strong>“ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah<strong> </strong>perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>- 91</strong>“ Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).</p>
<p>Bertolak dari ungkapan surat dan ayat tersebut serta adanya kemauan dan kebiasaan untuk mendalaminya mengenai hal-hal yang terkait dengan :</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Khamar, judi, harta yang dinafkahkan dan pemeliharaan anak yatim</li>
<li>Islam melindungi hak milik laki-laki dan perempuan</li>
<li>Larangan meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib ;</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>maka disitu terletak jalan bagaimana menghadapi hawa nafsu yang menjadi kebiasaan manusia dalam „berjudi“ dengan bayangan untuk dapat memperkaya diri karena itu bagi seseorang mempunyai pikiran waras dan alat pikiran sehat tentunya menyadari, betapa berbahayanya nafsu dalam dada yang kelak akan berkorban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan daya kemauan yang kuat serta kekuatan kebiasaan pikiran akan mampu mengungkit daya ingat dalam usaha yang bersangkutan menemukan jati dirinya</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan memperhatikan kebiasaan pikiran yang sehat, kita kemudian berusaha untuk menghadapi nafsu tersebut dalam kebiasaan berjudi, kemudian berusaha untuk menghadapi nafsu tersebut agar jinak dan tak memperdaya diri sendiri.</p>
<p>Kebiasaan pikiran tersebut haruslah didorong untuk menemukan jati diri yang sejalan dengan pengakuan kita sebagai islam dan beriman. Jadilah kita kedalam golongan yang benar-benar takut jika dirinya menjadi budak pelayan nafsunya sendiri.</p>
<p>Jadi bila kita terlepas dari kebiasaan berjudi, itu berarti dari kesusahan dapat pengalaman, dari kesalahan dapat kesempurnaan, dari kekhilafan dapat kesadaran, yang kesemuanya itu di dorong rasa takut yang mengingatkan bahwa pembicaraan pikiran yang menghalangi kita mendengarkan intuisi kita sendiri, sedangkan kita memahami dalam berpikir ada yang disadari (otak dan hati) dan ada yang tidak disadari (hati)</p>
<p>Oleh karena itu, pikirkan terus bahwa di depanmu masih terbuka kesempatan, masih ada harapan yang cerah dan masa depan yang gemilang, maka ingatlah sesungguhnya kesempitan yang kita alami pasti ada jalan keluarnya, dengan begitu kita adalah makhluk pilihan dan kita memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana kita akan bereaksi terhadap suatu keadaan seperti kebiasaan berjudi.</p>
<p>Sejalan dengan pikiran diatas, maka renungkan kembali <strong>Surat Al Faatihah (pembukaan) surat ke 1 : 7 ayat, sebagai berikut :</strong></p>
<p>SQ. 1 : 1“ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,  3“ Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, 4“ Yang menguasai hari pembalasan.</p>
<p>5“ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan 6“ Tunjukilah kami jalan yang lurus, 7“ (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdmatr.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdmatr.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdmatr.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdmatr.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdmatr.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdmatr.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdmatr.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdmatr.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdmatr.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdmatr.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdmatr.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdmatr.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdmatr.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdmatr.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdmatr.wordpress.com&amp;blog=1886966&amp;post=208&amp;subd=sdmatr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdmatr.wordpress.com/2010/11/28/sambungan-11-balas-dendam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bda4b6bab9990f2047d1080d8e33296f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suaraatr2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
