Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2012

KESIAPAN PIMPINAN PUNCAK MENYERAHKAN JABATAN

1. PENDAHULUAN

Dapatkah anda membayangkan dari peran pimpinan puncak sebagai dewan Direksi, khususnya peran CEO dalam usaha membangun keteladanan untuk memikirkan kesiapan untuk melepaskan jabatannya dengan menyiapkan kader yang dibina untuk menjadi penggantinya.

Kebiasaan pikiran tersebut sangat sulit untuk diterapkan pada BUMN yang tidak mampu memperlihatkan kepemimpinan terbuka, sifat komunikasi dan akuntabilitas sebagai sesuatu yang tertutup sehingga tidak menumbuh kembangkan peran CEO menjadi profesional dalam menjalankan perannya.

Pengalaman telah menunjukkan peran penguasa Pemerintah dalam BUMN untuk mengangkat dan memberhentikan peran Direksi dan Komisaris, oleh karena itu mungkinkah BUMN mampu merubah wajah baru dalam pola pikir dalam merubah kesenjangan yang terjadi.

Perubahan pola pikir tersebut hanya bisa terjadi bila didukung oleh kekuatan budaya bangsa dan negara ditetapkan dengan Undang-Undang, sebagai landasan membangun suatu sistem Kepemimpinan yang terbuka.

Budaya bangsa dan negara yan kuat haruslah dipikirkan untuk dibangun dan ditetapkan sebagai satu kekuatan kebiasaan dalam pikiran yang selalu menjadi daya dorong untuk dapat menuntun apa yang kita kerjakan adalah hasil pikiran sendiri, oleh karena itu diperlukan perubahan pola pikir yang mampu melakukan perubahan yang mendasar untuk membangun apa yang kita sebut dengan “Kepribadian jati diri sendiri” dengan kekuatan “Akhlak” yang sangat menentukan perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejalan dengan pokok pikiran yang kita ungkapkan diatas, maka langkah pikiran yang perlu kita rumuskan untuk dapat melaksanakannya adalah mencakup pikiran :

  • Mempersiapkan diri sendiri ;
  • Memilih pengganti anda ;
  • Melatih pengganti anda ;
  • Menyerahkan tampuk kepemimpinan.

2. MEMPERSIAPKAN DIRI SENIRI

Membangun kebiasaan pikiran yang ditopang daya kemauan yang kuat sangat bergantung kesiapan diri anda yang sejalan dengan kemampuan anda dalam tingkat kedewasaan berpikir.

Dengan kedewasaan berpikir anda, yang mencakup dalam kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual akan mampu menuntun mempersiapkan diri sendiri untuk :

Pertama, kesiapan mengurangi kecepatan yang berdampak kedalam bertindak 1) Penyerahan tampuk pimpinan dapat merupakan tantangan paling final dalam peran kepemimpinan sehingga apabila anda melakukannya dengan baik kepada pengganti anda, maka disitu terletak sanjungan dan kepuasan ;

2) Dalam bayangan pikiran tumbuh kebiasaan untuk tetap dalam berkarya setelah mengakhiri jabatan CEO ; 3) Secara sadar ada kedamaian dalam setiap langkah tindakan untuk melepaskan secara efktif.

Kedua, adanya kekuatan dalam kebiasaan pikiran untuk tetap melepaskan dan terus berjalan yang tidak terganggu oleh apa yang disebut dengan dorongan nafsu karena apa yang disebut dengan 1) Adanya pikiran melepaskan memang sulit untuk dilakukan ; 2) Memikirkan status sebelum dan sesudahnya ; 3) Memikirkan kekuasaan ; 4) Memikirkan hubungan ; 5) Memikirkan kebahagian ; 6) Memikirkan makna peran dan kontribusi.

 

Ketiga, menciptakan peran dalam sisi hidup yang hebat, oleh karena itu terus melangkah dan berpikir untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan sejalan dengan itu juga memikirkan hal-hal yang berkaitan menemukan suatu tim yang melibatkan untuk memikirkan sumbangan pikiran dalam proses penggantian.

3. MEMILIH, MELATIH DAN   MENYERAHKAN  TAMPUK KEPEMIMPINAN

Pertama Memilih Pengganti anda :

Sejalan dengan telah terbangunnya iklim organisasi yang sehat dimana tiap orang memiliki kesempatan untuk memperoleh informasi yang terbuka memungkinkan orang memperolehnya, maka perlu merumuskan pensyaratan yang terkait dimana peran CEO untuk “memilih siapa yang akan dikembangkan sebagai pengganti anda.

Pengalaman juga memberikan informasi dari organisasi yang besar dengan budaya yang kuat, menarik calon pengganti dari luar sebagai pengganti, namun tingkat keberhasilannya sangat bergantung kepribadian calon yang mampu menyesuaikan diri dengan budaya yang sudah mampan sehingga tidak jarang kepemimpinan dengan kepribadian yang tidak efektif.

Berdasarkan pengalaman itu begitu besar kerugian-kerugian dari kegagalan CEO dari eksternal, sehingga mendorong untuk memilih pengganti internal. Oleh karena itu tidak heran pula CEO menunjuk seorang konsultan untuk membantunya memilih calon-calon CEO yang memiliki kemampuan untuk mengevaluasi kandidat-kandidat internal.

Kedua Melatih Pengganti Anda :

Disamping CEO sendiri terlibat dalam kegiatan melatih, juga diperlukan untuk memilih seorang pelatih eksekutif yang berasal dari luar dengan fokus hal-hal yang terkait dengan perilaku.

Memilih pelatih dari luar dengan pertimbangan sifat rahasia dari pengumpulan data, memiliki kekuatan kredibilitas dan soal waktu. Selain dari itu juga melibatkan para pemegang saham dalam merumuskan kebutuhan dalam pelatihan yang terkait dengan hal-hal kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dalam aplikasi SWOT.

Sejalan dengan apa yang diutarakan diatas, maka menjadi seorang pelatih – fasilitator CEO, dimaksudkan untuk mengkaji umpan balik atau masukan sebelumnya. Selain dari itu juga adalah mngumpulkan ide-ide mengenai keberhasilan di posisi CEO. Dengan begitu  sembari melatih pengganti anda, anda dapat mengungkapkan hal-hal yang berkaitan mengenai mengapa ia tidak bertindak seperti saya ? ; mengapa dia tidak berpikir seperti saya / ; mengapa dia tidak menyukai teman-teman saya ?

Ketiga Menyerahkan Tampuk Kepemimpinan :

Sejalan dengan proses penggantian, maka kader yang menjadi calon pengganti sudah harus diketahui oleh semua pihak yang mempunyai kepentingan atasnya.

Dengan kesiapan CEO, maka menyerahkan merupakan satu pikiran yang harus dilakukan kedalam pikiran anda sebagai kebutuhan anda dalam pemikiran untuk mempertahan daur hidup prima ke tangan pengganti anda, maka disitu terbuka mata hati anda dalam kepuasan atas keberhasilan kesiapan diri anda melihat masa depan kelangsungan hidup organisasi.

4. PENUTUP

Dengan dibangunnya iklim organisasi yang sehat akan dapat tergambarkan bahwa organisasinya terbangun dengan budaya yang kuat, berarti juga adanya kekuatan pikiran yang terbuka.

Sejalan dengan kebiasaan pikiran tersebut mendorong adanya perusahaan, pemimpin dan karyawan untuk melaksanakan hal-hal yang keterbukaan, oleh karena itu maka CEO secara sadar menyiapkan diri melepaskan jabatannya sehingga dalam masa transisi, CEO harus terlibatkan langsung dalam melatih dan menyiapkan calon penggantinya sebagai langkah komitmen mempertahankan kelangsungan hidup organisasi.

Advertisements

Read Full Post »