Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2013

90. KEBIASAAN PIKIRAN  MENJELAJAH SUARA ATR DALAM LENTARA JIWA PENERANG KEGELAPAN

1. ENDAHULUAN 

Sejenak bila kita renungkan kembali bahwa manusia terbagi dalam empat golongan yaitu :

  1. Orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti. Itulah orang pandai, maka ikutilah dia ;
  2. Orang yang mengerti tapi tidak mengerti bahwa ia mengerti. Itulah orang yang lalai, maka peringatkanlah ia ;
  3. Orang yang tidak mengerti dan ia mengerti bahwa ia tidak mengerti. Itulah orang yang sadar diri, maka ajarilah ia ;
  4. Orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti. Itulah orang yang bodoh, maka tinggalkanlah ia.

Dengan memperhatikan keempat golongan manusia diatas, maka kita membayang pula bahwa manusia condong membuat kejahatan dari kebaikan. Sebabnya nafsu lebih tua  umurnya dari unsur jiwa (kesadaran, kecerdasan, akal). Iblis lebih tua umurnya dari manusia. Sedang manusia dikepung oleh empat penjuru musuh, kiri hawa, di kanan nafsu, di muka dunia, di belakang setan yang menunda ke muka. Tubuh dan dunia dalam kekotoran karena itu perlu pengetahuan dan keimanan serta bersihkan jiwa.

Apa artinya hidup ini. Tujuan hidup ialah kebahagian, ini tidak dapat diperoleh dengan memburu kesenangan, tetapi dengan suatu cara hidup yang sewajarnya dan sederhana, sebisa-bisanya tidak bergantung dari segala alat-alat hidup bikinan.

Ingatlah bahwa hidup itu permainan penuh kegembiraan bagi orang memikir, permainan penuh kesedihan bagi orang yang merasa. Oleh karena itu Allah Swt menyuruh kita semua suka berpikir dan mengenang akan kejadian alam ini, yakni ciptaan Allah.

Dengan mengungkapkan pikiran diatas, memberikan arti bagi kita untuk memikirkan ungkapan bahwa „Lentera Jiwa Penerang Gegelapan“ untuk menyadarkan kita melepaskan diri dari proses berpikir „Maksiat“ dalam hubungan dengan Allah disatu sisi dan disisi lain berpikir „Negatip“ dalam hubungan dengan manusia.

Untuk itulah kita membuka mata hati untuk mendalami makna keutamaan berpikir seperti yang termuat dalam

QS. 3 : 191“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.“

Bertitik tolak apa yang kita utarakan diatas, maka betapa penting kedudukan ilmu pengetahuan dalam menanggapi seluruh hidup di dunia ini dengan „Lentera jiwa penerang kegelapan“, itu artinya kita membayangkan bahwa bukan kepandaian, nasiblah, yang mengusai hidup manusia, oleh karena itu ungkitlah daya kemauan yang kuat dalam apapun yang kita kerjakan adalah hasil pemikiran.

Dengan demikian dengan bekerja keras, dan keberanian menghadapi hidup maka segala kesesalan dapat kita dihilangkan, sepanjang ada daya kemuan yang kuat, maka disitu terbuka pintu suatu keinginan dalam mewujudkan kebiasaan yang diridhoi oleh Allah Swt. Jadi hidup itu hanya dapat dimengerti dengan menoleh kebelakang, tetapi harus dijalani dengan melihat kedepan.

Untuk bisa keluar dari kebiasaan yang dipengaruhi oleh „Lentera jiwa penerang kegelapan“, maka simaklah pula pola pikiran yang mengungkapkan bahwa Hukum hidup menuntut : ketulusan terhadap Tuhan, kekerasan terhadap diri sendiri, keadilan terhadap semua orang, maka terbukalah kekuatan pikiran yang mengatakan bahwa senyummu di hadapan saudaramu bernilai sedekah. Tidaklah kalian akan masuk surga sebelum kalian saling mencintai satu sama lain.

Dengan ungkapan pikiran diatas mendorong keinginan menjadi kebiasaan yang menuntut perubahan dalam diri ini, agar makna lentera jiwa penerang kegelapan dapat dilawan dengan adanya bujukan “Iblis dan syetan” dengan membangun kemampuan Berilmu dari kekuatan “Kepercayaan (Islam) dan “Keyakinan” (Iman) dalam menghadapi penghancur amal kebaikan yang ditimbulkan oleh perbuatan kita sendiri seperti yang terungkap dalam pandangan kita terhadap apa yang disebut dengan RIYA’ dan UJUB”

RIYA’ adalah eseorang memperlihatkan amal kebaikannya demi mencari wibawa dan kedudukan dalam hati manusia.

Tetapi Riya’ dalam pengertian menurut syariat adalah sebagai berikut: suatu ungkapan terwujudnya sebuah tujuan dalam ibadah dan amal perbuatan yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah ebagai syarat dalam perwujudannya menurut syariat. Berdasarkan difinisi ini, arti riya’ adalah melakukan suatu amal perbuatan sebagai syarat pendekatan demi mendapatkan kedudukan di mata manusia.

Selanjutnya renungkan apa-apa yang terungkap dalam surat AlQuran yang mengungkapkan :

Larangan bersikap riya’ dan sombong :

QS. 8 : 47” Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

Dilarang melakukan shalat karena Riya’ ; QS. 4 : 142” Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Jangan menafkahkan harta karena riya’ : QS. 2 : 264“ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

QS. 4 : 38“ Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

Riya’ termasuk salah satu sifat mendustakan agama :

QS. 107 : 4“ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5“ (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,    6“ orang-orang yang berbuat riya.   7“ dan  enggan (menolong dengan) barang berguna.

QS. 98 : 5“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

QS. 39 : 3“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): „Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

QS. 18 : 110“ Katakanlah: „Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: „Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa“. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.

UJUB, seperti yang terungkap dalam surat :

QS. 18 : 103” Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” ; 104” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ; 105” Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

2.  TUJUH PERKARA MENGHANCURKAN DIRI DALAM LENTER JIWA PENERANG GEGELAPAN

Allah Swt. Menyuruh supaya kita semua suka berpikir dan mengenang alam ini, yakni ciptaan Allah.

Sejalan dengan pokok pikiran diatas, lebih lanjut dapat kita renungkan seperti dalam QS. 3 : 191“ (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

QS. 2 : 87“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu`jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

QS. 4 : 27“ Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

135“ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.

QS. 5 : 29“ “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”, 48, 49, 70, 77 ; 6: 119, 150 ; 7: 81, 176 ; 12 :53 ; 13 : 37 ; 18 : 28 ; 20 : 96 ; 27 : 55

Allah mengunci hati orang yang menuruti nafsu :

QS.45 : 23“ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? ; 47 : 16

Dilarang mengikuti hawa nafsu : QS. 4 : 135“ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.

Hawa Nafu QS. 53 : 3“ dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.,23“ Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka“; 54 : 3 ; 79 : 40

Mempertuhankan hawa nafsu : QS. 25 : 43“ Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?“ ; 45 : 23

Nafsu elalu mendorong  pada kejahatan kecuali yang diberi rahmatnya Tuhan

QS.12 : 53“ Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“

Dengan mmahami , menghayati dan mengamalkan apa-apa yang tertuang dalam surat da ayat diatas, memberikan petunjuk untuk kita pikirkan, sehingga memberi daya kemauan yang kuat untuk kita memerangi kekuatan iblis dan syetan yang terus mempengaruhi dalam kita bersikap dan berperilaku.

Oleh karena itu dengan menerangi lentera jiwa gegelapan, diharapkan kita mampu melepaskan diri dari kekuatan pikiran maksiat dalam hubungan dengan Allah Swt dan berpikir negatip dalam hubungan dengan manusia, sehingga kita dapat mengungkit daya ingat agar kita tidak terjerumus.

Dengan demikian, agar kita mampu meletakkan landaan pikiran yang kuat atas „Memulai Hidup Baru“, maka semakin lama kita berbuat maksiat, semakin menguat kesedihan itu pada diri kita. Ehingga kita merasakan kehidupan yang sempit hati yang penuh kegelisahan, dan wajah yang selalu bermuram durja. Untuk seperti yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini :

QS. 20 : 124“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

QS. 6 : 44“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

QS. 2 : 38“ Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Dengan memahami, menghayati dan mengamalkan apa-apa yang terungkap diatas, maka menuntun hidup dengan jiwa tanpa topeng kepalsuan, maka meretas jalan menjadi diri sendiri untuk menyeleaikan tujuh perkara yang menghancurkan diri yang mencakup hal-hal yang terkait dengan :

Pertama, Apa yang disebut Nafsu yang condong pada paham meterialis artinya manusia akan terperangkap dengan kebiasaan yang disebut 1) tamak terhadap suatu kekayaan ; 2) kikir untuk mengeluarkan santunan ; 3) lupa sanak keluarga, teman dan kerabat ; 4) menciptakan berbagai cara untuk memperoleh suatu kekayaan yang berlebihan ; 5) dengki dan sombong ; 6) lupa siapa dirinya dan siapa yang menciptakannya.

Kedua, Apa yang disebut Marah adalah Nafsu api yang dibakar setan artinya berdasarkan ahli psikologis , marah yang berlangsung dan menyakiti manusia aka menimbulkan gangguan jiwa kita. Ebagai akibat dari kemarahan terhadap jiwa ialah kita menjadi sakit misalnya terkena gangguan lambung, gangguan sakit kepala dsb.

Ketiga, Apa yang disebut jangan mengikat diri sepenuhnya terhadap kesenangan dunia artinya orang-orang yang imanya goyah dan tak berpendirian, maka akan diombang ambingkan kehidupan dunia. Dia menceburkan dunia dalam-dalam, mmbenamkan diri dalam kesibukan mencari nafkah, menumpuk kekayaan hingga terbitlah sifat tamak di hatinya. Semua itu adalah nafsu yang berperan dan menyetir diri kita hingga akhirnya terseret kejurang yang dalam jurang kesesatan.Mereka yang mengikat diri sepenuhnya kepada dun ia, maka dia termasuk tertipu.

Keempat, Apa yang dsebut bagaimana menghadapi hawa nafsu artinya seseorang yang mempunyai pikiran waras dan akal sehat tentunya menyadari, betapa berbahayanya nafsu dalam dada  yang kelak akan berkorban. Sebab itu mereka kemudian berusaha  untuk menghadapi nafsu tersebut agar jinak dan tak memperdaya diri sendiri. Orang-orang dalam golongan inilah yang benar-benar takut jika dirinya  menjadi budak pelayan nafsunya  sendiri.

Kelima, Apa yang disebut dengan nafsu syahwat (seksualitas) artinya sesungguhnya nafsu syahwat telah melekat sejak adanya Nabi Adam dan Hawa du nia. Sampai saat ini nafsu syahwat merupakan eparuh bagian dari kehidupan.Artinya syahwat memang sangat dipentingkan dan merupakan kebutuhan kedua setelah kebutuhan makan. Itulah sebabnya sehingga nafsu yang satu ini ering membahagiakan dalam kehidupan. Namun tak jarang banyak yang celaka karena nafsu syahwat tersebut.

Keenam, Apa yang disebut dengan keutamaan mengekang hawa nafsu (seks) artinya jika tidak mampu mengengkangnya, maka kita akan diperdaya oleh nafsu itu. Jika sudah diperdaya maka segala kehidupan tiada yang lebih penting kecuali kepuasan bersetubuh / seks.

Padahal anggapan semacam itu adalah suatu anggapan yang bodoh. Seseorang yang berakal pikiran sempurna, tak mungkin mendewakan seks. Tetap memandang seks adalah kebutuhan diantara sekian banyak kebutuhan. Hawa nafsu syahwat bisa kita umpamakan / kita samakan dengan penyakit pada umumnya, terhadap penyakit lebih baik kita mencegah daripada menyembuhkan. Mencegah berarti jangan sampai penyakit itu menyerang tubuh kita. Kita upayakan tubuh tahan serangan penyakit.

Ketujuh, Apa yang disebut dengan perkawinan bukan semata pelampiasan nafsu seks artinya kebanyakan orang beranggapan bahwa melakukan perkawinan hanya semata karena dorongan pelampiasan seks saja. Anggapan dan pandangan semacam itu adalah benar-benar keliru. Sebab jika kita menganggap perkawinan merupakan alat pelampiasan syahwat, tentu akan kecewa  dan akan tersesat. Jika kita berpendirian begitu barangkali kehidupan rumah tangga tak akan memberikan ketenangan batin, kedamaian dalam beribadah, melainkan selalu dipecundang nafsu syahwat belaka. Padahal jika kita mendewakan nafsu yang satu itu, pasti kita akan tersesat. Kita akan diperdaya oleh hawa nafsu seksualitas.

Ketujuh perkara yang menghancurkan diri, terletak cara setan memasuki jiwa manusia, oleh karena itu bagi kita yang beriman hendaknya merasa wajib memerangi setan yang ada dalam tubuh dan darah ini. Setan yang menyusup melalui peredaran darah manusia ini disebabkan setan itu termasuk badan halus. Setan sebangsa dengan ruh yang dapat menyelinap dan menyusup ke segala tempat dan keadaan.

3. PENUTUP

Sejalan dengan keinginan untuk memberi sinar cahaya kedalam apa yang disebut dengan „Lentera jiwa penerang kegelapan“, maka disitu terletak kekuatan pikiran untuk mengendalikan tujuh perkara yang menghancurkan diri.

Oleh karena itu, perlu kita ketahui, mengapa kita harus siap dan wajib memerangi setan, dimana ada dua sebab di antaranya adalah 1) sebab setan merupakan musuh yang nyata bagi manusiaberiman kepada Allah. Musuh yang menyesatkan dan tidak dapat diharapkan adanya kebaikan darinya dan tidak dapat diharapkan perdamaian. Itulah sehingga setan akan merasa puas jika melihat manusia jatuh kembah makmaksiatan. ; 2) kita diharuskan memusuhi setan karena etan memang sejak dilahirkan sudah bertabiat memusuhi kita. Ia selalu iap siaga untuk memerangi manusia. Siang maupun malam berusaha memperdayakan manusia dengan berbagai cara. Setan tidak pernah berhenti untuk membuat manusia lupa dan lali kepada Allah.

Untuk terus memberi sinar cahaya kedalam lentera jiwa penerang kegelapan, maka pikirkan hal-hal yang berkaitan 1) Tidak meremehkan perbuatan sunah ; 2) Menjadikan ibadah sebagai kenikmatan ; 3) Banyak beristighfar ketika membaca Al Qur’an ; 4) Shalat pada waktunya.

Advertisements

Read Full Post »

87. KEBIASAAN PIKIRAN MENJELAJAH SUARA ATRDALAM

MEMBANGUN SEMANGAT JIWA

1. PENDAHULUAN

Membangun wujud semangat jiwa, bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, walaupun mudah diucapkan tapi sulit bagi setiap orang yang tidak berusaha dengan Allah Swt. Untuk itu cobalah anda membayangkan buah pikiran yang terungkit dari kebiasaan manusia bahwa :

„Di dunia ini lebih mudah membuat kebaikan dari kejahatan. Tetapi manusia lebih condong membuat kejahatan dari kebaikan. Sebabnya nafsu lebih tua umurnya dari jiwa yang memiliki unsur kesadaran, kecerdasan dan akal. Iblis lebih tua umurnya dari manusia. Sedang manusia di kepung oleh empat pencuru musuh, kiri hawa, di kanan nafsu, di muka dunia, di belakang setanyang menunda ke muka. Tubuh dan dunia dalam kotoran karena perlu pengetahuan dan keimanan serta bersihkan jiwa“.

Oleh karena itu galilah potensi yang ada dalam diri anda dengan menumbuhkan daya kemauan yang kuat untuk mewujudkan keinginan dalam menemukan semangat jiwa anda sendiri. Jadi wujudkan kedalam kehidupan anda menjadi manusia tanpa topeng kepalsuan.

Dengan pikiran diatas maka kebiasaan hidup menjadi kekuatan dalam pikiran anda yang mendorong dalam penghidupan, berjalan lurus berkata benar karena tidak ada salah yang tidak ditimbang dan hutang yang tidak dibayar. Yang bungkuk dimakan sarung, tidak ada busuk yang tidak berbau, bengkak yang tidak meletus. Yang benar akan tegak, yang batil akan tumbang dengan membangun semangat jiwa

Hanya dengan berbuat dengan kebiasaan berpikir ketaatan dan berpikir positip, terbuka pintu anda menggali kebiasaan yang ditopang oleh niat anda yang selalu berdoa dalam melangkah dan menyerahkan diri kehendak Allah Swt.

Oleh karena itu, bila niat anda berkeinginan meretas jalan dalam membangun semangat jiwa berarti anda berusaha mewujudkan keinginan jiwa tanpa topeng kepaluan dalam hidup ini, jadi niat anda yang ingin ditegakkan dengan mengetuk dinding jiwa berarti anda mampu untuk mengungkit daya ingat anda kedalam bagian dari pendekatan berpikir 7M yaitu Memahami, menghayati dan Mengamalkan.

Berpikir seperti yang kita ungkapkan diatas, berarti damai yang ada di hati manusia akan menimbulkan damai di muka bumi, kejahatan yang ada di hati mengakibatkan kacaunya mesyarakat. Hati yang beriman akan menimbulkan perasaan dan akhlak yang tinggi. Kayuhlah biduk anda tetapi jangan halangi biduk orang yang lain. Oleh karena itu, ketuklah dinding jiwa anda, untuk menemukan usaha-usaha membangun semangat jiwa denga meluruskan kebersihan ruhani, kelurusan aqidah, kelembutan rasa, kekuatan kata, gejolak jiwa , ketegasan sikap dan ketajaman mata hati.

Dengan demikian, mewujudkan dalam membangun semangat jiwa terletak daya kemauan yang kuat untuk memberikan motivasi dengan mengungkapkan „dengan perkataan terbuka pintu syorga , dengan perkataan juga terbuka pintu neraka. Yang paling manis bukan gula, tetapi lidah. Dan yang paling pahit bukan empedu, tetapi juga lidah. Perkataan yang manis seperti santan dengan tengguli dan perkataan yang tajam seperti alu pencungkil duri“

Dari ungkapan diatas mengajarkan kepada kita untuk meretas jalan dalam keinginan membangun semangat jiwa bukanlah sesuatu yang gambang untuk dilaksanakan, tetapi dengan kepercayaan dan keyakinan segala usaha dengan doa dan kehendak Allah Swt. Kita akan sampai melepaskan diri dari kebiasaan dalam jiwa tanpa topeng kepalsuan, maka kita dapat mengingat hal-hal seperti yang terungkap bahwa kebanyakan manusia dipuji senang hatinya, dicela kecil hatinya, beruntung sangat gembira, rugi keluh kesah, sehendaknya ada jangan harap, kalau hilang jangan cemas, tidak harap benar karena untung dan tidak cemas karena rugi.

Dengan belajar mengungkapkan situasi-ituasi yang kita bayangkan, maka terbayangkan sesuatu inspirasi untuk mendorong daya kemauan apa yang kita inginkan yaitu usaha-usaha membangun semangat jiwa.

2. MENUMBUH KEMBANGKAN PIKIRAN KEDALAM

MEMBANGUN SEMANGAT JIWA.

Melalui kedewasaan berpikir (rohaniah, sosial, emoional, inteletual), maka dengan segenap hati saya mulai mengejar apa yang paling saya cintai dalam perjalanan hidup ini sebagai suatu kekuatan yang akan mengungkit pikiran saya dalam Ketaatan dan Positip, maka disitu terletak pintu membangun semangat jiwa.

Untuk menambah wawasan anda tentang JIWA, saya sarankan untuk membaca buku „ Menyelam Ke samudera Jiwa & Ruh“ oleh Agus Mustofa. Serta bukalah Al Qur’an.

Tapi secara umum tentang JIWA, dapat diungkapkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bahwa :

1. Roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan hidup) 2. Seluruh batin manusia ( yang terjadi dari oerasaan, pikiran, angan-angan, dsb). 3.Sesuatu atau orang yang utama dan menjadi sumber tenaga dan semangat.

Bertolak dari pengertian diatas, maka dibawah ini diuraikan hal-hal yang terkait dengan MEMBANGUN SEMANGAT JIWA, dilihat dari sudut pandangan dalam apa yang disebut dengan Peta Untuk Pikiran ; Peta Untuk Tubuh dan Peta Untuk Jiwa dengan dorongan unsur jiwa dalam proses berpikir.

Pertama Peta Untuk Pikiran:

Ubahlah cara berpikir anda, maka dunia anda akan berubah sejalan dengan daya kemauan anda karena hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri.

Kita dapat membayangkan dalam kehidupan. Pikirlah tentang dirimu. Jika satu bangsa sudah mulai berpikir tak ada satu pun kekuatan yang bisa menghentikannya.

Oleh akerena itu untuk menggerakkan kekuatan ingatan anda, maka gerakkan pikiran untuk menumbuh kembangkan SEMANGAT JIWA dalam peta untuk berpikir maka disitu terbuka satu kekuatan yang mampu anda gali dalam potensi diri anda.

Untuk itu cobalah anda renungkan apa-apa saja yang dapat menjadi pendorong agar dapat meningkatkan kedewasaan berpikir seperti apa-apa yang akan anda pikirkan dengan hal-hal yang terkait dengan kebiasaan berpikir anda mengenai :

1) Tempuhlah jalan menuju pembelajaran yang

berkelanjutan ;

2) Tumbuhkan kekuatan kepercayaan (dasar agama) dan

keyakinan (iman) ;

3) Berikap dan berperilaku terbukalah terhadap nikmat

yang diberikan Allah Swt ;

4) Kobarkan sukacita ;

5) Latihlah kekuatan sikap dan perilaku dalam bersyukur ; 6) Ampunilah diri sendiri ;

7) Ungkit daya ingat anda dalam krisis iman ;

8) Terimalah apa yang tak dapat anda ubah ;

Cobalah anda kembangkan seperti halnya yang diungkapkan pada angka 1 s/d 8 sebagai suatu model untuk mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan keinginan untuk mendorong semangat jiwa.

Kedua, Peta Untuk Tubuh :

Tubuh adalah keseluruhan jasad manusia dari bagian ujung kaki sampai ujung rambut.

QS. 10 : 92” Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

QS. 41 : 21” Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

QS.41 : 22” Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.

Bertolak dari ungkapan diatas, manusia sosok makhluk hidup yang memiliki tiga unsur yang disebut badan, jiwa dan ruh, sehingga renungkan yang terkait dengan penciptaan manusia dan organ-organnya seperti yang teruraikan dibawah ini :

1) Bagaimana Allah mengeluarkannya dari tulang punggung laki-laki dan tulang rusuk kaum wanita.

2) Bagaimana Allah mengumpulkan kedua jenis ini.

3) Bagaimana Allah membimbing mereka itu dengan rantai kecintaan tadi

4) Bagaimana Allah mengeluarkan air mani itu dengan adanya gerak persetubuhan.

5) Bagaimana Allah menarik darah haid dari dasar urat-urat dikumpulkannya dalam rahim ibu.

6) Kemudian bagaimana Allah menitahkan seorang anak bayi dari setetes air mani.

7) Bagaimana Allah membuat air manis yang asalnya berwarna putih yang mengkilat, lalu menjadi segumpul darah yang merah.

8) Bagaimana Allah menjadikan egumpal darah menjadi sekepal daging.

9) Selanjutnya bagaimana pula Allah membagi-begikan maing-masing bagian dari air mani tadi.

10) Kemudian perhatikan juga keadaan kelompok mata yang menutupi / meliputi seluruh mata.

11) Perhatikan pula mulut dan lidah dan hikmah Allah wtmembuat dua buah bibir.

12) Perhatikan pula tentang gigi.

13) Perhatikan pula, mengapa Allah Swt menjadikan di dalam mulut itu tabiatnya basah yang teratur.

14) Perhatikan pula rahmat serta kasih sayang Allah Swt. Menjadikan rasa lezatnya makanan.

15) Kemudian perhatikan pula bahwa manusia itu diberi indera untuk merasakan bau.

16) Selanjutnya perhatikan pula mengapa Allah memasang hidung.

17) Kemudian perhatikan pula Allah menciptakan tenggorokan.

18) Selanjutnya perhatikan tentang pencptaan tangan

19) Selanjutnya perhatikan pula mengapa manuia diberi kedua buah paha dan dua buah betis

20) Selanjutnya perhatikan lagi, bahwa manusia dengan bentuk diciptakan dari setetes air mani yang hina.

21) Selanjutnya perhatikanlah tentang penciptaan kepala yang tersusun dari limapuluhlima tulang yang berbeda-beda bentuk dan rupanya. 6 buah tulang untuk tengkorak kepala ; 24 untuk tulang rahang ; 2 buah untuk rahang bawah dan sisanya untuk gigi yang lebar

22) Perhatikan Allah membuat leher ebagai tempat memaang kepala.

23) Selanjutnya perhatikanlah Allah menciptakan beberapa alat untuk menggerakkan tulang-tulang yaitu otot / urat.

24) Kemudian perhatikan mengapa Allah menciptakan kepandaian dan kecerdasan akal pada manusia itu berangsur-angsur sampai menjadi dewasa

25) Perhatikan pula ketika manusia itu telah berusia dewasa menciptakan suatu jalan padanya untuk dapat menurunkan keturunan.

26) Selanjutnya pikirkanlah tentang jumlah anggota badan serta fungsinya dan gunanya setiap anggota untuk keperluan yang dikehendakinya.

27) Kemudian pikirlah tentang sesampainya makanan kedalam perut.

28) Perhatikan tentang anggota manusia yang diciptakan satu-satu dan sejodoh-jodoh dan hikmah yang dikandungnya.

Sejenak bila kita renungkan apa-apa yang terungkap diatas mengenai manusia, maka ajaran islam untuk menganjurkan agar setiap orang mau memikirkan berbagai kejadian langit dan mengamati alam semesta, menghayati dan mentafakkuri setiap persoalan dan peristiwa yang terdapat dalam alam semesta ini, supaya meyakini terhadap kebesaran, kekuasaan dan kesempurnaan Allah Swt. Yang menjadikan dan mengatur semuanya sehingga makin sadarlah akan segala kelemahan dirinya masing-masing di hadapan Allah Swt.

Oleh karena itu, baik bidang agama maupun bidang dunia ditentukan sekali oleh hasil pemikiran dan ilmu pengetahuan, sehingga dalam perjalanan hidup abadi ini betapa pentingnya „Membangun Semangat Jiwa Kedalam Peta Untuk Tubuh“ sebagai daya dorong yang positif terhadap manusia untuk memanfaatkan unsur jiwa yang terdiri dalam „Kesadaran, Kecerdasan dan Akal“ untuk dapat secara berkesinambungan untuk menyinari tubuh yang terdiri organ-organ yang diciptakan oleh kebesaran Allah Swt untuk mampu menjalankan fungsinya dalam kekuatan pikiran „Ketaatan dan Positip“ dalam menjalankan potensi hidup

Sejalan dengan pokok pikiran diatas, maka renungkanlah yang disebut dengan 1) Pendengaranmu ; 2) Pandanganmu ; 3) Hatimu ; 4) Lisanmu ; 5) Kemaluanmu ; 6) Tanganmu ; 7) Kaki ; 8) Perutmu ; 9) Pikiranmu ; 10) Nafsumu.

Ketiga, Peta Untuk Jiwa :

Dalam kamus bahasa indonesia, mengungkapkan bahwa Jiwa adalah roh manusia (yang ada dalam tubuh dan menyebabkab hidup) ; Seluruh kehidupan batin manusia ( jang terjadi dari perasan, pikiran, angan-angan dsb)

Menurut Agus Mustofa dalam bukunya „Menyelam Ke Samudera Jiwa & Ruh“ bahwa Jiwa adalah sosok non fisik yang berfunsi dan bersemayam di dalam tubuh sorang manusia.

Untuk mendalami makna jiwa, maka dibawah ini diungkapkan beberapa contoh dalam surat dan ayat ini :

QS. 2 : 155“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,

QS. 3 : 164 „ Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. ; 185“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

QS. 4 : 63“ Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. ; 95“ Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,

Selanjutnya silahkan anda membuka dalam surat dan ayat ini: QS. 5 :45 ; 6: 36,151 ; 7 : 172 ; 8 : 72 ; 9 : 81, 103, 118 ; 17 : 33 ;

18 : 74 ; 21 : 102 ; 25 : 68 ; 31 : 28 ; 32 : 13 ; 39 : 42, 70 ; 40 : 17 ; 49 : 15 ; 61 : 11 ; 75 : 2 ; 81 : 14 ; 85 : 2 ; 86 : 4 ; 91 : 7, 8, 9

Bertitik tolak apa yang kita utarakan diatas, maka dalam usaha Membangun semangat Jiwa yang harus kita sinari secara berkelanjutan bergantung adanya kemauan yang kuat untuk itu diperlukan apa yang disebut dengan PETA UNTUK JIWA yang menuntun sikap dan perilaku yang terbaik bagi hidup manusia ialah sedapat mungkin hidup dalam kesimbangan jiwa dan ini hanya dapat tercapai jika ia mencari kesenangannya dalam hal-hal yang bersifat abadi, maka jiwa adalah Tuhan dalam rumah dan bisa membuat surga menjadi neraka dan neraka menjadi surga.

Oleh karena itu, membangun semangat jiwa menjadi suatu peta yang dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku dibutuhkan kekuatan untuk memberikan daya dorong dengan memanfaatkan potensi diri anda kedalam hal-hal yang berkaitan dengan :

1) Tidak menentang takdir Allah swt.

2) Menghapuskan angan-angan mengenai kekayaan

3) Taubat

4) Sebab-sebab cinta Allah pada hamba-Nya

5) Nasihat seorang mukmin untuk saudaranya

6) Sabar

7) Menghapuskan sifat riya

8) Menghilangkan sikap pura-pura

9) Mendahulukan akhirat daripada dunia

10)Memerangi syetan dan hawa nafsu

11) Jangan risau akan rizki

12) Takut kepada Allah swt

13) Tidak berpaling kepada Allah swt.

14) Mengeluarkan cinta dunia dari dalam hati

15) Larangan berdusta

16) Mengakui nikmat Allah swt

17) Cinta kepada Allah swt.

18) Tidak merendah di hadapan orang kaya karena

Mengharapkan hartanya.

19) Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.

20) Larangan takabur

21) Meninggalkan seuatu yang tidak bermanfaat.

22) Jangan menipu

23) Ikhlas dalam beramal

24) Kejujuran

25) Mengikuti Sunnah Rasullullah Saw.

26) Ungkapkan yang lainnya sejalan dengan

kemampuan dari potensi diri anda

3. PENUTUP

Membangun semangat jiwa menjadi satu kekuatan yang mampu mendorong tujuan hidup ialah kebahagian dan ini tidak dapat dicapai dengan memburu kesenangan, tetapi adanya di dalam suatu kehidupan yang sederhana dan sewajarnya, sedapat mungkin bebas dari segala alat benda keduniaan.

Oleh karena itu, orang yang berkeinginan memperoleh kehidupan yang tenteram dan kebahagian, hendaklah bersedia menjaga „Pikiran, Tubuh, Jiwa“ dari tipu daya syeitan, iblis dan jin sebagai suatu kerangka untuk dapat mnuntun rahasia dari kehidupan yang baik adalah dengan selalu siap menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dengan demikian manfaatkanlah potensi diri anda dengan menjalani apa yang kita sebut dengan Renungan Tentang Umur Manusia. Dengan Nama Allah, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang : „Tiada daya dan upaya kecualidengan izin Allah, Maha Tinggi dan Maha Agung. Maha suci Engkau, tiada ilmu bagi kami melainkan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, esungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana“

Ketahuilah, bahwasanya umur itu ialah suatu masa yang berlaku sebagai bagian dari zaman, sesuai firman

QS.10 : 16 „Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesung- . guhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?.

88. KEBIASAAN PIKIRAN MENJELAJAH SUARA ATR

DALAM KESEIMBANGAN JIWA

1. PENDAHULUAN

Agama adalah penuntun kehidupan, ilmu filsafat adalah pikiran. Agama melihat ke atas, persahabatan meninjau kedalam. Kita membutuhkan kedua-duanya yaitu pikiran dan kehidupan dan kita membutuhkan supaya kedua-duanya tetap harmonis.

Oleh karena itu, agama tak mungkin diyakini oleh manusia kalau hanya dari sumber unsur akal dari jiwa, tetapi juga sumber jiwa lainnya yang diebut dengan kesadaran dan kecerdasan.

Jadi membangun adanya keseimbangan jiwa adalah keseimbangan dari ketiga unsur JIWA yang disebut KESADRAN, KECERDASAN, dan AKAL. Oleh karena itu menggerakkan kemampuan dalam pemberdayaan otak anda itu berarti anda berpikir dalam usaha mencari kebenaran. Kebenaran itu akan anda, sangat tergantung kepada aktualisasi dari kesadaran, kecerdasan dan akal berdasarkan kaidah-kaidah sebagai berikut :

1. Kaidah satu yang kita sebut dengan pontenialitas murni kesadaran untuk memulai anda berpikir dalam suasana hening dalam usaha mencari jawaban atas masalah dalam pikiran anda.

2. Kaidah dua yang kita ebut dengan sebab dan akibat untuk membangkitkan kecerdasan dalam pikiran dalam mencari jawaban atas pilihan bertindak yang ejalan dengan lahir dan batin.

3. Kaidah ketiga yang kita sebut dengan daya produktif untuk membangkitkan akal dalam pikiran anda dalam proses pengambilan keputusan esuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik atas diri anda dan diluar diri anda.

4. Kaidah keempat yang kita sebut dengan niat dan hasrat merupakan keinginan anda untuk mempertajam daya ingat melali catatan-catatan yang dibuat anda untuk selalu diingat dan direnungkan realisasinya.

Dengan memperhatikan dalam kaidah-kaidah sebelum melangkah, itu berarti anda berpikir kedalam arus pikiran yang disadari sehingga menunjukkan secara produktif anda dapat memanfaatkan energi dan informasi yang ada dalam diri anda.

Ingatlah dengan membangun keseimbangan jiwa maka bayangkan kekuatan potensi diri anda dalam usaha memanfaatkan otak dan hati dalam proses berpikir, maka pahamilah bahwa keimanan membawa manusia bersih hatinya, jinak jiwanya, berbicara lembah lembut, hidup sabar, pemaaf dan baik sangka.

2. KESEIMBANGAN JIWA DALAM USAHA HIDUP

Kebutuhan menumbuh kembangkan keseimbangan jiwa dalam usaha hidup, maka terungkapkan dalam pikiran bahwa hidup dalam pelayaran yang jauh untuk menuju keakhirat, maka untuk itu kuatkan kepercaaan dan keyakinan, karena itu 1) Perkuat sampan, tambal mana yang bolong ; 2) Peringan beban ; 3) Perbanyak perbekalan ; 4) egala pekerjaan dengan ikhlas.

Bertolak dengan pikiran diatas, maka tak ada gunanya seserang berdiri di tempat yang teduh dan mengeluh sinar mentari tak menerangi dirinya. Dia harus keluar dan berada di tengah lapangan yang panas berdebu dimana semuanya berjuang menghadapi segala tantangan dan berusaha keras untuk memenangkannya.

Dengan demikian kekuatan motivasi yang harus di dorong oleh daya kemauan yang kuat, maka disitu terbuka pintu untuk melaksanakan kedalam wujud apa yang kita sebut dengan kesiapan secara berkesinambungan untuk dapat melaksanakan keseimbangan jiwa kedalam :

Pertama, Kemampuan memahami dunia

Perumpamaan dunia seperti air hujan : QS.10 : 24 „Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.“

Perumpamaan kehidupan dunia yang mempesonakan manusia :QS. 18 : 45 „Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

46“ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Kehidupan dunia keenangan yang menipu : QS. 57 : 20“ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Dunia itu indah dalam pandangan manusia :QS. 3 : 14 „Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Kehidupan dunia adalah senda gurau dan main-main :QS. 6 : 32 „Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Kehidupan dunia jangan sampai memperdayakan :QS. 31 : 33“ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

Kehidupan dunia jangan sampai menipu :QS. 35 : 5“ Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. 6“ Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Kenikmatan dunia jangan membuat kikr :QS. 47 : 36“ Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.

Kehidupan dan kenikmatan dunia jangan sampai menyeret ke dalam neraka :QS. 28 : 60“ Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah keni`matan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? 61“ Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya keni`matan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?

Kedua, Kemampuan menjalankan pekerjaan :

Bekerja sebagai tanda syukur kepada Allah :QS. 34 : 13“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.

Sebagian besar yang dimakan manusia dari hasil bekerja :QS. 36 : 34“ Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, 35“ supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Allah menjadikan siang agar manusia berusaha / bekerja : QS.28 : 73 „Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

Ketika bekerja ingatlah ibadah kepada Allah QS. 62 : 9“ Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 10“ Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Pekerjaan manusia memang berbeda-beda QS.43 : 32 „Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Para nabi juga bekerja : QS. 28 : 23-28 :

23“ Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

24“ Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo`a: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

25“ Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu`aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu`aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

26“ Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

27“ Berkatalah dia (Syu`aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

28“ Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

Ingatlah bahwa rezeki masing-masing manusia itu berbeda : QS. 16 : 71“ Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari ni`mat Allah?

Ketiga, Mendalami makna saat kayamu :

Kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa :

Bukannya kaya itu karena banyaknya harta dan benda.

Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya jiwa (hati) (HR. Bukhori dan Muslim)

Kaya yang teladan, patut diirikan :Tidak boleh seseorang iri hati terhadap orang lain kecuali dalam dua hal 1) seorang yang diberikan pengertian Al-Qur’an, maka ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang malam ; 2) seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka ia membelanjakannya setiap malam untuk segala amal kebajikan (HR. Bukhori dan Muslim)

Kebanyakan orang hidup mewah adalah mendusta-kan kebenaran : QS. 34 : 34“ Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Ingatlah hal-hal yang terungkap dalam : Janganlah rakus / tamak terhadap dunia ; Tabungan anda yang sebenarnya adalah sedekah anda ; Mendermakan kelebihan harta suatu kebajikan ; Jika kaya ingatlah orang-orang miskin. ; Jangan terperdaya oleh harta dan wanita ; Jangan menjadi hamba harta.

Jangan berlaku boros tidak pula kikir : QS. 7 : 31” Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

QS.25 : 67” Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Keempat, Mendalami makna saat miskinmu :

QS. 4 : 32” Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ingatlah dan dalami hal-hal yang terungkap seperti :

Dialah orang yang sesungguhnya miskin ; Orang miskin masuk surga lebih dahulu ; Kebanyakan yang masuk surga adalah orang-orang miskin ; Rasulllah hidup sangat sederhana ; Keluarga Rasullah juga sangat sederhana ; Doa Nabi untuk memohon rezeki ; Qona’ah terhadap pemberian Allah ; Meski miskin jangan meminta-minta ; Jika mengetahui balasannya, maka akan minta miskin.

Kelima, Mendalami makna waktu luangmu :

Gunakan lima perkara penting sebelum datang lima yang lain. Perhatikan (manfaatkan) lima perkara sebelum datangnya lima yaitu : 1) Hidupmu sebelum matimu ; 2) Keehatanmu sebelum sakitmu ; 3)Kesempatanmu sebelum sempit / repotmu ; 4) mudamu sebelum tuamu ; 5) Kayamu sebelum miskinmu (HR. Hakim) ;

Selalu ingatlah terhadap mati agar waktu bermanfaat.Telah datang kepadaku Malaikat jibril, lalu berkata.“Ya Muhammad, hiduplah esukamu, tetapi sadarlah bahwa kamu pasti mati ; cintailah siapa saja yang kamu cintai tetapi sadarlah bahwa kamu pasti akan berpisah ; kerjakanlah apa saja yang kamu sukai, tetapi sadarlah bahwa kamu pasti mendapat balasannya dan ketahuilah bahwa semulia-mulia orang beriman ialah orang yang berdiri (sholat) di tengah malam dan orang yang tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain (HR. Hakim)

Hari demi hari hendaklah amalan ibadah semakin meningkat. Barang siapa yang (amalnya) hari ini lebih baik dari kemarin, maka dialah yang beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dialah yang tertipu ; barangsiapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin, maka dialah yang terkutuk (HR. Hakim)

Berlomba-lomba dalam kebajikan untuk mengisi waktu. QS. 2 : 148“ Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.“

Perlu menyusun rencana untuk masa depan (akhirat). QS. 59 : 18 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Senantiasa ingat kepada Allah agar tidak merugi :

Tidaklah seorang duduk di suatu majelis, lalu dia tidak mengingat Allah di dalamnya,melainkan akan mendapat kerugian. Dan tidaklah seorang berjalan melewati suatu jalan dan tidak mengingat Allah, melainkan dia akan mendapatkan kerugian. Dan tidaklah seorang menghampiri tempat tidurnya dan tidak mengingat Allah, melainkan dia akan mendapatkan kerugian (HR.Ahmad)

Sesengguhnya manusia dalam keadaan rugi.

QS. 103 : 1 “Demi masa.- 2” Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, 3“ kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Banyak berbuat kemanfaatan untuk orang lain :

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi mereka (yang lainnya) dan amal yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke dalam diri orang muslim, atau engkau menyingkirkan kesulitan darinya atau engkau melunasi hutangnya atau engkau menghilangkan rasa laparnya. Lebih baik aku berjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk memenuhi kebutuhan daripada beritikaf di misjid selama sebulan (HR. Thabrani dan Ibnu Abid-Dunya)

Jangan menghabiskan waktu seperti orang-orang kafir : QS. 47 : 12“ Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.

Keenam, Mendalami makna waktu sempitmu :

Selalu ingat bahwa kehidupan dunia hanya sebentar. QS.79 : 46“ Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.

QS. 30 : 55“ Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).

Dalam kesempitan, hendaklah selalu bersabar.

QS. 39 : 10“ Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Dalam kesempitan hendaklah beregera untuk taubat.

QS. 3 : 133“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Cari tahu halhal yang terkait dengan ungkapan seperti : Mohon perlindungan Allah ; Tidak memanfaatkan keempitan untuk kejahatan ; Beramal kebajikan meski dalam kesempitan ; Meskipun dalam kesempitan jangan melanggar larangan Allah ; Meski dalam kesempitan jangan melanggar hak orang lain ; Meski dalam keempitan, jangan berharap akan kematian ; Mohon kelapangan kepada Allah.

Ketujuh, Mendalami makna masa mudamu :

Berusahalah jika Allah menghendaki segala sesuatu akan berubah atau terjadi.

QS.13 : 11“ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

QS.13 : 39“ Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).

Cari tahu hala-hal yang terkait dengan ungkapan seperti : Pemuda yang mendapat naungan Allah ; Menjaga masa muda senantiasa dkat kepada Allah ; Mulai muda banyak mengisi dengan amal ibadah ; Mulai muda banyak mencari ilmu dan mengajarkannya ; Ingatlah perjuangan jihad mumpung masih muda ; Jadilah anak yang sholih ; Senantiasa yang muda menghomati yang tua ; Yang muda mengetahui hak yang lebih tua ; Yang muda ingin panjang umur dan lapang rezeki.

Kedelapan, Mendalami makna masa tuamu :

Sadar dengan cukup nya umur. QS. 35 : 37“ Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Umur panjang tidak berkah. QS. 2 : 96“ Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Semakin tua banyak banyak istighfarnya. QS.3 : 133” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Cari tahu dengan hal-hal ungkapan seperti : Sudah berapakah umur di badan ? ; Meski tua jangan berharap mati ; Kiat umur panjang penuh berkah ; Akhlak yang baik menambah beratnya timbangan ; Semakin tua semakin banyak berdzikir ; Orang tua yang baik elalu menyayangi.

Kesembilan, Mendalami makna kala sehatmu :

Badan dan mental sehat hati harus juga ehat dan selamat. QS. 26 : 87 – 91“ – 87“ dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, 88“ (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, 89“ kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, 90“ dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, 91“ dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat”,

Menjaga diri dan keehatan tidak membinasakan diri. QS. 2 : 195“ Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Ingat banyak mati, orang sehat ada juga mati.

QS. 3 : 185“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Cari tahu dengan hal-hal ungkapan seperti Sehat adalah kenikmatan yang perlu disyukuri ; Menggunakan waktu ehat sebaik-baiknya ebelum datang sakit ; Memperbanyak amal ibadah agar usia lebih berkah ; Jangan sombong karena badan sehat dan kuat ; Menjaga kesehatan dengan berhati-hati mengisi perut ; Dilarang keluar masuk daerah yang terserang wabah.

Kesepuluh, Mendalami makna kala sakitmu :

Sadar bahwa sakit itu dengan izin Allah dan dia yang menyembuhkannya. QS. 26 : 80-81. 80“ dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, 81“ dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),

Boleh mengadu kepada Allah atau seseorang asalkan bukan karena kecewa. QS. 12 : 86“ Ya`qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”

Cari tahu dengan hal-hal ungkapan seperti Sabar dan tabah di kala sakit dan berbaik sangka kepada Allah ; Sakit dapat menghapus dosa-dosa ; Perlu bersyukur meski sakit, karena amalan harian ketika sehat diberi pahala ; Bila sakit segera berobat ; Dilarang berobat dengan barang haram ; Bleh berobat dengan doa-doa dan mantra yang tidak syirik ; Dilarang memakai jimat dan isim ; Banyak mengingat mati, tetapi jangan minta mati.

3. PENUTUP

Cobalah kita renungkan bahwa berbuat baik perlu perhitungan yang matang apabila salah berbuat sesuatu akibatnya sering merugikan diri sendiri, oleh karena itu bayangkan pula bahwa tanpa berani berbuat, tak ada yang dimulai. Itu berarti tak pernah ada karya kita artinya daya kemauan yang kuat menentukan kekuatan untuk membangun keinginan dalam usaha-usaha mewujudkan keseimbangan jiwa.

Mewujudkan keseimbangan jiwa berati ada kekuatan niat untuk meletakkan landasan agar sikap dan perlu dituntun dalam pola pikir yang bersifat ketaatan dalam hubungan dengan Allah Swt disatu sisi dan disisi lain berpikir positif dalam hubungan dengan manusia, maka terbukalah pintu hati untuk meretas jalan menjadi diri sendiri

Jadi wujud keseimbangan jiwa, seberapa jauh kita dapat memanfaatkan unsur jiwa dalam keadaran, kecerdasan dan akal agar kita mampu mengetuk dinding jiwa tanpa topeng kepalsuan dalam perjalanan hidup abadi melalui kebersihan ruhani, kelurusan aqidah, kelembutan rasa, kekuatan kata, gejolak jiwa, ketegasan sikap, dan ketajaman mata hati.

Jika makhluk mengetahui bagaimana besarnya nikmat Allah kepadanya. Jika yang diberi rizki mengetahui sebagian kebaikan Allah Yang Maha Memberi Rizki kepadanya. Maka tak ada manusia yang menolak kecuali ia pasti menyatakan ketundukan pada Allah dengan lidah dan mulutnya dengan pendengaran dan telinganya dengan penglihatan dan matanya dengan tangan dan tengadahnya, dengan kaki dan langkah-langkahnya.

Dengan demikian, Ya Allah, dengan rahmat-Mu sampaikanlah kami ke wilayah karamah-Mu. Wahai yang maha Pengasih dari yang pengasih.

Oleh karena itu renungkan selalu dalam memanfaatkan keseimbangan jiwa dalam memandang seperti apa yang disebut dengan pujian adalah ujian, sehingga ungkitkan kekuatan ingatan anda kedalam makna bahwa yang mudah tersanjung mudah terandung, sehingga berhati-hatilah kepada pujian. Ikapilah dengan cermat setiap pujian yang datang kepadamu. Lihatlah selalu bahwa dirimu adalah orang senantiasa diselubungi kelemahan, kekurangan, aib, cela dan sifat-sifat buruk. Manfaatkanlah unsur jiwamu, dengan demikian engkau tidak terperangkap dalam jebakan yang bisa membuatmu hancur.

89. KEBIASAAN PIKIRAN MENJELAJAH SUARA ATR

DALAM LENTARA JIWA PENERANG KEHIDUPAN

1. PENDAHULUAN

Sejenak bila kira renungkan dalam melaksanakan usaha perjalanan hidup abadi ditentukan oleh apa yang kita kerjakan oleh hasil pemikiran kita sendiri, oleh karena itu kita membayangkan adanya suatu harapan, betpapun tak dapat diandalkannya, setidak-tidaknya membantu kita menuju kearah tujuan hidup kita melalui jalan yang menyenangkan. Jadi orang yang kehilangan harapan tidak akan pernah dapat mengatakannya.

Apa yang kita pikirkan dalam „Lentera jiwa penerang kehidupan“ tak lain ungkitlah daya ingat untuk menumbuh kembangkan daya kemauan yang kuat kedalam perjalanan mencari ILMU artinya Jika seseorang tidak berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, maka ia akan mengeluh dalam kemiskinan atau mencela sahabatnya bahkan lebih, oleh karena itu berjalanlah di hamparan bumi Allah dan carilah kekayaan, maka kau akan hidup penuh kemudahan kalaupn mati termaafkan. Jadi jangan puas dengan hidup tanpa apa-apa dan jangan tidur terlena, bagaimana mungkin dapat tidur orang yang hidup dalam keadaan sengsara.

Dengan memperhatikan pikiran diatas, mengajarkan kepada kita bahwa harapan-harapan dan cita-cita mudah saja diadakan, tetapi tantangan yang harus dihadapi ialah jalan yang harus ditempuh menuju kepada realisasi.

Untuk itulah dalam perjalan hidup abadi membutuhkan perjalanan mencari ilmu agar kamu dapat merantau mencari rezeki, sehingga wujud lentera jiwa penerang kehidupan, seberapa jauh anda dapat membangun kekuatan „Kepercayaan (dalam Islam) dan Keyakinan (dalam Iman). Tanpa kekuatan itu kita tidak dapat menumbuhkan kekuatan pikiran „Ketaatan“ dalam hubungan dengan Allah Swt dan pikiran „Positip dalam hubungan dengan manusia“

Dengan demikian cobalah anda renungkan kembali untuk mendalami makna unsur kata ISLAM dan IMAN menjadi suata untaian kalimat yang bermakna sebagai suatu pendekatan dalam kebiasaan anda berpikir, maka disitu terletak „Lentera Penerang Kehidupan.

2. LENTERA PENERANGAN KEHIDUPAN

Dapatkah anda membayangkan bahwa „Adakah surga di rumahmu?“ Jawabnya adalah bergantung seberapa jauh anda mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dapat menuntun anda dalam kehidupan ini. Dengan ilmu pengetahuan anda dapat berusaha meningkatkan tingkat kedewasaan berpikir dalam rohaniah, sosial, emosional dan intelektual. Tapi ingat pula ungkapan „Ilmu Pengetahuan tanpa agama, pincang, agama tanpa ilmu pengetahuan, buta“. Jadi renungkan pula „Carilah ilmu itu biarpun sampai ketanah Tiongkok(Al Hadisth)

Bertolak dari pikiran diatas, maka mewujudkan „Lentera Penerang Kehidupan“ menjadi satu kebutuhan yang harus mampu menuntun dalam bersikap dan berperilaku sebagai suatu usaha yang berkelanjutan untuk mengetuk dinding jiwa untuk meretas jalan menjadi diri sendiri agar dengan lentera penerang kehidupan itu anda dapat menangkap makna bahwa di dunia ini lebih mudah membuat kebaikan dari kejahatan.

Tetapi manusia lebih condong membuat kejahatan dari kebaikan. Sebabnya nafsu lebih tua umurnya dari unsur jiwa (kesadaran, kecerdasan, akal). Iblis lebih tua umurnya dari manusia. Sedang manusia dikepung oleh empat penjuru musuh, kiri hawa, di kanan nafsu, di muka dunia, di belakang setan yang menunda ke muka. Tubuh dan dunia dalam kekotoran karena itu perlu pengetahuan dan keimanan serta bersihkan jiwa.

Sejalan dengan apa yang kita pikirkan untuk dapat terus dapat memberikan sinar cahaya kedalam „Lentera Penerang Kehidupan“ ini dimana „Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya, ialah orang yang paling baik budi pekertinya (Al Hadisth).

Jadi renungkan pula apa yang terungkap dalam „Setiap sesuatu mempunyai hakikat. Seseorang belum dapat mencapai hakikat iman, hingga ia maklum sungguh bahwa suatu kebenaran tiada akan membimbingnya kepada kesalahan, dan sesuatu kesalahan tiada akan membimbingnya kepada kebenaran (Al Hadisth, riwayat Abi Addardak).

Oleh karena itu, bangkitkan dalam pikiran kita untuk memberi „Lentera Penerang Kehidupan“ untuk selalu mengingat apa yang disebut „Takutlah dirimu kepada Tuhan seolah-olah engkau selalu menampaknya, sekalipun engkau tak menampaknya, tetapi ia selalu melihat setiap gerakmu, sebelum maut menyentuhmu ! Takutlah pada permohonan seseorang teraniaya, karena permohonannya itu akan dikabulkan tuhan !“ (Al Hadith riwayat Zaid bin Arqam).

Dengan memperhatikan hal-hal yang kita utarakan diatas diharapkan menggugah pikiran ini, dengan merenungkan kebiasaan pikiran agar dapat membuat daya dorong dalam memberikan inspirasi dalam bersikap dan berperilaku dalam suasana „Lentera Penerang Kehidupan“, untuk itu cobalah kita pahami dalam merenung hal-hal yang terkait dari kekuatan untuk mencari tahu yang lebih mendalam apa yang disebut :

· Merenung sejenak dengan hati yang bersih dalam memahami dunia yang tertipu yang tampak.

· Marilah kita mencari ilmu demi perjalanan menuju Allah untuk membersihakan hati yang berkarat.

· Perbanyaklah untuk beramal dengan membayangkan kiamat sudah dekat.

· Mencari kesibukan dalam kebenaran/keadilan berarti melepaskan diri dari kesibukan kebatilan.

· Marilah saling menasihat, karena orang mukmin cermin bagi saudaranya.

· Dalami makna ketulusan dalam menghamba

· Dalami makna pemahaman makna atas Allah, manusia dan alam.

· Bererah pada takdir dan anugerah.

· Sadar diri dalam genggaman Kehendak Ilahi

· Bersyukur atas nikmat yang terulur.

· Bangkitkan daya kemauan yang kuat dalam Tawadlu’

· Bangkitkan semangat dalam gemar menginfahkkan harta.

· Bangkitkan daya kemauan untuk giat bekerja dan mencari nafkah.

· Belajarlah tanpa berhenti mencintai orang miskin.

· Gemar bersedekah

· Tidak ada daya keinginan dalam berambisi menjadi pemimpin.

· Dalamilah yang dapat merusak kebiasaan yang dapat merugikan diri kita terhadap hal-hal yang berkaitan dengan 1) Kekufuran ; 2) Bid’ah ; 3) Lalai ; 40 Cinta dunia.

· Belajarlah mendalami untuk bercermin akhlak Nabi saw.

· Ungkitlah daya ingkat kita yang terkait dengan jerat-jerat syaitan.

· Dalami makna yang terkait dalam orang-orang yang taubat.

· Dalami makna tentang jihat dan umatnya.

· Kemampuan dalam dzikir dan do’a

· Dan seterusnya, kembangkanlah percihan ilahi.

3. PENUTUP

Membangun wujud „Lentera Penerang Kehidupan“ dalam usaha-usaha kita menumbuh kembangkan kekuatan berpikir „Ketaatan“ dalam hubungan dengan Allah Swt dan disisi lain melahirkan kemampuan berpikir „Positip“ dalam hubungan dengan manusia.

Untuk itu jangan kita berhenti memberi cahaya dalam kekuatan kepercayaan (islam) dan keyakinan (iman), sejalan dengan itu renungkan ungkapan dalam QS. 8 : 2“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal „

QS. 2 : 115“ Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui“

Nikmat ilmu itu harus disyukuri : QS. 2 : 151“ Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui“.

Ilmu adalah Karunia Allah : QS. 2 : 30“ Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. ; 31“ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” ; 32“ Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

Read Full Post »