Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘SDM UNGGUL’ Category

MEMBANGUN KEBIASAAN YANG PRODUKTIF MENJADI MANUSIA KAYA TANPA BATAS

PENDAHULUAN

Pemahaman “Manusia Kaya Tanpa Batas” merupakan renungan dari pemikiran apa yang kita sebut 7M dengan membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati dan akhirnya mampu mengamalkan dalam perjalanan hidup yang abadi.

Kekuatan-kekuatan 7M menjadi bermakna dalam menggerakkan kekuatan berpikir, bila anda memperkuat daya kemauan untuk membangun kebiasaan. Jadi kemauan dan kebiasaan menjadi dua kata bermakna dalam hidup karena anda membayangkan mata uang yang memiliki nilai dua sisi yang saling bergantung dimana disatu sisi mengungkapkan kemauan berarti daya dorong sebagai kekuasaan  dan disisi lain mengungkapkan kebiasaan yang berarti perbuatan-perbuatan yang kedua-duanya digerakkan oleh pikiran anda.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

PENDAHULUAN

Memahami lima pilar sebagai suatu kekuatan manusia dalam usaha untuk menumbuh kembangkan kebiasaan yang produktif untuk menghadapi tantangan globalosasi dalam dunia tanpa batas, menuntut sikap dan perilaku yang sejalan dengan tuntutan perubahan, sehingga diperlukan pola pikir yang dapat mendukung kepribadian yang unggul.

Kepribadian yang unggul haruslah ditopang dengan pemahaman yang mendalam apa yang kita sebut dengan sebuah bangunan yang kuat yang terdiri lima pilar, apa yang disebut dengan PONDASI, TIANG, DINDING, PINTU dan JENDELA, ATAP, dimana setiap pilar memiliki sifat saling ketergantungan satu sama lain.

(more…)

Read Full Post »

PENDAHULUAN

Manusia  membuat keputusan adalah pilihan empat jenis manusia mencari uang yang disebut sebagai 1) karyawan / pgawai ; 2) pekerja lepas ; 3) pebisnis ; 4) investor. Langkah dalam membuat keputusan dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang „peran anda dalam mewujudkan keberhasilan“, oleh karena itu, maka keberhasilan adalah suatu perjalanan bukan tujuan.

Sejalan dengan pemikiran diatas, anda memilih empat pilihan dalam menjalankan peran  bertolak sebagai tonggak pertama adalah keinginan yang dilandasi oleh niat bahwa mencari rizki dengan mendapatkan halal dan baik ditujukan dalam rangka bertaqwa kepada Allah Swt. Untuk mewujudkan keinginan tersebut perlu ditopang pula adanya penguasaan ilmu sebagai informasi dan pengetahuan sebagai keterampilan dari pengalaman sebagai tonggak kedua dan ketiga menjadi „peta jalan menuju keberhasilan“.

(more…)

Read Full Post »

MENINGKATKAN KEBIASAAN PRODUKTIF MANUSIA DALAM KEDEWASAAN INTELEKTUAL

PENDAHULUAN

Kebutuhan menumbuh kembangkan kedewasaan intelektual berarti manusia percaya dan yakin bahwa kecenderungan seseorang kepada sesuatu yang tidak diketahui adalah sejalan dengan kecenderungan hawa nafsu, maka dengan kemampuan intelektualnya ia harus dapat membuat reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat, baik secara fisik maupun mental terhadap pengalaman-pengalaman baru itu sehingga dengan kedewasaan intlektual dapat melaksanakan kekuatan 7M sebagai suatu pendekatan dalam mencari jawaban tidak ada gunanya menangisi yang telah berlalu, maka disitulah terletak wujud dari kedewasaan intelektuannya.

Dengan pondasi kedewasaan rohaniah yang kokok, yang menopang kedewasaan dalam sosial dan emosional, maka kekuatan daya kemauan akan menuntun kemampuan manusia untuk mengungkit potensi dan bakat kedalam kebiasaan pikiran dalam mengamalkan firah manusia.

(more…)

Read Full Post »

MENINGKATKAN KEBIASAAN PRODUKTIF MANUSIA DALAM KEDEWASAAN EMOSIONAL

PENDAHULUAN

Secara “fisiologis” emosi merupakan suatu proses jasmani yang berkaitan dengan perubahan yang tajam dalam meluapnya perasaan seseorang. Oleh karena itu, usaha-usaha menumbuh kembangkan kedewasaan emosional sangat ditentukan seberapa jauh anda dapat menfaatkan kekuatan pikiran.

Perubahan-perubahan ini terlihat dengan jelas dalam perubahan denyut jantung, ritme pernafasan, banyaknya keringat dsb. Secara psikologis, emosi dialami sebagai reaksi yang sangat menyenangkan atau reaksi yang paling tidak menyenangkan, yang kita gambarkan dengan kata-kata seperti gembira atau marah.

Atau dengan kata lain secara singkat bahwa EMOSI didefinisikan sebagai menerapkan “gerakan” baik secara metafora maupun harfiah untuk mengeluarkan perasaan. Jadi emosi merupakan daya dorong pikiran orang berpikir untuk mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan.

Bertolak dengan pemikiran diatas, maka dengan kekuatan pikiran manusia mulai menggerakkan kekuatan jiwa sebagai alat pikir yang mencakup apa yang disebut dengan kesadaran, kecerdasan dan akal, sehingga dengan kedewasaan emosional setiap manusia mampu menangkap yang terpikirkan olehnya hal-hal yang berkaitan dengan „ketaatan, kemaksiatan, sifat-sifat yang merusakkan, sifat-sifat yang menyelamatkan“ yang akan mampu menjadi daya dorong sebagai kekuatan kedalam proses berpikir yang lebih matang dalam bersikap dan berperilaku.

Jadi dengan meningkatkan kedewasaan emosional diharapkan manusia mampu mengendalikan kekuatan pikiran yang menghancurkan jati diri manusia yang dicintai, sehingga kedewasaan emsional dapat juga untuk menggambarkan kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka menumbuh kembangkan kedewasaan emosional dapat dilihat dari dua sudut pandang yang diibaratkan mata uang, dimana disatu sisi melihatnya dari sudut kekuatan keyakinan dan kepercayaan yang kita sebut dengan pengendalian diri dan disisi lain dari sudut pandangan kecerdasan emosional. Dimana kedua sisi tersebut memiliki sifat saling ketergantungan sehingga kedewasaan emosional yang dituntun oleh kedewasaan rohaniah dan sosial menjadi dua kekuatan penjuru dalam menggerakkan kebiasaan pikiran yang akan menuntun sikap dan perilaku.

PENJURU PENGENDALIAN DIRI DALAM EMOSI

Penjuru pengendalian diri, dimulai kemampuan manusia memandang hidup yang sementara ini dibentuk oleh pikiran anda sendiri sehingga dengan kekuatan pikiran, maka manusia akan berusaha memanfaat alat pikiran berupa kesadaran, kecerdasan dan akal sebagai kekuatan untuk membentuk kebiasaan pikiran dalam mendalami hal-hal yang terkait dengan apa yang disebut dengan penjuru pertama masalah ketaatan, kedua masalah kemaksiatan, ketiga masalah sifat yang merusakkan, keempat masalah sifat yang menyelamatkan. Secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut :

Penjuru pertama „Ketaatan“

artinya dengan keyakinan dan kepercayaan, maka manusia harus mampu mendalami makna OTAK (Orang, Tawakal, Amanah, Kerja) untuk mewujudkan makna „ketaatan“ dalam hidup ini. Dengan kekuatan pikiran melalui pendekatan 7M, ia mendalami makna seperti ORANG (Organ, Roh, Akal, Nafsu, Golongan).

Jadi dengan merenungkan, bagaimana dapat dipercepatnya mendalami makna seperti ORGAN dalam tubuh manusia yang utuh dan merenungkan makna amalan lahir dan bathin diharapkan menjadi penuntun dalam usaha untuk mewujudkan pengendalian diri dalam emosi.

Penjuru kedua „Kemaksiatan“

artinya peran organ tubuh mata, telinga, lisan, kemaluan, perut, tangan dan kaki, kemudian seluruh tubunya, maka sebagai manusia yang hidup mulai sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya, dimana dalam menjalani hidup ini tidak mungkin tanpa dapat mendalami makna pemanfaatan organ tubuh tersebut sehingga perlu mendalaminya dengan menggerakkan kekuatan pikiran dalam melaksanakan pengendalian diri untuk menghindari dari kemaksiatan yang sejalan dengan keyakainan dan kepercayaan yang dianutnya.

Jadi dengan kebiasaan pikiran yang digerakkan dalam kekuatan berpikir yang positif diharapkan manusia menempuh jalan hidup yang penuh dengan tantangan yang harus dipahami dalam mnjalani hi

Penjuru ketiga „Sifat merusakan“

Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran manusia dapat tertuntun kedalam sikap dan perilaku untuk tidak melakukan sifat-sifat yang dapat merusakkan sebagai akibat dorongan dari ketidak kemampuan atas pengendalian diri dari 1) nafsu yang bersifat materialistik ; 2) marah, kesombongan yang dibakar oleh setan ; 3) kesadran inderawi karena kesenangan dunia ; 4) tantangan menghadapi hawa nafsu ; 5) nafsu seksualitas ; 6) riya’, dengki, kikir dsb.

Jadi dengan kemampuan pengendalian diri dalam emosi, manusia harus mampu memanfaatkan kekuatan pikiran dapat melaksanakan 7M sebagai alat menggerakkan kekuatan pikiran untuk mendalami apa bentuk penyakit jiwa yang mempengaruhi kebersihan hati.

Penjuru keempat „Sifat menyelamatkan“

Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran yang dilandasi kebiasaan berpikir positif dalam menempuh hidup, maka kekuatan yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat itu memahmai makna „HIDUP“ sebagai suatu pendekatan artinya memiliki kemampuan untuk bersikap dan berperilaku dalam makna apa yang disebut dalam makna (H)ijrah, (I)nsyaf, (D)urhaka, (U)saha, (P)ahala.

Jadi dari ungkapa kata tersebut, maka sifat-sifat menyelamatkan akan sangat ditentukan oleh kekuatan kebiasaan pikiran dalam bertaubat, bersyukur, ikhlas dan sebagainya sebagai suatu kekuatan dari amalan batin.

PENJURU KECERDASAN DALAM EMOSI

Kecerdasan merupakan alat pikir dan merupakan salah satu unsur jiwa yang menggerakkan kekuatan pikiran dimana kesadran menyadarkan tentang apa-apa, namun kecerdasan melaporkan kepada kita keadaan perkara dan hubungan-hubungannya.

Oleh karena itu, kecerdasan dalam emosi merupakan daya dorong pikiran orang berpikir untuk menangkap fakta dan informasi untuk mengingatkan masalah yang kita hadapi atau dengan kata lain seberapa besar resiko yang dihadapinya, tapi laporan itu akan menjadi penting bila kita dapat mencari jawaban untuk menghindarkan atau menumpasnya.

Sejala dengan pemikiran diatas, maka keempat punjuru kecerdasan dalam emosi yang kita sebut dengan 1) sensitivitas kecerdasan dalam emosi ; 2) adaptif kecerdasan dalam emosi ; 3) keharmonisan kecerdasan dalam emosi ; 4) persfektif kecerdasan dalam emosi. Selanjutanya dapat kita uraian secara singkat sebagai berikut :

Penjuru pertama „Sensitivitas kecerdasan dalam emosi“

Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari sensitivitas kecerdasan dalam emosi memberikan daya dorong yang kuat pada rasa tanggung jawab, kejujuran, energi, intuisi, umpan balik.

Penjuru kedua „Adaptif kecerdasan dalam emosi“

Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari kemampuan untuk menyesuaikan yang tidak bertolak dari kekuatan pikiran yang bersifat reaktif melaikan bersifat proaktif, dengan demikian anda memliki untuk mendengarkan, mengelola konflik, mengatasi kekecewaan dengan cara yang mampu menyesuaikan dengan perubahan yang positif.

Penjuru ketiga “Keharmonisan kecerdasan dalam emosi”

Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari kemampuan menyelaraskan pikiran, kerja dan belajar yang sesuai dengan potensi dan bakat yang dimiliki oleh anda dengan ketulusan dan kesetiaan

Penjuru keempat “Persfektif kecerdasan dalam emosi”

Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari kemampuan mengaktualsasikan wawasan intuisi dan imajinasi menjadi suatu kekuatan kreatifitas menjadi inovasi sehinga mampu mencari solusi dalam pemecahan masalah dan merebut peluang-peluang di masa depan.

LANGKAH MENINGKATKAN KEDEWASAAN EMOSIONAL

Bertitik tolak dari pemikiran-pemikiran yang dikemukakan diatas, maka usaha-usaha menumbuh kembangkan kedewasaan emosional terletak pada pemahaman atas pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman yang mampu mendorong untuk memberikan ruang gerak untuk belajar dalam usaha untuk meningkatkan kapasitas penalaran kita dan  sekaligus memanfaatkan dengan lebih baik emosi kita, kebijakan intuisi dan kekuatan yang ada dalam menggali potensi otak yang sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Dengan demikian, maka kebiasaan pikiran haruslah kita tuangkan dalam satu kerangka kerja seperti yang diuraikan dibawah ini :

A. PERTAMA MLIKI SUATU RENCANA TERPADU :

Yang dimaksud dengan rencana terpadu, mencakup suatu rencana jangka panjang, menengah dan pendek artinya ada kejelasan rencana tersebut saling keterkaitan dalam pelaksanaannya.

Rencana jangka panjang, mengungkapkan pemikiran yang memberikan arah persfektif yang mencakup :

VISI Kedewasaan Emosional  menggambarkan suatu pernyataan :

“Membangun CITRA yang memiliki kemampuan untuk membangun pengendalian diri  dan kecerdasan dengan BUDAYA yang mampu                      dalam  memanfaatkan makna hidup dan mati menjadi suatu ARAH sebagai kekuatan kebiasaan pikiran yang membentuk kekuatan daya kemauan dengan  TUJUAN sebagai manusia yang mampu memberikan kekuatan-kekuatan bersikap fleksibel dan mudah di kontrol”

Jadi pada pernyataan visi diatas, terdapat empat unsur yang harus diperhatikan, apa yang disebut dengan CITRA, BUDAYA, ARAH, TUJUAN, yang dapat anda ukur pencapaiannya secara kualitatip sebagai kreteria. Oleh karena itu, maka pernyataan visi menggambarkan arah perjalanan yang hendak dituju.

MISI Kedewasaan Emosional menggambarkan suatu pernyataan :

Sebaliknya  dengan menggambarkan pernyataan MISI sebagai penjabaran dari visi, yang  menyatakan bagaimana sarana itu disiapkan dalam menuju arah yang dituju dengan pernyataan sebagai berikut :

„MEMPERHATIKAN kekuatan pengendalian diri dan kecerdasan dalam menuntun sikap dalam mengkomunikasikan suara hati untuk MEMBIMBING dalam berperilaku yang sejalan dengan wujud kebiasaan pikiran dalam mengetuk dinding jiwa, maka kekuatan ANALITIS STRATEGIS sangat menentukan dalam usaha menjaga hati nurani secara EKSPRESIF menjadi sudut pandangan dalam kehidupan untuk meningkatkan kedewasaan emosional“

Jadi dengan empat unsur yang disebut dengan MEMPERHATIKAN, MEMBIMBING, ANALITIS STRATEGIS, EKSPRESIF dapat dijadikan kreteria untuk mengukur secara kualitatif untuk mngetahui seberapa jauh kemampuan kita mencapai visi sebagai peta jalan dan misi sebagai sarana, sejalan dengan itu, maka dibawah ini di rumuskan tujuan secara kualitatif berdasarkan pernyataan misi tersebut diatas sebagai berikut :

Tujuan-tujuan dalam meningkatkan kedewasaan emosional adalah:

Rumusan sebagai rincian dari penjabaran MISI diatas untuk meningkatkan kedewasaan emosional dalam pemikiran jangka panjang dengan mengungkit dan mengetuk jiwa dalam :

  • Mengungkit kebiasaan pikiran dalam kemampuan pengendalian diri.
  • Mengungkit kebiasaan pikiran dalam kemampuan pada usaha-usaha  meningkatkan kecerdasan dalam memotivasi diri.
  • Mengungkit kebiasaan pikiran dalam kemampuan mengintergrasikan kekuatan dari pengendalian diri dengan alat pikiran jiwa.
  • Mengungkit kebiasaan pikiran dalam kemampuan menjadi pribadi dengan jiwa tanpa topeng kepalsuan.
  • Mengungkit kebiasaan pikiran dalam kemampuan memanfaatkan 7M (membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahami, mengamalkan) untuk mewujudkan keluar dari kecemasan dalam hidup.

Sasaran-sasaran dalam meningkatkan kedewasaan emosional adalah

Secara umum rincian sasaran sebagai jabaran dari tujuan yang ditetapkan  dan dituangkan secara kuantitatif baik dalam pemikiran jangka panjang maupun pendek, oleh karena itu sasaran  tersebut dirumuskan kembali secara berurut dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

Misalkan sasaran yang hendak dicapai dari tujuan „ Mengungkit kebiasaan pikiran dalam kemampuan pengendalian diri“, maka rumusannya haruslah dibuat secara kuantitatif sebagai sasaran yang hendak direalisasikan.

Misalkan gambaran kuantitatifnya dapat dituangkan kedalam target waktu, jumlah aktivitas yang hendak dihindari dalam rangka pengendalian diri.

Strategi dalam mewujudkan sasaran sbb. :

Sebagai kerangka pikir untuk merealisasikan sasaran yang hendak dicapai, maka diperlukan strategi untuk melaksanakan kebiasaan pikiran yang dapat menuntun pelaksanaannya sebagai berikut :

  • Kemampuan melaksanakan kecerdasan rohaniah
  • Kemampuan melaksanakan kecrdasan motivasi
  • Kemampuan melaksanakan kecerdasan dalam komitmen

Kebijaksanaan dalam melaksanakan strategi dirumuskan sbb. :

Sebagai rincian kebijaksanan atas pelaksanaan strategi „Kemampuan melaksanakan kecerdasan rohaniah“, maka langkah-langkah dalam usaha-usaha menggerak kebiasaan pikiran apa yang disebut dengan kebijakan :

  • Kemampuan melaksankan kekuatan kesadaran
  • Kemampuan melaksanakan kekuatan kecerdasan
  • Kemampuan melaksankan kekuatan akal

Sebagai rincian kebijaksanan atas pelaksanaan strategi „Kemampuan melaksanakan kecerdasan motivasi“, merupakan langkah-langkah kebiasaan pikiran yang dapat mendukung pelaksanaan kebijaksaan, apa yang disebut :

  • Kemampuan memotivasi kedalam individu
  • Kemampuan memotivasi kedalam kelompok
  • Kemampuan memotivasi kedalam satu komunitas

Sebagai rincian kebijaksanaan atas pelaksanaan strategi “Kemampuan melaksanakan kecerdasan dalam komitmen“ maka haruslah di dorong dari dalam diri sendiri untuk terus merenungkan kembali dalam usaha mengungkit daya ingatan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan apa yang disebut :

  • Kemampuan melaksanakan komitmen dalam individu
  • Kemampuan melaksanakan komitmen dalam kelompok
  • Kemampuan melaksanakan komitmen dalam komunitas

B. KEDUA MENULISKAN KEMBALI DARI RENCANA

Merumuskan kebiasaan yang produktif yang hendak dibangun dan dikembangkan sebagai suatu keinginan anda berdasarkan niyat yang hendak dicapai dalam kedewasaan sosial, dengan memperhatikan pikiran pertama yang dituangkan kedalam kemampuan anda untuk menuliskan kembali agar anda selalu mengingatnya, yang kita sebutkan kedalam pemikiran :

  • Memberikan arah pemikiran jangka menengah antara 2 sampai 3 tahun dalam rangka untuk mengenal posisi kedepan yaitu seberapa jauh makna kekuatan, kelemahan, tantangan dan peluang untuk mewujudkan rencana persfektif yang telah digambarkan.
  • Menuangkan kembali agar anda selalu ingat untuk memberikan prioritas dalam pelaksanaannya agar dapat memberikan tahapan pencapaian dengan memberikan fokus dalam kebiasaan pikiran.
  • Bertolak dari pemikiran yang difokuskan tersebut lebih lanjut dituangkan kedalam arah pemikiran jangka pendek untuk jangka 1 tahun dengan menilai kinerja diri sendiri yang dapat diungkapkan pemikiran secara kuantitatif dan kualitatif

C. KETIGA MENGUNGKAPKAN TANTANGAN YANG DIHADAPI

Bertitik tolak dari langkah B diatas, maka renungkan apa yang dipikirkan pada titik dua diatas kedalam tantangan apa saja yang dapat menghambat niyat dari kebiasaan yang hendak di tumbuh-kembangkan menjadi suatu kebiasaan-kebiasaan yang mendorong kekuatan pikiran yang positip dalam perubahan sikap dan perilaku di masa kini dan masa depan.

Tantangan yang dihadapi sejalan dengan pemikiran untuk mencapai sasaran yang digariskan dengan memperhatikan strategi dan kebijaksanaan, maka tantangan yang terbesar terletak dari daya kemauan yang kuat untuk merubah kebiasaan yang negatif sebagai akibat :

  • Ketidak mampuan untuk menggerakan kegkuatan berpikir positif.
  • Kebiasaan pikiran negatif berlangsung terus menerus sehingga mendorong sikap dan perilaku sulit melakukan perubahan kekuatan kesadaran yang bersifat inderawi.
  • Kebiasaan pikiran negatif  karena kecenderungan manusia yang jauh dari Allah, pengalaman masa lalu yang mendorongnya, tidak memiliki hidup dengan orientasi yang jelas, dampak dari kebiasaan yang membelenggu pikiran mereka, dampak dari pikiran kemauan diri sendiri, dampak dari pengaruh faktor eksternal, kemauan dan kebiasan dari gaya hidupnya, tidak memiliki wawasan dan imajinasi karena terbatasnya penguasan ilmu dariinformasi, pengetahuan yang dapat dari pengalaman atas keterampilan dan keinginan yang tidak jelas niyat sehingga mendorong kebiasan hidup yang tidak memiliki inspirasi dalam hidup.

D. KEEMPAT MERUMUSKAN SISTEM KEBIASAAN PIKIRAN

Dengan memperhatikan pikiran-pikiran yang diungkap diatas, maka dalam merumuskan suatu sistem yang dapat menuntun kebiasaan-kebiasaan baru yang dibina dan dikembangkan dari kekuatan 7 M (membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahami dan mengamalkan) yang sejalan dengan tingkat kedewasaan berpikir yang hendak dicapai dalam perjalanan hidup yang abadi ini sehingga konsepsi sistem yang dibangun terdiri dari :

  • Pemahaman atas pelaksanaan sistem input yang mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan kekuatan kebiasaan pikiran yang ditentukan oleh 1) paradigma berpikir dari kemampuan apa dan bagaimana berpikir (berpikir biasa, logis, ilimiah, filsafat, theologis yang bertolak dari berpikir sadar dan atau tidak disadari) ; 2) dampak dari paradigma berpikir (konsepsi, tindakan, kesehatan, perasaan, jatidiri, kepercayaan diri, kondisi phisiologis, membentuk kebiasaan)
  • Pemahaman atas pelaksaan sistem proses yang mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan kekuatan kebiasaan pikiran yang dipengaruhi oleh tingkat kesadaran inderawi ke rasional, ke rohaniah, bila kesadaran inderawi yang dominan dan mendorong manusia berpikir materialistik akan menjadi kebiasaan berpikir negatif yang membentuk pikiran melalui proses 1) perekaman, 2) pengulangan, 3) akumulasi, 4) pengulangan, 5) pembiasaan, sehingga mempengaruhi terbentuknya kelemahan daya kemauan.
  • Pemahaman atas pelaksanaan sistem output yang mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan hasil dari kemauan dan kebiasaan yang mendorong berpikir positif dengan kejelasan output dari kebiasaan pikiran kedalam motif, prinsip yang dianut, sifat kepribadian, tanggung jawab, strategi, dan kebijaksanaan.

E. KELIMA MEMBANGUN KETELADANAN

Bertolak dari pemikiran sistem kebiasaan pikiran ang diungkapkan diatas, maka rumusan kekuatan-kekuatan pikiran anda untuk mendorong dalam memperkuat daya kemauan untuk membina kebiasaan yang baru dalam usaha secara terus menerus agar dapat diterima sebagai peran keteladanan yang dapat diterima semua pihak. Dengan semangat daya kemauan yang keras dalam kebiasaan-kebiasaan baru tersebut, anda diharapkan mampu melihat jati diri anda sendiri.

Oleh karena itu, kunci keberhasilan dari peningkatan kedewasaan sosial ditentukan oleh wujud meraih cinta ilahi dengan meraih hidup bahagia dunia dan akhirat dari kekuatan berpikir positif sehingga mampu menyesuaikan pikiran dari keteladanan kepribadian Muhammad Rasulullah dalam rangka melaksanakan 7 M menjadi kenyataan untuk membangun kekuatan pikiran untuk tidak mendorong kiblat kepada manusia melainkan kiblat kepada sang pecipta.

F. KEENAM  MELAKUKAN PENYESUAIAN ATAS RENCANA

Langkah keenam dalam menjalankan kebiasaan-kebiasaan baru, maka keberhasilan dari setiap langkah pemikiran dalam meretas jalan menjadi diri sendiri harus ada kesiapan diri untuk melakukan perubahan atas rencana yang telah digariskan bila dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Oleh karena itu, maka menjadi pribadi yang dicintai diperlukan penyesuaian atas suatu rencana karena kekuatan pikiran mampu menembus batas waktu (masa lalu, masa kini dan masa depan), batas ruang (jawa, sumatera, kalaimatan dsb), tak kenal batas waktu (pagi, siang, sore, petang, malam) dan meningkatkan serta menurunkan energi dalam kemampuan proses berpikir. Jadi melakukan penyesuaian atas rencana merupakan kebutuhan dalam proses yang terkait dalam pikiran membentuk kebiasaan sehingga perlu terfokuskan kedalam kebiasaan pikiran dan pengaruhnya terhadap pengaturan yang terkait dengan optimisme, ideology, mental, konsentrasi, kausalitas dan sebagainya.

PENUTUP

Menumbuhkan dan meningkatkan kedewasaan emosional bukanlah sesuatu yang sederhana, oleh karena itu diperlukan satu usaha dengan ketekunan untuk secara berkelancutan untuk berusaha memberikan daya kemauan yang kuat dalam mewujudkan kebiasaan pikiran sebagai suatu cara untuk menuntun kekuatan pikiran dalam yang mampu mendorong inspirasi dalam bersikap dan berperilaku baik dalam hubungan antara manusia dan hubungan dengan Allah Swt.

Dengan mengungkapkan pikiran diatas serta memperhatikan usaha-usaha meningkatkan kedewasaan rohaniah sebagai pondasi yang kuat untuk menopang kedewasaan sosial, maka akan membuka suatu kekuatan untuk mengetuk dinding jiwa dalam usaha meningkatkan kedewasaan sosial.

Oleh karena itu, maka kekuatan dari daya  kemauan bukanlah sesuatu yang mustahil tidak dapat direalisasikan hanya terletak kebiasaan yang produktif untuk menuntun kesiapan menemukan jati diri anda, maka anda bayangkan memulai hidup baru dengan meningkatnya kedewasaan sosial akan mampu bersikap dan berperilaku bahwa masa yang anda miliki adalah hari ini.

Jadi pergunakanlah sebaik mungkin atas alat pikiran berupa kesadaran, kecerdasan dan akal untuk kita selalu mengingat dalam melakukan perubahan dalam pola pikir sejalan dengan semangat jiwa yang bersih untuk menumbuhkan hati yang bersih yang di topang oleh pondasi roh sebagai pelindung dalam kehidupan manusia, karena distu terletak keyakinan dan kepercayaan anda bahwa hidup anda dibentuk oleh pikiran anda sendiri.

(more…)

Read Full Post »

PENDAHULUAN

Menjadi pribadi yang dicinta diperlukan tingkat kedewasaan berpikir sehingga merasakan kedamaian dengan ruhani yang hidup, oleh karena itu kedewasaan sosial hanya dapat tumbuh dan berkembang kedalam kehidupan manusia sebagai suatu keluarga besar dalam kehidupan kebersamaan yang harus didukung oleh kekuatan dari kedewasaan rohaniah sebagai pondasi.

Dengan pemikiran tersebut diatas, marilah kita memulai dari sudut kekuatan kedewasaan sosial dalam keluarga, yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku dalam usaha mewujudkan apa yang disebut dengan keharmonisan.

Jadi keharmonisan menjadi sumber kekuatan dalam kehiduan sosial dan keluarga, oleh karena itu sebagai wujud dari keharmonisan ditunjukkan oleh sikap dan perilaku kasih sayang, oleh karena itu dengan prinsip kasih sayang maka akan melahirkan sifat hubungan keluarga anatara suami isteri, ayah dan anak, anak dan orang tua, kemenakan, paman dsb, begitu juga usaha-usaha manusia hidup di tengah masyarakat.

(more…)

Read Full Post »

PENDAHULUAN

Keseimbangan hidup harus dibangun sebagai manusia yang ingin melihat masa depan yang terus maju, namun dalam hidup setiap manusia akan tetap mengalami kecemasan dalam hidup. Oleh karena itu, haruslah dibangun suatu kebiasaan yang produktif untuk memandang bahwa setiap manusia akan menghadapi apa yang disebut dengan “stress”

Dalam membangun kesimbangan hidup, maka “stress” dapat menjadi pendorong yang dapat mengganggu pikiran dalam bentuk negatip dan positip. Dari sisi positip berarti makna stress harus dipandang sebagai alat menggugah kekuatan berpikir untuk mengingatkan sikap dan prilaku dalam tindakan dan ucapan. Sebaliknya dari sisi negatip dapat menimbulkan untuk mengganggu pikiran yang berdampak dimana seseorang menjadi cemas, frustrasi, kecewa dan merasakan dalam berpikir yang tak berdaya.

Bertolak dari pemikiran diatas diperlukan suatu keyakinan bahwa peran manusia memiliki kemampuan untuk mengelola “stress” dalam struktur organisasi formal dan non-formal dimana dengan perannya, ia mampu mempengaruhi dalam bersikap dan berperilaku sehingga mampu menuntun untuk mengelola stress.

Langkah awal dalam mengelola stress adalah kemampuan untuk dapat secara produktif (efisien, efektif dan berkualitas) dalam mengkomunikasikan secara jelas makna “stress” bukan sesuatu reaksi yang berlebihan atas suatu situasi dalam pola pikir dalam mengungkit kekuatan ingatan dalam mengasah memori.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka makna yang harus dipahami mengenai “stress haruslah dapat diuraikan dari unsur kata menjadi kata bermakna yaitu S menjadi (S)ikap, T menjadi (T)antangan, R menjadi (R)realistis, E menjadi (E)mosional, S menjadi (S)epositip, S menjadi (S)ukses.

Dengan pemahaman diatas, maka bila unsur kata tersebut kita susun menjadi suatu pengertian bahwa STRESS adalah (S)ikap dalam menghadapi (T)antangan harus bertolak dari pemikiran yang (R)ealistik untuk menuntun (E)mosional yang bertanggung jawab mejadi wujud (S)epositip mungkin dalam bereaksi atas situasi dalam usaha meraih (S)ukses yang diharapkan.

Reaksi dan stress disebut stressor, yang dalam hal bila kita dapat memahami dan menjalankan pemahaman diharapkan dapat mengelola “stress” sehingga dalam hal ini kepemimpinan entrepreneur mampu mnjawab hal-hal yang berkaitan dengan “ apa yang diyakini oleh anda atas kemampuan untuk menghadapi tantangan kehidupan ini dan menghadapi stessor ?”

Jadi seberapa jauh ada kemampuan anda untuk menggerakkan kekuatan pikiran yang berkaitan masalah hidup dan mati, sehingga anda mampu mengungkit daya ingat dari kekuatan berpikir dalam mempengaruhi system kekebalan tubuh yang menentukan adanya dan berlangsungnya penyakit dalam tubuh, dengan kata lain dapat kita katakana bahwa pikiran anda banyak dapat membuat anda sakit atau sembuh.

Oleh karena itu, pesimisme, rasa tak berdaya, rasa putus asa, depresi, rasa kesepian, cemas , frustrasi dan sebagainya dapat membawa pada kondisi pikiran mempengaruhi tubuh secara negatif lewat kekebalan tubuh, obatnya adalah suatu keyakinan membangkitkan semangat jiwa yang sehat.

Bertolak dari pikiran diatas, renungkanlah ungkapan ini sebagai pendorong untuk menggugah pikiran anda bahwa “Jiwa yang hidup ialah jiwa yang bergerak” artinya jiwa yang murni memandang dunia ini baik, niat baik sangka baik, pandangan baik, perkataan baik, perbuatan baik dan semua baik sehingga jangan putus asa dari rahmat Tuhan. Seluruh yang merangkak dan melata rezekinya ditanggung Tuhan asal berusaha..

Dengan demikian apa yang kita ungkapkan diatas menjadi kekuatan dalam menggerakkan pikiran bahwa keberhasilan tidak pernah berakhir dalam usaha-usaha manusia  yang ingin membangun keseimbangan hidup.

MEMBANGUN KESEIMBANG HIDUP

Dengan kemampuan anda mengelola „STRESS“ berarti anda memiliki kekuatan memperkuat daya kemauan yang bertolak dari kekuatan atas  keyakinan dalam kebiasaan yang produktif untuk mengungkit kekuata menemukan jati diri anda melalui apa yang disebut dengan  „PERCAYA dan MENYERAH“ sebagai kekuatan dua kata yang akan menuntun anda dalam bersikap dan berperilaku yang sejalan dengan pandangan anda mengenai „IMAN dan ISLAM“ yang  menuntun anda kedalam keseimbangan hidup.

Membangkitkan semangat jiwa yang sehat, akan terletak adanya kemauan secara berkesinambungan untuk membangun dan meningkatkan dalam kebiasaan yang produktif (ilmu dari informasi, pengetahuan dari keterampilan, keinginan dari niat) dengan memanfaatkan otak dari sudut phisik (otak atas kiri dan kanan serta otak bawah sadar) dan otak dari sudut rohaniah (memahami dalam makna orang, tawakal, amanah, kerja).

Bertolak dari pemikiran diatas , tumbuhkan keyakinan dan kepercayaan pada diri anda dengan meningkatkan „iman dan amal shaleh“ maka disitu terletak suatu kekuatan yang dapat menuntun anda untuk merealisasikan keseimbang hidup dengan melupakan cemas menghadapi masa depan yang penuh tantangan hidup.

Dengan memahami makna „STRESS“ berarti anda memiliki kemampuan untuk mengungkit hal-hal yang menyebabkan cemas terhadap masa depan diantaranya 1) lemahnya keimanan dan kepercayaan anda terhadap Allah Swt. ; 2) kurangnya tawakal anda terhadap Allah Swt. ; 3) terlalu sering memikirkan kejayaan masa depannya dan apa yang akan terjadi kelak dengan pola pikir manusia dengan kecenderungan negatif bukan positif ; 4) terlalu percaya rezki atas kemampuan diri sehingga lupa menggantungkan hidupnya kepada Allah Swt ; 5) mudah terpengerauh dengan kekuatan kesadaran inderawi dalam hidup ; 6) meyakini rezki itu berada di tangan manusia sesamanya ; 7) pandangan mereka bahwa rezki dikaitkan dengan tingkat pendidikan dan ijazah ; 8) mengagungkan keyakinan bahwa kehidupan bergantung pada pekerjaan yang cocok.

Sejalan dengan kemampuan anda untuk menyesiati hal-hal yang disebutkan diatas  maka adakah usaha-usaha untuk „memperkuat daya kemauan“ untuk melakukan perbahan secara radikal dalam proses berpikir dengan berpegang teguh kepada „iman dan amal shaleh“ agar anda mampu menggerakkan kekuatan jiwa yang sejalan kebersihan hati. Tanpa ada kemauan yang keras untuk berubah, maka pintu mata hati anda akan selalu tertutup karena anda tidak berusaha belajar dari keteladanan Rasulullah Saw. dan para pengikutnya  serta nasehat orang-orng bijak di dunia yang menyangkut syukur sebagai kunci keselamatan.

Oleh karena itu, membangun keseimbangan hidup terletak seberapa jauh anda dapat memahami makna keberhasilan yang besar selalu membutuhkan kekuatan jiwa untuk pengorbanan yang besar, jadi lihatlah dengan mata hatimu yang terkait makna perjalanan di dunia dalam kesiapan menuju perjalanan hidup abadi.

Dengan mengingat hal-hal yang diungkapkan diatas, diharapkan menjadi daya dorong untuk memanfaatkan kekuatan berpikir yang disadari dan tidak disadari untuk membangun kebiasaan dalam keseimbangan hidub dengan kemampuan mengelola „STRESS“ sebagai suatu mendekatan untuk melepaskan diri ketidak seimbangan jiwa dalam mengungkapkan „jangan cemas menghadpi masa depan“ yang penuh tantangan dan ketidakpastian yang mempengaruhi hidup manusia.

PENUTUP

Manusia yang tangguh akan berusaha memikirkan kemungkinan untuk membangun kesimbangan hidup sehingga ingatlah anda hidup terus. Anda mempunyai rencana dan anda mengejarnya sehingga impian anda akan menjadi nyata. Untuk itu saat anda berpikir anda telah menjalankan semua kemungkinan yang digerakkan oleh keinginan anda bahwa apapun yang anda inginkan keinginan itu juga menginginkan anda.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka usaha-usaha memperkuat daya kemauan merupakan suatu langkah dalam menjalani hidup ini, bila banyak orang tidak berhasil dalam hidup ini, bukan disebabkan kerena anda kurang tenaga akan tetapi kurangnya  daya dorong yang digerakkan oleh daya kemauan untuk membangun keseimbangan hidup.

Jadi membangun keseimbangan hidup merupakan suatu tantangan yang harus anda lalui, maka belajarlah untuk hidup sedemikian rupa sehingga hasilnya membahagiakan anda dalam menuju perjalanan abadi.

Dengan semangat kesulitan pasti berakhir maka lahirlah kekuatan hati yang dikonsentrasikan  pada janji Tuhan, sejalan dengan itu cara menyempurnakan rahmat ialah kasih sayang Tuhan kpada anda dengan melalui ketaatan anda, maka terbukalah memikirkan kemungkinan keberhasilan anda dalam usaha membangun keseimbangan hidup.

Read Full Post »

Older Posts »