Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2011

 

3. BELAJAR DARI PENGALAMAN  GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR

Gejolak ketidak puasan, yang menginginkan perubahan dengan cepat, yang tidak mungkin kita capai, siapapun dia. Tapi gelombang perubahan tidak dapat dibendung yang selalu dimotori oleh MAHASISWA yang telah menunjukkan hasil perubahan berbentuk tumbangnya kekuasaan orde lama yang melahirkan orde baru, sekali lagi tidak ada perubahan  mindset untuk keluar dari ketidak mampuan meninggalkan kepentingan individu dan kelompok yang memliki dampak yang luas lagi sampai tahun 1995.

Begitulah kenyataan yang kita hadapi harus gelombang ketidak kepercayaan bergulir dengan kekuatan mahasiswa sebagai penggerak ketidak puasan disana sini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kekuatan MAHASISWA harus ditafsirkan dari haruf menjadi kata kedalam untaian kalimat, artinya kata MAHASISWA terdiri dari (M)anusia ; (A)mbisi ; (H)ati) ; (A)kal ; (S)ehat ; (I)ntelektual ; (S)asaran ; (W)awasan ; (A)ngkatan.

Jadi MAHASISWA adalah (M)anusia yang memiliki (A)mbisi yang digerakkan oleh cahaya mata (H)ati dengan keputusan (A)kal yang (S)ehat dengan landasan (I)nteletual  sebagai (S)arana untuk menumbuh kembangkan (W)awasan ke dalam (A)ngkatan penggerak dalam pembaharuan dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, MAHASISWA sebagai angkatan penggerak dalam revolusi berpikir, maka apakah tidak ada arti pengalaman untuk mengajarkan perubahan tingkat kesadaran kepemimpinan dari masa lalu ke masa kini menuju ke masa depan dimana letak kesenjangan itu terjadi. Kesenjangan itu terus bergulir seperti hidup ini dikejar bayangan ketidak pastian dari seluruh aspek kehidupan.

Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulai-nya ? Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang.

Mampukah kita bajar dari pengalaman masa lampau dan masa kini untuk menangkap perubahan berpikir menuju ke masa depan. Masih perlu kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing, tapi ada bukti bahwa kekuasaan dapat mempengaruhi kesadaran seseorang bisa merubah  mempengaruhi perubahan  dari kesadaran tauhid (paling tinggi), berubah mejadi kesadaran spiritual (tingkat ketiga), berubah menjadi kesadaran rasional / ilimiah (tingkat kedua) dan akhirnya terbentuk menjadi  kesadaran inderawi (tingkat pertama / terendah).

Begitulah perjalanan hidup ini, ternyata yang diutamakan kepentingan pribadi dan kelompok sangat sulit menangkap perubahan apa yang sedang bergerak, sehingga ucapan tidak sama dengan perbuatan yang menggambarkan jiwa dengan topeng kepalsuan.

 

4. MENYAMAKAN POLA PIKIR

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka diperlukan satu pendekatan agar terwujud kebersamaan dalam memandang masa depan agar dapat memberikan daya dorong bagi semua pihak yang dapat memberikan sumbangan pemikiran agar wujud berbangsa dan bernegara dapat kita realisasikan dari kehidupan masa kini ke masa depan melalui perubahan berpikir secara radikal dalam memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.

Pendekatan yang dipergunakan adalah melaksanakan demokrasi dan manusia dalam pemahaman secara utuh. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka apa yang telah kita ungkapkan diatas agar kita dapat memahami untuk melaksanakan pendekatan tersebut dengan tujuan :

  • Memberikan peluang untuk kita bisa bertukar pikiran tentang pe menyatukan kesamaan visi dalam bersikap dan misi dalam berperilaku.
  • Menyatukan kesamaan pandangan dalam merumuskan masalah yang kita hadapi terhadap pelaksanaan demokrasi dan manusia secara utuh.
  • Mengembangkan kebersamaan dalam komitmen untuk mewujudkan keseimbangan kepentingan berbangsa dan bernegara.
  • Merumuskan pemikiran pemecahan untuk tumbuh dan berkembang  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalaulah kita sependapat dengan pemikiran diatas, maka harapan dalam persfektif untuk memecahkan kesenjangan model berpikir masa lampau menuju ke model berpikir ke masa baru, kita harus pertama-tama meyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa berubah sesuai dengan tuntutan perubahan yang kita kehendaki bersama.

Tanpa niat dengan keinginan yang ikhlas tidak mungkin kita dapat menemukan titik pandang yang sama untuk mewujudkan cita-cita yang termuat dalam mukadimah UUD 1945.

Bertitik tolak dari hal-hal yang kita kemukakan diatas, marilah kita secara terbuka untuk mengungkapkan jalan pikiran kita sehingga kita mampu berpikir untuk menyatukan pandangan yang sama bagaimana sebaiknya sikap dan perilaku individu dan kelompok mencari bentuk dalam memanfaatkan demokrasi dan manusia seutuhnya.

Dari jejak perjalanan maka perjuangan mahasiswa dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi terkesan suatu perjuangan yang berlatar belakang situasi yang menimbulkan masalah ketidak puasan dari para pelaku peran dalam lembaga eksekutif, legislatif dan judikatif serta pelaku ekonomi tidak mampu merubah pola pikir yang berlandaskan kesadaran inderawi yang mendewakan materialisme dalam kehiupan.

Keadaan tersebut mendorong Negara dan bangsa Indonesia tidak bisa keluar dari daur hidup yang terpuruk yang disebut dengan masalah yang komplek dan penyakit yang kita sebut dengan „KEMISKINAN“ dan situasi tersebut yang dikehendaki pihak ketiga agar Negara dan Bangsa Indonsia dengan berpenduk hamper 90 % memeluk Agama Islam dianggap menjadi pendobrak dunia masa depan.

Kenyataan tersebut terus berlangsung dimana angkatan muda dan mahasiswa diadu domba dengan angkatan tua dan tak jarang pula tokoh Islam juga terlibat.

Untuk menambah wawasan Bacalah buku Islam Demokrasi Atas Bawah, polomik strategi perjuangan ummat model Gus Dur dan Amien Rais ; Fakta Diskrimansi Rezim Soehato terhadap Ummat Islam. Begitu juga buku-buku dermokrasi banyak ditulis Seperti Soekarno, Hatta, Gus Dur Amin Rais, Mochtar Lubis, Soedjatmoko,  dan sebagainya.

Tak jarang pula memberi arti tersendiri bila membaca seperti “Dibawah bendera oposisi, pembelaan alhilal dalam perkara mahasiswa Indonesia di pengadilan Negeri kelas 1 Bandung” ; Hati Nurani Seorang Demonstran, Hariman Siregar” ; Jalur Baru Sesudah runtuhnya ekonomi terpimpin ; “Opini Masyarakat, Reformasi Kehidupan Negara” Menggugat masa lalu, menggagas masa depan ekonomi Indonesia “ Dialog Indonesia kini dan esok”  Menuju masyarakat baru Indonesia, antisipasi terhadap tantangan abad XXI “ Membangun Indonesia Baru “ Kapan Badai Akan Berlalu” dan banyak lagi buku-buku seperti untuk membangun inspirasi.

Lihat pula pada kenyataan setelah Mantan Presiden Soeharto wafat, fihak ketiga sangat mudah sekali mengadu dombakan fihak-pihak yang pro dan kontra sehingga kita terjerat kepada bukan mencari pemecahan masalah tapi menimbulkan masalah baru, biarlah situasi berjalan sebagai mana mestinya, tapi dibalik itu marilah menyusun dan mencurahkan pikiran serta energi kita untuk melihat kemasa depan kedalam satu konsep pemahaman demokrasi seabagai sistem yang hendak ditegakkan, aplikasi konsep dari sub-sistemnya dan menuangkan kedalam GBHN yang akan menjadi bagi calon pemimpin nasional yang terpilih.

Garis Garis Besar Haluan Negara (GBHN) haruslah di pandang sebagai suatu konsep Manajemen Persfektif artinya ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan mengenai “apa yang harus dilakukan dan mengapa, bagaimana melaksanakan, dan keinginan mau melakukan.

Rangkaian konsep tersebut merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan untuk menggerakkan kemampuan berpikir dalam kerangka persfektif dari hasil analisis strategis yang yang dituangkan dalam apa yang kita sebut GBHN.

Jadi GBHN dalam pandangan manajemen persfektif adalah haluan negara sebagai pedoman untuk menyusun rencana pembangunan lima tahunan berdasarkan persfektif 25 tahun kedepan dengan mendapatkan persetujuan setiap lima tahun dari MPRRI melalui DPRRI

Dengan merumuskan GBHN dalam persfektif 25 tahun akan terjadi rencana yang berkesinambungan dengan maksud dan tujuan sebagai brikut :

  • Adanya pedoman yang dapat dipergunakan untuk menyusun rencana lima tahun kedalam GBHN.
  • Terwujudnya kesinambungan dalam pembangunan berdasarkan arah yang telah ditetapkan.
  • Dalam kehidupan demokrasi bahwa kepemimpinan nasional hanya berlaku dalam dua kali jabatan, sehingga harus tetap dipertahankan dalam pencapaian tujuan pembangunan.
  • Setiap masa jabatan dalam kemimpinan nasional yang terpilih, ditetapkan ukuran-ukuran keberhasilan berdasarkan GBHN
Advertisements

Read Full Post »

 

2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN  DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI

Pertama, demokrasi dengan arah persfektif:

Apa yang terjadi setelah orde reformasi berjalan sampai saat ini dengan begitu maraknya kebebasan berpikir dan berpendapat, tapi justru inilah yang dikehendaki oleh pihak ketiga agar bangsa Indonesia tidak dapat menemukan jati dirinya sendiri karena apa yang dipikirkannya selalu bertolak belakang dengan harapan dari perubahan pola pikir karena mereka yang berperan dalam kekuasaan telah dibutakan mata hatinya dimana hati yang mati karena tidak menambah ilmu, pengetahuan dan niat di jalan yang lurus, sebaliknya hati yang hidup yaitu hati yang ada iman.

Oleh karena itu, membangun kebersamaan dalam melaksanakan pemberdayaan demokrasi diperlukan suatu pendekatan sistem yang mengungkapkan kebutuhan dari sisi prosesnya, tapi tidak berarti kita keluar dari sisi kontennya, sehingga dalam mensiati jiwa manusia sebagai sistem, maka bagaimana kita mampu untuk menintergrasikan manusia kedalam sub-sistem yang ada dan memiliki sifat ketergantungannya yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pemikiran jiwa subjektif dan jiwa objektif, itulah pentingnya melihat dari proses.

Jadi manusia yang memiliki kemampuan berpikir akan berusaha melihat proses mengintergrasikan sub-sistem dari manusia itu sendiri yang dirumuskan bersama berdasarkan kebutuhan.

Untuk memberikan daya dorong kedalam pola pikir yang radikal dalam kebersamaan untuk membahas manusia dalam sub-sistem  maka dibawah ini kita mencoba mengungkapkan dari huruf menjadi kata bermakna sebagai unsur yang harus mendapatkan perhatian kedalam pola pikir yang mempengaruhi proses pikiran untuk menyatukan titik temu bila terjadi silang pendapat.

Untuk melaksanakan pemberdayaan Demokrasi bila kita uraikan dari unsur kata yang bermakna sbb.

Kata D menjadi (D)ewasa

Kata E menjadi (E)mosional

Kata M menjadi (M)emahami

Kata O menjadi (O)rang

Kata K menjadi (K)erjasama

Kata R menjadi (R)asional

Kata A menjadi (A)kal

Kata S menjadi (S)sistem

Kata I  menjadi (I)ntergritas

(D)ewasa dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses berpikir yang tidak ditentukan oleh umur manusia tapi lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dari manusia itu sendiri. Jadi muda dan atau tua dalam bersikap dan berperilaku sangat dipengaruhi oleh kedewaasan berpikir yang bersangkutan sehingga terlihat dari ucapannya dengan perbuatan. Dengan demikian Dewasa dalam berpikir juga ditentukan oleh peran lingkungan anda berada tapi tergatung pula prinsip hidup yang anda jalankan.

(E)mosional dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses mengendalikan emosi yang mempengaruhi sikap dan perilaku sangat tergatung kepada kemampuan mereka dalam meningkatkan arti kecerdasan emosional pada potensi manusia sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku.

(M)emahami dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses kemampuan peran anda dalam mempengaruhi orang lain dalam bersikap dan berperilaku

(O)rang dalam Demokrasi adalah manusia yang secara terus menerus berkemauan untuk memahami arti keberadaannya dalam suatu komunitas dalam memahami siapa, darimana dan kemana.

(K)erjasama dalam Demokrasi adalah pangkal usaha bersama untuk membangkitkan impian menjadi suatu kenyataan, tanpa itu tidak akan tumbuh kemajuan dalam membangun kebiasaan dalam bersikap dan berperilaku.

(R)asional dalam Demokrasi adalah dorongan dari pengalaman yang dapat mengungkapkan kebutuhan yang didasarkan pada pikiran yang logis yang ditunjukkan hasil analisis yang seksama dan cermat dari pikiran yang sehat, tertib, dan teratur.

(A)kal dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam memanfaatkan alat pikiran untuk menggerakkan proses dalam membuat keputusan, bagaimana seharusnya dijalankan dengan proses kesadran dan kecerdasan manusia itu sendiri.

(S)istem dalam Demokrasi adalah pedalaman suatu paham yang menjurus kepada penataan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara seharusnya kekuatan pikiran yang diaktualisasikan atas dasar sistem yang yang memiliki unsur sebagai sub-sistem yang saling keterkaitan satu sama lain sehingga membentuk suatu totalitas.

(I)ntergritas dalam Demokrasi adalah membangun kebersamaan dalam sikap dan perilaku kedalam komitmen yang datang dari diri sendiri bukan sesuatu yang dipaksakan menjadi kebiasaan dalam membentuk keutuhan, keterpaduan dan kebulatan.

Dengan pemahaman unsur kata demokrasi menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan demokrasi menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan merebut kekuasaan.

Mampukah kita menarik dari kesusahan dapat pengalaman, dari kesalahan dapat kesempurnaan dari kekhilafan dapat kesadaran. Hal ini diharapkan memperkuat daya kemauan, apabila semuanya ini dilakukan dengan segala keinsyafan, maka rasa tanggung jawab akan tertanam didalam dadanya.

Dari pengalaman telah menunjukkan bahwa dalam masa era reformasi tidak ada perubahan yang terjadi untuk meletakkan landasan yang kuat untuk membangun demokrasi seperti apa yang diharapkan.

Bahkan konflik terus berkembang sebagai suatu situasi yang diciptakan untuk mempertahankan status quo disatu sisi dan disisi lain KKN terus berkembang ke seluruh pelosok kehidupan berbangsa dan bernegara setelah otonomi daerah dijalankan.

Pasca pemilu 2004, dikatakan proses demokratisasi berjalan pada jalur dan arah yang benar kedalam transformasi kehidupan sosial politik. Inilah satu kesalahan besar yang ditunjukkan dalam kebebasan berkehendak yang tidak bertanggung jawab yang berdampak masyarakat dan Negara makin menuju daur hidup kematian demokrasi dengan tingkat kemiskinan yang terus menerus bertambah.

Apakah masih ada peluang bangsa dan Negara ini untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita yang tertuang dalam UUD 1945 yang telah empat kali berubah dengan isu perubahan kelima yang digagas oleh Presiden RI.

Bagaimana bila sebuah kesempatan datang untuk melaksanakan perubahan setelah pemilu 2009 muncul ditangan orang yang berperan tidak memiliki kompetensi yang sejalan dengan tuntutan dari perubahan abad ini dalam menuju masyarakat pengetahuan sedangkan tantangan begitu besar bagi bangsa dan negara Indonesia dalam abad jahiliyah modern, dimana manusia Indonesia sangat mengagungkan atas kesadaran inderawi masa kini.

Itulah suatu bukti dari pengalaman yang mengajarkan kepada kita masa lampau bahwa demokrasi dijadikan tujuan hanya untuk merebut kekuasaan demi kepentingan individu dan kelompok, sehingga tidak ada usaha konstribusi dalam usaha melaksanakan pemberdayaan demokrasi sebagai alat untuk menyatukan dalam  usaha agar bersikap dan berperilaku yang dituntun oleh kebersamaan dan keseimbangan kepentingan.

Dengan situasi tersebut diatas, marilah kita bersama-sama untuk memberikan konstribusi pemikiran agar perubahan dalam pola pikir secara radikal dapat dilaksanakan sebagai suatu kebutuhan yang mendesak bila kita ingin membangun kerjasama membuat impian menjadi satu kenyataan melalui pelaksanaan demokrasi kedalam satu sistem yang mendorong manusia kedalam sub-sistem sesuai dengan kebutuhan dalam pembangunan yang terintergrasi dan konsisten menjalankan konsep dari paham pandangan yang disetujui bersama.

Kedua, politik dengan arah persfektif:

Politik adalah seperangkat ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan. Oleh karena itu setiap politikus adalah ahli politik dan ahli kenegaraan sehingga ia harus mampu menunjukkan keteladanannya dalam cara bertindak.

Dalam praktek politik tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam memecahkan semua persoalan, tapi pengalaman juga mnunjukkan bahwa mnjadi politikus lebih menekankan untuk kepentingan kelompok dan individu, dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut maka tumbuh dan berkembang kebiasaan menjadi manusia yang kiblat kepada manusia bukan kepada prestasi yang dikehendaki oleh Allah Swt. Sejalan dengan itu banyak politikus lupa sebagai manusia, siapa, darimana dan kemana. Itulah satu kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan abad jahiliyah modern.

Mampukah anda keluar dari peran sebagai politikus yang tidak mampu merubah dari pengaruh „kesadaran Inderawi“ untuk benar-benar bisa menjalankan makna unsur  „demokrasi“ sebagai alat pemersatu dalam bersikap dan berperilaku.

Dengan merenung apa yang tersuradiutarakan diatas, maka pahamilah dan belajarlah dari ahklak dan beberapa sifat nabi Muhammad s.aw. untuk mengungkit kesadaran agar setiap peran sebagai politikus dapat memahmi, menghayati dan mengamalkan makna yang terungkap diatas sebagai sesuatu kekuatan daya kemauan untuk berubah.

Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dengan meretas jalan melalui pemahaman atas unsur kata dalam „politik“ itu sendiri sebagai berikut :

Kata P  menjadi (P)embela dalam Politik

Kata O menjadi (O)rang dalam Politik

Kata L menjadi (L)indungan dalam Politik

Kata I menjadi (I)ngkar dalam Politik

Kata T menjadi (T)anggung jawab dalam Politik

Kata I menjadi (I)ngat dalam Pilitik

Kata K menjadi (K)arunia dalam Politik

(P)embela dalam politik adalah peran politikus untuk memperjuangkan keharusan adil dan tidak memihak dalam menetapkan hukum yang harus dijalankan. Jadi harus mampu untuk mengambil keseimbangan dalam kepentingan.

(O)rang dalam politik adalah manusia yang secara ikhlas melakukan aktivitas politik bukan sekedar bayangan mimpi yang tidak jelas.

(L)indungan dalam politik adalah tugas dan tanggung jawab yang harus diberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya.

(I)ngkar dalam politik adalah ucapan dan perbuatan tidak sejalan dalam bersikap dan berperilaku.

(T)anggung jab dalam politik adalah ucapan dan perbuatan sejalan dengan tanggung jawab yang dibebankan dan oleh karena itu melaksanakan kekuasaan dengan bijaksana.

(I)ngat dalam politik adalah suatu peringatan kepada kematian untuk memberikan daya dorong untuk memperbaiki sikap dan perilaku dan cinta pada orang miskin.

(K)arunia dalam politik adalah apapun yang terjadi sebagai seorang politikus menyadari sepenuhnya makna manusia sebagai siapa, darimana dan kemana untuk meletakkan kekuatan karunia dalam prjalanan hidup.

Dengan pemahaman unsur kata politik menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan politik menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan merebut kekuasaan belaka.

Walaupun kita sadari saat ini, telah tumbuh partai yang begitu banyak, dimana demokrasi telah disalah gunakan kedalam demokrasi politik, telah menyebabkan manusia yang memilki peran hanya sekedar untuk mengejar kepentingan individu dan kelompok, mereka tidak sadar diadu dombakan oleh kepentingan pihak ketiga dalam abad jahiliyah modern, sehingga kita tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dalam kabinet presidensial yang tidak produktip.

Saat ini mereka, hanya memikirkan kepentingan pribadi untuk merebut jabatan Presiden dan wakil presiden sebagai politikus, tapi tidak pernah membayangkan dengan kekuatan pikirannya untuk memerangi zaman jahiliyah modern, bahkan mereka terseret untuk mempertahankan pola pikir kapitalieme.

Ketiga, kekuasaan dengan arah persfektif

Kekuasaan dalam berpolitik merupakan satu kesatuan yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan.

Hal-hal yang disebutkan diatas merupakan prinsip-prinsip dasar yang harus menjadikan kekuatan pikiran dalam bersikap dan berperilaku. Untuk mendorong prinsip-prinsip tersebut dijalankan sesuai dengan arah persfektif, maka diperlukan suatu pendekatan melalui pemahaman unsur huruf dalam kata kekuasaan itu sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dengan meretas jalan melalui pemahaman atas unsur kata dalam „kekuasaan“ itu sendiri sebagai berikut :

Kata K menjadi (K)elola dalam Kekuasaan

Kata E menjadi (E)ksper dalam Kekuasaan

Kata K menjadi (K)olaborasi dalam Kekuasaan

Kata U menjadi (U)mat dalam Kekuasaan

Kata A menjadi (A)manah dalam Kekuasaan

Kata S menjadi (S)ombong dalam Kekuasaan

Kata A menjadi (A)ngkuh dalam Kekuasaan

Kata A menjadi (A)zab dalam Kekuasaan

Kata N menjadi (N)iat dalam Kekuasaan

(K)elola dalam Kekuasaan adalah pemain peran harus mampu mengelola kekuasaan yang terkait tanggung jawab untuk setiap perbuatan yang dibuatnya.

(E)kper dalam Kekuasaan adalah pemain peran dengan keahlian untuk menjalankan kekuasaan melalui pelimpahan wewenang yang sejalan dalam struktur.

(K)olaborasi dalam Kekuasaan adalah pemain peran melaksanakan kerja sama yang sejalan dengan standar yang terbaik

(U)mat dalam Kekuasaan adalah pemain peran mendorong setiap orang untuk menikuti pelatihan dan pengembangan.

(A)manah dalam Kekuasaan adalah pemain peran disatu sisi mampu memanfaatkan pengetahuan dan informasi dan disisi lain memilki kemampuan untuk memberikan umpan balik dari pelaksanaan keputusan.

(S)ombong dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pengakuan dirinya.

(A)ngkuh dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan keercayaan yang diberikan.

(A)zab dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku akan selalu menerima kegagalan sebagai sesuatu pelajaran.

(N)iat dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku haruslah sejalan dengan kebiasaan yang dilandasai oleh niat yang benar.

Dengan pemahaman unsur kata kekuasaan menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan keuasaan menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan menjalankan kekuasaan yang tidak sejalan dengan arah yang ditetapkan.

Oleh karena itu, pemimpin masa depan haruslah mampu menjalankan kekuasaan secara bijaksana yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan.

Dengan memperhatikan uraian diatas, maka bila unsur kata tersebut disusun  menjadi untaian kalimat yang bermakna dalam demokrasi, politik dan kekuasaan akan menjadikan satu sarana dalam menggugah pola pikir sebagai suatu kekuatan untuk memikirkan kemungkinan perubahan sikap dan perilaku, dengan demikian pemahaman kita dengan membangun jiwa tanpa topeng kepaluan diharapkan menjadi suatu kebiasaan baru  dalam menghayati, memahami dan mengamalkan makna DEMOKRASI, POLITIK dan KEKUASAAN sebagai berikut

DEMOKRASI adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (D)ewasa dalam berpikir agar dapat menuntun kecerdasan (E)mosional untuk mendorong potensi (M)emahami  suatu komunitas (O)rang dalam organisasi yang membutuhkan (K)erjasama membuat impian menjadi kenyataan berdasarkan analisa fakta secara (R)asional dan diputuskan dengan (A)kal yang sehat kedalam suatu (S)istem yang mendukung komitmen kedalam (I)ntergritas.

POLITIK adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (P)embela dalam mewujudkan (O)rang dalam berdemokrasi dengan melaksanakan (L)indungan dalam arah berorganisasi agar iklim (I)ngkar, (T)anggung jawab, (I)ngat menjadi suatu kewajiban untuk disyukuri sebagai (K)arunia dalam usaha meretas jalan menjadi jati diri sendiri.

KEKUASAAN adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa manusia dalam usaha (K)elola sebagai (E)ksper untuk melakukan (K)olabrasi dalam rangka pemberdayaan peran (U)mmat untuk menjalankan (A)manah dengan sikap dan perilaku tidak (S)ombong dan (A)ngkuh serta (A)zab yang datang bila keinginan yang tidak berdasarkan  (N)iat untuk melaksanakan tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan

Bertolak dari pemahaman diatas, maka timbul pertanyaan mengapa lahirnya begitu banyak PARTAI di Indonesia karena mereka pemimpin masa kini hanya berpikir sesaat untuk kepentingan individu dan kelompok dengan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara yang saat ini berada dalam posisi zaman jahiliyah modern.

Bila mereka memiliki prinsip kepemimpnan masa depan, mungkin partai dalam arah posisi masa depan cukup tiga sampai lima partai saja sehingga demokrasi, politik dan kekuasaan lebih sederhana untuk diaplikasikan kedalam pola pikir kebersamaan untuk mencari penyelesaian masalah.

 

 

 

Read Full Post »

 

           REFORMASI MENUNTASKAN KEMISKINANDALAM PERSFEKTIF 2025

  DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

1. PENDAHULUAN

2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI

3. BELAJAR DARI PENGALAMAN GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR

4. MENYAMAKAN POLA PIKIR

5. SUATU PEMIKIRAN GBHN DALAM PERSFEKTIF 2025

6. GBHN DAN KONSEPSI BUDAYA

7. APLIKASI BUDAYA  BERBANGSA DAN BERNEGARA

8. STRUKTUR ORGANISASI KABINET

9. PRINSIP MODEL PENYUSUNAN APBN TAHUNAN

10. P E N U T U P

 

KATA PENGANTAR

Kegelisahan yang dituangkan „Meretas Kesenjangan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara“ oleh M. Fauzan Rachman selaku Ketua Umum G.M.B.I (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) memperkuat daya kemauan dan kebiasaan sebagai daya dorong untuk mengingat kembali agar pihak-pihak yang berkepentingan supaya membentuk ingatan yang kuat dengan pikiran yang terang bahwa reformasi dalam kehidupan dan bernegara melahirkan begitu besar peran „Economic Hit Man“ selaku agen pihak ketiga baik disadari maupun tidak untuk menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejalan dengan pikiran diatas, agar kegelisahan dan atau ketidakpuasan terjadi dalam masyarakat sehingga menjadi racun kehidupan harus dapat digerakkan menjadi kecemasan sebagai kekuatan untuk melaksanankan reformasi ke jalan yang benar dalam meletakkan konsepsi „Demokrasi, Politik dan Kekuasaan“ dengan menggerakkan kekuatan pikiran kedalam makna KAYA (Kebenaran, Agama, Yakin, Amanah)„ mejadi satu kekuatan pikiran kedalam „Ketaatan dan Berpikir positip“

Sudah saatnya kita bersyukur dengan segala nikmat yang telah Allah berikan atas Ilmu, Waktu, Kekayaan, pada bangsa Indonesia memulai hidup baru karena tidak ada gunanya menangisi yang telah berlalu dengan segala Musibah yang telah diingatkan oleh Allah Swt.

Jawabannya ia tuangkan kembali sebagai pemikiran untuk mengangkat revolusi berpikir kedalam „Reformasi Menuntaskan Kemiskinan Dalam Persfektif 2025“ sebagai usaha menggugah hati melawan kezaliman.

Bandung, 10 Juni 2011.

 

 

 

 

 

1. PENDAHULUAN

 

Apa yang terpikirkan oleh kita dalam berbangsa dan bernegara menjelang pemilu 2014 dimana kita telah dihadapkan kepada gelombang perubahan yang komplek dan cepat dalam abad 21, bila kita tidak dapat menangkap perubahan itu berarti kita akan kehilangan peluang untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI, jangan sampai kita kehilangan napas karena bila kita salah melangkah dalam dahur hidup kematian demokrasi.

 

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dituntut dalam era reformasi ini, untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan agar kekuatan pikiran dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku secara radikal sehingga dapat meretas jalan menjadi diri sendiri, inilah kita maksudkan perubahan pola pikir secara radikal.

 

Seandainya anda seorang muslim, coba renungkan perintah seperti yang termuat dalam Q.S. 3 : 165 “ Dan mengapa kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu ( pada peperangan Badar) kamu berkata : “Darimana datangnya  (kekalahan) ini ?”. Katakanlah : “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

 

Oleh karena itu jauhilah sifat orang-orang munafik dan sejalan dengan itu, coba pula renungkan pepatah yang mengatakan “Siapa mengenal dirinya , tentu ia akan mengenal Tuhannya. Jadi itulah kekuatan pikiran yang dapat menggugah jiwa anda dalam tingkat kesadaran inderawi yang paling rendah dalam usaha menemukan diri sendiri.

 

Untuk mendapat kepribadian manusia yang bertanggung jawab atas “kebebasan berkehendak” diperlukan perubahan pola pikir secara radikal artinya orang yang mampu menemukan tentang dirinya, maka ia akan selalu bertindak yang sejalan dengan apa yang diperlukan oleh tuntutan perubahan

 

 

 

dalam melaksanakan demokrasi yang bertolak dari kerjasama dalam membuat impian menjadi suatu kenyataan.

 

Apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dalam masa orde reformasi, pemimpin hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dengan begitu banyaknya lahir partai-partai baru, tapi terbayangkah olehnya mengenai pemberdayaan „demokrasi politik“ berlandaskan pola pikir yang radikal yang diberikan Agama kepada ummatnya dalam menata hidup dengan kebebasan berpolitik.

 

Inilah suatu kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia dengan peran pemimpin yang memiliki jiwa dengan banyak topeng kepalsuan yang ditunjukkan oleh kebiasaan dalam berpolitik untuk mendapatkan hasil kekuasaan, setelah itu mereka tidak pula berkeingin merubah kesadaran inderawinya, itu berarti tidak mampu berbuat sesuatu memperkuat daya kemauan dalam menangkap karunia Ilahi. Mampukah kita keluar dari ancaman abad jahilaiyah modern ini ?

 

Jadi keadaan lingkungan hidup bangsa dan negara kita seperti yang kita kemukakan diatas adalah keadaan yang diciptakan terus menerus oleh pihak ketiga agar bangsa ini dengan kekayaan alam yang luar biasa di karunia oleh Allah Swt, tidak akan bisa bangkit walaupun telah ditunjukkan dengan azab oleh yang maha kuasa, karena mereka tidak dapat merasakan pahitnya perjalanan hidup bangsa ini karena mereka telah diracuni oleh pemikiran neoliberalisme sebagai kenderaan „globalisasi“ dengan doktrin liberalisasi, privatisasi, deregulasi sebagai sarana imperialisme.

 

Sangat menarik bagi pemimpin masa depan untuk membaca kembali „Indonesia menggugat“ pledoi Bung Karno di depan pengadilan kolonial 18 Agustus 1930.

 

 

Read Full Post »

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

54. MENAHAN DIRI (dari kekejian)

55. MERENDAHKAN DIRI

56. MUSIBAH

57. MARAH

58. MENCELA / MEMAKI

59 MELEBIHI YANG PATUT

60. MABUK

61. MUBADZIR / ROYAL

62. MEMELACURKAN

63. MEMBERI GELAR

64. MENCURI

65. MASA TUA

66. NAFSU SEKSUAL

67. NIAT

KATA PENGANTAR

Pada Bag. I mengungkapkan Kata A-J dan Bag. II mengungkapkan kata K, dengan memanfaatkan pendekatan 7 M (Membaca, menterjemahkam, Meneliti, Mengkaji, Menghayati, Memaghami, Mengamalkan), maka ada kekuatan kebiasaan pikiran untuk terus mengetuk dinding jiwa, sebagai alat untuk menemukan jati diri.

Belajar dari pengalaman diatas, maka pada Bag. III, diungkapkan kata M dan N, agar jiwa ini memberikan satu kekuatan agar dapat memberikan cahaya yang berkelanjutan kedalam HATI.

Dengan hati yang selalu disinari cahaya kebesaran Allah Swt, maka disitu terletak kekuatan pikiran yang menuntun menjadi kebiasaan dalam menuntun sikap dan perilaku yang sejalan dengan kekuatan ISLAM dan IMAN kita yakini.

Oleh karena itu, kembangkan secara berkelanjutan usaha-usaha untuk meningkatkan kedewasaan berpikir sepanjang perjalanan hidup kita, maka disitu pula terletak kekuatan-kekuatan yang akan mempengaruhi seberapa jauh kita mampu menemukan jati diri yang berlandaskan kekuatan akhlak.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka dengan kebiasaan  dengan kedewasaan berpikir dalam rohaniah, sosial, emosional dan intelektual akan menjadi dorongan yang kuat untuk kita bisa berubah dalam bersikap dan berperilaku.

Jadi dengan memahami makna kata M dan N membrikan daya dorong yang kuat sebagai benih-benih pikiran untuk menuntun kepribadian kita yang berlandaskan akhlak.

54. MENAHAN DIRI (dari kekejian)

Benih pikiran yang kita sebut dengan „Menahan Diri“ merupakan satu kekuatan pikiran yang dapat mempengaruhi kedalam usaha-usaha meningkatkan kedewasaan berpikir emosional untuk mengetuk dinding jiwa.

Dengan kedewaan berpikir itu perlu ditumbuh kembangkan kekuatan menahan diri yang terkait dengan kekejian, maka disitu terletak kekuatan kebiasaan yang mampu menuntun kepribadian.

Sejalan dengan pikiran diatas tingkatkan kedewasaan rohaniah dengan mendalami makna yang terkandung dalam surat dan ayat yang disebut dibawah ini :

QS. 23 :1“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

QS. 23 :  3 „dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

QS. 24 : 60“ Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS. 25 : 72“ Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

QS. 25 : 75“ Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

KESIMPULAN

Dengan memahami, menghayati dan mengamalkan benih jiwa yang kita sebut „MENAHAN DIRI“ (dari kekejian) diharapkan terdapat satu kekuatan yang mendorong keinginan meningkatkan kedewasaan berpikir rohaniah yang terkait dengan :

  • Sifat yang menjadikan orang-orang mu’mim beruntung
  • Pedoman pergaulan dalam rumah tangga
  • Sifat-sifat hamba Allah yang mendapat kemuliaan.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka pengaruhnya akan mampu mendorong kedewasaan emosional yang dimainkan dalam peran setiap manusia. Oleh karena itu tumbuh kembangkan kekuatan kebiasaan dalam kedewasaan berpikir, dengan begitu sikap dan perilaku ini akan selalu tertuntun olehnya.

55. MERENDAHKAN DIRI

Salah satu kekuatan untuk meningkatkan kedewasaan berpikir adalah selalu mengingat dalam jiwa bahwa orang yang berbudi tinggi selalu berpedoman pada keadilan dan selalu berusaha untuk menjalankan kewajibannya, oleh karena itu dimaksudkan “merendahkan diri” bukanlah satu ungkapan sikap dan perilaku dalam proses berbikir yang bersifat negatif.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka untuk menuntun jalan pikiran kita, renungkapn surat dan ayat dibawah ini :

QS. 24 : 30“ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

QS. 25 : 63“ Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

QS. 31 : 18“ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

KESIMPULAN

Dengan mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas maka untuk menjalankan  ketaatan dalam bersikap dan berperilaku untuk menuntun kita dalam mengamalkan makna :

  • Pedoman pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan „mahram“
  • Sifat-sifat hamba allah yang mendapat kemuliaan
  • Nasehat Luqman kepada anaknya

Berpegang kepada kemampuan kita mengamalkan hal-hal yang kita sebutkan diatas, diharapkan menjadi satu kekuatan kedewasaan berpikir dalam menuntun membangun  akhlak melalui kekuatan merendahkan diri.

Jadi ungkapan “merendah diri” tidak sama dengan “rendah diri” sebagai satu penyakit  bagi oarang-orang yang tidak berbudi oleh karena itu ingat pula bahwa ketaatan menuntun manusia yang berbudi tinggi da oleh karena itu tidak heran ia bersikap dan berperilaku sebagai orang di belakang layar tetapi sebenarnya ia ada di tempat yang paling depan.

 

 

Read Full Post »

56. MUSIBAH

Musibah berarti malapetaka atau bencana. Jadi suatu peristiwa dari setiap peristiwa kehidupan manusia dimana kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nanti, oleh karena itu tidak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya karena setiap musibah yang menimpa manusia sudah ditetapkan kedatanggannya di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Hanya atas izin dan kehendak-Nyalah semua itu dapat terjadi.

Di dalam Al-Quran dalam beberapa istilah dan penamaan yang berbeda seperti yang kita ungkapkan pada surat2 dan ayat dibawah ini :

Kata Musibah :

QS. 2 : 156“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”

QS. 3 : 165“ Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS. 4 : 62“ Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu mushibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

QS.  5 : 49“ dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

QS. 30 : 36“ Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.

QS. 41 : 49“ Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. , 51“ Dan apabila Kami memberikan ni`mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo`a.

QS. 42 ; 30“ Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

QS. 49 : 6” Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

QS. 64 : 11“ Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Kata Adzab :

QS. 65 : 8” Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.

Kata Fitnah :

QS. 24 : 63” Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Kata Sayyi’ah :

QS. 30 : 36” Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.

Kata Ba’saa wa dharra’ :

QS. 6 : 42” Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

Kata Syarr :

QS. 41 : 49” Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

Kata Bala’ :

QS. 2 : 49” Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.

Belajar dari ungkapan yang termuat dalam surat dan ayat diatas, lebih memberikan satu kekuatan dalam pikiran kita untuk menerima setiap peristiwa yang dialami atas kehendaknya, dan sejalan dengan renungkan ungkapan berikut dibawah ini :

Musibah sudah ditetapkan Allah :

QS. 9 : 51” Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”

Musibah, akibat dosa / kesalahan :

QS.4 : 79” Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

QS. 5 : 49” dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

QS. 30 : 36” Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.

QS. 42 : 30” Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Musibah sudah ditetapkan Allah

QS. 9 : 51” Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”

Musibah tidak dapat dihindari

QS. 42 : 31” Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.

Tiap musibah dengan izin Allah

QS. 64 : 11” Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tiap musibah sudah termaktub di Lauh Mahfudz

QS. 57 : 22” Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Sabar menghadapi musibah

QS. 31 : 17” Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Tatkala ditmpa musibah, ingkar

QS. 42 : 48” Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada ni`mat).

Dalam perjalanan hidup kita akan selalu kita menghadapi Bentuk-bentuk Musibah, apa yang disebut dengan uraian dibawah ini :

1.     Bencana Alam, merupakanmusibah yang kerap menerpa manusia, baik bencana alam murni dan atau ulah perbuatan manusia. Bentuk dan tempat terjadi berbeda-beda serta waktunya tidak ada oran yang dapat mengetahuinya.

2.      Kematian, adalah suatu hal yang pasti akan dirasakan dan akan menimpa siapa saja yang ada di dunia.

3.     Kecelakaan, faktor utama terjadinya kecelakaan bisa bermacam-macam pula spt kelallaian manusia, cuaca buruk dsb.

4.     Penyakit, selama kita masih diberikan kehidupan di dunia ini, kita akan selalu menyaksikan dan mengalami berbagai kondisi yang silih berganti.

5.     Kehilangan harta benda, jika kita menyadari bahwa sesuatu yang ada di tangan kita sebenarnya bukan milik kita tentu kita lebih siap jika sesuatu itu diambil kembali leh pemiliknya.

6.     Penindasan, hidup dalam penindasan tidak akan pernah melahirkan rasa aman dan tenteram, apalagi bahagia.

7.     Paceklik, disebabkan oleh beberapa hal, seperti kemarau panjang  dsb.

KESIMPULAN

Dengan mendalami makna yang terungkap dalam kata musibah seperti yang termuat dalam Al – Qur’an, diharapkan menjadi kekuatan penggerak jiwa agar setiap manusia menerima peristiwa dengan landasan berpikir positif.

Dengan pikiran diatas diharapkan jadi penyejuk jiwa dalam proses berpikir untuk menerima keadaan apa yang terjadi dengan ikhlas adanya.

57. MARAH

Sikap marah memperlihatkan sangat tidak senang karena dihina, diperlaukakn tidak spantasnya dsb. Ungkapan kata marah dapat kita temukan dalam surat dan ayat dalam QS. 3 : 119, 134 ; & ; 71, 150, 154 ; 9 : 58, 120 ; 12 : 84 ; 16 : 58 ; 20 : 86 ; 21 : 87 ; 26 : 55 ; 42 : 37 ; 64 : 14 ; 57 : 8 ; 68 : 48. Sebagai contoh dibawah diungkapkan sbb. :

QS. 3 : 133” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, – 134” (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

QS. 42 : 36 “Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.- 37” dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af.

QS. 111 : 1” Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. 2“ Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. 3” Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. 4” Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.  5” Yang di lehernya ada tali dari sabut.

KESIMPULAN

Mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 yang kita seutkan diatas, diharapkan kita bisa menemukan jati diri dalam usaha-usaha kita agar kita tidak terjebak kedalam sikap marah dengan mengingat dari ajaran yang kita yang kita yakini seperti ungkapan dibawah ini :

  • Perintah ta’at kepada Allah dan Rasul serta sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa.
  • Allah memaafkan sebahagian besar dosa-dosa hamba-hambanya
  • Tukang fitnah pasti akan celaka

58. MENCELA / MEMAKI

Ucapan memaki adalah mengucapkan kata-kata keji, tidak pantas, kurang adat untuk menyatakan kemarahan atau kejengkelan.

Sejalan dengan pemahaman diat renungkan ajaran yang diungkapkan dalam surat dan ayat dibawah ini :

QS. 4 : 148” Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS. 49 : 11” Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

QS. 104 : 1” Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, – 2” yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,

KESIMPULAN

Sikap mencela / memaki merupakan hasil pikiran yang didorong oleh kekuatan berbikir negatif, sehingga manusia lupa arti keberadaan hidup di dunia tanpa memikirkan di akhirat.

Dengan belajar dan mendalai ungkapan makna tersebut dalam surat dan ayat yang telah kita ngkapkan diatas, diharapkan menjadi penuntun manusia berpikir ke jalan yang benar.

Read Full Post »