Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Meretas Kesenjangan’ Category

                           BAB.  I   P E N D A H U L U A N

 1. Latar belakang penulisan

Dalam kehidupan berbangsa dan negara Indonesia, tak terbayangkan  daur hidup Negara dan Bangsa Indonesia berada pada posisi “Masa Ketuaan Birokrasi Menuju Kehancuran”, karena itu tidak heran bila bangsa ini hidup dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Walaupun bumi Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah atas karunia Allah Swt., tetapi mengapa bangsa Indonesia tidak memiliki peluang untuk merubah nasibnya. Kenyataan saat ini dalam kehidupan bahwa kesenjangan kehidupan betapa tingginya, yang kaya bertambah dan yang miskin bertambahnya jauh lebih besar.

Kemerdekaan selama 66 Tahun, tapi apa yang terjadi bahwa kehiduan dalam berbangsa dan bernegara dari waktu ke waktu tidaklah membawa kebebasan menjadi kebahagian melainkan penderitaan yang kita alami.

Bangsa ini di Pimpinan oleh manusia yang kepemimpinan penuh dengan topeng kepalsuan, antara sikap dan perilaku tidak sejalan dengan ucapannya. Oleh karena itu, tidak ada jalan keluar dari perbuatan pemimpin saat ini mampu meretas jalan menuju ke jati dirinya karena penyakit kehidupannya adalah buah dari amalannya yang buruk.

Dengan pikiran tersebut, suatu hal yang tidak dapat kita mungkiri bahwa hidup pemimpin dalam status sosial apapun dibentuk oleh pikiran pemimpin sendiri, sehingga kebahagian, kesengsaraan, kecemasan dan ketenangan pemimpin muncul dari dalam dirinya sendiri, sehingga pemimpin bangsa masa kini banyak diwarnai dalam kehidupan yang tidak mengagungkan dari kekuatan hasil pikiran ketaatan dan pikiran positif, maka disitu terletak setiap pemimpin memberi warna kehidupan yang mengagungkan pikiran maksiat dan pikiran negatif yang berdampak ketidakmampuan mendaur ulang jiwa dengan tingkat kesadaran yang paling rendah dimata Allah Swt.

Pemimpin pada semua tingkatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk yang mengakuai KEPERCAYAAN (islam) dan KEYAKINAN (iman) tidak mampu memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan apa-apa yang terungkap dalam surat ayat dibawah ini :

QS. 30 : 41 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

QS. 42 : 30” Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” 31)” Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.”

Jadi kepemimpinan dalam peran dan fungsinya tidak mampu memberikan keteladanan dalam kepercayaan dan keyakinan atas kehidupan berbangsa dan bernegara menjawab kegelisahan hidup , walaupun bangsa dipimpin oleh ummat mengakui islam dan beriman menjadi penuntun hidup mereka, tetapi sebaliknya ajaran-ajaran liberalisme dan individualisme yang dimbimbing oleh elit-elit (pemimpin bangsa telah menimbulkan ilusi kebebasan meluas dan merasuk ke dalam pribadi-pribadi masyarakat kita.

Sejalan dari kekuatan melawan kezaliman, maka dengan daya kemauan sangat perlu untuk memahami bagaimana manipulasi ilusi kebebasan berdampak menuntun manusia keluar dari kekuatan jiwa yang negatif, maka dapat kita bayangkan perubahan UUD 1945 (1) oktober 1999 ; 2) agustus 2000 ; 3) november 2001 ; 4) agustus 2002 dan perubahan terus di dorong berkelanjutan.

Mungkinkah pemimpin masa kini mengubah kehidupan berbangsa dan bernegara keluar dari musibah yang telah ditunjukkan oleh kebesaran Allah Swt. Kita meyakini musibah adalah satu bagian dari gambaran manusia, lihatlah daur hidup bangsa dan negara ini yang berada pada posisi yang sangat kritis, jadi bayangkan pula musibah kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nanti. Tetapi tak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya.

Lihatlah peristiwa dalam tahun 2011 dari seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara  yang telah memperlihatkan keburukun pemimpin ummat yang menciptakan penyakit dalam kemiskinan.

Bayangkan, apa yang terjadi dalam tahun 2114, bila kepemimpinan masa depan dengan pemimpin yang berlandaskan kekuatan kesadaran inderawi, sehingga dapat kita bayangkan penyakit dalam kemiskinan menjadi masalah yang sangat kritis untuk bangsa kita  bisa tumbuh dan berkembang dikarenakan sikap dan perilaku pemimpin bangsa kita sebagai agen untuk kepentingan pihak ketiga agar Bangsa Indonesia tidak bisa menyelesaikan penyakit kemiskinan.

Oleh karena itu, haruslah lahir pemimpin yang memiliki jiwa keteladanan dalam kepemimpinan dengan jiwa penuh damai tanpa topeng kepalsuan dalam menjalankan amalan lahir dan batin dengan kedewasaan akhlak.

2. Perubahan Pola Pikir Kepemimpinan yang ber-Akhlak kedalam Daur-Hidup.

Kebutuhan perubahan pola pikir haruslah ditempuh secara radikal, tidak mungkin lagi dari pandangan evolusi karena menerapkan suatu gagasan atau yang dicetuskan sebagai hasil penggalian pola pikir menjadi kepemimpinan yang penuh keteladanan merupakan daya dorong ntuk memasyarakatkan ide-ide baru untuk menjawab hal-hal yang terkait dengan proses di awal dan akhir pengambilan keputusan menjadi kebutuhan kepemimpinan untuk merubah pola pikir dari tingkat kesadaran yang paling rendah ke tingkat yang lebih tinggi sejalan dengan hidayah yang diberikan oleh Allah Swt.

Oleh karena itu, keteladanan kepemimpinan sebagai potensi yang terpendam harus mampu untuk menggalinya yang berbasiskan pola pikir yang mampu menuntun pemimpin dalam menjalankan amalan lahir dan batin yang sejalan dengan kebiasaan pikiran dalam ketaatan dan berpikir positif.

Pengalaman telah menunjukkan kepada kita betapa sulit pemimpin masa kini untuk berubah, seperti halnya yang diungkapkan oleh Koentjaraningrat dalam bukunya “kebudayaan mentalitet dan pembangunan” dan oleh Mohtar Lubis dalam bukunya “manusia indonesia-sebuah pertanggunganjawaban”.

Belajar dari apa-apa yang dituangkan dalam kedua buku diatas, memberikan daya dorong, dalam suata gagasan atau ide sebagai pendekatan dalam pola pikir untuk mendaur ulang jiwa kepemimpinan dalam kekuatan moral atau akhlak yang harus disadarkan.

Untuk merumuskan pendekatan perubahan sikap dan perilaku pemimpin masa depan dalam menjalankan amalan lahir dan batin, maka gagasan atau ide yang dituangkan disini bertolak dari pendekatan pemahaman atas unsur

kata dalam POLA PIKIR, KEPEMIMPINAN, AKHLAK dan DAUR HIDUP, menjadi satu kekuatan pikiran kedalam untaian kalimat yang bermakna sebagai landasan perubahan yang harus kita jalankan untuk meretas jalan menjadi diri sendiri sebagai pemimpin yang memiliki jiwa tanpa topeng kepalsuan, seperti yang terurai dibawah ini :

POLA PIKIR, bila diuraikan POLA menjadi (P)rinsip, (O)rganisir, (L)atihan, (A)ktualisasi, sedangkan PIKIR menjadi (P)embenaran, (I)ntelegensia, (K)ekuatan, (I)ntergrasi, (R)asional.

Bila dirumuskan menjadi untaian kalimat dari unsur huruf menjadi kata bermakna, maka POLA PIKIR adalah menjalankan (P)rinsip-prinsip dalam meng(O)rganisir daya kekuatan pikiran ke dalam konsepsi dimana (L)atihan menjadi (A)ktualisasi membentuk wujud (P)embenaran dengan pemanfaatan (I)ntelegensia sebagai suatu (K)ekuatan yang DI (I)ntergrasikan secara  (R)asional.

KEPEMIMPINAN, bila diuraikan menjadi (K)apabilitas, (E)ksekutif, (P)emberdayaan, (E)mosional, (M)empengaruhi, (I)nterpersonal, (M)emotivasi, (P)erilaku, (I)ntensitas, (Nalar, (A)kal, (N)aluri.

Bila dirumuskan menjadi untaian kalimat dari unsur huruf menjadi kata bermakna, maka KEPEMIMPINAN adalah (K)apabilitas dari seorang (E)ksukitif untuk melaksanakan (P)emberdayaan (E)mosional sebagai daya dorong berpikir untuk (M)empengaruhi hubungan (I)nterpersonal dalam usaha untuk (M)emotivasi  gaya (P)erilaku pada tingkat (I)ntensitas pada kemampuan (N)alar yang sejalan dengan (A)kal dan (N)aluri.

AKHLAK, bila diuraikan menjadi (A)malan, (K)ebiasaan, (H)idup, (A)gama , (K)ebenaran.

Bila dirumuskan menjadi untaian kalimat dari unsur huruf menjadi kata bermakna, maka AKHLAK adalah melaksanakan (A)malan lahir dan batin menjadi (K)ebiasaan dalam (H)idup berlandaskan (A)gama dalam mewujudkan (K)ebenaran.

DAUR HIDUP, bila diuraikan menjadi (D)aya, (A)ksi, (U)mur, (R ) asional, (H)ijerah, (I)nsyaf, (D)urhaka, (U)saha, (P)ahala

Bila dirumuskan menjadi untaian kalimat dari unsur huruf menjadi kata bermakna, maka DAUR HIDUP adalah meningkatkan (D)aya kemauan yang kuat dalam melaksanakan (A)ksi untuk mempertahankan (U)mur secara (R ) asional dalam menuntun ke arah (H)ijerah  dari perbuatan yang salah menuju ke jalan yang benar sesuai dengan aturan dan perintahNYA, maka manusia berusaha menghayati arti hidup dengan (I)nsyaf dalam menebus dosa  dengan bertaubat ebagai manusia seutuhnya menuju ke sucian hati untuk tidak termasuk golongan orang (D)urhaka ehingga diperlukan membangun kebiasaan kedalam (U)saha untuk mewujudkan (P)ahala yang di anugerah oleh Allah Swt.

Bertitik tolak dari pendekatan rumusan kata-kata yang diungkapkan diatas sebagai suatu gagasan atau ide untuk mendorong setiap pemain peran dalam menjalankan fungsi, tugas dan kerja sangat dipengaruhi oleh daya kemauan yang kuat untuk menjadikan kebiasaan kedalam keinginan untuk membentuk perubahan sejalanan dengan kepercayaan dan keyakinan kedalam pola pikir kepemimpinan yang berakhlak kedalam daur hidup yang senantiasa berusaha mendekatkan diri sebagai manusia yang mengakui yang diciptakan dari kebesaran Allah Swt sehingga menjadi khalifah di bumi.

3. Mendewasakan Pola Pikir

Bertolak dari pemahaman unsur kata dalam “Pola Pikir”, yang telah kita rumuskan, maka renungkan apa-apa yang terungkap dalam Surat dan Ayat dibawah ini sebagai „PRINSIP-PRINSIP“ dalam perjalanan hidup ini sbb:

QS. 38 : 26“ Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

QS. 5 : 42“ Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”

QS. 5 : 49” dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

QS. 4 : 58” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

QS. 4 : 80” Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

QS. 4 : 65” Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Dengan 7 M (membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahami, mengamalkan), kita belajar untuk mendewasakan kedewasaan berpikir, dari apa-apa yang tertuang dalam surat dan ayat diatas agar kita mampu mengetuk dinding jiwa  kearah yang mampu memberikan sinar cahaya kedalam hati yang bersih.

Oleh karena itu, gerakkan dalam kemampuan meng (O)rganisir daya  kekuatan pikiran ke dalam konsepsi dimana (L)atihan menjadi (A)ktualisasi membentuk wujud (P)embenaran dengan pemanfaatan (I)ntelegensia sebagai suatu (K)ekuatan yang di (I)ntergrasikan secara  (R)asional, maka disitu terletak ruang untuk menemukan jati diri dengan berpegang kepada prinsip-prinsip yang menjadi pondasi kepercayaan dan keyakinan yang terus kita dewasakan dalam menuju perjalanan hidup abadi.

4. Mendewasakan Kepemimpinan

Kita selalu membayang untuk memulai hidup baru, oleh karena itu ingatlah selalu untuk mengungkit daya ingat bahwa hidup kita dibentuk oleh pikiran anda sendiri, sehingga berpikir keinginantahuan dalam usaha-usaha untuk mengetuk benih-benih jiwa menjadi satu kekuatan untuk mendorong daya kemauan dalam mendewasakan kepemimpinan, pahamilah ungkapan dalam surat dan ayat dibawh ini :

QS. 20 : 124“ Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Bertolak dari peringatan yang diungkapkan diatas, maka sejalan dengan pikiran untuk mendewasakan kepmimpinan yang diridhoi Allah Swt, maka pemikiran untuk memulai hidup baru, tegakkan benih jiwa atas dasar kepercayaan dan keyakinan, dengan mengingat ungkapan dalam surat dan ayat dibawah ini

QS. 6 : 44“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyongkonyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.“

Jadi dengan mendewasakan kepemimpinan sebagai manusia yang bertaubat yang akan mampu mengambil manfaat dari keadaan sekitarnya sambil menjaga ciri khas dirinya. Jika kita bisa membayangkan dalam pikiran seperti ibarat benih-benih bunga yang ditanam, kemudian tumbuh ketas sang surya dengan baunya yang harum semerbak, walaupun tanah lumpur berbau dan air yang keruh kini telah beralihmenjadi suatu warna yang menarik dan bau yang harum.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka dengan mendewasakan kepemimpinan ia dapat memulai hidup barunya dengan taubat yang ikhlas, niat yang lurus dan ketundukan pada Allah Swt., maka renungkan apa-apa yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini :

QS. 2 : 38“ Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

QS. 3 : 104“ Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.“

QS. 7 : 71“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.“

Dari apa-apa yang kita utarakan mendewasakan pikiran diatas berarti kita mampu mengungkit pikiran bagaikan tanaman. Kita harus memelihara, menyirami bahkan jika diperlukan kita harus memangkasnya. Jiwa pikiran kita seperti ladang yang subur. Semuanya terletak dari hasil pikiran ketataan dan pikiran positif, yang mampu menuntun kedewasaan kepemimpinan dalam mewujudkan (K)apabilitas dari seorang (E)ksukitif untuk melaksanakan (P)emberdayaan (E)mosional sebagai daya dorong berpikir untuk (M)empengaruhi hubungan (I)nterpersonal dalam usaha untuk (M)emotivasi  gaya (P)erilaku pada tingkat (I)ntensitas pada kemampuan (N)alar yang sejalan dengan (A)kal dan (N)aluri.

5. Mendewasakan Akhlak

Akhlak merupakan sisten nilai yang sesuai dengan ajaran yang dianut oleh manusia yang sejalan dengan kepercayaan dan keyakinan yang dapat menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku  Oleh karena itu, dalam Islam maka sistem yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka apa yang dirumukan dari untaian kalimat dari unsur huruf menjadi kata bermakna, maka AKHLAK adalah melaksanakan (A)malan lahir dan batin menjadi (K)ebiasaan dalam (H)idup berlandaskan (A)gama dalam mewujudkan (K)ebenaran.

Jadi akhlak yang menuntun dan membentuk kepibadian individu manusia sehingga setiap individu berbeda dari orang lain, oleh karena itu seberapa jauh seseorang dapat berakhlak dengan kepibadian sesuai dengan tuntunan Allah Swt., tergantung yang berangkutan mengangkat derajatnya di mata Allah.

Mengenai dasar-dasar akhlak dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat-surat S.Q. 7 : 199, 200, 201 ; 2 :109 ; 3 : 134, 159 ; 4 : 149 ; 5 :13. Dibawah ini kita ungkapkan surat dan ayat yang dimaksud sebagai berikut :

S.Q. 7 : 199 “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

S.Q. 7 : 200 “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

S.Q. 7 :201 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

S.Q. 2 : 109 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.

Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

S.Q.  3 : 134 “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

S.Q. 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dari contoh surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bimbingan yang diberikan Islam merupakan pendekatan yang paling luhur dan paling berharga yang dapat menuntun akhlak dengan kepribadian yang luhur sehingga dapat dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan fitrah dan bakat untuk memanfaatkan hikmah berpikir ke jalan Allah SWT.

Selanjutnya marilah kita menyimak makna amalan lahir dan batin. Dalam Ajaran agama islam, mengajarkan bahwa seseorang mengaku memeluk islam wajib menjalankan syariat yang menyeluruh persoalan hidup lahir dan batin.

Allah SWT telah menggariskan bahwa amalan-amalan lahir yang disebut dengan syariat lahir adalah untuk diamalkan oleh jasad lahir, sedangkan amalan-amalan batin yang disebut dengan syariat batin atau hakikat adalah untuk diamalkan oleh jasad batin (roh).

Kedua syariat itu wajib dilaksanakan serentak dalam menjalankan hidup di dunia dan keselamatan di akherat dalam satu masa di semua waktu dan keadaan. Keduanya memiliki sifat saling ketergantungan, ibarat buah (kulit dan isi) bahwa disatu sisi memperlihatkan lahir (isi) dan disisi lain memperlihatkan batin (kulit), baru memiliki makna dan penting bila saling membutuhkan. Manusia lebih menekankan isi karena bisa dimakan, sebaliknya Allah SWT menekankan kulit karena isi buah tanpa kulit akan membusuk, tapi tidak berarti isi menjadi tidak penting.

Amalan lahir mencakup, amalan Hablumminallah yaitu amalan yang terkait dengan persoalan ibadah seperti sembahyang, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, dan amalan Hab-lummnannas yaitu amalan-amalan lahir kita seperti perkawinan, jual beli dalam perdagangan dan sebagainya.

Amalan batin (hakikat) yang diperintahkan Allah SWT kepada umat-Nya mencakup amalan batin yang terkait dalam akhlak dengan Allah sperti untuk mengenal Allah dengan keyakinan dan kebulatan hati,  merasa selalu diawasi oleh Allah, mensyukuri nikmat pemberian Allah dan sebagainya, dan amalan batin yang terkait dalam akhlak dengan manusia seperti baik sangka kepada orang islam, bertolak ansur kepadanya, memaafkan kesalahannya dan sebagainya.

Realita menunjukkan kepada kita betapa sulit amalan batin untuk dilaksanakan seperti kebaikan dan sabar, begitu juga amalan lahir seperti menjalankan shalat dan puasa.

Tetapi lain halnya bila orang islam yang khusuk dalam perbuatannya yang secara berkelanjutan selalu bermimpi untuk mendewasakan akhlak seperti ia selalu diawasi oleh Allah dan dekat kepada-Nya. Kenyataan ini dapat juga mengingatkan kepada kita dari kedua amalan itu lebih memberatkan kepada amalan batin, hal ini berarti dengan rasa khusyuk kita meyakini benar atas keberadaan Allah SWT, dengan itu kita dapat melawan nafsu amarah sehingga kita dapat membedakan perbuatan baik atau buruk dalam suatu situasi seperti bila kyai dipertuhankan, lebih-lebih ia menjadi seorang pemimpin

6. Mendewasakan Daur Hidup

Mendewasakan daur hidup terkait dengan pikiran selamat hidup di dunia dan akherat adalah suatu usaha mendewasakan secara berkesinambungan dari masa umur yang sejalan dengan semua perbuatan yang menuju kecintaan kepada Alah Swt., oleh karena itu wujudkan gerakan untuk berpikir tentang karunia-Nya melalui proses peningkatan amalan batin.

Membicarakan tentang daur hidup akan terkait dengan kita merenungkan untuk berpikir tentang karunia-Nya maka terlintas dalam pikiran untuk mengetahui tentang masa umur, dalam hal ini seperti yang terungkap dalam buku”Renungan tentang Umur manusia” oleh Allamanah Sayyid Addullah Haddad dimana didalam buku tersebut, ia mngungkapkan dari Ibnul Jauzi telah membagi umur itu menjadi lima masa :

1) Masa kanak-kanak ; sejak dilahirkan mencapai umur 15 tahun ;

2) Masa muda ; dari umur 15 tahun hingga umur 35 tahun ;

3) Masa dewasa ; dari umur 35 tahun hingga umur 50 tahun ;

4) Masa tua ; dari umur 50 tahun hingga umur 70 tahun

5) Masa usia-lanjut  ; dari umur 70 tahun hingga akhir umur yang dikarunia

oleh Allah.

Bertitik dari ungkapan diatas, ungkitkanlah daya kemuauan yang kuat untuk memikirkan makna DAUR HIDUP adalah meningkatkan (D)aya kemauan yang kuat dalam melaksanakan (A)ksi untuk mempertahankan (U)mur secara (R ) asional dalam menuntun ke arah (H)ijerah  dari perbuatan yang salah menuju ke jalan yang benar sesuai dengan aturan dan perintahNYA, maka manusia berusaha menghayati arti hidup dengan (I)nsyaf dalam menebus dosa  dengan bertaubat ebagai manusia seutuhnya menuju ke sucian hati untuk tidak termasuk golongan orang (D)urhaka ehingga diperlukan membangun kebiasaan kedalam (U)saha untuk mewujudkan (P)ahala yang di anugerah oleh Allah Swt.

Sejalan dengan pemahaman makna daur hidup diatas, maka dengan merenung tentang umur dalam daur hidup, tak lain untuk mengingatkan kita dalam menempuh perjalanan hidup ini bahwa kita harus pejemput maut pasti datang., hanya kita tidak tahu kapan datangnya. Rasulullah saw. Diwafatkan oleh Allah Swt. Yaitu dalam usia 63 tahun menurut riwayat yang shaih. Apa artinya bagi kita termasuk sebagai penguasa tak lain ingatlah dengan pesan Rasulullah saw. Bahwa :

“Rebutlah lima peluang sebelum terjadi lima perkara : Masa mudamu sbelum tiba masa tua ; Masa sehatmu sebelum tiba masa sakit ; Masa lapangmu sebelum tiba masa sibuk ; Masa kayamu sebelum tiba masa papa ; dan Masa hidupmu sebelum tiba ajalmu” (H.R. Al-Hakim Baihagi, Ibnu Abi’ddunia Ibnul – Mubarak)

Selanjutnya beliau bersabda bahwa : “Takkan tergeser  kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai  ditanya tentang empat perkara :

1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskan ;

2) Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan ;

3) Tentang hatanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan :

4) Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya

(H.R. Tirmidzi)

Dengan memikirkan hal-hal yang kita ungkapkan diatas, semoga ada motivasi kita untuk lebih mengenal tentang diri kita dengan pendekatan 7 M,

apa-apa yang tertuang dalam QS. 45 : 37“ Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.“

Dengan mndalami apa-apa yang terungkap diatas, bangkitkan cahaya hati ini melalui kekuatan benih jiwa dalam menempuh perjalanan hidup untuk dunia dan akherat melalui tahapan peningkatan kedewasaan kecintaan kita kepada Allah Swt., hanya dengan itulah kita akan selalu ingat bahwa maut pasti datang dan oleh karena itu persiapkan dirimu dengan melihat masa umur kita dengan berpikir, bekerja dan belajar sepanjang hidup ini, disitulah terletak kemampuanmu untuk memanfaatkan unsur jiwa berupa kesadaran, kecerdasan dan akal untuk berpikir baik secara metodis (otak dan hati) dan non-metodis (hati) yang ada dalam otakmu untuk amalan lahir (syariat lahir disebut syariat diamalkan oleh jasad lahir) dan amalan batin (syariat batin disebut hakikat diamalkan oleh jasad batin atau roh)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Read Full Post »

 

           REFORMASI MENUNTASKAN KEMISKINANDALAM PERSFEKTIF 2025

  DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

1. PENDAHULUAN

2. KONSEPSI DEMOKRASI, POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM MELAKSANAKAN REFORMASI

3. BELAJAR DARI PENGALAMAN GERAKAN MAHASISWA DAN PEMIKIR

4. MENYAMAKAN POLA PIKIR

5. SUATU PEMIKIRAN GBHN DALAM PERSFEKTIF 2025

6. GBHN DAN KONSEPSI BUDAYA

7. APLIKASI BUDAYA  BERBANGSA DAN BERNEGARA

8. STRUKTUR ORGANISASI KABINET

9. PRINSIP MODEL PENYUSUNAN APBN TAHUNAN

10. P E N U T U P

 

KATA PENGANTAR

Kegelisahan yang dituangkan „Meretas Kesenjangan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara“ oleh M. Fauzan Rachman selaku Ketua Umum G.M.B.I (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) memperkuat daya kemauan dan kebiasaan sebagai daya dorong untuk mengingat kembali agar pihak-pihak yang berkepentingan supaya membentuk ingatan yang kuat dengan pikiran yang terang bahwa reformasi dalam kehidupan dan bernegara melahirkan begitu besar peran „Economic Hit Man“ selaku agen pihak ketiga baik disadari maupun tidak untuk menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejalan dengan pikiran diatas, agar kegelisahan dan atau ketidakpuasan terjadi dalam masyarakat sehingga menjadi racun kehidupan harus dapat digerakkan menjadi kecemasan sebagai kekuatan untuk melaksanankan reformasi ke jalan yang benar dalam meletakkan konsepsi „Demokrasi, Politik dan Kekuasaan“ dengan menggerakkan kekuatan pikiran kedalam makna KAYA (Kebenaran, Agama, Yakin, Amanah)„ mejadi satu kekuatan pikiran kedalam „Ketaatan dan Berpikir positip“

Sudah saatnya kita bersyukur dengan segala nikmat yang telah Allah berikan atas Ilmu, Waktu, Kekayaan, pada bangsa Indonesia memulai hidup baru karena tidak ada gunanya menangisi yang telah berlalu dengan segala Musibah yang telah diingatkan oleh Allah Swt.

Jawabannya ia tuangkan kembali sebagai pemikiran untuk mengangkat revolusi berpikir kedalam „Reformasi Menuntaskan Kemiskinan Dalam Persfektif 2025“ sebagai usaha menggugah hati melawan kezaliman.

Bandung, 10 Juni 2011.

 

 

 

 

 

1. PENDAHULUAN

 

Apa yang terpikirkan oleh kita dalam berbangsa dan bernegara menjelang pemilu 2014 dimana kita telah dihadapkan kepada gelombang perubahan yang komplek dan cepat dalam abad 21, bila kita tidak dapat menangkap perubahan itu berarti kita akan kehilangan peluang untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI, jangan sampai kita kehilangan napas karena bila kita salah melangkah dalam dahur hidup kematian demokrasi.

 

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dituntut dalam era reformasi ini, untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan agar kekuatan pikiran dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku secara radikal sehingga dapat meretas jalan menjadi diri sendiri, inilah kita maksudkan perubahan pola pikir secara radikal.

 

Seandainya anda seorang muslim, coba renungkan perintah seperti yang termuat dalam Q.S. 3 : 165 “ Dan mengapa kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu ( pada peperangan Badar) kamu berkata : “Darimana datangnya  (kekalahan) ini ?”. Katakanlah : “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

 

Oleh karena itu jauhilah sifat orang-orang munafik dan sejalan dengan itu, coba pula renungkan pepatah yang mengatakan “Siapa mengenal dirinya , tentu ia akan mengenal Tuhannya. Jadi itulah kekuatan pikiran yang dapat menggugah jiwa anda dalam tingkat kesadaran inderawi yang paling rendah dalam usaha menemukan diri sendiri.

 

Untuk mendapat kepribadian manusia yang bertanggung jawab atas “kebebasan berkehendak” diperlukan perubahan pola pikir secara radikal artinya orang yang mampu menemukan tentang dirinya, maka ia akan selalu bertindak yang sejalan dengan apa yang diperlukan oleh tuntutan perubahan

 

 

 

dalam melaksanakan demokrasi yang bertolak dari kerjasama dalam membuat impian menjadi suatu kenyataan.

 

Apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dalam masa orde reformasi, pemimpin hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dengan begitu banyaknya lahir partai-partai baru, tapi terbayangkah olehnya mengenai pemberdayaan „demokrasi politik“ berlandaskan pola pikir yang radikal yang diberikan Agama kepada ummatnya dalam menata hidup dengan kebebasan berpolitik.

 

Inilah suatu kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia dengan peran pemimpin yang memiliki jiwa dengan banyak topeng kepalsuan yang ditunjukkan oleh kebiasaan dalam berpolitik untuk mendapatkan hasil kekuasaan, setelah itu mereka tidak pula berkeingin merubah kesadaran inderawinya, itu berarti tidak mampu berbuat sesuatu memperkuat daya kemauan dalam menangkap karunia Ilahi. Mampukah kita keluar dari ancaman abad jahilaiyah modern ini ?

 

Jadi keadaan lingkungan hidup bangsa dan negara kita seperti yang kita kemukakan diatas adalah keadaan yang diciptakan terus menerus oleh pihak ketiga agar bangsa ini dengan kekayaan alam yang luar biasa di karunia oleh Allah Swt, tidak akan bisa bangkit walaupun telah ditunjukkan dengan azab oleh yang maha kuasa, karena mereka tidak dapat merasakan pahitnya perjalanan hidup bangsa ini karena mereka telah diracuni oleh pemikiran neoliberalisme sebagai kenderaan „globalisasi“ dengan doktrin liberalisasi, privatisasi, deregulasi sebagai sarana imperialisme.

 

Sangat menarik bagi pemimpin masa depan untuk membaca kembali „Indonesia menggugat“ pledoi Bung Karno di depan pengadilan kolonial 18 Agustus 1930.

 

 

Read Full Post »

III. RUMUSAN MASALAH

Bertitik tolak situasi yang telah kita ungkapkan diatas maka daur hidup berbangsa dan negara dalam proses untuk tumbuh dan berkembang hanya-lah satu impian dari waktu ke waktu sejak kepemimmpinan nasional silih berganti atau dengan kata lain yang biasa disebut orde lama ke orde baru ke orde reformasi jauh dari harapan.

Bangsa dan Negara ini sudah terjerumus kedalam satu situasi yang menjadi permainan pihak ketiga sehingga manusia yang berperan dengan sikap dan perilaku yang bersifat wara’ artinya menjauhi dari makna “OTAK” sehingga mereka menerjang batasan-batasan Allah dan dengan terus menerus mengerjakan maksiat seperti yang terlihat dan nyata dalam kehidupan memperkaya diri individu dan kelompok. Prinsip hidupnya materialistik dan Kiblat kepada manusia.

Dengan pemikiran diatas, kita sampai pada kesimpulan rumusan masalah yang kita kelompokkan menjadi “Masalah Abnormal yang kita sebut dengan PENYAKIT” yang sifatnya Kritis / Strategik artinya seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, disebut:

1. Masalah kritis

KELOMPOK PERTAMA KEMISKINAN YANG TERPOLA artinya manusia yang memiliki kekuasaan tapi tidak mau memikirkan perubahan yang berencana, disininalah kemiskinan hati nurani yang tidak ditopang kebesaran jiwa. Hidup penuh kemewahan dan berkecukupan dengan tidak ada kemauan mencari kebenaran berlandaskan agama dengan keyainan menjalankan amanah atas kekuasaan yang dimilikinya.

2. Masalah pokok

KELOMPOK KEDUA KEMISKINAN YANG TERPAKSA artinya manusia yang memiliki kekuasaan terbatas, tapi hidup berkecukupan memiliki hati nurani tapi tidak berani berbuat walaupun ada benih kemauan sayangnya  tidak ditopang oleh kejernihan dalam berpikir.

3. Masalah insidentil

KELOMPOK KETIGA KEMISKINAN YANG DICIPTAKAN OLEH KEADAAN artinya manusia yang tidak memiliki kekuasaan tapi memiliki hati nurani dimana didalamnya terdapat manusia yang benar-benar miskin karena tidak mampu memenuhi kebututuhan hidup dasar, selain itu terdapat pula didalamnya manusia dapat memenuhi hidup terbatas. (

Ketiga masalah tersebut adalah ketidak mampuan pemain peran melepaskan diri satu kekuatan yang kita sebut dengan „Krisis Tersembunyi“, yang dimainkan oleh pihak ketiga, dan untuk itu diperlukan kekuatan daya kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan secara radikal dalam proses perubahan.

 

 

 

 

III. PEMECAHAN MASALAH

Bertitik tolak dari rumusan masalah kritis, pokok dan nsidentil, maka diperlukan kesamaan pandangan berpikir dalam memecahkan masalah penyakit kemiskinan bahwa bila masalah kritis tidak terpecahkan akan melahirkan masalah pokok dan masalah insidentil.

Masalah insidentil, dengan demikian semenjak kita merdeka 46 tahun, tidak akan pernah kita menyelesaikan bila masalah pokok dan kritis tidak terpecahkan.

Oleh karena itu, mendorong kami untuk berpikir secara intuitif untuk mamandang arah masa depan bangsa Indonesia, apakah dapat tumbuh dan berkembang menjadi satu bangsa yang disegani sebagai umat islam yang terbesar didunia, Bumi Indonesia dianugrahi oleh Allah SWT yang luar biasa kekayaan yang dilimpahkannya, tetapi kenyataan setelah kita merdeka sampai hari ini., hanyalah satu impian. Walaupun kita telah memasuki reformasi untuk mewujudkan cita-cita apa yang tertuang dalam mukadimah UUD 1945, masih jauh dari harapan bahkan mungkin Negara kita ini memang diciptakan pihak ketiga menjadi bangsa yang tidak akan bisa tumbuh dan berkemban. Inilah pertanyaan yang mengusik saya berpikir intuitif.

Bertitik tolak dari pemikiran intuitif tersebut, maka kita menyadari sepenuhnya bahwa dalam perjalanan hidup ini kita jauhkan dari pengalaman yang berdampak menyakitkan diri tetapi dibalik itu kita memahami arti apa yang dibawa oleh pengalaman itu dalam memasuki proses perubahan.

Jadi mengungkapkan pengalaman masa lalu dan kita menjalani masa kini dengan penuh harapan, itu berarti kita menatap masa depan bagaimana sebaiknya kita memasuki abad 21, dimana setelah kita memasuki reformasi kehidupan bernegara dan berbangsa, dimana realita menunjukkan kehadapan kita sebagai bangsa apakah kita masih bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita bangsa.

WHY ? Tidak lain, karena belum siapnya kita menerima demokrasi, sebagai alat untuk melaksanakan reformasi dari seluruh aspek kehidupan bernegra.

WHEN ? Tidak lain, karena sejak lama kita dijajah dalam proses berpikir, dalam masa penjajahan, merdeka sampai kini kita sulit untuk berubah.

WHAT ? Tidak lain, dalam masa orde baru demokrasi bernafas hanya suatu retorika belaka, sehingga lembaga pendidikan tidak mampu untuk menjadi daya dorong sebagai basis kehidupan berdemokrasi dan sudah menjadi budaya bahwa setiap pemimpin mementingkan individu dan kelompoknya.

HOW ? Tidak lain, karena ketidak kemampuan kita merubah pola pikir lama dari memecahkan masalah ke menghindari masalah, sehingga selalu salah dalam menyelesaikan masalah.

WHO ? Tidak lain, karena kepemimpinan dalam semua peran dalam menjalankan tugas bangsa dan negara. Coba simak kepemimpinan nasional masa Soekarno dan Hatta dimana Hatta yang bertentangan pandangan dengan senang hati untuk mengundurkan diri dari kekuasaan, satu contoh keteladanan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh siapapun saat ini. Semua pemimpin saat ini kiblatnya kepada manusia, sehingga sikap dan perilakunya sangat sulit berubah, lebih-lebih kalau kepentingannya dan kelompoknya ditentang. Kesemuanya itu lahir dari sifat kepribadian yang materlistiik, sehingga ia tidak mampu untuk mengenal tentang dirinya. Inilah satu kenyataan yang kita hadapi.

Kesimpulan sistom yang menunjukkan kepada kita adalah masalah abnormal sebagai satu “PENYAKIT” dari wabah „KRISIS TERSEBUNYI“ ,

Marilah kita menyatukan sudut pandang bahwa kedua kelompok tersebut yang menciptakan penyakit sebagai pemain peran eksekutif, legislatif dan yudikatif serta yang terlibat dalam peran badan usaha tidak dapat lagi dipercaya untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan sehingga mereka menjadi manusia yang tidak memiliki kekuasaan.

Tuntutan inilah perlu kita lakukan bersama secara radikal untuk melakukan perubahan revolusi berpikir bukan dengan kekuatan fishik yang kita akan dihadapkan dengan berbenturan dengan pihak-pihak yang mendukung status quo.

Untuk itu diperlukan satu keberanian yang didukung oleh pemain peran utama yang melakukan perubahan yang berencana dengan prinsip memiliki kekuatan nurani melawan kezaliman

Tanpa kepemimpinan baru yang memiliki kemauan yang kuat untuk membuka tabir „Krissis tersembunyi“ dalam memecahkan kemiskinan yang mengakibatkan penderitaan dan perasaan ummat dapat dipahami.

Kekuatan kepemimpinan baru harus mampu menyatukan kepentingan untuk mengubah takdir sebagai kekuatan mengubah nasib kedalam kekuatan yang didukung oleh keinginan yang berlandaskan niat untuk memecahkan kemiskinan.

IV. R I N G K A S A N

Perubahan berencana sangat diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan oleh karena itu agar bangsa ini dapat tumbuh dan berkembang maka diperlukan satu pemikiran yang harus dicapai dengan kekuatan revolusi berpikir.

Oleh karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang memiliki hati nurani melawan kezaliman yang menimpa bangsa Indonesia, bayangkan bumi Indonesia yang kaya raya, tidak mampu menjadi negara yang disegani dengan penduduk 231 juta.

Saat ini kita telah diperlihat musibah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang tidak mampu mengubah daur hidup Negara Indonesia kedalam satu kekuatan baru, bayangkan 61 tahun Negara ini merdeka tidak mampu mengangkat derajat manusia Indonesia seutuhnya.

Belajar dari pengalaman masa lalu yang dipimpin oleh pemain peran yang berperan sebagai pendukung dalam kabinet Indonesia dari waktu ke waktu menjadi kekuatan yang terus tumbuh dan berkembang sebagai agen “economic Hit Man” menjadi bangsa Indonesia kedalam daur hidup yang sangat keritis yang berada dalam posisi kemiskinan sebagai akibat adanya “Krisis tersembunyi”

Hal itu telah ditunjukkan dengan berbagai MUSIBAH oleh kebesaran Allah Swt, bahwa bangsa ini tidak akan bisa tumbuh dan berkembang tanpa mengadakan penggantian peran-peran utama secara radikal berubah dalam berpikir untuk mengubah takdir kedalam kekuatan mengubah nasib yang dipimpinan oleh pemimpin yang mampu mengetuk dinding jiwa bukan pemimpin yang berperan dengan wajah yang penuh topeng kepalsuan.

Dengan keberanian kita harus mampu menggerakkan revolusi berpikir dimana pintu masuk sudah terbuka dengan ditunjukkan adanya MUSIBAH  dalam seluruh aspek kehidupan, untuk itu perlu kita menyatukan sudut pandang dalam menyatukan gerakan untuk melakukan perubahan secara pasti dengan dukungan semua pihak yang menyadari sepenuhnya bahwa pemain peran saat ini tidak memiliki hati nurani melawan kezaliman, untuk itu ini satu kekuatan pikiran  berupa :

Hari ini hidup justru yang menentukan, kehidupanan kita ……..

Dalam kelangsungan kehidupan yang pendek itu terckup semua kegiatan ………..

Dan kebahagian dari wujud hidup anda, kebahagia, pertumbuhan,

Kegemilangan, keindahan, keagungan tindakan ……………..

Kemarin hanya satu impian …………..

Besok satu pandangan ………………..

Tetapi hari ni bila hidup baik ………………

Akan membuat tiap hari kemarin suatu impian kebahagian ………

Karenanya manfaatkan sebaik-baiknya hari in “ ……………………..

 

 

Read Full Post »

II. SUMBER DAN LATAR BELAKANG MASALAH

 1.  Gambaran situasi permasalahan

Kehidupan berbangsa dan bernegara telah kita lalui bersama dalam tiga orde yang disebut orde lama, orde baru dan orde transformasi, namun kenyataan memberikan gambaran kepada kita bahwa pemain peran dalam lembaga eksekutif, legislatif, judikatif dan dunia usaha (swasta dan negara) tidak mampu mengangkat derajat bangsa Indonesia.

Mengapa ? Jawaban terletak, yang kita sebut adanya „Krisis Tersembunyi“ dimana pemain peran baik yang disari maupun yang tidak disadari adalah boneka dari tangan-tangan yang memiliki kekuasaan dari pihak ketiga. Mereka hidup dengan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

Teriakan hati nurani angkatan muda tidak pernah didengar dan diberi kesempatan untuk mengungkap tabir „Krisis tersebunyi“, walaupun dihadapan mereka telah diperlihatkan kelompok konglomerat dan kelas orang kaya dengan gaya hidup yang berlebihan telah menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial.

Dalam setiap orde terus berlangsung „Krisis tersembunyi“ yang dimainkan oleh pemain peran yang menginginkan pola pengelolaan ekonomi yang tidak kebal terhadap KKN ( kolusi, korupsi, nepotisme) merupakan akar krisis kesenjangan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Oleh karena itu, generasi muda yang tergabung dalam kekuatan kebiasaan pikiran baru untuk memperkuat daya kemauan yang menginginkan perubahan pola pikir secara radikal untuk memerangi „Krisis tersembunyi“ dengan menyegarkan kembali ingatan kita pada cita-cita mulia dari tujuan perjuangan kemerdekaan bangsa kita yang sebenarnya yaitu membangun satu masyarakat bangsa Indonesia yang adil, bebas dan makmur secara merata.

Yang menjadi persoalan kita saat ini, masihkah kita mempercayai Kepemimpinan bangsa yang ikut berperan dalam „Krisis tersembunyi“ sebagai „Economic Hit Man“.

Kalau hal itu tidak dapat lagi kita mempercayainya, bangkitkan kesatuan dalam daya kemauan yang kuat bahwa hidup kita hari ini ditentukan oleh pikiran kita, sehingga perubahan perlu segera kita perjuangkan bersama, dengan perubahan secara radikal.

Saat ini yang sudah kita capai adalah empat kali amendemen UUD ’45 yaitu perubahan pertama disahkan 19 Oktober 19999, perubahan kedua disahkan 18 Agustus 2000, perubahan ketiga disahkan 10 November 2001 dan perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002. Tapi apakah bangsa dan negara ini telah tumbuh dan berkembang dengan sumber kekayaan bumi dan alam yang luar biasa dianugerahi Allah SWT.

Apa yang kita hadapi saat ini satu kenyataan bahwa dikatakan pendapatan per kapita sebelum krisis ekonomi Asia Tenggara (Mei 1997 tercatat pendapatan per kapita sebesar US $ 1,600. per tahun dan dikelompokkan dalam “negara berpendapatan menengah”, itulah bayangan semu bila kita hubungankan dengan jumlah hutang Pemerintah, BUMN, dan Swasta yang begitu besar, maka perdapatan per kapita akan memberikan gambaran minus. Semua ini baru terkuah setelah kita menghadapi krisis ekonomi di Asia Tenggara pada Mei 1997. Apa artinya itu semua bagi memasuki orde reformasi dimana budaya KKN bukannya dapat kita meminimumkan bahkan menjadi meluas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mampukah kita keluar dari daur hidup berbangsa dan bernegara dengan masalah penyakit yang kritis dan pokok. Kita hanya bisa bangkit bila kita mengadakan perubahan berpikir secara radikal, kalau tidak kita akan terus akan terpuruk dan inilah yang diinginkan pihak ketiga supaya NKRI tetap menjadi negara yang terkebelakang dengan penduduk memeluk agama islam yang terbesar. Mampukah kita keluar dan memecahkan masalah penyakit yang kita hadapi saat ini tanpa adanya komitmen dalam berbangsa dan bernegara dengan kepemimpinan yang dapat memberikan keteladanan.

Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulainya ? Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang.

Seandainya itu kita persoalkan, kita tidak pernah bertemu pandangan untuk masalah yang sedang kita hadapi bila telah menyangkut kepentingan individu dan kelompok, pengalaman itu telah mengajarkan kepada kita.

Dalam masa pemerintahan manapun kita dapat membaca dan menganalisa pertanggungan jawaban setiap tanggal 17 Agustussetiap tahunnya. Begitu banyak informasi yang kita dapatkan baik yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, Biro Pusat Statistik, Analisis dari para ahli dari berbagai bidang pengetahuan. Sebaliknya  tulisan ini dalam bentuk lain artinya kami mencoba memikirkan sesuatu tidak dengan model berpikir methodis artinya menyatukan kemampuan otak dan hati melainkan berpikir dalam kerangka dalam mengembangkan kemampuan berpikir intiutif kami untuk “Merenung Mampukah Kita Membangun Bangsa Untuk Tumbuh dan Berkembang”

2. Hasil Usaha Dari Kebijaksanaan sebelumnya

2.1. MASA PEMERINTAHAN SOEKARNO – HATTA

  • Kabinet pertama 29 Agustus 1945, terkait dengan maklumat kepada Rakyat Indonesia, menyelesaikan yang terkait dengan pasukan Inggeris datang, pertemuan dengan wakil-wakil Belanda, membangun tentara keamanan rakyat, melanjutkan berunding dengan Inggeris di Surabaya, dan menenangkan keadaan dengan mati tertembaknya Jenderal Mallaby.
  • Kabinet Parlementer Sjahrir, untuk melanjutkan perundingan dengan Belanda, memindahkan ibukota RI pindah ke Yogya, serta menyelesaikan Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), usaha mencetak uang, menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan K.N.I.P. sejalan dengan laporan Palima Besar Sudirman.
  • Kabinet Parlementer Sjahrir kedua 3 Maret 1946 terbentuk, menyelesaikan perbedaan pandangan dengan bangsa sendiri.
  • Kabinet Parlementer Sutan Sjahrir ketiga terbentuk 2 Oktober 1946, menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan persetujuan Linggarjati dan menyelesaikan hal-hal dengan KNIP, tetapi sejalan dengan itu Kabinet Sjahrir jatuh karena sayap kiri tidak percaya lagi, langsung Soekarno pegang kekuasaan, selanjutnya terbentuk Kabinet Amir Sjarifuddin. Menghadapi clash I dan menyelesaikan persetujuan Renville. Selain dari itu timbul ketidak puasan disana sini, dan mendapat tantangan dari bebe-rapa partai. Kesemuanya terkait kekuasaan.
  • Kabinet Hatta 2 Januari 1948, walaupun tantantangan dengan F.D.R dan kekacauan didalam tubuh T.N.I. dan menyelesaikan pemberontakan PKI sehingga terjadi pertentangan yang dalam kelompok Soekarno – Hatta dan Muso-Amir. Menyelesaikan masalah perang saudara di Tapanuli Utara.Aksi militer kedua dimana Panglima Besar Sudirman meneruskan gerilya dan Mr.Syarifuddin Presiden darurat yang ditunjuk oleh Soekarno dan Hatta. Menyelesaikan untuk melakukan perundingan kembali. Belanda tidak mendapatkan dukungan dari B.F.O (berdasarkan keputusan dewan keamanan PBB dengan menunjuk K.T.N. (AS, Australia, Belgia). Menyelesaikan Pemerintah Darurat berakhir dan dengan BFO terdapat persetujuan. Sejalan dengan itu 4 Agustus 1949 Kabinet Hatta dibentuk. Menyelesaikan perundingan KMB dan penyerahan kedaulatan. Selanjut-nya 16 Desember 1949 untuk pertama Presiden Soekarno menjadi Presiden RIS dengan Kabinet Hatta serta program Kabinet RIS yang terdiri 7 butir mencakup : 1) Reorganisasi KNIL dan membentuk Angkatan Perang RIS ; 2) menjamin hak dasar manusia dan kemerdeka-annya ;3) Persetujuan UUDRIS dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk konstituante ; 4) Memperbaiki keadaan ekonomi rakyat, keuangan, perumahan, kesehatan, tenaga kerja ; 5) Menyelenggarakan perguruan tinggi ;6) Menyelesaikan Irian Barat ; 7) Menjalankan politik LN RIS dalam perdamaian dunia.
  • Apa yang dapat kita petik sebelum berpisah antara Soekarno dan Hatta antara tahun 1945 – 1956 dalam memimpin bangsa dan bernegara untuk memahami apa arti kebersamaan dalam bersikap dan berperilaku dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai, disinilah letak pandangan perbedaan mereka dalam mengaktualisasikan dirinya yaitu :

1.Hatta dalam bersikap dan berperilaku sangat konsisten antara ucapan dan perbutan, sedangkan Soekarno tidak konsisten.

2.Dengan tidak konsisten seseorang berpikir maka orang akan beram-bisi untuk mencapai tujuan tertentu yang ada kalanya tidak terung-kapkan, tapi dari pengalaman kita dapat menyimak ambisi politik pribadinya, ambisi bisa saja tidak selalu dipandang negatif, tapi ia dapat mempengaruhi tingkat kesadaran pengikutnya yang dapat ber-dampak seseorang yang terlibat dalam proses mengambil keputusan.

3.Mereka menyadari arti kedudukan geopolitik, geografi dan strategi itu membuat Indonesia sebagai satu daerah penting didunia, ditambah kekayaan alam yang luar biasa. Tapi mereka berbeda pandangan dalam menyelesaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi dalam mengambil keputusan Hatta melihat peluang dari sisi pembangunan ekonomi tidak berarti masalah politik tidak mendapatkan tempat,sebaliknya Soekarno melihatnya peluang dari sisi pembangunan politik sedangkan ekonomi akan bergerak sendiri.

4.Sudah tentu pandangan tersebut membuat berbeda setiap keputusan yang hendak diambil dalam aspek kehidupan lainnya, apakah aspek hukum, budaya, sosial, agama, keamanan dsb.

  • Perbedaan pola pikir menyebabkan Hatta mengambil sikap dalam pemerintahan sebagai wakil presiden dalam tahun 1956 dengan me-ngundurkan diri, karena ia memiliki prinsip hidup percaya diri yang di-topang dengan kesadaran rohaniah yang mendalam untuk mendukung sikap dalam berpikir logis dan ilimiah. Tapi yang menarik dari kedua tokoh ini sebagai muslim memberikan keteladanan dalam bersikap dan berperilaku saling menghargai arti kepribadian secara utuh, walaupun mereka berbeda pandangan.
  • Kedua tokoh ini memberikan keteladanan yang luar biasa bahwa meng-gunakan kekuasaan tapi mampu membendung kesadaran indrawi untuk memperkaya diri dan keluarga..

2.2. MASA PEMERINTAHAN SOEKARNO SETELAH BERPISAH

  • Informasi perjalannan kepemimpinan Soekarno, dapat kita baca setiap tahun dalam pidatonya pada ulang tahun proklamasi Kemerdekaan Indo-nesia dalam empat jilid (setelah berpisah baca jilid III 1956-1960 dan jilid IV 1961-1966. Pada jilid I dan II tidak pernah menyebutkan Wakil Presiden.
  • Seperti yang telah kami kemukakan pada bagian terdahulu, bahwa ambi-si politik telah menuntun proses berpikirnya, bagaimanapun hebatnya ia mempengaruhi rakyatnya tapi fakta tidak dapat ditutupi bahwa keadaan pembangunan ekonomi tidak bisa memberikan daya dorong dalam ke-hidupan berbangsa dan bernegara.
  • Gelombang-gelombang ketidakpuasan sebenarnya sudah nampak dalam tahun 1960 dimana ada pihak yang merebut kekuasaan tapi ada pula yang mengawasai dengan tujuan mencari peluang.
  • Gelombang tersebut menjadi badai yang tak dapat dihindari lagi terjadi-lah kesenjangan yang mendalam antara Soekarno dan Angkatan Darat. Angkatan bersenjata tidak sadar bahwa dalam tahun 1964 –65 telah terjadi secara tersembunyi bagaimana PKI menginfiltrasi kedalam tubuh angkatan darat. Dan tidak heran pula strategi cina ingin mengendalikan bangsa Indonesia melalui Soekarno.
    • Bangsa Indonesia dikejutkan tanggal 1 Oktober 1965 pada pukul 07.20 pagi Jakarta dibangunkan oleh sebuah pengumuman lewat RRI yang mengatakan Gerakan 30 September (GESTAPU) yang dipimpin oleh Letkol. Untung dari pasukan pengawal presiden Ckrabirawa telah mengambil kekuasaan, dengan membunuh enam jenderal senior AD pada subuh tanggal 1 Oktober 1965.
  • Apa yang terjadi setelah itu adalah kegagalan kudeta, hanya dalam waktu 7 jam saja dimulai pukul 04.00 pagi penghancuran sampai ke akar-akarnya PKI yang tadinya amat berkuasa sebagai suatu kekuatan politik danideologis yang dirasakan sebagai kekuatan asing yang mendapat dukungan dari rakyat yang bersimpati dengannya. Tragedi ini berlanjut dengan pembalasan dendam dimana-mana serta kehancuran kehidupan ekonomi Indonesia.
  • Gelombang perubahan tersebut berakhir dengan jatuhnya Soekarno dari puncak kekuasaan pada 11 Maret 1966 serta naiknya militer khususnya AD ke atas panggung kekuasaan.

2.3. MASA PEMERINTAHAN SOEHARTO MARET 1966 SAMPAI MEI 1998 DENGAN WAKIL PRESIDEN YANG SILIH BERGANTI ADAM MALIK, SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX, UMAR WIRAHADIKUSUMAH, TRI SUTRISNO, SUDHARMONO, BJ. HABIBIE

  • Dengan mendapat dukungan dari MAHASISWA dan melahirkan ORDE BARU dumulai dengan kepemimpinan Soeharto dengan bertitik tolak landasan pikiran bagi pemecahan kesulitan ekonomi, yang dicetuskan dalam seminar ekonomi KAMI dengan melahirkan Rencana Ekonomi Perjuangan 1966-1968.
  • Semenjak awal memimpin, sudah nampak kepribadian untuk menunjuk-kan politik sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi melalui pemba-ngunan ekonomi.
  • Apa yang dapat kita petik dari pengalaman sebelum Malari 1974 :

1.Teknik menguasai kekuasaan yang tunggal tanpa ada kritik secara terbuka untuk menyadar manusia selaku pemimpin bangsa.

2.Menguasai pengikut dengan menciptakan bahwa sebagai pengikut harus tunduk atau kiblat kepada manusia / pemimpin bukan kepada prestasi yang diridhoi oleh Allah swt.

3.Sejalan dengan itu ia menumbuhkan kepentingan pribadi dan kelom-pok menjadi nilai / budaya yang dianut.

4.Ia dapat menguasai pribadi kaum intlektual, mantan mahasiswa, MPR dan DPR.

5.Itulah satu kenyataan yang nampak secara nyata tanpa kritik dengan REPELITA I DAN II, berjalan mulus dimana disana sini ia mem-berikan keteladanan memberikan kesempatan memperkaya diri dan kelompok kepentingannya, sehingga tumbuhlah yang dikatakan budaya KKN.

6.Apa arti bagi kita melihat pengalaman itu, sehingga banyak kaum intelektual, mantan mahasiswa, pemimpin agama melacurkan diri demi kepentingan pribadi dan kelompok.

7.Bagi Soeharto dan pengikutnya sebagai langkah awal untuk mengua-sai kekuasaan dalam politik sebagai kepentingan AMBISI PRIBADI yang tidak konsisten dalam perjuangan mengangkat derajat bangsa dan negara.

  • Kepemimpinan Soeharto dan pengikiutnya setelah peristiwa berdarah MALARI 1974.

1.Kita belajar lagi bahwa Soeharto beserta pengikutnya telah membentuk pola sikap dan perilaku dengan tingkat kesdaran INDRAWI yang tinggi, sehingga orang tidak bersedia untuk berubah ketingkat kedua yang kita sebut kesadaran BERPIKIR LOGIS DAN ILIMIAH dan ditopang Oleh berpikir agamis.

2.Pengalaman menunjukkan jenderal dan pensiunan jenderal, para politisi, pemimpin ummat yang beragama, legislatif dan judikatif, yang tidak mendukung secara terbuka, orang-orang tersebut harus disingkirkan jangan mereka bisa mempengaruhi sikap dan perilaku indrawi yang sudah tumbuh berurat berakar menyesuaikan dengan tuntutan perubahan. Mereka tersebut secara berencana harus meninggalkan kekuasaan dan pengaruhnya.

3.Hanya sedikit orang memetik kepribadian Bung Hatta dan beberapa tokoh lainnya yang selalu konsisten dalam bersikap dan berperilaku, lebih baik mundur dari pada mengikuti arus.

4.Apa yang nampak perjalanan berikutnya, kelompok Soharto meyakin-kan bahwa pembangun ekonomi harus dilanjutkan, maka lahirlah REPELITA III 1979 – 1984 dan REPELITA IVdan V1984 / 1985 sampai dengan 1989/90 –1993/94.

5.Secara tidak sadar ada mantan mahasiswa yang juga bergelimang dengan kehausankekuasaan, melahirkan sebuah buku Desember 1987, mengenai “Pak Harto” – Pandangan dan Harapannya.

6.Untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto dan pengikutnya, begitu hebatnya ia menanamkan kepribadian kedalam “SEKBER GOLKAR” yang akhirnya melahirkan partai golgar yang menghimpun pelaku ekonomi, pelaku dalam pemerintahan dan kaum inteletual serta kaum ulama.

7.Banyak kritik yang terbuka dalam seminar, tulisan tertulis, gelombang ketidak puasan mahaiswa tak berarti mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku Soeharto dan pengikutnya. Dan tak heran peluang itu dipergunakan oleh golongan pengusaha pribumi dan non-pribumi untuk memperkaya diri seperti yang diperlihatkan oleh pemimpin dan keluarganya.

8.Sebenarnya orang dapat membuat identifikasi situasi permasalahan dari “Amanat Kenegaraan “ dari tahun 1967 dengan realisasi RAPBN dari tahun ke tahun, tapi demi kepentingan individu dan kelompok menjadi tuntutan perubahan tidak mampu mendobrak kesadaran INDRAWI mereka.Untuk mengubah prinsip hidub materialistik dan kiblat kepada manusia / pemimpin.

9.Soeharto dengan wakil presiden BJ Habibie, mencoba mengikuti arus keinginan akan perubahan, dimana mencari dukkungan sebagai Ketua ICMI. Sedangkan dalam perjalanan ada sebuah buku yang mengung-kapkan “Fakta Diskriminasi Rezim Soeharto terhadap Ummat Islam” Karya Tim Peduli Tapol 1985, edisi Indonesia Penerjemah Mohammad Thalib.

10.Perlu diketahui, ketua pelaksana harian adalah Achmad Tirtosudiro dan sekjen-nya adalah Adi Sasono mengatakan tidak tertutup peluang untuk mengadakan Sidang Istimewa MPR dan perombakan kabinet.

11.Apakah yang diucapkan BJ Habibie yang bertentangan denga Ketua harian dan sekjen-nya, adalah suatu taktik yang dibaliknya ia juga mempunyai ambisi bermuka dua. Apakah ia memiliki kepemimpinan yang perlu kita dukung, menjadi satu tanya besar. Pernahkah anda membaca sebuah buku”Dari Soeharto ke Habibie” Guru kencing berdiri, murid kencing berlari : Kedua Puncak korupsi, kolusi, dan nepotisme rezim orde baru, yang ditulis oleh Dr. George Yunus Aditjondro. Tidak heran banyak tulisan mengenai diri Soeharto yang ditulis oleh orang luar, bagaimana ia membangun kerajaan untuk menumpuk kekajaan melalui berbagai perusahaan keluarga, tanpa membaca bukupun kita dapat menangkap fakta yang berjalan.

12.Buku “Kudeta 1 Oktober 1965”, sebuah studi tentang konsipirasi yang ditulis oleh Victor M. Fic dan buku dengan judul “Jakarta semasa lenser keprabon” 100 hari menjelang peralihan kekuasaan, yang ditulis oleh Julius Pour.Sangat menarik untuk dibaca dalam usaha untuk meningkatkan Kesadaran.

2.4  MASA PEMERINTAHAN BJ HABIBIE

  • Awal Maret 1998 dilantik jadi wakil presiden. Gelombang pembaharuan terus bergulir yang dimotori oleh MAHASISWA, dengan mendapat dukungan para cindikiawan, alim ulama, DPR dan ABRI, maka tuntutan perubahan terjadi sesuai dengan tuntutan Orde Reformasi.
  • Wakil Presiden diangkat sumpah 21 Mei 1998, menjadi presiden untuk melanjutkan jabatan presiden untuk masa jabatan 1998-2003. Pada 23 Mei 1998 mmelantik “Kabinet Reformasi Pembangunan”.
  • Dalam masa jabatannya, sebagai Presiden tidak mampu menunjukkan Kepemimpinan Nasional artinya setelah melantik Kabinet Reformasi Pembangunan, tidak ada Keputusan strategik yang diangkatnya untuk memenuhi tuntutan pembaharuan dalam Reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mencakup visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan yang ditopang dengan rumusan budaya yang di-formalkan, sehingga jelas arah yang hendak dituju dalam jangka pendek dan menengah.
  • Oleh karena itu gejolak ketidak kepercayaan ditambah karena adanya bayang-bayangan Soharto, maka tidak banyak yang dapat ia perbuat se-lama kepemimpinan tidak mampu mempengaruhi orang-orang dalam lingkungannya. Sejalan dengan itu maka banyak orang berpendapat ia tidak dapat dipertahankan masa jabatannya.

2.5. MASA PEMERINTAHAN K.H. ADDURRAHMAN WAHID  DAN MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

  • Setelah dilantik 20 dan 21 Oktober 1999, serta membentuk Kabinet Persatuan Nasional tg. 28 Oktober 1999, yang mencerminkan keinginan dan kepentingan berbagai pihak.
  • Melangkah dengan persetujuan bersama antara DPR dan Presiden RI, dengan UU RI No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000-2005. Pelaksanaannya akan dirinci dalam Rencana Pembangunan Tahunan (Repeta) yang memuat Anggaran Pen-dapatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan di tingkat daerah dise-but PROPEDA. Sistem, prosedur dan metoda berjalan sesuai dengan pe-raturan perrundangan yang berlaku.
  • Semua yang terungkap dalam PROPENAS yang juga meletakkan Priori-tas Pembangunan Nasional yang mencakup

1.Membangun sistem politik yang Demokratis serta Mempertahankan Persatuan dan Kesatuan.

2.Mewujudkan Supremasi Hukum Dan Pemerintahan Yang Baik.

3.Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Memperkuat Landasan Pem-bangunan berkelanjutan dan Beerkeadilan yang Berdasarkan Sistem Ekonomi Kerakyatan.

4.Membangun Kesejahteraan Rakyat, Meningkatkan Kualitas Kehidup-an Beragama, dan Ketahanan Budaya.

5.Meningkatkan Pembangunan Daerah.

  • Bila kita memperhatikan pedoman tersebut diatas yang telah memberikan arah kedalam peran, jabatan, fungsi, pekerjaan, tapi dalam pelaksanaan-nya sangat ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang dapat meyakinkan dalam usaha untuk mempengaruhi lingkungan yang begitu cepat berubah.
  • Apa yang terjadi, tidak lain gelombang pembaharuan terus bergulir keti-dakpuasan menimbulkan gejolak ketidak kepercayaan untuk menyatukan dan mengangkat bangsa jauh dari harapan.
  • Rasionalitas Kwik Kian Gie, mengajak sumbang saran, kedalam curah pendapat kepada 700 anggota MPR/DPR, untuk menatap persoalan-persoalan masa depan dengan suratnya serta ia menyampaikkan dua buah makalah. Tujuannya adalah untuk melakukan perubahan dari kesadaran indrawi menuju kesadaran logis dan ilimiah.
  • Dari forum itulah melahirkan pandangan yang pro dan kontra, hal itu terjadi karena mereka dididik yang cukup panjang dalam masa orde baru untuk menjadi manusia kiblat ke manusia, bukan kepada prestasi yang di ridhoi Allah swt.

2.6. MASA PEMERINTAHAN MEGAWATI DAN HAMZAH

  • Pemilu 1999 berjalan dengan mulus, apa yang diharapkan oleh kehidupan berbangsa dan bernegara untuk tumbuh dan berkembang.
  • Mengapa kita jauh dari harapan, tidak lain karena gaya kepemimpinan sangat menentukan bagaimana ia mempengaruhi dalam proses pengam-bilan keputusan.
    • Keputusan strategik yang diambil banyak mengandung ketidak pastiann karena masih saja menekankan kepentingan individu dan kelompok, ka-laupun pengikut mengungkapkan kebenaran belum tentu sang pemimpin dapat menerima begitu saja. Hal tersebut kitak mampuan membuat keseimbangan antara kesadaran indrawi dengan kesadran logis dan ili-miah yang mendorong tidak terjadi konsisteen dalam bersikap dan ber-perilaku dalam kepemimpinan.
  • Fokus untuk membangun bangsa untuk tumbuh dan berkembang, maka peran yang dipercayakan tidak menjadi satu kenyataan, sehingga pusat perhatian lebih menekankan kepada bagaimana kekuasaan dapat dipertahankan, sehingga kepemimpinan menuntun orang-orang dalam lingkungannya menjadi sekelompok orang lebih mementingkan kesadaran indrawi akibatnya diantara kelompok menjadi terpecah dalam menyelesaikan masalah ekonomi secara terfokuskan dan seimbang dengan kepentingan politik.
  • Itulah satu kenyataan yang kita hadapi sehingga berdampak peran pelaku dalam kabinet tidak dapat dimaksimumkan yang sesuai dengan kapabilitasnya. Akibatnya sikap dan perilaku tetap berkiblat kepada manusia, tidak ada keteladan untuk berani meninggalkan peran karena perbedaan pandangan dalam menyelesaikan masalah.
    • Oleh karena itu tidak heran bila banyak anggota bangsa mulai menyadari arti hidup untuk tumbuh dan berkembang mulai tidak percaya ataukah itulah tanda ketidak keberhasilan dalam Pemilu tahun 1999 walaupun berjalan dengan sangat mulus.

2.7.  MASA PEMERINTAHAN S.B. YUDHOYONO   M.Y.    KALLA

  • Dilantik berdasarkan hasil pemilu 2004 secara langsung dan berjalan tanpa ada gejolak secara berarti dimana masyarakat memberikan keper-cayaan atas kepemimpinan mereka.
  • Menyusun kabinet antara presiden dan wakil dengan susunan “Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2009, yang lebih banyak menekankan kedalam keputusan politik bersifat kompromi, keduanya tidak mendasarkan kesadaran logis dan ilimiah yang ditopang oleh kesadaran rohaniah yang tinggi. Mereka juga lebih menekankan kepentingan individu dan kelompok, sedangkan mereka telah belajar dari pengalaman masa lampau.
  • Gejolak ketidak kepercayaan kepada kabinet melahirkan perubahan su-sunan kabinet yang masih menggambarkan kompromi politik walaupu ada yang baru untuk meredakan kepercayaan pada dunia bisnis bukan melihat untuk kepentingan bangsa dan bernegara.
  • Bila kepercayaan dibayang-bayangi hanya dilihat dari kepentingan sesaat maka gelombang ketidak kepastian akan timbul dan bergerak yang digerakkan kepentingan politik dan pihak ketiga bermain untuk mengadu dompa diantara mereka dan biasanya bila tingkat kesadaran indrawi yang dominan, maka gejolak ketidak kepuasan akan berlangsung terus, sedangkan Pemilu 2009 telah diambang pintu. Salah-salah membuat keputusan akan terjadi, maka tahun itu dijadikan pintu masuk hanya untuk merebut kekuasaan, sehingga kepentingan untuk tumbuh dan berkembang hanya satu bayangan yang tidak pasti karena gaya kepemimpinan yang tidak mampu mempengaruhi untuk menunjukkan keteladanan dalam proses keputusan dimata keinginan rakyat ke masa depan.

Kedua pemimpin ini berbeda asal usul dalam membangun kepribadian dimana SBY dibesarkan dengan latar belakang militer, KALLA dibesarkan dengan latar belakang sebagai pengusaha, oleh karena itu sepak terjangnya berbeda dimana aktualisasi proses pengambilan keputusan berbeda yang satu takut yang kedua berani, akibatnya tidak pernah serasi dalam membuat keputusan.

2.8. MASA PEMERINTAHAN S.B. YUDHOYONO DAN BUDIONO

Kabinet Indonesia Bersatu ke II 2009-2014, yang lebih banyak menekankan kedalam keputusan politik bersifat kompromi, tidak perlu lagi untuk kita uraikan dimana dua tahun kepemimpinan mereka, begitu banyak orang yang bermasalah justru menjadi pemain peran utama, sehingga „Krisis tersembunyi“ menjadi lebih subur bermain sebagai agen „Economis Hit Man“, oleh karena itu kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih kritis.

Banyak peristiwa yang tidak perlu kita ungkapkan kembali dimana masyarakat biasapun dapat melihat dan mendengarkan serta merasakan apa yang terjadi . Disinilah kebesaran Allah Swt beragam Musibah diturunkannya, untuk manusia Indonesia belajar apa yang terjadi bagi peran pemimpinan “kaya tak terbatas”

Apa yang terpikirkan saat ini, Semua unsur bangsa yang ingin bangkit, jangan terpengaruh oleh bayang bayang ketidak kepuasaan pihak ketiga yang tetap menginginkan perpecahan anak bangsa. Oleh karena itu diperlukan gaya kepemimpinan yang dapat menangkap gelombang tuntutan perubahan itu sendiri. Kalau kondisi itu tidak dicermati dengan baik, maka gejolak perubahan yang oleh ketidak puasaan akan muncul dan bergulir terus dan situasi inilah yang dimanfaatkan untuk suatu tujuan politik.

Peran pemain politik, telah ditunjukkan sebagai MUSIBAH oleh kehendak Allah Swt, yang terus bergulir dalah kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak perlu kita ungkapkan kembali, telah banyak informasi disajkan dalam mas media cetak dan elektronik, apa yang sedang terjadi.

Tanpa menguasai keadaan yang selalu digerakkan oleh ketidak keyakinan begitu mudah pula orang mengungkapkan, apalah arti orde reformasi ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak lain daripada pintu masuk untuk merebut kekuasaan, maka gelombang ketidak puasan akan terus bergulir yang diciptakan oleh pihak ketiga melalui tangan-tangan bangsa kita sendiri yang tidak disadari olehnya. Disinilah letak peran kepemimpinan untuk menggerakkan pandangan persfektif bangsa dan negara menjadi pemikiran jangka panjang dengan arah posisi yang jelas kedalam aktualisasi jangka pendek untuk melaksanakan pencapaian kinerja yang terukur.

3. PENTINGNYA SITUASI PERMASALAHAN

3.1. Keyakinan mengenai kemampuan bangsa sendiri :

  • Pengalaman menunjukkan pada tingkat pemimpin lembaga negara me-nunjukkan tidak ada keteladanan yang mampu mempengaruhi bawahan dan orang lain diluar lingkungan untuk menyesuaikan tuntutan perubahan sikap dan perilaku lebih baik menghindari masalah dari pada memecahkan masalah artinya orang sudah menjadi terbiasa dalam proses berpikir dalam kerangka reaktif bukan proaktif.
  • 51 tahun merdeka, setiap masa kepemimpinan nasional silih berganti tidak satupun mempunyai kepercayaan diri bahwa daur hidup bangsa dan negara dalam posisi penyakit yang sulit dapat disembuhkan, mungkin dampak dari budaya kolonial, oleh karena itu sekiranyapun ada tapi mereka tidak mampu melawan arus yang diciptakan pihak ketiga sehing-ga tidak pernah ada titik temu diantara bangsa kita yang bisa saling percaya dan menghargai bangsa sendiri.
  • Bila kondisi tersebut terus berlangsung dan pemimpin kita tidak dapat merubah pola berpikir secara radikal, maka kita tidak pernah bisa keluar dari penyakit dalam proses pengambilan keputusaan karena percaya kekuatan interpensi dari luar.
  • Mampukah kepemimpinan masa kini dan masa depan meyakininya bah-wa masalah penyakit bangsa hanya dapat diselesaikan, bila kita memiliki komitmen bersama untuk membangun keyakinan bahwa semua masalah telah menjadi penyakit harus dapat diselesaikan atas dasar kemampuan sendiri tidak bergantung dengan interpensi pihak ketiga dalam semua aspek kehidupan.
  • Perubahan pola pikir secara radikal tersebut harus disosialisasikan menjadi visi dalam berbangsa dan misi dalam bernegara bila tidak tidak pernah orang mau belajar dari pengalaman masa lampau, ataukah bangsa ini yang dipimpin oleh lembaga legislatif, yudikatif dan eksekutif memang terus mengumandangkan prinsip gaya hidub orde baru sehingga mudah pihak ketiga bermain didalamnya.
  • Dalam perubahan UUD ’45 dengan empat kali amendemen, memang dengan sengaja mencantum kedalam UU, satu pernyataan angka kwan-titaf % khusus untuk pendidikan yang tidak lazim dan mendorong orang berpikir untuk kepentingan kelompok. Kepentingan itu tidak menunjuk-kan kesimbangan kepentingan dalam membangun. (terdapat dalam amendemen ke empat disahkan 10 Agustus 2002)
  • Kita dapat membayangkan begitu mudah pihak ketiga bermain untuk mengonjangkan kesadaran yang secara terselubung menjadi bayang-bayangan harapan yang tidak pasti, dan orang yang berperan secara sadar terlibat dalam bayang-bayang itu dalam bersikap dan berperilaku yang dengan sengaja menumbuh kembangkan kepentingan individu dan kelompok yang sekali gus mendorong orang tidak memiliki keyakinan diri.
  • Begitu pula pengalaman menunjukkan membuat keputusan-keputusan mengenai pinjjaman luar negeri yang dikaitkan dengan pembiayaan pembangunan di Indonesia dari masa orde baru dan juga begitu mudahnya membuat keputusan untuk pendirian dalam industri perbankan. Kedua unsur inilah yang mendorong kehancuran bangsa dan negara dan dengan adanya krisis ekonomi barulah terrkuak hal-hal yang dimainkan peran-peran dengan tingkat kesaran indrawi yang tinggi dan sekali gus membuka tabir begitu hebatnya dampak dalam kehidupan KKN dalam kehidupan berbangsa dan berrne-gara. Sehingga budaya KKN tumbuh dan berkembang sampai saat ini.
  • Begitu mudah lahirnya kebijakan kedalam UU, PP, Kepres, Kepmen dan beragam instruksi yang melahirkan dampak dari keputusan itu seperti BPPN, BULOG, PASAR MODAL, VALAS, PENDIDIKAN, dsb.
    • Kesemuanya secara tidak sadar bayang-bayang permainan pihak ketiga terus bergulir, walaupun kita menyadari hal tersebut tetapi begitu mudah sikap dan perilaku pemain peran terperangkap untuk kepentingan individu dan kelompok.

3.2. Budaya dalam Berbangsa dan bernegara :

  • Dalam kehidupan masa lalu, masa kini kita tidak mengenal budaya dalam berbangsa dan bernegara, yang ada hanyalah 45 butir nilai pedoman penghayatan dan pengamalan pancila yang dikembangkan dari sila kesatu ketuhanan yang maha esa ; sila kedua kemanusiaan yang adil dan bera-dab ; sila ketiga persatuan indonesia ; sila keempat kerakyatan yang di-pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ; sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
  • Untuk menuntun sikap dalam berbangsa dan perilaku dalam bernegara diperlukan budaya sebagai pedoman yang diformalkan, sehingga setiap individu dan kelompok pada setiap unit organisasi memahami arti kebe-radaannya dalam wilayah republik indonesia, begitu dalam kehidupan partai politik.
  • Yang kita butuhkan adalah budaya, sedangkan nilai hanya salah satu unsur dalam budaya. Jadi nilai menjadi terwujud bila unsur norma, wewenang dan ganjar jelas dapat dirumuskan. Jadi ketiga unsur diatas juga harus dirumuskan.
  • Dengan budaya tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman untuk mela-kukan perubahan dalam bersikap dan berperiku yang sesuai dengan tun-tutan kebutuhan berbangsa dan bernegara.
  • Denganbudaya yang jelas dan diformalkan diharapkan mampu merubah pola pikir lama ke pola pikir baru untuk membangun kebiasaan yang produktif dengan memanfaatkan otak sebagai landasan untuk menggerak-kan alat berpikir yang disebut kesadaran, kecerdasan dan akal. Wujudnya merubah prinsip hidup yang akan dijalani

3.3. Kepemimpinan dan pengikut :

  • Apapun model sistem, prosedur, methoda dalam administrasi yang dida-lamnya telah terintergrasi pengawasan dan pengendalian tidak mempu-nyai arti kalau manusia yang melaksanakannya selalu terlibat untuk mencari kepentingan individu dan kelompok.
  • Bentuk pengawasan struktural, fungsional, melekat tidak berdaya untuk menjalankan perannya bila mereka juga diberi peluang untuk bermain didalamnya.
  • Hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya untuk menjalankan peran-nya dimana mereka juga diberi peluang untuk bermain didalamnya. Se-gala sesuatu semuanya bisa diatur dengan kepentingan.
  • Dengan melaksanakan pembangunan ekonomi sebagai alat untuk meng-gerakkan kepentingan individu dan kelompok, akhirnya KKN tumbuh dan berkembang dari keinginan kepemimpinan dan pengikutnya.
  • Pengalaman juga menunjukkan sebelum dan sesudah menjadi pemimpin dan pengikutnya, walaupun disadari untuk memenangkan PEMILU hanya sekedar alat untuk merebut kekuasaan, setelah itu tidak kita dapatkan aktualisasi kepemimpinan dalam kerangka berpikir intuitif untuk mengarah persfektif (seperti disebutkan dalam UUD 1945 seseorang dalam jabatan presiden dapat diangkat sebanyak dua kali artinya ia harus memiliki persfektif untuk 10 tahun) ; dengan dasar pemikiran itu ia me-ngembangkan kerangka berpikir jangka panjang untuk masa 5 tahun kedalam rencana jangka panjang dalam memberikan arah posisi bangsa dan negara ; setelah itu ia menjabarkan lebih rinci dalam pemikiran jangka pendel dengan arah kejelasan dalam menggariskan performansi untuk 1 tahun kedalam anggaran belanja dan pembangunan negara.
  • Informasi yang dituangkan dalam rencana persfektif menekankan secara kualitatif, sebaliknya pada rencana jangka panjang 5 tahun, mengungkap predeksi secara kualitatif dan kuantitatif serta ukuran-ukuran apa yang dipergunakan untuk menilai tingkat keberhasilan.
  • Sedangkan rencana jangka pendek 1 tahun yang dituangkan dalam APBNsejalan dengan rencana jangka panjang bila perlu diadakan penyesuaian bila asusi predeksi perlu disesuaikan dengan perubahan.faktor internal dan ekstern.
  • Kepemimpinan dan pengikut yang berjalan tanpa arah dan sarana yang jelas dan terukur hanyalah hidup dalam kemampuan bayang-bayangan ketidak kepastian dan mudah menimbulkan gesakan-gesakan ketidak kepercayaan yang ditimbulkan oleh gelombang perubahan dan mudah di-manfaatkan oleh pihak ketiga, inilah satu keyakinan bangsa kita mudah diadu dompa untuk berbeda pendapat tanpa diselami secara utuh dalam menyingkapi situasi menjadi masalah.
  • Ketidak jelasan aktualisasi persfektif, posisi dan performasi kedalam suatu sistem yang berkesinambungan akan sulit mendapat komitmen dan pemanfaatan “OTAK” karena semuanya menjadi sesuatu yang semu dalam bersikap dan berperilaku, oleh karena itu tidak dapat diharapkan keteladanan yang utuh dalam berbangsa dan bernegara, sehingga demo-rasi politik dan hak-hak azasi manusia sebagai alat baginya.
  • Itulah satu gambaran yang kita ungkapkan diatas, bahwa kepemimpinan dan pengikut dengan sifat kesadaran indrawi yang begitu tinggi, maka gambaran budaya KKN untuk dihapuskan tidak mungkin sama sekali, ke-cuali kepemimpinan yang dapat memberikan keteladanan sehingga diperlukan waktu yang panjang untuk menghapuskan.

3.4. Pengelolaan Keuangan Negara dan RAPBN Kementerian / Lembaga :

  • Diatur dalam UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
  • Pelaksanaannya diatur kedalam APBN / APBDdengan ditetapkan ber-dasarkan Undang-Undang dengan Perstujuan DPR / DPRD.
  • Masa lampau dan masa kini telah menjadikan kebiasaan begitu mudah untuk memutuskan segala sesuatu untuk berhutang dalam menyelesaikan penyakit bangsa dan negara ini. Berdasarkan rencana APBN 2005 jumlah belanja negara 264,9 tri, pembayaran bunga hutang 64,0 tri, apa artinya bahwa hampir 25 % dipergunakan untuk pos tersebut dalam tahun 2005. Itulah satu kenyataan yang kita hadapi akibat hutang masa lalu dan masa kini kita membuat hutang baru.
  • Apakah selamanya kita akan membuat keputusan gali lobang tutup lo-bang dan itu berarti kecil kemungkinan untuk menyelesaikan penyakit dan tidak mungkin bangsa dan negara dapat tumbuh dan berkembang. Bahkan bisa terjadi salah membuat keputusan strategik akan berdampak ketidak pastian bangsa dan negara keluar dari bayang-bayang yeng diciptakan oleh pihak ketiga.
  • Sedangkan dalam bidang pelaksanaan anggarran, dilakukan pembagian kewenangan yang lebih jelas dalam pengelolaan keuangan antara men-teri teknis dan menteri keuangan. Pembagian kewenangan ini memberi-kan pula fleksibilitas kepada menteri teknis sebagai pengguna anggaran, untuk mengatur penggunaan dana anggaran kementeriannya secara efisien dan efektif dalam rangka optimalisasi kinerja kementeriannya untuk menghasilkan output yang telah ditetapkan.

3.5. Kebijaksanaan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan Dalam rangka menutup defisit anggaran dilakukan langkah-langkah mobilisasi sumber-sumber pembiayaan melalui : 1. Penggunaan sebaha-gian dana simpanan pemerintah di BI ; 2. Penjualan aset eks BPPN yang sekarang dikelola oleh PT. PPA (Perusahaan Pengelolah Aset) dan me-lanjutkan kebijakkan privatisasi BUMN secara optimal ; 3. Penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dengan mempertimbangkan program moneter dan pengelolaan utang secara terpadu ; 4. Penarikan pinjaman luar negeri.

3.6. Struktur Kabinet dan Lembaga :

  • Membangun struktur yang cenderung tidak efisien, efektif dan ber-kualitas yang berdampak biaya operasional yang tinggi dan juga tidak mempertimbangan arti keberadaan UU 22 dan UU 25 mengenai pemrintahan daerah.
  • Dibentuk hanya berdasarkan kepentingan politik sehingga yang meme-gang peran juga tanpa pertimbangan suatu kreteria yang jelas sehingga berdampak tidak jelas kontribudi yang diberikannya.
  • Kabinet Indonesia Bersatu tidak berbeda dengan sebelumnya artinya ti-dak mampu menunjukkan konstribusi secara utuh dalam membangun kesediaan dalam berkoordinasi pada setiap keputusan dengan 36 peran mencakup Menteri Koordinator, Menteri Departemen, Menteri Negara, Setingkat Menteri Negara.
  • Tidak fokus menjalan peran dalam kementerian / lembaga sehingga me-reka tidak merumuskan konstribusinya dalam tuntutan perubahan refor-masi dalam membangun bangsa dan negara, cenderung masih bermain dalam kepentingan yang tidak terarah yang akan berdampak timbul kedalam ke permasalahan baru.
  • Peran mereka dalam kabinet / lembaga lebih mendominasi kedalam pola pikir orde baru bukan orde reformasi yang menuntut pembaharuan dalam pola pikir menghindari masalah dari pada memecahkan masalah. Inilah satu kebiasaan yang terus tumbuh, tidak pernah mendidik menjadi peran dengan satukebiasaan yang produktif (ilmu, pengalaman dan niat dalam kebutuhan yang mendasar).
  • Pola pikir yang kita sebutkan diatas menunjukkan peran kepemimpinan tidak pernah melepaskan diri dari budaya KKN yang mendorong sikap dan perilaku yang lebih mementingkan kepentingan individu dan kelompok sehingga apa yang diucapnya tidak pernah sejalan dengan perbuatan dalam perjalanan hidup, itu juga meupakan satu bukti ketidak mampuan menjalankan peran untuk memanfaatkan makna “OTAK” dalam aktuali-sasi kepemimpinan untuk menjadi “kebiasaan yang produktif”.

 

 

Read Full Post »

 

    MERETAS KESENJANGAN  DALAM KEHIDUPAN    BERBANGSA DAN BERNEGARA INDONESIA

                                       DAFTAR  ISI

KATA PNGANTAR

I.   PENDAHULUAN ……………………………………………………… 4

II. SUMBER DAN LATAR BELAKANG MASALAH ……. 6

1.     Gambaran situasi permasalah ………………………………. 6

     2 .  Hasil usaha dari kebijaksanaan sebelumnya …………. 8

           2.1. Masa pemerintahan Soekarno – Hatta ……………. 8 

           2.2. Masa pemerintahan Soekarno setelah berpisah  11

           2.3. Masa pemerintahan Seharto dg wakil ………..   12

           2.4. Masa pemerintahan BJ Habibie ………………   15

           2.5. Masa pemerintahan K.H. A. Wahid ………….    16

           2.6. Masa pemerintahan Megawati ………………..    17

           2.7. Masa pemerintahan SB Yuhoyono ke 1   …….     18

           2.8. Masa pemerintan SB Yudhoyono ke 2. ……….    19

      3. Pentingnya Situasi Permasalah ……………………..    20

          3.1. Keyakinan mengenai kemampuan bangsa …….   20

          3.2. Budaya dalam berbangsa dan bernegara ……….    22

          3.3. Kepemimpinan dan pengikut ………………………..     23

          3.4. Pengelolaan keungan negara  …………………………    25

          3.5. Kebijaksanaan yang tidak dapat ……………………    26

          3.6. Struktur kabinet dan lembaga ……………………….    26

III. RUMUSAN MASALAH …………………………………………     28

       1. Masalah kritis ………………………………………………           28

       2. Masalah pokok ………………………………………………….     28

       3.  Masalah insidentil ………………………..                            29

IV.  PEMECAHAN MASALAH ………………………………….      30

V.    RINGKASAN ……………………………………………………..       33  

 

KATA PENGANTAR

Tulisan kami sajikan sebagai cetusan hatinurani melawan kezaliman yang kami susun berdasarkan kekuatan hati sehingga bergerak dalam kekuatan intuisi, jadi diolah oleh kekuatan menghayati yang digerakkan oleh pengalaman kami memimpin sebagai ketua umum GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia selaku LSM yang ingin berpatisipasi dalam kebutuhan melakukan perubahan kedalam revolusi berpikir.

Bertolak dari Kuasa Allah Maha Agung dan kalamnya sangat luhur. Nikmat-nikmatnya telah dianugerahkan kepadamu dengan nikmat ini dan menanamkan bibit iman ini kedadamu yang jernih. Dia juga memerintahkanmu untuk menyirami iman dengan air ketaatan sampai iman itu menjadi pohon.

Dengan kebesaran Allah Swt, yang telah membuka pintu mengetuk dinding jiwa dengan memperlihat MUSIBAH DALAM TAHUN 2011, menggugah daya kemauan yang kuat untuk menuangkan gagasan pikiran kehadapan semua pihak yang memiliki sudut pandang yang sama untuk melakukan perubahan sikap dan perilaku, dengan melaksanakan kekuatan „KAYA“ ( Kebenaran, Agama, Yakin, Amanah) sebagai kekuatan untuk mengungkit pikiran, maka disitu terletak dinding jiwa tanpa topeng kepalsuan dalam mewujudkan keinginan berlandaskan niat untuk mengubah takdir menjadi mengubah nasib.

Demikianlah sumbangan pikiran kami sampaikan sebagai teriakan hati nurani kami untuk menggugah dalam melaksanakan perubahan berencana . Bandung, 29 Juni 2011-06-29. Abdul Talib Rachman

I.  PENDAHULUAN

Panggilan hati nurani melawan kezaliman, merupakan cetusan hati untuk mengingatkan kepada kita bahwa silih berganti kepemimpinan nasional sejak 1945 s/d 2011, berarti kita telah melewati kemerdekaan selama 66 tahun, tapi apa yang terjadi bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara dari waktu ke waktu tidaklah membawa kebesasan menjadi kebahagian melain penderitaan yang kita alami.

Tidak ada jalan keluar dari perbuatan kita sendiri karena penyakit kehidupan adalah buah dari amalan kita buruk. Simaklah ungkapan sebagai penuntun berpikir yang mengakui ummat islam :

QS. 42 : 30“ Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).; 31“ Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.

QS. 30 – 41“ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mampu menjawab kegelisahan hidup, walaupun bangsa dipimpin oleh ummat yang mengakui islam dan iman menjadi penuntun hidup mereka, tetapi sebaliknya ajaran-ajaran liberalisme dan individualisme yang dibimbing oleh elit-elit (pemimpin bangsa) telah menimbulkan ilusi kebebasan meluas dan merasuk ke dalam pribadi-pribadi masyarakat kita.

Sejalan dengan hati nurani melawan kezaliman, maka dengan daya kemauan sangat perlu untuk memahami bagaimana manipulasi ilusi kebebasan berdampak menuntun manusia keluar dari kekuatan jiwa yang negatif, maka dapat kita bayangkan perubahan UUD 1945 (1) oktober 1999 ; 2) agustus 2000 ; 3)november 2001 ; 4) agustus 2002.

Walaupun mereka menyadari bahwa hidup berbangsa dan bernegara dibentuk oleh pikirannya sendiri, maka dampak kebebasan yang diajarkan menjadikan mereka bukan sebagai manusia yang seutuhnya yang peduli atas penderitaan dan perasaan ummat, inilah kegelisahan jangan menjadi racun kehidupan, oleh karena itu dengan hati nurani yang kuat kita mengubah ilusi kebebasan menjadi kekuatan untuk melawan kezaliman yang harus kita kobarkan untuk merubah reformasi ke jalan yang lurus dan untuk itu perlu pemimpin yang memiliki kepeminan yang mampu melaksanakan perubahan yang berencana agar mampu menggerakkan manusia yang dipimpinnya menjadi satu kekuatan pikiran dalam usaha mengubah kehidupan berbangsa dan bernegara keluar dari musibah yang telah ditunjukkan oleh kebesaran Allah Swt.

Jadi musibah adalah salah satu bagian dari gambaran kehidupan manusia, kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nati. Tetapi tak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya. Lihatlah peristiwa dalam tahun 2011 dari seluruh aspek kehdupan berbangsa dan bernegara yang telah memperlihatkan keburukan pemimpin ummat yang menciptakan penyakit dalam kemiskinan.

Penyakit tersebut menjadi masalah yang sangat kritis untuk bangsa kita bisa tumbuh dan berkembang dikarenakan sikap dan perilaku pemimpin bangsa kita sebagai agen untuk kepentingan pihak ketiga agar Bangsa Indonesia tidak bisa menyelesaikan penyakit kemiskinan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »